Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Krystal Nyaris Tumbang


__ADS_3

Krystal mengambil ancang-ancang penyerangan, tubuhnya ia rilekskan sejenak sebelum menerjang lawan. Namun, di sinilah keanehan mulai terjadi, empat pria berjubah putih tersebut merapalkan sebuah mantra, mereka mengepung Krystal untuk tidak kabur dari pandangan mereka. Rapalan-rapalan mantra itu tidak dapat dimengerti oleh Krystal, lalu dari tangan mereka keluar rantai berwarna merah. Rantai itu perlahan menunjukkan penyerangan kepada Krystal, berkali-kali Krystal menepis untuk menghancurkan rantai tersebut, tapi rantainya terus menerus bermunculan.


‘Sial! Apa mereka bermaksud untuk membuatku kewalahan?’


Kamar Krystal hancur berantakan oleh arah serangan rantai yang tidak beraturan, barang-barang penting milik Krystal berjatuhan hancur ke atas lantai. Krystal berupaya untuk tetap tenang, jika dia mengamuk maka keadaan akan semakin runyam. Tiba-tiba Krystal menghentikan serangannya, dia menundukkan kepala sembari berkonsentrasi, rantai-rantai itu menyerang ke arahnya lagi dan lagi, tapi dia berhasil menghindari hantaman rantai untuk tidak mengenai tubuhnya.


“Kena kau!” Tangan Krystal menangkap ujung sebuah rantai, diduga rantai yang ia tangkap merupakan inti dari serangan rantai itu. Krystal menghentakkan rantainya dengan kuat sehingga rantainya berhamburan hancur. Empat pria berjubah putih itu kehilangan akal seketika rantai yang sudah susah payah mereka rapalkan mantra malah gampang dihancurkan oleh Krystal. Akan tetapi, mereka tidak menyerah begitu saja.


“Apa kau pikir kami akan berhenti? Kami masih memiliki beberapa mantra untuk membunuhmu!”


Mereka merapalkan mantra sekali lagi, tapi ini adalah mantra yang berbeda dari sebelumnya, mantranya terdengar lebih rumit.


‘Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku yang biasanya karena itu membutuhkan energi yang cukup besar. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi aku mesti bersiap untuk kemungkinan terburuk. Aku tidak boleh mati di tengah jalan, aku tidak akan membiarkan mereka melukaiku.’


Krystal mengeluarkan senjata andalan miliknya yaitu kipas merah pemusnah, namun saat hendak mengayunkan kipasnya, sebuah rantai yang lebih besar membalut tubuh Krystal. Balutan rantai itu lebih kuat bahkan energi sihir di dalamnya jauh lebih besar dibanding rantai sebelumnya yang lebih kecil. Krystal kesulitan bernapas, tapi dia masih bersikap tenang karena dia tidak akan membiarkan rantai itu memakan dirinya.


“Apa hanya segini saja?” tanya Krystal seraya menyeringai.


“Kau sombong sekali! Ini adalah sihir rantai pengikat iblis, dengan begini kau tidak akan bisa lari ke mana pun!”


Lilitan rantai itu bertambah kuat, dari sudut bibir Krystal mengalir darah segar, tapi di sinilah akhir dari keempat pria berjubah putih tersebut. Krystal mematahkan sihir mereka dengan mudah, rantai yang melilit tubuhnya putus. Keempat pria itu membelalak tidak percaya, itu merupakan sihir rantai pengikat yang paling kuat yang mereka gunakan.


“Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku? Aku dirasuki oleh iblis? Hahaha apa-apaan itu? Iblis mana yang sudi membuang-buang waktu mereka untuk membalaskan dendam yang merepotkan ini? Tidak ada iblis yang mau melakukannya dengan gratis! Mereka akan meminta bayaran, contohnya bayaran seperti nyawa manusia.”

__ADS_1


Mata Krystal berapi-api marah, keempat pria itu gemetar takut melihat pupil violet Krystal berganti warna dengan pupil merah, yakni warna mata dari dewi pembalasan itu sendiri. Rambut berwarna sakura Krystal samar-samar berubah putih seolah wujud asli yang menempati tubuh Krystal akan keluar dari badan tersebut.


“I-iblis! T-tidak salah lagi. Gadis ini adalah iblis!”


Ucapan mereka terbata-bata akibat efek ketakutan luar biasa, Krystal mencapai titik kemarahannya sehingga aura menyeramkan mencekik mereka satu persatu. Pergerakan tubuh keempatnya terkunci oleh Krystal, mereka tidak dapat kabur dari amarah Krystal saat ini.


“Mati kalian! Matilah dalam keadaan tersiksa!”


Tubuh keempat pria itu mengeluarkan asap panas, sekujur badan mereka terasa panas luar biasa hingga rasanya tubuh mereka akan meleleh saat itu juga. Anggota tubuh mereka satu persatu perlahan menghilang dan hancur, suara jeritan kesakitan disertai kata ampun keluar dari mulut mereka, tapi Krystal bukanlah tipe orang yang pemaaf. Dia menyiksa mereka lebih kuat lagi sampai akhirnya tubuh mereka hancur melebur di udara, darah segar memercik ke setiap sudut ruang, hanya tersisa empat jubah putih saja tergeletak di lantai.


“Mengapa jubah mereka tidak ikut hancur?” Krystal keheranan, dia memungut jubah putih itu untuk memeriksa lebih teliti lagi.


“Jubah ini sangat aneh, tidak salah lagi bahwasanya mereka mendapat kekuatan dari jubah ini. Aroma yang dikeluarkan oleh jubahnya juga tidak biasa, tapi terbuat dari apa sebenarnya? Apa… uhukkk.”


“Dewi, apa kau baik-baik saja?”


Krystal membuka matanya yang penglihatan mulai kabur, dia melihat Heros sang Raja Neraka baru datang dan menyambut tubuhnya yang nyaris terjatuh.


“Heros, kepalaku pusing,” lirih Krystal teramat pelan.


“Baiklah, aku mengerti. Aku akan membawamu ke tempat Cherry dan Bleas.”


Heros menggendong Krystal, tapi di kala bersamaan saat itu Austin, Lucio, dan Julian bergegas datang ke kamar Krystal sebab mereka mendengar kegaduhan berasal dari kamarnya.

__ADS_1


“Siapa kau? Ke mana kau akan membawa Yang Mulia?” sergah Austin terkejut melihat Heros, orang yang tidak pernah mereka lihat di samping Krystal sebelumnya.


“Maaf, aku akan membawanya sebentar. Kalian bereskan kekacauan di kamar ini terlebih dahulu, nanti Krystal akan menjelaskan situasinya kepada kalian.”


Heros hilang dari pandangan mereka bersama Krystal, raut muka mereka berubah bingung dan heran, tidak ada di antara mereka yang tahu situasi pastinya.


“Apa yang terjadi dengan Yang Mulia? Aku melihat mulutnya mengeluarkan banyak darah,” ucap Lucio.


“Aku tidak tahu, tapi kamar Yang Mulia sangat berantakan, sepertinya tadi ada penyerangan,” ujar Austin.


“Tadi aku mendengar dari jauh kalau di sini terjadi pertarungan, wajar saja kalau kamar Yang Mulia jadi berantakan. Namun, yang membuatku khawatir bukan masalah pertarungan atau penyerangan ini, tapi aku khawatir karena suara jantung Yang Mulia terdengar melemah,” papar Julian sembari menekuk ekspresi wajahnya, dia yang paling tahu tentang kondisi lemah Krystal barusan.


“Julian, apa yang kau katakan? Suara jantung Yang Mulia melemah?”


Julian menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaaan Austin.


“Apa itu artinya Yang Mulia akan mat—”


“YANG MULIA TIDAK AKAN MATI SEMUDAH ITU!” sergah Lucio memotong perkataan Austin, “Aku percaya itu karena Yang Mulia jauh lebih kuat dari kita.”


Austin dan Julian terperanjat kaget dengan suara Lucio yang meninggi, Austin memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Mereka bertiga sesungguhnya sama-sama menyimpan rasa khawatir mendalam, tapi mereka tidak ada tempat untuk menanyakan situasi terkait Krystal kala itu.


“Aahh sial! Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Lalu siapa pula pria yang menggendong Yang Mulia tadi? Sepertinya aku mulai stres.”

__ADS_1


__ADS_2