Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Kemunculan Morgan


__ADS_3

Seorang pria yang tidak asing tiba-tiba muncul dari balik dinding kamar, rambut panjang yang terurai disertai mata biru yang menatap tajam Krystal. Sesaat Krystal merasakan getaran di tubuhnya, pria yang mengenakan jubah putih itu, Krystal tahu betul siapa dia. Dada Krystal rasanya sangat sesak ditambah lagi kenangan pahit di masa lalu berputar di kepalanya saat itu juga. Heros dan Vicenzo secara sigap berdiri di depan Krystal, seumur hidup mereka tidak pernah melupakan bagaimana pria itu memperlakukan Krystal.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau kemari?” tanya Vicenzo.


“Kalau kau mau menyakiti Krystal lagi, aku tidak akan segan-segan menghajarmu!” gertak Heros.


Padahal mereka berdua juga gemetar saat berhadapan dengan pria itu, tapi mereka tidak bisa membiarkannya begitu saja mendekati Krystal. Pria tersebut lalu menyunggingkan senyum ke arah Krystal yang sedang menahan getaran dahsyat yang melanda tubuhnya. Shion yang berada di samping Krystal melihat aura ketakutan yang nyaris meledak. Kedua mata Krystal tidak mengerjap dan membulat sempurna melihat pria itu.


“Aku hanya ingin bertemu dengan Krystalia, jadi bisakah kalian menyingkir dan biarkan Krystalia berbicara denganku?” ucap pria itu tersenyum tipis.


Austin, Lucio, Julian, Ash, dan Shion bisa merasakan bahwa pria yang berada di hadapan mereka kini sangatlah berbahaya. Tidak tahu apa alasannya, tapi suatu perasaan asing mendorong mereka untuk segera memasang badan melindungi Krystal agar tidak dijangkau oleh pria itu.


“Oh, apa kalian menolak untuk menyingkir? Kalian tidak tahu apa yang akan terjadi jika berani menghalangiku?”


Pria itu mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kuat, Krystal hampir melupakan pria itu. Pria yang sebenarnya memberi luka yang lebih besar kepada dirinya di masa lalu, pria yang menjadi sumber bencana di hidup Krystal.


‘Bagaimana bisa seperti ini? Pria itu yang paling berbahaya, aku baru sadar tentang sesuatu bahwasanya segala masalah yang terjadi di hidupku sudah diatur sedemikian rupa olehnya. Jadi, diakah yang dimaksud musuh sebenarnya? Aku tidak pernah melupakan hari itu, hari di mana dia menyiksaku di dalam sangkar emas, dia yang memfitnahku dan mengatakan aku sebagai pembunuh dewa. Trauma itu masih berbekas di diriku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku takut… aku sangat takut…,’ batin Krystal hanyut di dalam ingatan masa lalu yang ingin dia lupakan.


Krystal memaksa diri untuk berani menatap pria itu secara langsung, meski perasaan takut memakan dirinya perlahan, namun dia tidak bisa membiarkan selirnya berhadapan dengan pria yang diduga sebagai musuh dunia yang sebenarnya. Krystal beranjak dari tempat tidur, menghadapi pria itu adalah hal yang harus dilakukan untuk saat ini.

__ADS_1


“Kalian mundurlah,” titah Krystal, dia masih berada di kondisi tubuh yang gemetar takut.


“Tapi, Krystal, kau masih belum sembuh dari trauma it—”


“Tidak apa-apa, Heros. Aku akan menanganinya, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menghadapinya selain aku,” potong Krystal mencoba meyakinkan mereka untuk beringsut mundur.


Dengan segala keterpaksaan, mereka mundur ke belakang sembari mengamati apa yang akan dilakukan oleh Krystal. Walaupun rasa hati ingin menghentikan Krystal untuk berurusan dengan pria itu, tapi mereka tak mampu melawan keras kepalanya Krystal. Jadi, mereka hanya bisa menjadi penonton, tapi mata mereka selalu waspada bila nanti terjadi hal buruk kepada Krystal.


Langkah kaki Krystal terasa berat, senyuman mengerikan dari pria itu tidak pernah dia lupakan sekali pun dalam hidup. Krystal membencinya, lebih membencinya daripada Killian, karena yang menyebabkan Killian berpaling dari Krystal adalah pria itu sendiri. Dia mengendalikan Killian yang naif dari belakang, membisikkan beberapa perintah yang harus dijalankan oleh Killian. Salah satu perintahnya yaitu menjadikan Krystal sebagai dalang kematian para dewa agung.


Krystal tanpa sengaja menaruh perhatian ke arah jubah putih yang dikenakan pria itu, dia tahu pasti bahwa itu merupakan jubah putih yang sama dipakai oleh kelompok jubah putih yang selalu berupaya membunuhnya.


Amarah Krystal bergejolak sesaat melihat jubah putih tersebut, pria yang bernama Morgan diduga sebagai pemimpin dari kelompok jubah putih. Krystal mendadak melupakan sejenak ketakutannya, kini hanya ada emosi yang menguasai hati.


Morgan memamerkan senyum mengerikannya kepada Krystal, sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Krystal meneguhkan hati dan pikiran agar tidak runtuh di depan mata Morgan, bila ia menunjukkan tanda-tanda kelemahan, maka bisa dipastikan saat itu Morgan akan langsung menerkamnya. Morgan melangkah ke depan mendekati Krystal, sekarang jarak mereka berdekatan satu sama lain.


“Kenapa wajah marahmu yang kau perlihatkan pertama kali sejak bertemu denganku? Apa kau sungguh menaruh dendam begitu besar padaku karena Killian menikah wanita selain dirimu?”


Morgan mengulik lagi kilas balik hidup Krystal, dia selalu mendorong Krystal untuk jatuh ke jurang penderitaan masa lalu. Akan tetapi, Krystal tidak menunjukkan rasa takut atau pun kegelisahan tatkala Morgan menyebut soal Killian. Morgan tertegun sesaat Krystal tidak menampakkan reaksi apa-apa, lagi-lagi Morgan menyunggingkan bibirnya.

__ADS_1


“Aku tahu, kau adalah orang yang menghasut Killian melakukan pernikahan dengan wanita itu, kan? Kau dalang di balik kesengsaraan hidupku! Aku tidak pernah melupakannya sedikit pun, kau mengendalikan semuanya dari belakang. Segala kehancuran yang terjadi di dunia ini merupakan buah hasil ide licikmu!” tuding Krystal sembari mengarahkan telunjuknya kepada Morgan.


“Ternyata kau lebih pintar dari dugaanku.” Morgan mengapit dagu Krystal, “Sebenarnya wanita secantikmu ini terlalu berlebihan untuk dijadikan Permaisuri oleh Killian, seharusnya kau menikah denganku saja dan menjadi boneka ranjangku.”


Para selir geram mendengar apa yang dikatakan oleh Morgan barusan, namun mereka masih menahan diri untuk tidak menyerang Morgan. Krystal tersenyum miring lalu menampik tangan Morgan yang menyentuh dagunya.


“Aku tidak sudi melakukannya, aku sudah mempunyai tujuh selir yang melayaniku dengan sepenuh hati. Aku tidak butuh pria sepertimu untuk menghangatkan ranjangku,” balas Krystal dengan tatapan merendahkan.


Akhirnya, emosi Morgan pun berhasil dipancing oleh Krystal, dia tak percaya sekarang Krystal bersikap lebih berani dibanding dulu.


“Aisshh, kau benar-benar membuatku semakin tertarik saja, tapi inilah yang aku suka darimu, Krystalia!”


Di sekujur tubuh Morgan keluar semacam aura yang menekan mereka semua, aura itu terlalu kuat hingga mampu menghancurkan benda di sekitar kamar ini. Angin yang berembus kencang dari tubuh Morgan terasa sangat menyesakkan dan panas.


“Krystalia! Dengarkan aku, aku kemari hanya untuk melihatmu dan memperingatkanmu bahwasanya kehancuran dunia kian mendekat. Aku akan membuatmu menjadi milikku, tapi jika kau tidak bisa menjadi milikku maka kau harus mati! Aku akan memulai dengan merebut berlian kepemimpinan di jantungmu, lalu menjadi pemimpin yang paling berkuasa di dunia ini.”


Seusai mengatakan hal itu, Morgan seketika menghilang dari hadapan mereka, sekujur badan Krystal melemah dan terjatuh ke lantai.


‘Sial! Masalahnya semakin rumit, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku semakin kehilangan arah.’

__ADS_1


__ADS_2