Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Masa Lalu (2)


__ADS_3

Kekaisaran Langit saat ini tidak memiliki pemimpin, oleh karena itulah seluruh dewa dan dewi saling bantu membantu mengurusi masalah yang ada di istana. Krystal juga akrab dengan penghuni istana, ia dikenal akan kecantikan serta kemampuannya yang luar biasa. Setiap saat Krystal selalu mengikuti Killian ke mana saja, terlebih lagi kemampuan bertarung Krystal yang sangat hebat sehingga Killian tak berhenti memuji dirinya.


Hingga pada suatu hari, para dewa dan dewi mengadakan rapat bahwasanya mereka membutuhkan seorang pemimpin untuk memimpin jalannya pemerintahan di Kekaisaran Langit. Beberapa kandidat ditetapkan oleh mereka, dan ada sekiranya empat kandidat Kaisar Langit utama, salah satu kandidatnya adalah Killian. Ketika mengetahui kalau Killian tercatat sebagai kandidat, Krystal berinisiatif memasak untuk Killian, ini merupakan bentuk ucapan selamat darinya.


“Aku sudah belajar memasak beberapa waktu ini, semoga Killian suka masakanku.”


Terhidang berbagai jenis makanan favorit Killian di atas meja, Krystal memasaknya penuh kesungguhan hati. Sementara menunggu Killian, Krystal berjalan-jalan sebentar ke halaman depan istana. Tanpa direncanakan, Krystal berpapasan dengan Morgan, pria itu menatap Krystal dengan perasaan yang sedikit menakutkan. Krystal merinding sesaat ia memandang wajah Morgan, rencananya dia ingin mengabaikan pria itu dan tidak mau terlibat atau menyapanya.


“Krystal, tunggu dulu,” cegat Morgan mencengkram pergelangan tangan Krystal.


“Ada apa ya?” tanya Krystal.


“Apa kau mencintai Killian?” tanya Morgan, Krystal merasa pertanyaan Morgan sedikit mencurigakan.


“Cinta? Aku belum sepenuhnya mengerti soal cinta,” tutur Krystal berbohong demi menutupi perasaannya.


“Bagaimana dengan aku?”


Krystal menatap nanar Morgan, selama ini dia jarang berbicara dengan Morga, walau kadang dia merasa sering ditatap lekat oleh Morgan. Bukan tatapan yang wajar, tapi seakan itu tatapan ingin menerkam, kerap kali Krystal memergoki Morgan mengikutinya secara diam-diam. Akan tetapi, Krystal mengangga hal itu bukan masalah besar, namun lama kelamaan malah membuatnya sedikit terganggu.


“Maksudmu apa?”

__ADS_1


Muka Morgan seketika merona, dia menunjukkan ekspresi malu di hadapan Krystal.


“Maksudku—”


“KRYSTAL!”


Suara panggilan Killian terdengar dari kejauhan, kalimat Morgan terpotong oleh panggilan tersebut. Krystal segera menoleh ke sumber datangnya suara. Killian tengah berlari menghampirinya sambil melambaikan tangan. Morgan pun langsung melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Krystal.


“Ahh, Morgan, rupanya kau di sini juga,” ucap Killian.


“Ya, aku tidak sengaja berpapasan dengan Krystal.” Mimik wajah Morgan tidak sehangat tadi, dia kembali tak berekspresi saat Killian menghampirinya.


“Oh begitu.” Killian menarik tangan Krystal untuk dibawa masuk ke dalam, Morgan tidak senang melihat kedekatan mereka berdua. Garis-garis wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat iri dan cemburu dengan Killian.


Gangguan dari Morgan tidak hanya sampai di sana saja, setiap kali Killian tidak sedang berada di tempat, Morgan akan berkunjung ke tempat Krystal untuk sekedar berbasa-basi hal tidak penting. Pada waktu itu Morgan masih menjabat sebagai penasehat dewa, hanya saja ia sengaja meluangkan waktu demi bertemu dengan Krystal.


Perasaan cinta di hati Morgan semakin berkembang kian hari, terkadang juga ia tidak segan-segan melakukan kontak fisik dengan Krystal. Namun, kerap kali Krystal menampik tangan Morgan yang selalu mencoba menjarah tubuh indahnya. Krystal memang termasuk wanita yang masih polos, tapi Killian telah mengajari dia pengetahuan dasar tentang hal sensitif seperti ini.


“Tidak adakah tempat untukku di hatimu?” tanya Morgan kepada Krystal yang asik menyiram bunga di depan kamarnya.


“Huh?” Krystal menghentikan sejenak aktivitasnya, dia menatap Morgan penuh kebingungan, “Apa yang kau katakan? Tempat apa maksudnya?”

__ADS_1


Krystal bukan berpura-pura bodoh, tapi dia masih tidak mengerti tentang cinta sepenuhnya. Meskipun kala itu dia sudah menaruh hati pada Killian, dia masih belum menyadari perasaannya itu.


“Jangan berpura-pura tidak mengerti, aku ingin tahu apa tempat di hatimu masih kosong? Sebenarnya aku jatuh cinta pandangan pertama denganmu, aku tidak bisa mengatakannya dan sekarang aku memberanikan diri untuk itu,” ungkap Morgan penuh kesungguhan.


“Maaf, Morgan,” balas Krystal sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.


Tangan Morgan yang menggenggam tangan Krystal pun perlahan terlepas, tanpa dijelaskan secara detail, Morgan sudah tahu bahwa dia ditolak oleh Krystal. Mimik muka Morgan berganti dingin, dia paling tidak suka dengan yang namanya penolakan. Morgan tidak mengatakan apa-apa setelah itu, dia langsung menghilang dari hadapan Krystal akibat kecewa yang luar biasa yang ia terima.


Semenjak hari penolakan tersebut, Morgan tidak lagi menemui Krystal, dia hanya mengawasi Krystal dari jauh. Kemudian tanpa disengaja, Morgan melihat Krystal menggenggam sebuah kipas berwarna merah. Sepasang netra Morgan seketika membulat sempurna, dia tidak salah mengenali kipas merah yang hanya bisa digunakan oleh dewi iblis saja.


“Kipas merah? Itu adalah kipas pemusnah milik dewi iblis. Kenapa bisa ada di tangan Krystal? Apa jangan-jangan dia anak dewi iblis? Kalau begitu secara tidak langsung dia juga anaknya pria itu. Setelah aku perhatikan warna rambut dan matanya mirip dengan dua orang itu, sepertinya aku harus memastikannya terlebih dahulu. Aku tidak mau rencanaku untuk menguasai kekaisaran ini diganggu hanya oleh seekor hama kecil,” gumam Morgan.


Morgan mencari tahu lebih lanjut lagi tentang identitas Krystal yang sebenarnya, demi membuktikan kecurigaannya, ia pun memakai berbagai alasan untuk mempersingkat jarak temunya dengan Krystal. Hingga pada suatu hari, Morgan sengaja menyelinap ke kamar Krystal, entah mengapa beberapa hari ini dia merasakan ada energi yang aneh dari tubuh Krystal.


Morgan menyaksikan Krystal tertidur pulas, wajah cantiknya masih saja tidak berkurang meski tengah terlelap. Morgan duduk di tepi ranjang sambil mengamati lalu menyentuh rambut serta pipi Krystal.


“Kau cantik sekali, tapi sayang kau lebih memilih Killian daripada aku,” ucap Morgan. Di waktu yang bersamaan, sekilas cahaya biru berkelip dari jantung Krystal. Morgan tertegun saat melihat cahaya tersebut, perlahan Morgan mengangkat sudut bibirnya untuk tersebut.


“Jadi, di sana tempat berlian kepemimpinan itu disembunyikan? Betapa pandainya lelaki itu mencari tempat penyimpanan yang sulit untuk dijangkau.”


Morgan mencoba untuk menaruh tangannya di dada Krystal, tapi sesuatu yang aneh muncul tiba-tiba. Tangan Morgan mendadak disentrum, tampaknya berlian kepemimpinan menolak untuk disentuh olehnya.

__ADS_1


“Sialan! Sepertinya aku tidak bisa mengambil berlian itu sekarang, mungkin aku harus membunuh Krystal sebelum berlian itu aku ambil? Hanya saja…,” Morgan menjeda kalimatnya lalu mengelus kembali rambut Krystal, “Aku akan menyiksanya sebentar, anggap saja ini sebagai balasan karena dia telah menolak perasaanku.”


Kecurigaan Morgan telah terjawab sepenuhnya, lalu dia beranjak pergi dari kamar Krystal untuk bersiap menjalankan rencana berikutnya.


__ADS_2