
“Hei, ini sudah berlalu dua bulan, tapi Tuan Putri masih lesu dan tidak bersemangat,” bisik Austin kepada selir yang lain.
Kehancuran yang terjadi secara berkala dua bulan lalu masih menjadi beban pikiran bagi Krystal. Selama dua bulan ini Krystal tidak beranjak pergi dari istana kediamannya, sedangkan Fred bersama bangsawan lain sibuk mengurusi kekaisaran yang terancam miskin akibat tidak adanya sokongan dari kekaisaran lain. Krystal tidak mempedulikan apa yang terjadi pada kekaisaran ini, dia memang menginginkan kehancuran bagi Albertine.
Krystal saat ini tengah berdiam diri di meja taman sembari menopang dagu dan melihat lurus ke arah kumpulan bunga yang bermekaran indah. Cuaca kini sangat cerah, matahari bersinar terik, namun sayangnya hati serta pikiran Krystal masih kalut. Krystal tanpa henti bergelut dengan pikirannya sendiri, entah mengapa kekacauan dunia kala itu memberi tekanan cukup kuat pada dirinya.
“Kita hampiri saja Tuan Putri sekarang, kita tidak boleh membiarkannya terus murung,” ucap Ash.
Seluruh selir Krystal saat itu mereka bersembunyi di balik tembok dekat taman untuk mengamati Krystal, mereka ingin menghampiri gadis itu tapi mereka ragu sekaligus takut mengganggu waktu tenang Krystal. Mereka saling dorong mendorong agar ada yang mau maju duluan menanyakan kabar Krystal. Namun, tidak ada di antara mereka yang berani maju untuk menanyakannya sebab mereka takut mengganggu Krystal.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Fergus tiba-tiba muncul bersama Bleas dan Cherry.
Mereka pun terperanjat kaget oleh kedatangan Fergus secara mengejutkan itu, langsung saja mereka berbalik badan menghadap Fergus.
“Kami hanya khawatir dengan Krystal, dia terlihat kosong selama dua bulan ini. Jadi, kami berpikir untuk menghampiri dan menyapanya,” jawab Vicenzo.
“Tenang saja, sebentar lagi Krystal akan membaik dengan sendirinya. Mungkin saat ini pikirannya sedang sibuk bergelut memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini,” ujar Fergus.
Tidak lama berselang, terdengar keributan yang bersumber dari istana utama, sontak keributan tersebut membuat Krystal tersadar dari lamunan panjangnya. Gemuruh suara ksatria saling bersahutan di lantai istana, tampaknya ini bukan masalah yang sederhana. Krystal pun menghentikan seorang ksatria untuk menanyakan apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
“Hei, kau! Apa yang terjadi di istana utama? Kenapa semua orang terlihat sangat sibuk?” tanya Krystal.
“Sesuatu yang buruk menimpa Tuan Putri Emilia, beliau dikabarkan tengah hamil anak Tuan Muda Sulivan. Akan tetapi, Tuan Muda Sulivan menolak untuk bertanggung jawab dan sekarang beliau sedang mengamuk di ruang singgasana istana utama.”
Krystal mengukir senyum seringai di bibirnya, dia menyuruh ksatria itu untuk pergi menyelesaikan urusannya. Krystal merasa bangga karena dia berhasil menciptakan konflik serius ini untuk menghabisi hidup Emilia dan Leonard. Beberapa waktu lalu Krystal menyuruh Bleas dan Cherry untuk merusak alat kontrasepsi istana serta menyuruh mereka mengoleskan suatu cairan yang terbuat dari bunga marigold bening.
Dahulu bunga marigold bening sering digunakan penyihir sebagai pelengkap formula sihir dan tidak sedikit juga orang yang memanfaatkan bunga tersebut untuk membuat ramuan cinta. Tetapi, Krystal menemukan cara lain memanfaatkan bunga itu yakni menjadikannya sebagai cairan perangs*ng kehamilan. Seusai alat kontrasepsinya dirusak, maka cairan bunga marigold juga bekerja mempercepat kehamilan pada Emilia saat dia berhubungan intim dengan Leonard.
“Rencanaku berhasil, dengan begini ke depannya pasti akan terjadi masalah lebih parah dari ini,” gumam Krystal seraya memamerkan senyum menyeramkan.
Para selir tersentak melihat senyuman Krystal, di sisi lain mereka merasa lega karena sepertinya suasana hati Krystal sudah kembali seperti biasa.
“Sepertinya Krystal mendapat berita yang membuatnya senang, kira-kira berita apa yang baru saja dia dapatkan?” tanya Heros.
“Kalian.” Krystal memutar badannya dan menoleh ke arah para selir, mereka terkejut saat Krystal menyadari keberadaan mereka, “Ayo ikuti aku ke ruang singgasana karena di sana sedang terjadi sesuatu yang menarik,” ajak Krystal.
Krystal bangkit dari tempat duduknya, dengan senang hati para selir mengikuti Krystal dari belakang. Baru saja mereka menginjakkan kaki di pintu depan menuju ruang singgasana, mereka langsung disambut oleh suara Leonard yang berteriak di hadapan Fred.
“Yang Mulia, saya tidak pernah menghamili Tuan Putri Emilia! Mengapa saya yang dituduh sebagai Ayah dari anak yang dikandung beliau? Bukankah selama ini Anda mengetahuinya? Bahwa sebenarnya Tuan Putri Emilia selalu tidur dengan pria yang berbeda setiap malamnya. Jadi, anak yang diperut beliau belum tentu itu anak saya,” kata Leonard mencoba meyakinkan Fred seraya menodongkan pedang ke arah pria yang duduk di singgasana.
__ADS_1
Fred terlihat sangat marah pada Leonard, matanya menatap Leonard penuh dengan perasaan yang menusuk. Begitu pula Isabelle yang berdiri di sisi lain ruang singgasana, dia memeluk Emilia yang sedari tadi menangis tanpa henti. Sedangkan pemandangan lainnya yaitu seluruh bangsawan penting berkumpul di sana menyaksikan tingkah memalukan dari Leonard, putra satu-satunya Marquess Sulivan.
“Ah, Yang Mulia, Anda di sini juga rupanya,” ujar Duke Salvatore menghampiri Krystal.
“Halo, Duke, lama tidak bertemu. Saya kemari ingin memastikan apa yang terjadi di ruang singgasana,” tutur Krystal.
“Seperti yang Anda lihat sendiri, kami sedang disibukkan oleh urusan kekaisaran yang tidak ada habisnya. Kemudian hari ini datang lagi masalah baru,” ucap Duke Salvatore sambil menghela napas lelah.
Pada saat bersamaan, Grand Duke Marvelo melangkah masuk ke ruang singgasana, semenjak datangnya kehancuran di sejumlah kekaisaran, Grand Duke Marvelo pun memutuskan untuk menetap di ibu kota. Lalu hari ini dia berkunjung ke istana untuk melihat masalah-masalah yang melanda istana.
“Lucio, kau di sini juga?” tanya Grand Duke Marvelo kepada Lucio, anaknya.
“Ya, jadi Ayah kemari untuk melihat keributan ini juga?”
“Hmm, sangat merepotkan harus berurusan dengan istana.”
Kemudian Fred berdiri dari kursi singgasananya, dia mendekati Leonard yang mengamuk sambil mengayunkan pedangnya. Fred tidak terima kalau putri satu-satunya harus hamil tanpa adanya pertanggungjawaban dari Leonard.
“Aku tidak menerima penolakan apa pun darimu, yang jelas sekarang aku akan mengadakan upacara pernikahan antara kau dan Emilia. Kabar mengenai kehamilan Emilia telah tersebar ke penjuru Albertine. Apabila kau menolaknya, maka aku pastikan kau beserta keluargamu mati dalam keadaan hina,” gertak Fred.
__ADS_1
“Anda mengancam saya? Padahal putri Anda sendiri yang hobi tidur dengan pria sembarangan. Lalu mengapa hanya saya saja yang disalahkan? Seharusnya Anda tunggu anak itu lahir dan lihat siapa Ayah dari anak haram itu!”
PLAKKK!