Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Emilia Mulai Frustasi


__ADS_3

Berganti hari, sinar fajar pagi pun masuk melewati celah jendela, Krystal mengerjapkan beberapa kali matanya dan berupaya mengumpulkan niat untuk bangkit dari tempat tidur. Krystal mulai merasa aneh dengan kasur yang terasa sempit, kemudian ia menoleh ke sisi kiri dan kanan.


“Pantas saja sempit, ternyata mereka tidur di sini semua.”


Seluruh selir Krystal tertidur di kamar yang sama, saat ini di atas ranjang Krystal tidur bersama Shion dan Lucio. Malam tadi, mereka bersitegang memperebutkan siapa orang yang akan menemani Krystal tidur. Akhirnya, diambillah keputusan untuk suit, di suit tersebut Lucio dan Shion memenangkannya. Itulah mengapa mereka berdua yang tidur di samping Krystal, sedangkan yang lain memilih tidur di atas sofa.


Krystal perlahan bangun lalu beranjak turun tanpa membangunkan keduanya, ia ingat kalau semalam dia bermimpi buruk dan mendengar suara para selir memanggil dirinya. Kedua mata terpejam erat, ia tidak bisa membuka mata walau hanya sesaat. Setelah mendengar suara harmonika, Krystal baru bisa tertidur tenang.


“Sial! Kenapa akhir-akhir ini aku semakin sering bermimpi buruk? Padahal aku tidak ingin mengingat tentang masalah itu lagi,” gerutu Krystal.


“Yang Mulia, Anda sudah bangun?” tanya Shion ikut terjaga selepas menyadari Krystal tidak lagi berada di atas kasur.


“Oh Shion? Kenapa kau malah ikutan bangun? Ini masih jam 6 pagi, kau tidur saja lagi,” ujar Krystal yang kini berdiri di depan cermin besar.


Shion turun dari tempat tidur, ia lekas mendekat pada Krystal, kemudian dia memeluk Krystal dari belakang. Krystal terkesiap melihat Shion cukup agresif, bahkan cara Shion menatap Krystal juga tampak berbeda dari sebelumnya.


“Saya sudah memikirkannya, saya bersedia menjadi selir kelima Anda, Yang Mulia.”


Krystal melayangkan senyumnya seraya mengelus kepala Shion, Krystal sudah menduga kalau Shion tidak akan pernah menolak penawaran sebagai selir itu.


“Saya juga tahu kalau Anda ingin menghancurkan Albertine, saya tidak keberatan untuk alasan itu,” lanjut Shion.

__ADS_1


“Dari mana kau mengetahuinya? Apakah yang lain memberitahumu?” tanya Krystal.


“Iya.” Shion tiba-tiba menggendong Krystal, “Sekarang saya perlu kejelasan perihal identitas Anda, tidak satu pun dari mereka yang menceritakan tentang siapa Anda sebenarnya.”


Lalu Shion membawa Krystal keluar dari kamar, dia ingin melakukan pembicaraan empat mata bersama Krystal.


“Ke mana kau akan membawaku?” Krystal bertanya selepas membalas tatapan liar dari Shion.


“Ke kamar Anda.”


Setibanya di kamar, Shion menutup rapat-rapat pintunya, kemudian dia menghempaskan tubuh Krystal ke atas tempat tidur. Shion yang sedari tadi tersenyum polos tak berarti, perlahan mengubah senyum itu menjadi tatapan nakal dan penuh hasrat. Melihat piyama putih Krystal yang tersingkap ke atas, membuat hasrat Shion memburu hebat. Shion akhirnya mengambil tindakan selanjutnya yaitu menindih tubuh Krystal, ia membuka bajunya dan membuangnya ke sembarang arah.


Krystal menyeringai, pandangan Krystal tidak kalah nakal dari Shion, tentu saja di kondisi seperti ini Krystal tidak akan menolak sama sekali ditambah dia terdorong oleh otot-otot indah milik Shion.


Shion merasa tertantang, dengan ganasnya Shion menyerang Krystal dan memberi ciuman hangat di bibir tipis merona itu.


“Mari bicarakan masalah identitas Anda setelah permainan ini selesai.”


***


Pada waktu yang berselang cukup lama di istana milik Emilia, sejak tadi malam Emilia tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Dia sedang stres memikirkan gertakan Krystal yang menguasai kepalanya, berbagai pikiran berlebihan membuat Emilia tidak sanggup bersikap tenang. Emilia tampak duduk di atas kursi tepi jendela sambil menekuk lutut dan menggigiti kuku, penampilannya terlihat sangat kusut.

__ADS_1


“Wanita itu … aku tahu kalau dia tidak main-main mengancamku. Bagaimana caranya aku mengumpulkan bukti tentang apa yang dia lakukan kepada kakak? Aku tidak melihat gerak-gerik aneh darinya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”


Emilia mengacak-acak frustasi rambutnya, lalu melirik sekilas ke arah jendela. Tidak sadar, rupanya waktu telah berganti pagi. Bersamaan kala itu, Isabelle mendatangi Emilia, sebab dia menyadari ada yang aneh dari gelagat sang putri.


“Emilia, apa yang membuatmu begitu stres?” tanya Isabelle.


Emilia spontan menoleh ke sumber suara sang Ibu, “I-ibu … apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau mati di tangan gadis itu. Aku masih ingin melakukan banyak hal, aku masih muda tapi mengapa aku harus menghadapi iblis itu?” Emilia gemetar ketakutan, tanpa pikir panjang Isabelle berdiri lebih dekat di hadapan Emilia.


“Ada apa? Mungkinkah Krystal berbuat jahat padamu?” Isabelle bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.


Emilia menggelen pelan, “Bukan, dia tidak melakukan apa-apa. Hanya saja, dia benar-benar seorang iblis. Apa Ibu akan mempercayaiku? Sebenarnya yang membuat kakak menjadi gila adalah wanita itu. Bahkan dia menggertakku dan mengancam kalau dia akan membunuhku, dia tidak main-main. Dia benar-benar akan menghabisi nyawaku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak punya kekuatan lebih besar untuk melawannya.”


Emilia mengadu pada Isabelle, dia menggucang-guncang tangan Isabelle sambil memberi tatapan penuh frustasi dan tertekan. Isabelle tertunduk lesu ketika menyaksikan Emilia menanggung beban pikiran yang besar. Di lain sisi, Isabelle juga geram dan marah akibat lontaran Emilia yang mengatakan bahwa putra satu-satunya dia dibuat gila oleh Krystal.


“Emilia, lihat Ibu.” Emilia mengangkat wajahnya menatap mata Isabelle, “Ibu tidak akan pernah membiarkanmu dan kakakmu mati di tangan si jal*ng itu. Kita sudah sampai sejauh ini, sekarang bukan saatnya kita untuk menyerah,” tegas Isabelle.


“Tidak, Ibu. Kita tidak bisa melawan gadis itu, dia punya banyak pria kuat di sisinya dan kekuatannya seperti seorang dewa. Mematikan dan menghidupkan orang semaunya, itu bukan kekuatan manusia biasa. Kita tidak akan pernah bisa membunuhnya, tidak akan pernah. Lalu bagaimana kalau nanti dia mengetahui rahasia itu? Aku yakin dia tidak akan pernah mengampuni nyawa kita,” ujar Emilia putus asa.


“Emilia!” sergah Isabelle membuat Emilia terdiam, “Kita punya pendeta agung, wanita itu tidak akan pernah menang melawan kita. Ingat Emilia, kau adalah anak yang disayangi oleh dewa sekarang, jadi tidak mungkin gadis itu dengan mudahnya menghabisi nyawa kita.”


“Anak yang disayangi oleh dewa? Hahaha, itu tidak mungkin! TIDAK MUNGKIN, IBU! Apakah Ibu lupa haa? Ibu lupa kalau Krystal adalah saintess yang sebenarnya? Kita hanya merebut kekuatan saintess Krystal saat dia masih kecil dengan bantuan dari pendeta agung. Jika Ibu mengatakan aku anak kesayangan dewa, itu salah, Bu. Salah besar! Krystal adalah saintess yang sebenarnya dan fakta tersebut tidak akan berubah.”

__ADS_1


Tepat kala itu, Cherry dan Bleas berada di ruangan yang sama dengan Isabelle dan Emilia, mereka diam-diam membuntuti Emilia sejak kemarin. Hingga detik ini, mereka mendengar pengakuan Emilia yang luar biasa, sebuah rahasia besar perihal kekuatan Krystal yang merupakan seorang saintess. Namun, kekuatan tersebut telah diambil dan direbut paksa oleh Isabelle dan Emilia. Keduanya terkejut bukan main, sehingga kini mereka bergegas menuju Isatana Primrose untuk memberitahu Krystal segera.


“Ayo, cepat! Yang Mulia harus tahu tentang fakta ini.”


__ADS_2