Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Isabelle Mencari Masalah


__ADS_3

Emilia dimarahi habis-habisan oleh Fred di hadapan seluruh bangsawan, saat sedang dimarahi, Emilia hanya tertunduk lesu dan malu tanpa diberikan kesempatan untuk membantah perkataan Fred. Krystal menyunggingkan senyumnya, dia sangat puas menyaksikan Emilia disalahkan atas kehancuran istananya serta mengganggu jalannya rapat penting.


Setelah kembali dari ruang rapat, Krystal segera diantarkan oleh seorang pelayan menuju Istana Primrose. Sesuai apa yang diutarakan oleh semua orang bahwasanya Istana Primrose sangatlah mewah, bangunan istananya terlihat berbeda dari bangunan istana yang lain. Krystal tidak begitu terkejut karena ia sudah melihat dengan jelas bentuk Istana Primrose dari ingatan si pemilik tubuh. Istana Primrose di kehidupan sebelumnya ialah istana yang dihadiahkan oleh Fred untuk Emilia atas dasar suksesnya Emilia sebagai seorang saintess.


“Yang Mulia, kita akan tinggal di sini mulai sekarang?” tanya Austin.


“Iya, ayo kita masuk.”


Krystal mengajak masuk Austin dan Lucio, mereka terkagum melihat keindahan Istana Primrose. Sepanjang lorong, mereka tidak berhenti menatap dengan mata berbinar istana tersebut, menurut mereka tidak ada yang dapat menandingi keindahan Istana Primrose. Sementara itu, Krystal langsung berjalan menuju kamar utama untuk ia tidur. Ukuran kamarnya dua kali lebih besar dibanding kamar istana sebelumnya.


“Ya sudah, terpaksa aku tinggal di sini selama beberapa waktu.”


...***...


“KELUAR KAU GADIS SIALAN!”


Di pagi hari, kala langit baru saja memuncul matahari dari persembunyiannya, Krystal terbangun akibat suara teriakan bersumber dari luar kamarnya. Lingerie maroon seksi masih terpasang di tubuhnya, ia berjalan ke luar  untuk melihat siapa gerangan yang membuat heboh istana tempatnya tinggal kini.


“Oh ternyata kau, kenapa kau membuat kehebohan di pagi hari seperti ini di istanaku?”


Rupanya yang datang adalah Isabelle, ia menyerbu Istana Primrose bersama beberapa orang ksatria. Krystal sudah menebak bahwa hal ini akan terjadi, dia sendiri tidak begitu memikirkannya karena ia bisa menanganinya tanpa harus mengeluarkan seluruh kekuatannya. Isabelle dengan pandangan bergelora menodongkan pedangnya ke muka Krystal.


“Beraninya kau! Gara-gara kau Emilia dihukum dan dia kehilangan kesempatan untuk menempati Istana Primrose. Seharusnya aku bunuh saja kau dari dulu, kehadiranmu seperti parasit! Kau sama sep—”


“Ehh kau wanita tua jelek! Kau pagi-pagi sudah membuatku emosi saja, kau mau mengatakan aku seperti Ibuku bukan? Lalu mengapa kalau aku mirip dengan Ibuku? Apa salahnya hahh?”


Krystal menekan nada bicaranya, sorot mata Krystal mengintimidasi Isabelle, sekujur tubuhnya membeku dan tak dapat digerakkan. Krystal menyingkirkan pedang Isabelle yang mengarah padanya.

__ADS_1


“Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?” pikir Isabelle.


Krystal mengambil alih pedang Isabelle, dia memainkan dengan memutar-mutar pedang tersebut. Dari kening Isabelle, keringat dingin bercucuran hebat hingga membasahi wajahnya, tidak ada yang bisa membantu Isabelle, sebab semua ksatria yang ia bawa juga dibuat membeku di tempat oleh Krystal.


“Kau ini percaya diri sekali bisa menghabisiku menggunakan pedang buruk ini. Kalau begitu, aku akan melihat seberapa besar kekuatan pedangnya.”


Lalu Krystal mengayunkan pedang tersebut beberapa kali ke arah para ksatria, pada saat itu langsung berhembus angin tajam melukai tubuh mereka. Satu persatu ksatria tumbang tidak sadarkan diri, akhirnya sekarang hanya Isabelle saja yang tersisa. Niat awal Isabelle untuk mengancam dan mengusir Krystal dari Istana Primrose berakhir gagal.


“Permaisuri, apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya terbang ke udara? Kalau belum, aku akan membantumu terbang.”


Krystal menyentuh bahu Isabelle, tiba-tiba saja tubuh Isabelle melayang di udara dan melambung tinggi menuju angkasa. Krystal mendongakkan kepalanya untuk melihat setinggi apa Isabelle terbang. Isabelle sendiri tidak diberi peluang untuk membalas serangan Krystal, tubuhnya masih kaku dan tidak dapat digerakkan.


“Hempaskan!”


Krystal memainkan jari telunjuknya, Isabelle langsung terhempas ke atas permukaan tanah yang tidak datar dan banyak batu di sana.


“Naik!” Tubuh Isabelle kembali naik menuju langit luas.


“Hempaskan!”


“Terbang!”


“Putar!”


Krystal memutar jemari telunjuk, ke mana pun arah putarannya pasti diikuti oleh tubuh Isabelle. Krystal terus memutar Isabelle sampai membuatnya teler dan tidak sadarkan diri. Krystal terkekeh melihat Isabelle yang tadinya memiliki niat besar untuk membunuhnya, tapi sekarang dengan mudahnya terkapar di atas tanah oleh ulahnya.


“Makanya, jangan pernah mencari masalah denganku.”

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Austin dan Lucio keluar dari kamarnya karena mendengar kebisingan dari halaman istana. Mereka segera menghampiri Krystal untuk memeriksa apa yang sedang terjadi sekarang. Mereka terkejut mendapati banyaknya ksatria terluka tidak sadarkan diri di atas lantai, Krystal tengah tertawa lalu ia merasakan kehadiran mereka berdua. Refleks saja Krystal menghentikan tawanya untuk menyapa kedua selirnya.


“Kalian baru bangun? Lihatlah, pagi-pagi sudah ada orang yang berani macam-macam di istana,” ucap Krystal.


“Saya pikir ada masalah apa, ternyata hanya masalah sepele,” ujar Lucio.


“Ini memang masalah sepele, aku akan mengantarkan mereka terlebih dahulu ke istana utama.”


Dalam sekejap, tubuh Isabelle dan para ksatria menghilang dari Istana Primrose, mereka diantarkan langsung oleh Krystal menuju istana utama.


“Oke, sudah selesai. Saatnya ak—”


Kalimat Krystal terhenti begitu ia melihat tatapan aneh dari kedua selirnya, dia baru sadar saat ini dia mengenakan lingerie seksi, dia lupa menggantinya dengan piyama biasa. Spontan Krystal menutupi bagian depan tubuhnya agar mereka tidak dapat melihatnya.


“Berhenti menatapku seperti singa kelaparan,” kata Krystal berlalu pergi meninggalkan Austin dan Lucio.


“Tunggu dulu, Yang Mulia!”


Mereka berdua mengikuti Krystal masuk ke dalam kamar, namun beberapa menit kemudian mereka ditendang lagi ke luar oleh Krystal sebab mereka berdua bertengkar di kamar meributkan masalah sepele.


“Astaga, dua saja sudah membuatku pusing, apalagi nanti jika lebih dari dua,” keluh Krystal.


Kemudian Krystal mulai berpikir serius, ia menggali segala ingatan yang terkubur dan terkunci rapat. Melintas di dalam ingatannya sekelebat bayangan seorang pria berambut hitam dengan mata grey, dia pernah membantu Krystal dulunya untuk kabur dari penjara, tapi pada akhirnya pria itu tertangkap dan akhirnya mati terbunuh.


“Sepertinya aku harus mengeluarkan pria itu dari tempat yang mengurungnya. Dia bisa menjadi kekuatan besar untuk membantuku nanti membalaskan dendam ini.”


Selepas itu, Krystal mengganti pakaiannya dengan pakaian lebih santai, dia pergi menuju sebuah jalan menuju ruang bawah tanah yang berada di dekat penjara. Suhu menuju ruang bawah tanah tersebut terbilang sangatlah dingin, Krystal menggigil begitu menapaki anak tangga. Seiring jalan tidak ada cahaya, terpaksa Krystal menggunakan kekuatannya untuk menerangi langkahnya, hingga Krystal tiba di ujung tangga di tempat di mana diselimuti oleh es.

__ADS_1


“Jawab aku, apa ada orang di sini?” tanya Krystal meninggikan volume suaranya.


“Siapa di sana?”


__ADS_2