Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Mendatangi Arsen


__ADS_3

“Tapi, masih ada hal lain yang perlu kami laporkan,” ujar Cherry.


Atmosfir sekitar mendadak berubah serius, Cherry dan Bleas saling bertukar pandang. Krystal menunggu mereka berdua membuka mulut tentang laporan berikut yang akan dia terima.


“Yang Mulia, seperti dugaan Anda, Ibu Krystal bukanlah orang biasa, tapi mereka tidak memberitahu pasti identitasnya. Ada kejanggalan di balik kematian Ibu Krystal, mereka berkata bahwa jika Anda mengetahui alasan di balik matinya Ibu Krystal maka sudah dipastikan kalau Anda akan menempatkan mereka di dalam bahaya,” jelas Cherry.


Dugaan Krystal benar secara menyeluruh, bahwa kematian Ibu kandung si pemilik tubuh dipenuhi oleh kejanggalan.


“Kemungkinan besar Ibu Krystal dibunuh oleh pihak istana, tapi apa alasannya? Apakah itu karena Ibu Krystal memiliki kemampuan spesial? Atau ada hal lebih besar lagi tersimpan di balik masalah ini?” terka Shion.


“Kemungkinan yang paling mendekati hanya itu, tapi anehnya tubuh ini tidak memiliki ingatan saat dia berumur 12 tahun ke bawah. Krystal hanya punya ingatan saat dia berumur 13 tahun, bukankah itu aneh? Mereka memang memaksa Krystal mengonsumsi jamu pelumpuh ingatan, tapi itu hanya mengacaukan ingatannya dari umur 13 tahun. Apa mereka menghapus ingatan Krystal sebagian?”


Krystal memiliki dugaan kuat lain, dia tidak menemukan jawaban yang tepat atas permasalahan yang terjadi.


“Kemampuan menghapus dan memanipulasi ingatan itu ada, lalu kekuatan saintess juga hanya satu makhluk yang bisa melakukannya,” ujar Vicenzo.


“Apakah mereka? Cherry, Bleas! Cari apa pun bukti tentang identitas Ibu Krystal! Aku punya firasat buruk soal ini. Jika aku benar, pasti ada campur tangan para dewa di balik kematian Ibu Krystal. Temukan hal sedetail mungkin dan jangan lepaskan pandangan kalian dari Isabelle serta Emilia,” perintah Krystal.


“Baik, Yang Mulia.” Cherry dan Bleas segera pergi dan menghilang dari hadapan Krystal.


Saat ini kepala Krystal dipenuhi oleh pikiran-pikiran tidak pasti, sungguh berat baginya memikirkan masalah ini sendirian. Lalu Ash menyentuh punggung tangan Krystal, menyaksikan Krystal berpikir keras sendirian tentu saja mendatangkan rasa khawatir di hati para selir.


“Yang Mulia, tolong jangan paksa diri Anda untuk berpikir lebih keras,” ucap Ash.

__ADS_1


“Benar, bukankah Anda memiliki kami? Seharusnya Anda mengandalkan kami juga di dalam masalah ini,” timpal Julian.


Krystal nyaris lupa tentang keberadaan selirnya, terselip rasa bersalah sebab dia sudah membuat mereka terlibat sejauh ini di dalam pembalasan dendam Krystal.


“Benar juga, saat ini masalah semakin menumpuk. Aku sudah menyiapkan skenario pembalasan dendam ke depannya. Lalu bisakah aku meminta tolong lagi?” tanya Krystal.


“Apa yang perlu kami lakukan untuk Anda, Yang Mulia?” tanya Austin balik.


“Bisakah kalian memeriksa keberadaan komplotan berjubah putih? Kita melupakan mereka beberapa waktu ini karena pergerakan mereka juga berhenti. Namun, aku merasakan energi negatif semakin bergejolak di setiap titik tempat. Tolong kalian selidiki dan amati daerah mana saja yang memiliki energi negatif biar aku bisa nanti dengan mudah mengatasi masalah itu,” papar Krystal.


“Oke, kalau begitu serahkan saja pada kami, Yang Mulia.”


Mereka segera berangkat begitu Krystal memerintahkannya, kecuali Vicenzo yang memang sengaja disuruh Krystal untuk tetap tinggal sebab Vicenzo selalu membuat masalah menjadi lebih besar. Apabila Vicenzo dilepas tanpa pengawasan dari Krystal, maka masalah baru akan terus bermunculan.


“Ehh? Apakah terlihat begitu? Kami adalah selirmu, tentu saja harus akrab,” dalih Vicenzo.


“Ohh begitu, ya sudah baguslah. Sekarang kau temani aku ke penjara bawah.” Krystal menarik pergelangan tangan Vicenzo, mereka berbarengan menuju penjara bawah tanah tempat Arsen terkurung.


‘Kami akrab hanya terpaksa, aku sejak tadi menahan diri untuk tidak bertengkar dengan selir Krystal yang lain. Astaga, sepertinya aku berhasil melalui ujian tahan emosi. Semenjak kami mengetahui fakta tentang Krystal dari Heros, kami pun terpaksa berpura-pura akrab demi menjaga perasaan Krystal. Dan lagi masih ada masalah lain yang menanti, tidak tahu kapan mereka akan menampakkan diri lagi di hadapan Krystal,’ batin Vicenzo.


Krystal dan Vicenzo menapaki anak tangga yang gelap, sepanjang jalan menuju penjara bawah tanah, tidak ada suara yang menemani. Di sana hanya ada sebuah kesunyian, senyap seolah tidak ada kehidupan. Tepat di penjara di deretan ketiga, di situlah tempat Arsen ditahan, terdengar suara Arsen yang gemetar tak karuan.


“Halo kakakku tercinta, bagaimana rasanya ditahan di dalam penjara?” sapa Krystal.

__ADS_1


Arsen menoleh ke arah suara Krystal berasal, dia menatap kosong dan histeris seketika Krystal datang menemui dirinya. Kondisi Arsen terlihat menyedihkan, piyama yang dia kenakan compang-camping, rambutnya kusut berantakan, lalu kulitnya kusam. Tidak ada cahaya yang tersisa di tubuh Arsen yang semakin kurus.


“Kau masih punya muka menemuiku? Aku seperti ini gara-gara kau! Aku tidak pernah bermaksud memperkosamu. Beraninya kau memfitnahku!” murka Arsen.


“Aku tidak membual, tapi kau memang pernah melakukannya padaku… ahh bukan, tapi kepada Krystal,” tekan Krystal.


“Maksudmu apa? Aku tidak pernah melakukan apa pun padamu! Lalu dari mana pula kau mengetahui ruangan penyiksaanku?”


“Hahaha tentu saja aku mengetahuinya, karena kau pernah menyiksa Krystal di ruangan itu!”


Arsen bangkit dan berjalan mendekat pada Krystal, dia melingkarkan jemarinya di besi sel yang terbuat dari batu sihir terkuat sehingga tidak ada kemungkinan untuk orang yang mahir menggunakan sihir kabur dari tempat seperti ini.


“Aku tidak peduli! CEPAT KELUARKAN AKU DARI SINI! AKU TIDAK MAU MENDEKAM DI TEMPAT BAU DAN LEMBAB SEPERTI INI!” teriak Arsen mengguncang sel tahanannya.


“Kurang ajar sekali kau berteriak pada Krystal, tidak akan ada orang yang akan mendengarkan teriakanmu sekarang. Bahkan jika aku membunuhmu di sini, orang-orang tidak akan ada yang mengetahuinya.” Vicenzo menekan Arsen menggunakan tatapan mengintimidasinya.


“Sudah Vicenzo, kau jangan membuang-buang tenaga untuk marah kepada sampah ini. Dia tidak akan mengerti jika hanya diberitahu, jadi aku akan membuatnya mengingat seperti apa perlakuannya kepada Krystal.”


Kemudian Krystal menempelkan jemari telunjuknya ke dahi Arsen, dia memasukkan ingatan tentang penyiksaan yang dilakukan oleh Arsen terhadap Krystal dulu. Satu persatu ingatan mengalir memasuki kepala Arsen, dia terduduk saat ingatan tentang hal itu menyita kewarasannya sesaat.


Berulang kali dia mencoba menolak, namun ingatan tersebut semakin memakannya, dia melihat dirinya menyiksa Krystal menggunakan cambukan, dia tidak segan-segan melecehkan adiknya sendiri. Suara Krystal yang meminta tolong dan ampun kepadanya, hampir memecah seluruh isi otaknya.


“Tidak, tidak mungkin itu aku! Aku tidak pernah melakukannya. Aku tidak pernah melukai Krystal.” Arsen berupaya menolak fakta yang masuk itu, “Ini pasti hanya tipuan! Aku tidak percaya, aku tidak pernah menyakiti Krystal.”

__ADS_1


__ADS_2