
Sepasang manik berwarna merah ruby sekilas terlihat di antara manik violet, rambut berwarna sakura perlahan menunjukkan perubahan menjadi warna putih. Lekas semua selir Krystal mengelilinginya untuk menutupi perubahan tersebut. Amarah Krystal memuncak drastis, tak ada yang bisa menghentikan aliran amarah Krystal. Para selir hanya bisa melayangkan beberapa kata untuk menjinakkan emosi yang akan berubah menjadi amukan besar.
Sepasang mata Krystal menatap dingin dan tajam, ini terlihat bukan seperti dirinya yang biasa tenang. Tangan Krystal pun bergetar akibat kegeraman yang tak lagi bisa dia tahan dengan baik, jauh dari lubuk hati Krystal yang dia inginkan sekarang hanyalah kehancuran bagi Kekaisaran Langit.
“Mohon tahan diri Anda, Yang Mulia!”
“Jangan gegabah, Krystal! Kau tidak boleh bertindak di luar kendali seperti ini.”
Ramai-ramai para selir menahan langkah Krystal, mereka mencoba meredakan amarah Krystal yang terus memburu panas keluar. Namun, sepertinya tak ada perkataan dari selirnya yang berhasil membuat amarah Krystal menurun.
“KRYSTALIA!” teriak Fergus menyentak Krystal dari lamunan kemarahan. Teriakan Fergus membuat warna mata dan rambutnya kembali normal.
Fergus memberi sorot mata berbeda kepada Krystal seolah dia ingin menunjukkan kepada Krystal bahwa gadis itu harus memikirkan ulang segala emosi yang ingin dilimpahkan. Seketika tubuh Krystal merosot ke tanah, kedua tangannya bergerak menutupi seluruh bagian wajah.
“Semua ini terjadi karena aku … karena aku terlahir ke dunia ini, seandainya aku—”
“Tidak, ini bukan salahmu. Aku sudah mengatakan padamu bahwa apa yang melanda dunia sekarang bukanlah bagian dari kesalahanmu. Justru alasanmu lahir ialah memperbaiki kehancuran dunia ini. Di dalam tubuhmu mengalir dua darah yang luar biasa hebatnya yakni darah dewi iblis serta darah Kaisar Langit. Kau datang ke dunia atas cinta kedua orang tuamu yang mengharapkanmu dapat menjadi pilar penyangga dunia yang nyaris runtuh,” tutur Fergus.
Di mata seluruh selir kala itu, Fergus tampak sangat mengenal Krystal lebih dari siapa pun itu. Bahkan dia mampu menenangkan Krystal dan meredakan amarah Krystal yang hampir membuat dirinya kehilangan nyawa.
__ADS_1
“Pilar penyangga dunia? Apa aku sehebat itu sampai membuatku menjadi sebuah pilar? Aku hanya seorang dewi yang memiliki banyak kesalahan di masa lalu. Aku buta akan cinta dan membuat diriku berdosa karena telah membunuh satu persatu dewa yang menghalangi langkah Killian. Bila aku memang seorang pilar penyangga, mengapa? Mengapa terlalu berat beban yang ditanggung oleh pudakku? Aku benci diriku … aku benci hidupku yang tidak pernah bahagia. Apa salahku sebenarnya? Aku tidak tahu ….”
Kemudian Ash langsung mendekap tubuh Krystal yang masih gemetar, ia memeluknya begitu erat untuk memberi ketenangan kepada Krystal.
“Kehadiran Anda sangat berarti bagi kami, Yang Mulia, Anda memberi kami tempat untuk bahagia dan memberi kami alasan untuk bertahan. Anda hadir di dunia ini bukan tanpa alasan, jika tidak karena Anda, hidup kami akan berakhir lebih cepat,” ucap Ash.
“Benar, Yang Mulia, Anda begitu berharga bagi kami, jika bukan karena Anda saya sudah pasti mati di dalam keputusasaan,” timpal Lucio.
“Krystal, apa kau ingat ketika pertama kalinya kita bertemu? Kau mengulurkan tanganmu padaku yang berada di jurang kehancuran seusai para spirit dilenyapkan oleh para dewa. Kau satu-satunya orang yang menopang hidupku yang hampir berguling mati ke dalam penderitaan. Hanya kau, Krystal, hanya kau seorang,” ungkap Vicenzo dengan mata berkaca-kaca.
“Lalu kau juga membawaku naik menjadi Raja Neraka setelah aku dirundung oleh kandidat lainnya. Satu-satunya dewi yang berpihak padaku, satu-satunya dewi yang menuntun jalanku menuju puncak kejayaanku sebagai seorang pemimpin di neraka. Aku tidak pernah melupakan itu sekali pun,” imbuh Heros.
“Anda juga menyelamatkan saya dari kematian, jika Anda tidak membawa saya ke Albertine hari itu sekarang saya pasti sudah mati,” tutur Shion.
“Pertama kali Anda mengulurkan tangan sembari menatap saya begitu tulus, memperlakukan saya setara dengan orang lain, semua perlakuan Anda itu mengeluarkan saya dari kurungan derita. Anda paham, bukan? Anda satu-satunya alasan mengapa kami masih bisa berdiri seperti sekarang,” pungkas Austin.
Krystal menegakkan kepalanya, ia menatap sendu ke arah tujuh selirnya, perlahan netranya yang kosong dialiri kembali oleh secercah harapan. Lalu pada waktu bersamaan, Cherry dan Bleas melaju terbang menuju lokasi Krystal berada. Mereka sepertinya membawa sebuah berita penting untuk mereka beritahukan kepada Krystal dan yang lain. Mereka terengah-engah akibat terbang dengan kecepatan tertinggi.
“Yang Mulia, kami membawa kabar penting untuk Anda terutama untuk Selir Lucio,” ujar Bleas.
__ADS_1
“Ada apa?” Krystal bangkit dari posisi duduknya kemudian memusatkan fokus kepada Cherry dan Bleas.
“Seluruh monster yang berada di balik portal mengalami hal menakutkan, tak ada satu pun di antara monster itu yang menunjukkan gejala kehidupan. Mereka telah mati, mereka mati di dalam ledakan yang lebih dahsyat dibanding ledakan yang muncul di dunia manusia,” kata Bleas diangguki oleh Cherry.
“Kalian tidak bercanda, ‘kan?” Lucio tak mampu berkata-kata karena dia sangat syok mendengar laporan Bleas.
Sedari tadi Bleas dan Cherry mendeteksi adanya gelombang ledakan di balik portal monster, namun belum sempat mereka mencegahnya, ledakan tersebut lebih dulu meledak. Mereka tidak menemukan satu pun monster yang selamat dari ledakan itu.
“Kami tidak bercanda, kalau begitu sekarang ayo kita pergi ke balik portal monster!”
Mereka pun berteleportasi menuju portal monster yang terbuka lebar di tengah hutan, tanpa berlama-lama mereka segera masuk ke dalam portal. Alangkah terkejutnya mereka saat menyaksikan mayat monster bergelimpangan mati di atas permukaan tanah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu, hanya ada kematian yang menyelimuti sekitar mereka.
Krystal lekas memeriksa keadaan mereka, berharap ia bisa menyembuhkan luka yang mendera badan monster. Akan tetapi, ternyata harapan tinggal harapan, mereka semua benar-benar mati sebelum sempat mengatakan beberapa patah kata kepada Krystal.
“Hancur sudah … dunia benar-benar berada di ambang kehancuran,” gumam Krystal.
Penderitaan tak berkesudahan baru saja dimulai, sebagian kekaisaran di dunia ini telah mati di tangan para dewa. Dunia tidak lagi berpihak kepada manusia, dunia tidak lagi butuh kehidupan makhluk hidup lain di dalamnya. Dunia telah luluh lantak akibat keegoisan para dewa, makhluk tak berdosa dijadikan korban untuk meraih ambisi yang berakhir pada kematian. Krystal sebagai satu-satunya eksistensi pilar penyangga kehancuran ditampar berkala oleh kenyataan yang terus berdatangan sedari tadi.
‘Hanya butuh waktu satu hari bagi mereka menghancurkan setengah dari dunia, itu artinya kekuatan mereka kian meningkat. Apa mereka menggunakan roh manusia sebagai sarana peningkatan kekuatan? Sungguh para dewa biad*b,’ batin Fergus menggerutu.
__ADS_1