Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Keasingan Langit


__ADS_3

Isabelle kembali menundukkan kepala, jemarinya bergerak meremas permukaan gaunnya, sejujurnya dia takut dengan alam kematian. Akan tetapi, untuk saat ini tak ada hal lain yang dapat dia lakukan demi menyelamatkan nyawanya. Krystal telah menguasai Albertine, ditambah lagi tidak ada bantuan dari gereja atau pun kekaisaran lain. Isabelle memasrahkan dan menyerahkan diri kepada Krystal supaya jiwanya bisa dikirim segera ke alam akhirat.


“Apakau benar-benar berpikir aku akan mengatakan hal itu?” Tatapan mematikan dari Krystal menusuk kuduk Isabelle. Refleks wanita yang bersimpuh di bawah kaki Krystal itu mendongakkan kepalanya dan mencoba menatap balik mata Krystal.


“Kau pikir aku akan membiarkanmu mati begitu saja? Itu tidak mudah karena dendamku padamu jauh lebih besar dari yang kau bayangkan. Kau memang dipastikan mati, tapi tentu saja aku harus memberimu siksaan lalu memperlihatkan padamu neraka dunia yang sebenarnya,” ucap Krystal selanjutnya diiring ekspresi sadis serta


senyum menyeramkan.


Terlihat mimik puas dari wajah ketujuh selir, sesungguhnya tadi mereka agak terkejut mendengar Krystal mengabulkan keinginan Isabelle dengan mudah. Mereka menggerutu di dalam hati dan mengatakan seharusnya Krystal menyiksa wanita itu terlebih dahulu sebelum dikirim ke neraka. Maka dari itu, mereka lega ternyata Krystal tidak melupakan kejahatan yang telah dilakukan Isabelle sepanjang hidup si pemilik tubuh.


“A-apa? K-kenapa? Kenapa kau malah berniat menyiksaku? Bukankah aku sudah mengakui kesalahanku? Cukup kau tikamkan saja ujung pedang ini pada dadaku. Lekas laksanakan! Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi. Tolong segera kirim aku ke tempat anak-anakku berada!” teriak Isabelle.


“Wanita ******! Jangan kau pikir kau bisa melupakan semua yang kau lakukan padaku dan kepada rakyat selama ini!” Krystal dengan amarah yang menggebu-gebu menendang tubuh Isabelle hingga terpental ke belakang, “Apa kau tahu betapa tersiksanya aku selama ini? Apa kau pernah memikirkan seberapa perihnya hatiku harus bertahan di dalam kesengsaraan hidup yang kau ciptakan untukku?! Kau sungguh membuatku jijik! Hukuman ini tidak setimpal dengan penderitaanku, tapi setidaknya kau bisa mengingat rasa sakitnya sampai ke neraka!”


Krystal diiringi segala kemurkaan yang tertumpuk pada hatinya selama ini, dia mengangkat gagang pedang tinggi-tinggi kemudian mendaratkan bagian tajamnya tepat di kaki Isabelle hingga membuat kedua kaki wanita itu terpotong. Bahana pekikan yang sangat kuat menggaung di ruang singgasana, semua orang hanya memandang datar ke arah Krystal dan Isabelle. Percikan darah menodai wajah mulus Krystal, dia ingin membuat Isabelle tersiksa lebih lama lagi.

__ADS_1


“Kau hanya kehilangan dua kakimu, kenapa kelihatannya kau sangat kesakitan? Jangan membuatku tertawa, Permaisuri yang terhormat. Sepanjang aku hidup sebagai Krystal, aku melihat kau bangga sekali menyandang gelar Permaisuri, tapi apa yang terjadi saat ini? Kau malah terlihat seperti seorang manusia yang tak berguna,” ujar Krystal menggunakan nada bicara menyindir.


“Tolong jangan seperti ini … aku mohon, bunuh aku, aku tidak mau tersiksa lebih lama lagi. Menyakitkan … sungguh menyakitkan … rasa nyeri dan sakit meluruh di sekujur badanku. Aku tidak mau merasakannya … ini terlalu kejam …,” lirih Isabelle.


“Kau merasa tersiksa? Aku terlalu kejam, ya? Baiklah, aku akan membuatmu merasa lebih baik.” Krystal mengembalikan kedua kaki Isabelle seperti semula menggunakan kekuatan sucinya, tapi itu hanya bertahan selama beberapa detik, “Tetapi, sayangnya aku tidak sebaik itu.” Sekali lagi Krystal memotong kedua kaki Isabelle, jeritan Isabelle kembali menggema di ruang singgasana.


Krystal terus menerus melakukannya berulang kali sampai menyebabkan Isabelle tidak sadarkan diri. Kedua kakinya dibiarkan bunting tanpa mengembalikan ke bentuk semula, dia langsung menyuruh kesatria membawa Isabelle menjauh dari pandangan matanya. Kini Krystal memutar penglihatan ke arah Fred dan Marquess Sulivan. Tubuh mereka ditekan ke lantai oleh kesatria sebab mereka tadi mencoba untuk kabur dari hukuman yang akan dilayangkan Krystal.


“Wanita iblis! Menjauh kau dariku! Jangan coba-coba melakukan hal yang sama pada diriku!” bentak Marquess Sulivan diselingi perasaan takut mendalam. Marquess Sulivan tak sanggup menyembunyikan betapa takutnya dia kala itu terhadap Krystal. Namun, dia tidak bisa lari dari kematian yang telah ditakdirkan Krystal untuknya.


“Wanita iblis? Aku rasa itu tidak salah, aku memang mempunyai darah iblis di diriku. Aku tidak menyangkal jika kau mengatakan aku seorang iblis. Sayangnya, walau kau mencoba kabur dariku, aku takkan mengubah niatku untuk membunuhmu. Kau adalah salah satu orang yang berhasil menciptakan skenario agar semua orang membenci kehadiranku. Kau pria tua yang menjijikkan!”


“Waktu kalian habis, sekarang saatnya menikmati neraka dunia yang aku ciptakan khusus untuk kalian berdua.”


Tertawa kecil nan mengerikan menyertai penyiksaan yang dilakukan Krystal terhadap kedua orang tersebut. Mereka diperlakukan sama seperti Isabelle, beberapa bagian tubuh mereka dicincang, dipotong, lalu dikembalikan seperti semula. Hal itu berlanjut hingga keduanya tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang diberikan Krystal.

__ADS_1


“Bawa mereka bertiga ke panggung eksekusi! Biarkan seluruh rakyat masuk dan menyaksikan akhir dari kehidupan ketiga orang ini!” seru Krystal dengan lantang.


Bergegas semua orang ke luar dari ruang singgasana, Krystal didampingi ketujuh selirnya menuju ke dekat panggung eksekusi. Senyum bangga terukir dari bibir Krystal, dia hampir menyelesaikan dendam pemilik tubuh ini. Selepas semuanya berakhir, Krystal berencana pergi dari Albertine dan meninggalkan kehidupan memuakkan ini.


“Yang Mulia, di mana Cherry dan Bleas? Lalu apa Anda melihat Fergus? Mereka bertiga tidak berada di sini sekarang,” tanya Julian.


“Aku juga tidak tahu mereka di mana, mereka tiba-tiba saja menghilang, aku rasa mereka punya urusan penting untuk diurus,” jawab Krystal.


Sorak sorai rakyat mengisi setiap sudut penjuru kekaisaran, mereka menyoraki dan memaki ketiga orang yang berada di panggung eksekusi. Krystal menikmati pemandangan menyenangkan ini dari atas sembari mengamati situasi sekitar.


‘Langit terlihat berbeda hari ini, apa ada sesuatu yang terjadi di Kekaisaran Langit? Entah mengapa ada sesuatu yang hilang di sana, tapi aku tidak tahu apa yang menghilang,’ batin Krystal merasakan keasingan dari langit.


“Penggal saja kepala para pembunuh itu! Jangan beri mereka kesempatan untuk menikmati hidup di dunia ini!”


Teriakan dan seruan rakyat membuyarkan lamunan Krystal, dia kembali fokus terhadap apa yang sedang dihadapi di depan matanya saat ini.

__ADS_1


“Mereka sudah membunuh Kaisar dan Permaisuri, bahkan memanipulasi ingatan kita agar membenci Tuan Putri Krystal. Bunuh penjahat yang sudah mendatangkan penderitaan terhadap Albertine!”


“Kirim mereka segera ke neraka! Tiada maaf atas perbuatan keji yang mereka lakukan selama ini! Dasar manusia serakah penipu rakyat!”


__ADS_2