Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Bisakah Kalian Membantuku?


__ADS_3

Krystal berhasil mengintimidasi Emilia, selepas mengatakan itu pun Krystal berlalu pergi meninggalkan Emilia yang duduk dan tertunduk di permukaan tanah. Tidak ada perlawanan lagi dari Emilia, isi otaknya semakin kacau akibat Krystal menyerang secara terang-terangan. Senyuman puas terukir di bibir Krystal, seluruh selir mengikuti Krystal menuju Istana Primrose.


Mereka semua berkumpul di meja taman dekat istana, sepanjang jalan Vicenzo dan Heros tidak henti-hentinya beradu mulut. Begitu pula dengan Ash dan Shion, lalu Austin dan Lucio, saat ini yang tenang hanyalah Julian. Itulah mengapa Krystal menyuruh Julian untuk berjalan berbarengan dengannya, dia lebih damai bila bersama Julian.


Sesampainya di meja taman, Vicenzo mendominasi Krystal hanya untuk dirinya seorang, sementara itu tatapan selir lain terlihat tidak baik-baik saja. Mereka menyimpan marah terhadap Vicenzo sejak berada di gerbang tadi. Kesan pertama mereka terhadap Vicenzo sangat buruk, namun Vicenzo tidak mempedulikan hal itu.


“Jangan terlalu dekat dengan Yang Mulia.” Lucio mendorong Vicenzo untuk berjauhan dari tempat duduk Krystal. Vicenzo tidak berhenti menempel pada Krystal sehingga membuat muak mereka semua.


“Memangnya kau siapa? Aku hanya ingin bersama Krystalia, kau tidak berhak melaranagku berdekatan dengannya.” Vicenzo membalas larangan Lucio dengan tatapan ketus dan sinis.


“Sejak tadi kau selalu menempel pada Yang Mulia, jangan membuat kami menahan amarah lebih lama,” murka Ash.


Dimulai lah perdebatan dan persitegangan antar seluruh selir, Krystal kini hanya menikmati kudapan yang tersedia di atas meja sambil menonton keributannya. Istana Primrose mendadak bertambah ramai, sedari semula Krystal menargetkan tujuh selir untuk menghuni istana ini bersamanya.


“Keberadaanmu tidak diterima di sini, Vicenzo. Sebaiknya kau pulang dan menghilang saja lagi,” usir Heros.


“Aku tidak mau, aku mau di sini. Kenapa tidak kalian saja yang pergi dari sini? Memangnya kalian siapanya Krystalia?”


Muka mereka tampak angkuh seketika itu, Austin mendekati Vicenzo dan ingin memamerkan status selir yang mereka punya.


“Kami ini selir Yang Mulia, hanya kau satu-satunya orang asing di sini, jadi yang seharusnya pergi adalah kau,” ucap Austin sembari menunjuk ke Vicenzo.

__ADS_1


“Selir? APAAAAA?” Vicenzo terkejut bukan main, dia mengguncang-guncang pundak Krystal untuk meminta penjelasan, “Jelaskan padaku! Ini semua tidak benar kan? Kau baru bangun beberapa waktu lalu dan sekarang kau sudah punya banyak selir, apa maksudnya ini? Lalu apakah Heros sialan ini juga bagian dari haremmu? Jawab aku!” desak Vicenzo.


Krystal tersedak oleh ulah Vicenzo, dia sedang asik mengunyah dan tiba-tiba Vicenzo


menggoyangkan badannya.


“Hentikan itu! Kau membuat Yang Mulia tersedak.” Julian dengan lekas memberikan satu gelas air minum untuk menghilangkan tersedaknya Krystal.


“Vicenzo, mereka semua memang selirku, termasuk Heros, sebab aku memerlukan merek—”


“Lenyap sudah semuanya, padahal aku membayangkan setiap waktu kalau aku akan menjadi satu-satunya suami Krystalia. Kalian semua datang untuk menghancurkan cita-citaku yang paling mulia, aku tidak bisa memaafkan kalian. Kalau begitu kalian mat—”


“Ssstttt.” Krystal meminta Vicenzo diam terlebih dahulu, ia menaruh jari telunjuknya di bibir Vicenzo untuk membuat Vicenzo tidak berbicara lebih panjang lagi, “Jangan seperti itu, Vicenzo. Aku juga berniat menjadikanmu selir ketujuh, aku membutuhkan kalian semua berada di sisiku, karena aku tidak kuat seperti dulu,” lanjut Krystal berucap.


Ekspresi wajah Krystal tampak sendu, lengkungan senyum di bibirnya tidak cerah seperti biasa, seakan ada rasa sakit yang tersembunyi di balik senyum palsu itu.


“Kekuatanku berkurang jauh dari yang dulu, kini aku tidak bisa berlebihan menggunakan kekuatanku lagi. Tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan, karena itu tolong bantu aku menyelesaikan balas dendam Krystal. Seusainya, aku membebaskan kalian memilih jalan hidup sendiri. Aku tidak akan memaksakan kalian tinggal di sisiku, sampai saat itu selesai, bisakah kalian membantuku?”


“Yang Mulia ….”


Belum sempat Krystal mendengar jawaban dari mereka, Olin menyela dan membisikkan kepada Krystal kalau Cleon telah tersadar lalu dia meminta Olin untuk menyuruh Krystal menemuinya.

__ADS_1


“Sepertinya Cleon sudah sadar, aku akan pergi menemuinya lebih dulu. Kalian berbincanglah di sini dan jangan bertengkar lagi,” kata Krystal pamit dari hadapan mereka.


Mereka hening, tidak ada yang mau memulai pembicaraan, memikirkan dalam-dalam tentang apa yang dibicarakan oleh Krystal barusan. Sebuah senyum yang mengembang di bibir mungil itu, bukanlah sebuah senyum kebahagiaan, melainkan senyum keputusasaan. Dulu Krystal bisa dengan mudah menggenggam dunia, tapi kini tampak sebeliknya, dia tidak punya kekuatan untuk berdiri di puncak dunia.


“Apa Yang Mulia akan meninggalkan kita setelah pembalasan dendamnya berakhir?” suara pertanyaan dari Shion memecah keheningan yang menyapa di antara mereka.


“Heros, kau tahu sesuatu bukan?” tanya Vicenzo melihat mimik wajah Heros seperti mengetahui sesuatu.


“Umur Krystal tidak akan lama lagi.” Akhirnya Heros mengungkapkan yang sebenarnya kepada mereka.


Degup jantung sesaat berpacu lebih cepat, tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa kagetnya mereka kala itu. Pernyataan dari Heros bukan sekedar main-main atau lelucon biasa, dia serius mengatakannya.


“Ini bukan waktunya untuk bercanda! Krystalia tidak mungkin mati, dia lebih kuat dari kita. Bukannya kau tahu fakta itu?” bantah Vicenzo tidak terima.


“Aku tidak bercanda, beberapa waktu lalu komplotan berjubah putih menyerang Krystal di akademi. Setelah Krystal mengalahkan mereka, dia kesakitan dan muntah darah, saat itu aku langsung membawanya ke istanaku. Asal kau tahu, kekuatan Krystal berkurang drastis, mungkin saat ini kekuatannya setara atau bahkan lebih lemah dari kita,” jelas Heros dengan tegas.


Vicenzo tertunduk lesu, sosok wanita yang selalu ia idam-idamkan selama beberapa ribu tahun ini mengalami masa keterpurukan. Vicenzo ialah salah satu pria yang diselamatkan oleh Krystal dari kehancuran, dia menaruh cinta pada pandangan pertama kepada Krystal. Meskipun mendapat penolakan, namun dia tidak menyerah untuk mendapatkan Krystal bersama saingannya, Heros.


“Aku tidak berguna … sungguh, tidak berguna sekali. Aku membiarkannya melalui semua ini sendirian, seberapa banyak luka yang dia peroleh selama hidup? Seorang diri menghadapi segala rintangan, sebenarnya apa saja yang sudah aku perbuat untuk kebahagiaannya?”


Tanpa tersadar Vicenzo yang seperti gunung berapi aktif itu meneteskan air mata untuk pertama kalinya. Heros tertegun rival cintanya mempunyai hati yang rapuh, dia lemah bila dikaitkan dengan Krystal. Bahkan para selir yang lain pun tampak murung, linangan air mata perlahan timbul dari pelupuk mata.

__ADS_1


“Sejak pertama kali aku mengenal Krystal, aku tidak pernah melihatnya menangis. Meski berulang kali disakiti, dikhianati, dicampakkan, dia tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang beban hidup yang dia tanggung. Walau kelihatannya dia kuat dan kejam, sejujurnya bagiku dia tetap saja gadis biasa seperti pada umumnya. Dia itu memiliki rasa peduli yang tinggi, meski dia tidak pernah memperlihatkannya. Dia juga selalu menjadi penguat dan penyangga di kala aku atau Vicenzo terjatuh.”


“Ke depannya masalah ini akan semakin rumit, tidak hanya masalah balas dendam, tapi juga kita akan menghadapi para dewa langsung. Aku akan bertanya terang-terangan, bisakah kalian membantu Krystal membalaskan dendam serta mengalahkan para dewa sialan itu? Apabila kalian tidak punya kekuatan ataupun keberanian untuk itu, kalian bisa mundur dari sekarang.”


__ADS_2