Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Kekaisaran Tengah Panas


__ADS_3

Bastein dan Agon bergegas membuka pintu tersebut, mereka menemukan beberapa orang pelayan wanita bernasib sama dengan pelayan yang ada di pangkuan Krystal. Di antara mereka ada yang tidak lagi bernyawa, dan ada juga yang berada di kondisi kritis.


“Ini tidak bisa ditoleransi lagi! Yang Mulia, apa Anda mengetahui masalah ini?” tanya Duke Salvatore kepada Fred.


‘Sial! Aku tidak bisa melindungi Arsen kalau begini ceritanya, aku harus menyembunyikan fakta bahwa aku tahu tentang perbuatan Arsen,’ batin Fred.


Fred berdehem, dia segera memperbaiki ekspresinya, perlahan melangkah ke depan pintu ruangan yang berisi korban penyiksaan Arsen.


“Apa ini? Aku sungguh tidak percaya sama sekali Arsen melakukan hal sekeji ini,” ujar Fred berpura-pura kaget.


Krystal mengerutkan keningnya melihat Fred yang berpura-pura, padahal sebenarnya sedari awal dia mengetahui kebiasaan buruknya Arsen. Krystal memilih untuk diam karena dia telah menyiapkan skenario kematian untuk masing-masing dari mereka.


Detektif pun langsung mengusut tuntas perkara ini, sementara waktu Arsen akan dikurung di penjara bawah tanah sebagai tersangka pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan. Kekaisaran Albertine geger oleh penemuan kerangka, mayat, dan para korban lainnya di istana Arsen. Rakyat pun demo di depan gerbang istana bahwa pihak istana mesti memberi hukum terberat untuk Arsen. Mereka tidak mau menerima seseorang seperti Arsen sebagai pemimpin mereka nanti, bahkan para bangsawan tidak mampu mengatasi kemarahan rakyat.


Kekaisaran lain berulang kali mengirim surat kepada Fred, mereka mengatakan bahwa beritanya sudah melebar ke mana-mana. Fred diminta untuk lebih bijak kepada rakyatnya, walau anaknya sendiri yang berbuat jahat, tetap saja hukum harus ditegakkan. Beribu-ribu hinaan dan hujatan terdengar sampai ke pendengaran Fred, Isabelle, dan Emilia. Mereka mengkecam perbuatan Arsen dan perbuatan mereka terhadap Krystal selama ini. Kini Krystal menerima banyak dukungan dari para rakyat, ia dinilai sebagai korban ketidakadilan dari keluarga kekaisaran.


Isabelle dan Emilia tidak menerima Arsen akan dihukum berat, lalu mereka pergi menemui Pixies di gereja. Akan tetapi, kedatangan mereka ditolak sebab Pixies bersama para pendeta yang lain akan melakukan beberapa hal, jadi mereka tidak bisa membantu keduanya. Saat ini Isabelle dan Emilia berada di jalan buntu, untuk keluar dari istana saja mereka harus menyamar, jika ada rakyat yang melihat wajah mereka, maka dipastikan keduanya mendapat hujatan.


“Ibu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak ada orang yang mau membantu kakak,” kata Emilia mulai putus asa.

__ADS_1


“Kita harus bicarakan ini dengan Marquess Sulivan, hanya dia yang bisa membantu kita.”


Keduanya berlalu meninggalkan gereja, dan langsung pergi menemui Marquess Sulivan di kediamannya. Marquess Sulivan terkejut dengan kedatangan mereka berdua, ia kemudian membawa Isabelle dan Emilia ke tempat yang lebih aman di belakang mansionnya. Kedatangan Isabelle dan Emilia membuat Marquess Sulivan meningkatkan kewaspadaan karena dia takut dicurigai oleh orang lain.


“Kenapa Anda menemui saya, Yang Mulia? Apakah Anda tidak tahu bagaimana kondisi terkini kekaisaran?” tanya Marquess Sulivan.


Saat ini kekaisaran sedang panas, Marquess Sulivan menghindari kontak yang membuat kecurigaan rakyat tumbuh. Terlebih lagi kabar mengenai Marquess Sulivan yang menuding bahwa Arsen dijebak oleh seseorang telah tersebar ke masyarakat. Marquess Sulivan turut menjadi perbincangan karena sifat tidak bijaknya itu dan terkesan terlalu membelas Putra Mahkota sekaligus merendahkan Krystal sebagai korban.


“Tidak adakah jalan untuk membebaskan Arsen dari masalah ini? Aku tidak ingin anakku mendapat hukuman mati,” ujar Isabelle.


“Sejak awal Putra Mahkota telah salah, jika beliau membunuh wanita biasa maka masalahnya tidak akan merambat seperti sekarang dan masih bisa kita atasi. Namun, ini menyangkut kematian tunangan putra pertama Duke Salvatore. Anda berdua tahu betul bagaimana Duke Salvatore bukan? Dia adalah bangsawan yang menjunjung tinggi keadilan dan pantang berbuat curang,” ucap Marquess Sulivan.


“Jadi, kita benar-benar berada di jalan buntu? Apakah tidak cukup dengan penurunan tahta saja? Arsen turun dari tahta Putra Mahkota dan Emilia akan naik menjadi Putri Mahkota. Apa tidak ada jalan seperti itu?” tanya Isabelle.


Jujur saja, Isabelle dan Emilia tidak mengetahui sama sekali masalah ini, dukungan mulai berdatangan untuk Krystal satu persatu dari bangsawan dan masyarakat luas. Isabelle geram dan mukanya berubah masam, dia tidak rela apabila Krystal menggantikan posisi Arsen.


“Tidak boleh! Anda mengetahuinya juga kan Marquess perihal rahasia terbesar kekaisaran ini? Krystal tidak boleh naik takhta! Apa pun alasannya, jangan pernah biarkan gadis itu menginjakkan kakinya di singgasana Kaisar,” tutur Emilia.


“Saya tahu itu, Yang Mulia. Ibunya bukan orang biasa, Anda berdua mengambil alih kekuatannya. Bisa saja suatu hari nanti dia menjadi ancaman terbesar setelah mengetahui rahasia di balik kematian Ibunya. Saya juga tidak sudi gadis itu naik takhta, nyawa kita akan melayang bila dia tahu tentang rahasia sesungguhnya. Namun, untuk saat ini memang tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdiam diri,” papar Marquess Sulivan.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita membuat seolah-olah Arsen kabur dari penjara? Setelah keluar dari penjara lalu buat skenario bahwa Arsen mati saat kabur. Katakan saja Arsen dimakan oleh monster ketika dia secara tidak sengaja masuk ke daerah terlarang. Kalau masalah ksatria pengejar, itu bisa diakali nanti, yang penting kita sembunyikan dulu Arsen ke tempat yang aman,” usul Isabelle.


Marquess Sulivan berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepala, “Oke, sepertinya kita bisa melakukan rencana itu.”


Cherry dan Bleas yang masih mengawasi gerak-gerik Isabelle serta Emilia, tanpa sengaja mereka mendengar dari awal sampai akhir. Keduanya segera pergi melaporkan masalah ini kepada Krystal sebelum rencana Isabelle terlaksanakan.


Pada saat yang bersamaan, Krystal tengah duduk bersantai bersama para selirnya kecuali Heros yang masih belum pulang dari istana neraka. Mereka bergurau sembari melepas lelah, terlebih lagi Krystal sejak kemarin belum istirahat sama sekali.


“Yang Mulia, Anda terlalu pandai berakting. Bisa-bisanya orang bodoh itu mempercayai segala bualan yang keluar dari mulut Anda,” ujar Austin, mereka pun terkekeh menertawakan bagaimana orang-orang bersedih atas penderitaan Krystal selama ini.


“Sesungguhnya aku belum terbiasa dengan sikap baik mereka padaku,” balas Krystal.


“Kalian tidak tahu kan? Dulu Krystal saat menjabat sebagai Ratu dari Kerajaan Ezoria, entah berapa kali dia melakukan akting demi menipu bangsawan di sana. Sudah berulang kali dibohongi, mereka tetap saja percaya dengan bualan Krystal.” Vicenzo menceritakan segelintir masa lalu Krystal pada seluruh selir.


“Ratu dari Kerajaan Ezoria? Bukankah itu kerajaan yang paling terkenal sepanjang sejarah? Jadi, Anda dulu pemimpinnya, Yang Mulia?” tanya Lucio.


“Ya, kerajaan kuno itu aku yang memimpin. Sekitar 4000 tahun yang lalu aku membuat kerajaan itu berada di puncak kejayaan, tapi harus menghilang dari peta karena beberapa masalah,” jawab Krystal.


Di tengah perbincangan mereka, Cherry dan Bleas tiba membawa laporan untuk Krystal.

__ADS_1


“Yang Mulia, saat ini Isabelle, Emilia, dan Marquess Sulivan membuat rencana untuk mengeluarkan Arsen dari penjara. Mereka ingin membuat skenario kematian Arsen di saat kabur dari penjara lalu menyembunyikan Arsen ke tempat yang aman,” lapor Bleas.


“Mereka tidak ada kapok-kapoknya. Baiklah, aku akan membuat Arsen mati sebelum rencana mereka dijalankan.”


__ADS_2