Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Aura Kesedihan


__ADS_3

Krystal pergi bersama Shion dan Duke Salvatore menaiki kereta kuda, Krystal berusaha untuk terlihat sangat biasa, namun kecantikannya masih bisa dikenali oleh orang lain. Sehingga Krystal terpaksa mengenakan jubah untuk menutupi wajahnya. Sementara itu, Shion duduk di samping Krystal dengan kain yang menutupi keseluruhan penglihatan Shion.


“Maaf sebelumnya, bolehkah saya bertanya? Siapa pria yang bersama Anda ini?” tanya Duke Salvatore.


“Oh dia?” Krystal menggenggam tangan Shion, “Namanya Shion, selir kelima saya,” jawab Krystal.


Duke Salvatore melongo begitu Krystal memperkenalkan Shion, dia tidak tahu Krystal memiliki lebih dari empat selir.


“Sebenarnya, Anda punya berapa selir, Yang Mulia? Maaf kalau pertanyaan saya terkesan lancang karena Kaisar tidak pernah membahas ini,” tanya Duke Salvatore sekali lagi dengan sangat sopan dan berhati-hati.


“Saya punya tujuh selir, saya tidak melaporkan kepada pihak istana berapa jumlah selir yang saya punya. Jadi, wajar saja jika Kaisar tidak mengetahuinya,” jawab Krystal.


“Saya dengar, putra kedua Grand Duke Marvelo juga menjadi bagian dari harem Anda, apakah itu benar? Karena saya dengar Grand Duke Marvelo akan pulang dari daerah selatan untuk memastikan kabar ini.”


Krystal tercengang, berdasarkan ingatan dari si pemilik tubuh, Grand Duke Marvelo selama ini tidak pernah ikut campur dengan masalah kekaisaran. Dia dikenal dingin dan tidak peduli dengan siapa Kaisar yang memerintah di Albertine. Dari generasi ke generasi, Grand Duke Marvelo hanya mementingkan keuntungan sendiri, walau Kaisar berulang kali membujuk Grand Duke Marvelo untuk ikut campur ke dalam urusan kekaisaran, tapi bujukan Kaisar tidak mempan sedikit pun. Kemudian hari ini Krystal mendengar tentang hal ini, perasaannya memburuk mengingat nasib Lucio.


“Ya, itu benar, putra kedua Grand Duke Marvelo yang bernama Lucio Marvelo merupakan selir kedua saya.”


Duke Salvatore mendadak memperlihatkan ekspresi serius, Krystal merasa kedatangan Grand Duke Salvatore bukan karena masalah kecil.


“Saya pernah mendengar rumor tentang Lucio Marvelo, rumor itu mengatakan bahwa Grand Duchess Marvelo tewas di tangan putra keduanya. Saya tidak bisa mempercayainya begitu saja, tapi karena bagian dari alasan inilah Grand Duke Marvelo mengirim anaknya ke daerah kawasan monster. Grand Duke Marvelo mahir dalam mengendalikan sihir, namun berbeda dengan putra keduanya yang memiliki kekuatan di luar nalar manusia,” jelas Duke Salvatore.


‘Lucio membunuh Ibunya sendiri? Apa maksudnya? Aku tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya,’ batin Krystal.


Krystal tenggelam di dalam rasa keingintahuan, kebingungan juga menimpa dirinya, alasan Lucio diasingkan oleh Grand Duke Marvelo menjadi sebuah tanda tanya yang besar di kepala Krystal. Shion menyadari bahwa saat ini Krystal terlalu memaksakan dirinya untuk berpikir lebih keras, ia mencoba untuk menyentuh punggung tangan Krystal.


“Yang Mulia, apa masalah Grand Duke Marvelo juga mengganggu Anda?” bisik Shion bertanya.


“Hmm sedikit, tapi saat ini ada yang lebih penting lagi,” balas Krystal.

__ADS_1


Tidak berselang lama, mereka pun tiba di alun-alun kota, mereka bersama-sama turun dari kereta kuda. Krystal mengedarkan pandangan, matanya menelusuri setiap inci tempat yang digunakan oleh rakyat biasa mencari nafkah. Kondisi pasar alun-alun kota sungguh tampak kacau, ramai para preman yang menyiksa penjual. Mereka memaksa penjual untuk memberi uang perlindungan kepada mereka, bahkan tidak sedikit anak kecil yang bekerja sebagai pencuri.


“Sebelah sini, Yang Mulia.” Duke Salvatore menyuruh Krystal untuk mengikutinya dari belakang.


Shion tidak melepaskan genggaman tangannya dari Krystal, walau netranya ditutupi kain putih, dia tetap bisa berjalan seperti orang normal tanpa takut terjatuh atau pun terjerembab.


“Aura kesedihan,” ucap Shion tiba-tiba.


“Aura kesedihan?”


Shion mengangguk, “Meskipun mata saya tertutup, saya masih bisa merasakan aura mereka. Aura kesedihan menyelimuti tempat ini, sepertinya rakyat di sini sudah mulai putus asa dengan hidupnya masing-masing.”


Krystal kembali memperhatikan dengan seksama setiap orang yang mereka lalui, memang betul bahwa mereka diliputi oleh kesedihan dan keputusasaan. Selama ini suara mereka tidak dihiraukan oleh Kaisar, hidup mereka dihancurkan oleh pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Krystal merasa pedih menyaksikan semua ini secara langsung di depan mata. Untuk saat ini Krystal tidak bisa berbuat banyak demi menyelamatkan mereka.


Ketika mereka masuk lebih jauh lagi, tanpa sengaja Krystal menangkap pemandangan yang menjengkelkan. Beberapa orang ksatria kekaisaran datang merusuh di dalam pasar, mereka memaksa para pedagang untuk menyerahkan pajak kepada mereka, jumlah yang mereka minta juga tidaklah sedikit.


“Berikan uangnya sekarang juga! Atau kau mau semua barang daganganmu ini aku acak-acak?” Seorang ksatria tampak melakukan kekerasan serta pengancaman kepada seorang pedagang buah.


“Kemarin kau juga tidak memberikan uang pajak padaku, tidak ada kesempatan kedua untukmu! Lebih baik kau mati saja daripada hidup tidak menghasilkan apa-apa untukku.” Ksatria tersebut menarik pedangnya dan hendak menghunuskan pedang itu ke leher si pedagang.


Tepat pada saat itu, Krystal menahan ujung pedangnya menggunakan dua jari, rencana ksatria itu untuk membunuh berakhir gagal. Pedagang itu bersyukur Krystal datang tepat waktu, sekujur badannya gemetar hebat dan langsung terduduk lemas memeluk kedua anaknya yang menangis.


“Sebaiknya kau hentikan itu sekarang juga,” ujar Krystal dingin.


“Apa kau berniat menjadi pahlawan kesiangan? Lepaskan pedangku sebelum aku tebas lehermu itu!” bentak si ksatria.


Krakk


Pedang ksatria tersebut patah menjadi dua bagian, Krystal benar-benar menunjukkan kemurkaannya.

__ADS_1


“Tebas? Tapi pedangmu sudah aku patahkan.”


“Kurang ajar! Aku ini ksatria kekaisaran, kau rakyat jelata harusnya bisa menunjukkan rasa hormatmu padaku!” Ksatria itu memamerkan statusnya sebagai ksatria kepada Krystal, namun tidak seperti yang dibayangkannya, Krystal tidak menaruh takut secuil pun padanya.


“Statusmu bahkan lebih rendah dariku,” ledek Krystal.


“Apa? Beraninya kau!” Lalu ksatria itu menarik pedang salah satu temannya dan mengarahkannya kepada Krystal. Shion dengan langkah cepat menahan serangan pedang ksatria itu menggunakan sebuah pisau kecil.


“Kalau sampai pedang jelekmu ini mengenai sehelai rambutnya saja, akan aku pastikan hidupmu berakhir di tanganmu detik ini juga.”


...***...


Di sisi lain pada waktu yang bersamaan, saat ini Fred mengadakan pertemuan tersembunyi bersama beberapa orang bangsawan berpengaruh di Albertine. Mereka saat ini tengah resah sebab Krystal memiliki pendukung untuk naik ke takhta Putri Mahkota.


“Saat ini faksi bangsawan terbagi menjadi dua bagian, faksi pendukung Tuan Putri Emilia dan faksi pendukung Tuan Putri Krystal,” ujar Count Egmont.


“Faksi pendukung Tuan Putri Krystal? Ini tidak bisa dibiarkan! Gadis yang sudah melukai putriku tidak akan aku biarkan naik menjadi Putri Mahkota.” Duke Nadean melimpahkan amarahnya karena Krystal pernah melukai putri kecilnya – Joanna saat berada di akademi.


“Yang Mulia, Anda harus lakukan sesuatu dengan masalah ini. Anda tidak boleh membiarkan gadis itu naik menjadi Kaisar.”


Suara para bangsawan saling bersahutan meminta agar Fred segera menyelesaikan masalah ini.


“Tenanglah Anda sekalian, Yang Mulia pasti melakukan sesuatu dengan masalah ini,” kata Marquess Sulivan.


Fred berada di ujung meja memimpin jalannya rapat tersembunyi ini, pikirannya dipenuhi oleh permasalahan yang timbul akibat Krystal yang semakin menunjukkan ancaman untuk dirinya dan diri para bangsawan yang hadir di rapat tersebut.


“Aku juga sedang memikirkannya sebaik mungkin, tapi gadis itu terlalu kuat bahkan aku ragu Pendeta Agung atau pun penyihir bisa menyingkirkannya dengan mudah,” tutur Fred.


“Kita harus melakukan apa pun itu, Yang Mulia! Jangan sampai takhta Kaisar jatuh ke tangan gadis itu. Sejak awal dia memiliki status penting dan—”

__ADS_1


“YA, AKU TAHU ITU!” sergah Fred emosi, “Aku tahu itu karena Krystal bukan anakku, Ibunya bukan wanita penghibur atau pun selirku. Krystal adalah anak dari kakakku yakni Kaisar sebelumnya dengan Ibunya sebagai Permaisuri.”


__ADS_2