Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Kedatangan Iris dan Regan


__ADS_3

Krystalia masih belum menyerah, walaupun kala itu kekuatannya seakan-akan terserap habis oleh rantai yang membalut badannya. Krystalia nyaris kehilangan kesadaran, tetapi dia masih mencoba bertahan sejenak sembari memikirkan cara keluar dari situasi tersebut. Namun, tubuhnya kian melemah serta kegelapan menghampiri pandangannya. Sebentar lagi Krystalia akan mencapai alam bawah sadarnya.


‘Tidak … aku tidak bisa mati di sini. Aku belum boleh mati, aku harus membalaskan kematian para selirku. Kenapa aku lemah sekali?’


Menjelang kesadarannya terenggut, tetesan air mata mengucur deras dari sudut penglihatan Krystalia. Perasaan putus asa menggerogoti hatinya, rasa marah dan kecewa dilimpahkan seutuhnya terhadap diri dia sendiri. Krystalia mengutuk ketidakbergunaan ia sebagai anak dari dewi iblis dan Kaisar langit.


‘Begitukah? Aku tidak punya kesempatan memberi pembalasan terhadap kematian semua orang yang berharga bagiku.’


Morgan tertawa kencang begitu Krystalia berhasil dia taklukkan begitu mudahnya. Sekarang Morgan mencoba mendekati tubuh Krystalia yang pucat tak bernyawa.


“Lepaskan ikatan rantainya,” titah Morgan.


Morgan menangkap tubuh Krystalia, dia menggendongnya menuju sebuah altar yang mendadak muncul di hadapannya. Altar yang terletak di atas tiga puluh anak tangga, di sekitar altar dihiasi api lilin nan menyala terang.


Morgan menaruh tubuh Krystalia di atas altar, tidak lupa dia mengganti pakaian gadis itu dengan sebuah gaun berwarna hitam. Cukup satu langkah lagi sampai dia berhasil menguasai dunia ini di dalam genggamannya.


“Sedikit lagi … aku hanya butuh waktu beberapa detik untuk menarik berlian kepemimpinan di jantungnya. Apabila aku berhasil mendapatkannya, maka alam semesta ini akan jatuh ke tanganku.”


Morgan mengarahkan sentuhan tangannya ke arah jantung Krystalia, dia bersiap-siap memulai rencana terakhir.


“Berhenti! Kau tidak bisa mengambil berlian kepemimpinan itu tanpa seizinku!”


Seorang pria bersurai putih bersama seorang wanita berambut hitam tiba-tiba muncul menghentikan aksi Morgan. Wajah kedua orang itu terlihat tidak asing di ingatan Morgan. Tentu saja, ini karena mereka adalah Regan dan Iris yakni orang tua kandung Kristalia. Mereka datang tepat waktu sebelum Morgan berbuat lebih jauh.


“Regan, Iris, lama tidak berjumpa. Aku kira kalian sudah mati, siapa sangka aku akan bertemu kalian di saat-saat seperti ini,” ujar Morgan.


“Aku tidak butuh kalimat sapaan tidak bergunamu itu, sebaiknya sekarang kau serahkan tubuh putriku sebelum aku hancurkan kepalamu,” gertak Regan dibubuhi emosi mendalam.


Betapa besar amarah meledak-ledak di diri Regan maupun Iris menyaksikan putri tercinta mereka terbujur kaku tak berdaya di atas altar nan dingin. Berbagai masalah menerjang dan mencoba menghancurkan harapan yang bersarang di relung jiwa Krystalia. Tanpa mereka sadari, berbagai luka derita terukir dan terkubur lalu sekarang luka itu terbuka kembali sebelum sempat mengering.

__ADS_1


“Lihatlah ekspresi angkuh kalian itu, masih saja tidak berubah meski sudah lama berlalu semenjak hari pemberontakan. Putri kalian sudah mati! Sekarang hanya tinggal wadah kosong tak bernyawa saja. Menyerahkan tubuhnya kepada kalian? Tidak, aku takkan melakukannya.”


“Kalau begitu, artinya kau menarik pedang untuk berperang dengan kami. Bagaimana pun juga, putriku bukanlah alat untuk kau meraih kekuasaan,” tekan Iris.


Morgan mengabaikan perkataan Iris, secara mendadak timbul cahaya menyilaukan dari dada Krystalia. Tubuh Morgan terhempas jauh akibat kilatan cahaya tersebut, lalu Iris mengambil kesempatan itu untuk membawa tubuh Krystalia menjauh dari jangkauan Morgan.


“Iris, bawa Krystal pergi dari sini! Serahkan urusan di tempat ini kepadaku,” seru Regan.


“Baiklah, berhati-hatilah saat melawan mereka.”


Dalam sekejap Iris menghilang dari tengah kerumunan, ia membawa Krystalia ke sebuah tempat yang takkan bisa dijamah siapa pun. Dia membaringkan tubuh Krystalia di atas lantai dan di sekitarnya hanya terdapat ruangan kosong berwarna biru bercampur putih. Sungguh, perasaan Iris tercabik-cabik begitu melihat kondisi putrinya yang amat mengkhawatirkan.


“Tenang saja, Krystal. Ibu akan menyelamatkanmu bagaimana pun caranya.”


Iris mengecup kening Krystalia, dia membagikan sebagian energinya untuk memulihkan kondisi tubuh putrinya. Tubuh Krystalia mendadak bereaksi, suhu dingin yang menjalar di badannya menunjukkan penurunan. Kehangatan menghampiri Krystalia, dia berhasil melewati masa kritis sehingga tidak perlu lagi terjun ke lembah kematian.


“I-Ibu ….”


“Krystal … maafkan Ibu … maafkan Ibu sudah melibatkanmu ke dalam masalah besar dan meninggalkanmu sendirian. Maaf, Krystal ….”


Iris mengucap kata maaf berulang kali, Krystalia hanya diam menatap sendu sang Ibu. Rasanya melegakan sekali melihat Ibunya setelah sekian lama waktu berlalu.


"Aku tidak pernah marah atau pun menyalahkan Ayah dan Ibu karena telah meninggalkanku. Aku paham alasannya, ini bukanlah kehendak kalian melainkan sebuah keterpaksaan. Berhentilah merasa bersalah, Ibu. Justru aku sangat senang melihat Ibu kembali," tutur Krystalia.


Mendengar Krystalia berucap demikian, Iris mengusap air matanya yang terlanjur jatuh. Putri kecilnya kini telah sangat dewasa.


"Ya, baiklah. Banyak hal yang telah kau lalui selama kami tidak bersamamu. Syukurlah aku dan Regan datang tepat waktu."


Krystalia mengedarkan pandangannya, seketika ia bertanya-tanya di mana ia berada kala itu. Pemandangan yang sangat asing dan belum pernah dia jumpai sebelumnya.

__ADS_1


"Ibu, kita ada di mana?" tanya Krystalia.


"Kita ada berada di bawah dunia manusia. Tempat ini hanya bisa dimasuki olehku."


"Lalu bagaimana keadaan di luar sekarang? Selirku semuanya mati karena pria sialan itu. Aku harus membalaskan kematian mereka," gerutu Krystalia.


"Tenang saja, mereka aman. Cherry dan Bleas membantu untuk pemulihan tubuh mereka. Jangan khawatir, mereka tidak akan mati semudah itu."


Iris memperlihatkan kondisi di luar sana. Terlihat Cherry dan Bleas tengah memindahkan tubuh ketujuh selir Krystalia ke tempat yang lebih aman lalu membantu penyembuhan luka di tubuh mereka.


Krystalia menghela napas lega, sejujurnya itulah hal yang paling dia syukuri untuk saat ini. Setidaknya mereka bisa diselamatkan dan tidak mati akibat ulah Morgan.


"Ibu, apa yang harus aku lakukan? Kekuatanku jauh berbeda dari Morgan. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa," keluh Krystalia.


"Itulah alasan mengapa aku membawamu kemari."


Iris menyerahkan satu botol cairan berwarna merah. Cairan tersebut sekilas terasa memendam sebuah kekuatan.


"Minum ini. Kakekmu menyiapkan ramuan khusus untuk membuka seluruh segel kekuatanmu," lanjut Iris berucap.


"Kakek?" Krystalia menatap bingung Iris.


"Iya, Kakekmu. Ah, apa jangan-jangan dia tidak memberitahumu? Kakekmu bernama Fergus. Pria tua berbentuk spirit yang beberapa waktu ini sempat bersamamu," jelas Iris.


Krystalia mengingatnya, dia sangat terkejut begitu mengetahui identitas Fergus sebagai Kakeknya.


"Astaga, aku benar-benar tidak tahu sama sekali. Lalu di mana Kakek sekarang? Apakah dia tidak bersama Ibu?"


Iris menggeleng pelan. "Tidak, Kakekmu sedang memperbaiki kerusakan di istana langit dan membantu membunuh beberapa orang bawahan Morgan. Yang terpenting, kau harus meminum ramuan ini segera. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Morgan."

__ADS_1


Krystalia membeku menatap botol ramuan tersebut. Lalu tanpa berpikir panjang, ia langsung meneguk habis ramuannya. Akan tetapi, sesuatu yang aneh terjadi setelah itu.


Suhu tubuh Krystalia mengalami kenaikan. Jantungnya seolah-olah akan meledak detik itu juga. Iris membantu menekan rasa sakit itu sambil berharap putrinya bisa berhasil menangani kesulitannya.


__ADS_2