Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Surat dari Akademi


__ADS_3

Krystal sudah menduga sejak awal kalau Cleon akan melontarkan pertanyaan itu kepada dirinya. Mimik wajah Cleon bertanya-tanya keheranan mengenai sumber kekuatan Krystal, selama yang dia tahu, selama ini Krystal hanya mendekam di dalam kamar tanpa ada interaksi bersama orang lain. Dulu Cleon sempat penasaran, namun Fred melarangnya bertemu Krystal yang merupakan kakak berbeda Ibu dengannya.


"Dari iblis,” jawab Krystal bermaksud bercanda.


“Huh? Dari iblis? Benarkah? K-kalau begitu apa kakak berniat untuk menjadikanku persembahan supaya kakak mendapat kekuatan lebih besar lagi?”


Rupanya Cleon mempercayai candaan Krystal, ekspresi takutnya tidak bisa dibohongi, dia benar-benar gemetar sambil berdiri agak menjauh dari Krystal. Menyaksikan Cleon yang mempercayainya, membuat Krystal terkekeh, dia menertawakan ekspresi wajah Cleon nan lucu.


“Hahaha kau ini mudah sekali dibohongi, mana mungkin aku mendapat kekuatan dari iblis. Aku mendapatkan kekuatan dari dewi.”


Cleon merungut sebal, malahan dia semakin tidak percaya jikalau Krystal memperoleh kekuatan dari dewi. Cleon lebih mempercayai adanya iblis dibandingkan dewa atau dewi, menurutnya dewa dan dewi itu tidak pernah ada karena dia menganggap hidupnya terlalu sial serta tidak pernah mencicipi kebahagiaan layaknya anak pada umumnya.


“Bohong sekali, mana ada dewi di dunia ini. Aku lebih percaya kakak memperoleh kekuatan dari iblis daripada dari dewi,” sangkal Cleon.


“Terserah kau saja mau percaya atau tidak, sekarang kita keluar dulu dari tempat ini. Aku kedinginan sejak baru masuk kemari. Ayo ke istanaku,” ajak Krystal menarik tangan Cleon untuk keluar.


Mereka berdua berjalan bersama menuju Istana Primrose, baru tiba di depan istana, lagi-lagi Cleon tidak menyangka bahwa Istana Primrose berada di tangan Krystal saat ini. Krystal langsung memberikan sebuah kamar untuk Cleon, di kamar tersebut telah tersedia segala macam pakaian untuk Cleon pakai.


“Yang Mulia, siapa bocah ini?” tanya Austin.


Mendengar kata bocah dari mulut Austin, Cleon merasa terpanggil, ia segera melayangkan sorot mata tajamnya ke arah Austin. Tatapan mereka saling beradu satu sama lain, Cleon tidak suka apabila ia dikatakan masih bocah sebab menurutnya umur 15 tahun bukanlah umur untuk anak kecil.


“Bocah? Jaga mulutmu ya, aku bukan bocah. Aku berusia 15 tahun, jadi aku sudah dewasa,” bantah Cleon.


“15 tahun? Itu masih tergolong bocah. Tidak usah membantah dan akui saja kalau kau bocah,” balas Austin.

__ADS_1


“Kurang ajar! Kau selir kakakku bukan? Seharusnya kau menghormatiku karena aku adalah adik dari kakakku.”


“Aku tidak peduli, yang aku hormati hanyalah Yang Mulia Putri Krystal. Kau sebagai adik tidak masuk ke dalam jejeran orang yang mesti aku hormati.”


Keduanya baru saja bertemu tapi sudah mulai memusuhi satu sama lain, bahan pertengkaran mereka hanyalah masalah sepele saja. Krystal menggelengkan kepalanya, rasanya istana ini bertambah ramai kian hari.


“Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja? Tubuh Anda sangat dingin,” kata Lucio merangkul pundak Krystal.


“Tidak apa-apa, ruang bawah tanah tempat Cleon disekap dipenuhi oleh es. Aku tidak tahu ternyata di sana diselimuti bongkahan es, saat aku masuk suhu dinginnya langsung menyeruak ke permukaan kulitku. Makanya tubuhku agak dingin,” jelas Krystal.


Austin menghentikan sejenak perdebatannya dengan Cleon, dia menghampiri Krystal dan menyentuh pipi Krystal. Rupanya memang benar, sekujur badan Krystal terasa hawa dingin yang tersisa.


“Ini gara-gara kau! Yang Mulia jadi menggigil karena menjemput bocah sepertimu,” tuding Austin memarahi Cleon.


“Sudah! Cukup! Kalian ini jangan bertengkar lagi. Membuatku pusing saja.” Krystal melerai pertengkaran keduanya, mereka terdiam sesaat Krystal marah. Kemarahan Krystal pertanda bahwa pertengkaran mereka harus disudahi saat itu juga.


...***...


Bebasnya Cleon dari ruang bawah tanah, membuat seluruh istana heboh, mereka cemas kalau Cleon akan memberikan masalah lebih besar untuk mereka. Ditambah dengan Isabelle sedari kemarin belum sadarkan diri setelah dihajar oleh Krystal. Fred tidak dapat berbuat banyak, karena ia tidak ingin menciptakan kerenggangan dan konflik dengan Krystal. Segala bentuk keluhan dari para bangsawan tentang Krystal tidak digubris oleh Fred, dia hanya memikirkan keuntungan yang dia peroleh dari Krystal.


Emilia kini masih menjalani hukumannya dari Fred berupa pengurungan selama satu minggu di dalam kamarnya. Emilia hanya mendengar dari para pelayan mengenai masalah baru yang diciptakan Krystal serta terlukanya sang Ibu oleh ulah Krystal. Emilia ingin mengajukan protes kepada Fred, tapi berulang kali ditolak oleh Fred. Emilia diminta menahan diri untuk tidak mencari masalah dengan Krystal sementara waktu ini.


Di sela kehebohan istana, Krystal malah tidak mempedulikan rumor buruk soal dirinya, dia sibuk memanjakan diri di atas tempat tidur dengan berbagai novel romansa favoritnya. Ketika ia sedang asik membaca novel, Cleon masuk melewati jendela kamarnya yang terbuka lebar.


“Kak, apa kau sungguh tidak menjual jiwamu pada iblis?” Sekali lagi Cleon menanyakan hal yang sudah jelas ia jawab kemarin.

__ADS_1


“Huh dasar! Kalau mau masuk itu lewat pintu saja,” ucap Krystal terpaksa menghentikan aktivitasnya sekejap.


“Jawab dulu pertanyaanku, soalnya semua orang menyebutmu sebagai iblis gila, bahkan orang-orang mengira kakak dirasuki oleh iblis. Jadi, apa kakak menjual jiwa ke iblis?”


Krystal menghembuskan napas kasar, menurutnya ini adalah hal yang tidak penting untuk dibahas, tapi karena sang adik sangat penasaran, dengan terpaksa ia mesti menjawabnya.


“Aku tidak dirasuki oleh iblis, oke? Sekali lagi aku tegaskan, tidak ada iblis di dalam diriku. Aku dipinjami kekuatan oleh dewi,” tegas Krystal.


“Kan aku sudah bilang kalau tidak ada dewi di dunia ini, jadi aku akan menganggap kakak dirasuki oleh iblis.”


“Aduh terserah kau saja, pusing aku lama-lama.”


Kemudian Krystal membuka novelnya lagi, dia tidak ingin membahas lebih jauh lagi perihal pertanyaan aneh yang diajukan Cleon. Lalu Cleon menarik kursi kosong di samping tempat tidur Krystal, ia duduk sembari menampakkan wajah serius dalam berpikir.


“Apa yang kau pikirkan lagi?” tanya Krystal.


“Apa yang akan kakak lakukan setelah ini? Melawan Kaisar bukan masalah kecil, apalagi di belakang mereka didukung olek fraksi-fraksi bangsawan yang memiliki kekuatan berpengaruh di kekaisaran ini.”


“Aku sudah mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang terjadi, Kaisar memiliki penyihir kuat di belakangnya bahkan Kaisar sendiri mempunyai mana berlimpah di tubuhnya. Belum lagi dia punya koneksi lebih luas dengan kekaisaran lain, namun itu bukan apa-apa bagiku. Sekarang kita hanya perlu menyiksa mereka secara perlahan.”


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu kamar, Krystal menyuruh Cleon untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata seorang ksatria penjaga mengantarkan sebuah amplop berwarna merah untuk Krystal disertai logo Akademi Parthevia yakni akademi tempat Krystal pernah belajar dulunya.


“Surat dari akademi?”

__ADS_1


__ADS_2