
Emilia mengalami stres berat seusai kembali dari gereja, dia membuat penyakit Alby kian parah, bahkan kini ia merasakan kekuatan sucinya perlahan berkurang. Emilia mengurung diri di kamar, ia menyiksa diri sendiri dan menolak makanan apa pun yang ditawarkan padanya. Isabelle berusaha membujuknya keluar dari kamar untuk makan, Fred pun turun tangan untuk membujuk dirinya. Akan tetapi, tidak ada respon baik yang diberikan Emilia, dia terus berteriak menyuruh semua orang untuk meninggalkannya.
Penampilan Emilia tampak kusut, di sudut ruang ia duduk meringkuk ketakutan akan kehilangan kekuatan sucinya. Emilia dibayang-bayangi oleh suara tawa Krystal yang mengejeknya, suara itu semakin lama semakin memekakkan pikiran serta pendengarannya. Emilia mengacak-acak rambut sembari menggigit jari, setiap waktu perasannya makin berkecamuk, ia juga tak bisa untuk berpikir jernih. Perasaan yang tersisa di dirinya hanyalah perasaan takut luar biasa, dia takut mati dan takut Krystal akan mengambil tempatnya nanti.
“Apa yang harus aku lakukan? Ke mana aku harus pergi setelah ini? Aku takut wanita iblis itu membunuhku. Kekuatan suciku juga berkurang, tubuhku panas, jantungku sakit, tidak ada yang tersisa di diriku. Bagaimana ini? Aku takut… aku tidak mau mati, aku belum siapa terjun ke neraka. Aku tidak mau mati, aku tidak mau dibunuh, aku tidak salah, aku bukan perebut, jangan ambil apa pun dariku, aku mohon….”
Emilia frustasi, jalan pikirannya buntu tak karuan, untuk saat ini tidak ada orang yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkan dirinya. Emilia terus bergumam melantur ke mana-mana, Krystal menjadi satu-satunya alasan yang membuat mental Emilia terganggu. Kamarnya nan gelap dan tidak ada cahaya matahari yang masuk membuat Emilia kian kehilangan akal sehatnya. Semua barang di kamarnya sudah habis dia hancurkan, lalu ranjang tempat biasa dia tidur juga menjadi korban amukannya.
“EMILIA! INI IBU, TOLONG BUKA PINTUNYA! APA YANG TERJADI PADAMU SEBENARNYA? KATAKAN KEPADA IBU, EMILIA!” teriak Isabelle dari luar seraya menggedor-gedor pintu masuk. Akan tetapi, teriakan Isabelle tidak mencapai kesadarannya Emilia.
“PERGI KALIAN! PERGI! JANGAN GANGGU AKU!” teriak Emilia balik.
Isabelle atau pun Fred belum menerima keluhan atau pun laporan dari pihak Kekaisaran Ottavio tentang apa yang telah diperbuat Emilia terhadap Putra Mahkota Ottavio, itulah mengapa mereka tidak tahu alasan sebenarnya Emilia bisa sampai seperti ini. Isabelle tak dapat menahan lagi, ia pun menarik sebilah pedang milik salah satu ksatria, Pedang tersebut dia gunakan untuk menghancurkan pintu masuk kamar Emilia. Kemampuan berpedang Isabelle belum berkurang sedikit pun, kini ia berhasil menghancurkan pintu kamar putrinya.
Isabelle segera berlari masuk ke dalam melihat kondisi Emilia, lalu ia mendapati Emilia yang sedang menyayat nadinya. Isabelle histeris begitu melihat satu tetes demi satu tetes darah mengucur menodai lantai.
“EMILIA! APA YANG KAU LAKUKAN?!” Isabelle merebut pisau yang digunakan oleh Emilia untuk menyayat tangannya. Segera Isabelle menyuruh pelayan untuk memanggilkan dokter istana mengobati luka Emilia yang tak kunjung tertutup. Sejenak Isabelle merasa keheranan sebab biasanya luka Emilia akan tertutup sendirinya, namun hari ini kejadian berbeda terjadi, inilah yang membuat Isabelle mencurigai bahwa kekuatan suci Emilia telah hilang dari tubuhnya.
Seorang dokter datang buru-buru ke kamar Emilia, langsung saja dokter itu memeriksa kondisi Emilia dan membalut lukanya. Kala itu Emilia tidak sadarkan diri lagi akibat kekurangan banyak darah dari aksi percobaan bunuh diri yang dia lakukan.
__ADS_1
“Bagaimana keadaannya? Apa yang membuat putriku seperti ini?” tanya Isabelle, ia tidak tenang sebelum dokter itu menyelesaikan pengobatannya terhadap Emilia.
“Sepertinya mental Tuan Putri sedang terguncang hebat, inilah yang menyebabkan beliau mengurung diri dan berteriak-teriak hingga melakukan percobaan bunuh diri. Apakah sebelum ini ada masalah yang membuat beban pikiran beliau semakin kacau?” tanya sang dokter balik.
Isabelle berpikir sejenak, tapi dia tidak menemukan masalah apa pun di pikirannya, selama yang dia tahu Emilia tidak pernah mendapatkan masalah yang berat kecuali masalah yang dibuat oleh Krystal padanya. Kemudian pikiran Isabelle mengarah keapada Krystal, dia menduga ada masalah lain yang terjadi antara Krystal dan Emilia.
“Mungkin ada, lalu apa yang harus aku lakukan? Adakah obat yang perlu diminum Emilia?”
Dokter tersebut menuliskan sebuah resep untuk Emilia dan memberikannya kepada Isabelle.
“Ini adalah resep obat yang perlu diminum oleh Tuan Putri, usahakan obatnya rutin diminum sampai kondisi beliau membaik sepenuhnya,” ujar dokter itu.
Isabelle mengangguk mengerti, dokter pun beranjak pergi dari istana kediaman Emilia, kini tinggallah Isabelle bersama Emilia dan beberapa orang pelayan.
Kemudian seorang ksatria masuk ke kamar ingin melaporkan sesuatu hal kepada Isabelle.
“Mohon maaf, Yang Mulia, baru saja saya mendengar bahwa Tuan Putri mendapat masalah saat mengobati Putra Mahkota Ottavio. Diduga selepas Tuan Putri mengobatinya, penyakit Putra Mahkota bertambah parah dan nyawanya nyaris berada di ujung tanduk. Akhirnya, beliau dibawa ke istana Tuan Putri Krystal, di sana beliau mendapat pengobatan dan berhasil kembali dari ujung kematian. Sejak hari itu, Tuan Putri Emilia mengurung diri di kamar, kemungkinan beliau tertekan karena masalah itu.”
Kedua mata Isabelle membulat sempurna, dugaannya benar bahwasanya Krystal ada sangkut pautnya dengan kondisi Emilia saat itu. Tanpa berpikir panjang dan dengan amarah yang meluap, Isabelle memutuskan untuk menyerang langsung Krystal ke istananya.
__ADS_1
...***...
Persiapan menuju Kekaisaran Midland telah selesai, Krystal kini mengenakan dress pendek berwarna merah. Tampilan Krystal teramat menarik, warna merah memang sangat cocok untuk dirinya, bahkan para selir sempat pangling saat melihat Krystal memakai pakaian serba merah.
“Tidak ada lagi yang tinggal kan?” tanya Krystal, saat ini mereka berkumpul di depan halaman istana.
“Tidak, Yang Mulia. Semuanya sudah selesai,” jawab Lucio.
“Oke, mari kita pergi.”
Akan tetapi, tepat menjelang Krystal mendorong tubuhnya untuk terbang di udara, Isabelle datang sambil menggenggam sebuah pedang. Krystal tersenyum miring, dia sudah tahu apa maksud kedatangan Isabelle waktu itu.
“Gadis iblis! Apa yang sudah kau lakukan pada anakku? Apa kau merebut kekuatan sucinya?!” Emosi Isabelle menggebu-gebu tak terkendali, dia juga menodongkan ujung pedangnya ke arah wajah Krystal.
“Jangan pernah arahkan pedangmu padaku karena aku takut pedang ini akan berbalik menyerangmu,” ucap Krystal.
“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin membuatmu mati hari ini!”
Isabelle mengayunkan pedangnya kepada Krystal, tapi Austin lekas menangkis serangan pedang Isabelle. Walaupun Isabelle terkenal dengan kemampuan berpedangnya, tetap saja Austin lebih unggul daripada dia.
__ADS_1
“Jangan ikut campur kau, selir rendahan!” hina Isabelle.
“Masalah Yang Mulia juga menjadi masalahku, jadi aku berhak ikut campur ke dalam masalah ini,” balas Austin.