
Berita mengenai kehancuran Akademi Parthevia langsung menyebar ke telinga seluruh bangsawan, bahkan berita ini juga sampai ke kekaisaran lain. Krystal sebelumnya membayar orang untuk menambah-nambah isu tentang sisi buruk dari Kepala Akademi, Profesor Tesya, hingga anak-anak yang belajar di sana. Kemudian kabar tentang alasan tingginya angka bunuh diri di Akademi Parthevia juga terungkap sepenuhnya. Masyarakat pun mengkecam Kaisar untuk memberi hukuman seberat-beratnya terhadap oknum yang terlibat.
Krystal berada di depan para korban mewakili untuk menyuarakan isi hati mereka, tentang bagaimana perlakuan buruk serta diskriminasi yang diterima bagi mereka yang bukan berasal dari kalangan bangsawan atas. Ditambah dengan bukti-bukti yang disertakan oleh Krystal membuat Fred mau tidak mau harus memberi hukuman kepada Kepala Akademi dan Profesor Tesya berupa hukuman pengusiran ke daerah terpencil. Namun, Krystal menentang tegas hukuman yang menurutnya terlalu ringan tersebut, Krystal mendesak Fred untuk menjatuhkan mereka ke wilayah monster dan menjadikan mereka sebagai santapan para monster.
Tentu saja hal itu ditentang oleh banyak bangsawan pada awalnya, mereka menolak pemberian hukuman itu karena dirasa terlalu berat. Bagi mereka, orang-orang yang bunuh diri tersebut merupakan kesalahan korban dan bukan kesalahan dari akademi itu sendiri.
Brakkk
Krystal menggebrak meja di ruang rapat, ia tidak bisa membiarkan masalah itu berlarut-larut lebih lama lagi. Krystal memikirkan perasaan dari keluarga korban yang selama beberapa waktu meminta keadilan, betapa pedih hati mereka seketika tahu bagaimana perlakuan orang-orang terhadap anak, orang tua, istri, atau suami mereka selama berada di akademi. Kini Krystal datang membawa keadilan untuk mereka, tidak terhitung berapa orang sejak kemarin memohon sembari berderai air mata di bawah kaki Krystal supaya dia menegakkan keadilan bagi para korban.
“Bagaimana kalau kalian yang berada di posisi korban? Bagaimana kalau seandainya itu terjadi kepada keluarga tercinta kalian? Dengan entengnya mulut kalian berbicara dan menolak hukuman berat untuk para pelaku, kalian juga menuding itu semua salah korban sendiri. Kalian tidak punya otak ya? Atau otak kalian diganti dengan otak binatang? Kalian tidak waras sama sekali,” tekan Krystal.
“Krystal, tolong ten—”
“Ini!” Krystal melempar puluhan kertas ke udara yang berisi bukti nyata mengenai insiden yang ditutupi keras oleh akademi. “Perundungan berakhir dengan pembunuhan mental korban, perilaku curang di dalam ujian, penyogokan,
memperjualbelikan soal ujian secara illegal, memanipulasi nilai para siswa, pemotongan gaji dengan alasan yang tidak masuk akal, penggelapan dana pembangunan akademi, lalu yang terakhir pelecehan verbal dan nonverbal. Apa ada di antara kalian yang akan diam saja saat menerima perlakuan seperti ini?”
Para bangsawan terdiam, mereka serentak merapatkan bibir sebab tidak ada kata-katayang dapat mereka lontarkan saat ini. Perkataan Krystal disertai bukti yang valid menyebabkan mereka tidak bisa melayangkan pembelaan terhadap pelaku.
“Sinting memang, tapi rata-rata dari kalian juga terlibat dengan pelaku karena kalian memberikan uang sogokan untuk memanipulasi nilai anak kalian sendiri dan menjatuhkan nilai anak-anak berbakat dari kalangan bawah. Kalian pun ikut membeli soal ujian itu kan?”
__ADS_1
“Cih, kalian tidak perlu menutupinya lagi. Bahkan yang lebih parahnya, Permaisuri ikut andil di dalamnya dengan memberi uang suapan supaya Kepala Akademi tidak meluluskanku dari akademi. Betapa terpujinya sikap Permaisuri ini, apalagi jika dunia luar sampai tahu, pasti Albertine semakin terkenal.”
Isabelle tersentak oleh pernyataan Krystal, para bangsawan mulai mengarahkan pandangan aneh kepada Isabelle. Mereka tidak menyangka Permaisuri juga melakukan hal yang sama dengan mereka. Isabelle menundukkan wajah, dia tidak sanggup mengangkat kepala lalu menatap langsung ke arah Krystal. Fred pun merasa jengkel atas perbuatan Isabelle, dia tak menyangka sama sekali kalau Isabelle melakukan hal sebodoh ini tanpa sepengetahuannya.
“Tapi, menghancurkan akademi dan membuat orang lain terluka, bukannya itu berlebihan? Banyak orang yang terluka parah kemarin karena ulah Anda sendiri, jad—”
“Bukankah aku sudah memberikan uang kompensasi langsung? Aku memberikan ribuan koin emas untuk pendirian akademi kembali, dan Emilia bisa menyembuhkan mereka bukan? Apa lagi yang mau kalian proteskan?” balas Krystal dingin.
“T-tidak ada. M-maaf, Yang Mulia.”
“Dari mana Anda mendapatkan uang sebanyak itu? Uang pemusnahan monster sebelumnya tidak mungkin sebanyak itu,” ujar salah satu bangsawan.
“Aku ini lebih kaya dari yang kalian tahu, aku bahkan bisa membeli kekaisaran ini jika aku mau. Tapi, sayangnya aku menolak untuk menghamburkan uangku hanya untuk membeli sebongkah sampah tak berguna,” sarkas Krystal.
“Jadi, sudah diputuskan kalau hukuman terhadap Kepala Akademi dan Profesor Tesya yaitu berupa menjatuhkan mereka ke wilayah monster. Lalu untuk pelaku lainnya akan dijatuhi hukuman pengurungan selama beberapa waktu yang ditetapkan. Aku akan mengawasi langsung dalam menjalani hukuman ini, bila ditemukan adanya ketidakadilan maka aku akan menjatuhkan kalian langsung ke neraka,” putus Krystal sembari menggertak mereka.
“Ya, lakukan seperti yang dikatakan oleh Krystal. Jangan ada yang membantah lagi,” ucap Fred.
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah penetapan keputusan, Krystal beranjak pergi bersama ketiga selirnya dan saat ini mereka ingin menuju ke pusat kota untuk menjernihkan pikiran seusai bersitegang dengan para bangsawan.
__ADS_1
“Seharusnya Anda kemarin mengajak saya menghancurkan akademinya,” celetuk Austin. Sedari kemarin Julian selalu membanggakan kekuatan Krystal kepada Austin dan Lucio sehingga menimbulkan rasa iri di hati.
“Benar, Yang Mulia. Kenapa Anda tidak mengatakan apa-apa kepada kami sebelumnya?” timpal Lucio ikut protes.
“Terlalu mendadak, kalau mereka tidak mencari masalah denganku kemarin mungkin akademi itu akan hancur hari ini,” jawab Krystal.
Di saat mereka tengah asik berbincang sambil menikmati suasana kota nan ramai, tiba-tiba ada seorang pedagang berlari mengejar seorang anak perempuan.
“HEI! BERHENTI KAU PENCURI KECIL!”
Anak perempuan itu diduga telah mencuri sepotong roti dari pedagang tersebut, penampilan gadis kecil itu terlihat kusut dan kumal. Tampaknya ia kelaparan hingga tak mampu menahan diri lagi untuk mencuri. Pedagang itu memojokkan si gadis kecil tersebut ke sebuah gang kecil, kini gadis itu tidak bisa lari ke mana pun.
“Kembalikan rotinya padaku,” pinta si pedagang.
Gadis itu menolak untuk mengembalikan rotinya, rambut pirangnya menutupi kedua matanya sehingga tidak ada yang tahu bagaimana wajah asli gadis itu.
“Berapa harga roti itu? Biar aku yang membayarnya,” sela Krystal berada di belakang si pedagang. Akan tetapi, menjelang pedagang itu merespon pertanyaannya, Krystal lebih dahulu melemparkan dua koin emas, “Segitu cukup kan?” tanya Krystal kemudian.
“Ya, ini lebih dari cukup.”
“Kalau begitu pergilah dari sini sekarang.”
__ADS_1
Si pedagang terlihat sumringah mendapat dua koin emas dari Krystal, dia pun pergi membawa rasa bahagia karena dua koin emas terlalu banyak hanya untuk sepotong roti.