
“Yang Mulia, saya dan Bleas khusus membuatkan ini untuk Anda.” Cherry menaruh sebuah mahkota bunga yang sangat indah di kepala Krystal, mereka berdua khusus menghadiahkannya untuk Krystal sebagai ungkapan rasa terima kasih sekaligus hiburan agar Krystal bisa tersenyum lepas seperti sedia kala.
Sejujurnya, Cherry dan Bleas sangat mengkhawatirkan Krystal yang hanyut di dalam perasaan bingung dan pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Mereka sudah bersama-sama dengan Krystal selama ribuan tahun ini, tidak ada yang lebih berharga dari Krystal bagi dua spirit yang ditinggal mati oleh teman dan keluarga. Krystal menganggap keduanya sebagai keluarga, mereka sangat dilindungi dan disayangi oleh Krystal sehingga setiap masalah apa pun, dia tidak pernah melibatkan kedua spirit di dalam beban yang berat.
“Itu benar-benar cocok untuk Anda, Yang Mulia,” puji Austin sumringah.
Saat ini Krystal bersama Austin, Cherry, dan Bleas tengah berada di bangku taman di bawah pohon nan rindang untuk menikmati udara segar siang hari. Krystal agak suram seusai bertemu Killian, dia tidak terlihat sebahagia biasa hingga membuat semua orang merasa khawatir oleh ekspresi sendunya. Krystal baru bisa tersenyum ketika Cherry dan Bleas memberikan mahkota bunga untuk dirinya, sadar bahwa kesedihannya membuat orang lain khawatir.
“Benarkah terlihat cocok untukku? Tapi, aku rasa mahkota ini lebih cantik dariku,” ujar Krystal sambil terkekeh kecil.
“Tidak ada yang mengalahkan keindahan Anda, Yang Mulia,” bantah Austin tegas.
“Betul! Tidak ada yang lebih indah dari Anda di dunia ini,” timpal Bleas bersemangat.
Mereka pun tertawa bersama, perasaan Krystal jauh lebih baik dari sebelumnya, segala beban yang memberatkan hati untuk melangkah jauh perlahan mulai luruh.
“Saya beruntung telah dipertemukan dengan Anda,” ungkap Austin tiba-tiba.
Krystal menatap intens Austin, sekilas Krystal melihat isyarat kesedihan di pandangan mata hazel Austin. Sebuah perasaan yang telah lama ia sembunyikan di hati terdalam, Krystal mencoba memaknai lebih dalam, namun hal itu terlalu jauh tersembunyi.
“Mengapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu, justru aku yang beruntung berhasil menemuimu lebi—”
“Tidak,” potong Austin, “Saya beruntung dimiliki oleh Anda, berkat Anda saya bisa menemukan setidaknya satu alasan besar agar saya bertahan lebih lama lagi. Sebenarnya, banyak masalah yang mengganjal di hati saya. Perasaan sakit terus menerus saya rasakan, namun semenjak ada Anda di dekat saya, hati saya menjadi damai. Setidaknya, saya dapat menyingkirkan perasaan sakit itu untuk sementara.” Austin mengungkapkan perasaan terdalamnya kepada Krystal, ketulusan teramat besar tersirat dari bagaimana cara Austin menatap Krystal.
__ADS_1
Krystal tercengang, angin pun berembus menerbangkan helaian rambut sakura itu, perlahan sudut bibir Krystal terangkat. Krystal tersenyum begitu lembut, Austin tertegun sebab dia belum pernah menyaksikan senyuman Krystal selembut itu. Tatapan Krystal sedikit sayu, namun sinar yang dipancarkannya menenangkan hati Austin. Bahkan Cherry dan Bleas turut hanyut di senyum yang dipertontonkan oleh Krystal waktu itu.
“Aku bersyukur bila keberadaanku dapat menjadi alasan bagimu untuk bertahan hidup, meskipun nanti aku sudah tidak ada, aku harap kau bisa menemukan alasan lain untukmu bertahan. Berbahagialah, bertahanlah demi alasan-alasan kecil, aku akan selalu hidup di diri kalian,” tutur Krystal sembari mengusap kepala Austin.
Austin menurunkan tangan Krystal yang mengelus kepalanya, dia genggam erat seraya memberi memperlihatkan linangan air mata.
“Tolong jangan berkata seperti itu, kalau pun Anda harus pergi, saya mohon bawa saya bersama Anda, Yang Mulia. Jangan tinggalkan saya sendirian, tidak peduli ke mana pun Anda pergi, saya akan terus mengikuti Anda. Hanya Anda satu-satunya wanita yang saya cintai, walaupun nyawa saya harus melayang karena mengikuti Anda, tidak apa-apa asal saya bisa mati di pangkuan Anda.”
Begitu dalam perasaan Austin untuk Krystal, ia menganggap Krystal sebagai penyelamat bagi hidupnya. Austin – pria itu rela menenggelamkan diri supaya bisa bersama Krystal selalu, dia merelakan nyawanya demi berada di sisi Krystal. Walau dia tahu resiko besar yang akan dia dapatkan nanti, dia tidak mempedulikan hal itu.
“Kami juga, Yang Mulia. Kami juga akan mengikuti Anda ke mana pun, saya dan Cherry berhutang terlalu banyak kepada Anda. Kami hidup sampai hari ini juga berkat Anda, jika Anda tidak menemukan kami waktu itu, kami yakin tidak akan hidup sampai hari ini,” ucap Bleas.
“Karena itulah, tolong jangan menyerah di tengah jalan, sekarang banyak orang yang bersedia melindungi Anda segenap jiwa. Anda sangat berharga bagi kami, Yang Mulia,” sambung Cherry.
“Kalau begitu aku akan hidup selamanya bersama kalian, tapi kalian juga harus hidup abadi bersamaku,” ujar Krystal tersenyum bahagia, dia menyandarkan kepalanya ke pundak Austin.
Tidak lama berselang, para selir yang lain berdatangan menghampiri Krystal, mereka menyapa Krystal dengan sangat bahagia. Kelegaan mereka rasakan setelah menyaksikan senyum Krystal telah kembali seperti semula.
“Austin, apa kau baru saja menangis?” tanya Ash.
“Mana aku menangis, aku hanya kelilipan,” elak Austin ketus.
“Aku tahu kau baru saja selesai menangis, tidak usah malu-malu.” Ash tertawa meledek Austin.
__ADS_1
“Tidak! Diam saja kau sebelum aku tebas kepalamu menggunakan pedangku ini,” gertak Austin.
Kehebohan mewarnai tempat itu, Krystal terkekeh melihat keributan antar selir yang tidak menemukan titik temu. Ada saja topik pembicaraan yang berakhir pada sebuah keributan tanpa henti, tapi setidaknya hal inilah yang membuat ramai hidup Krystal.
“Woahh mahkota bunga itu sangat cocok untukmu,” sanjung Vicenzo salah fokus ke mahkota bunga di atas kepala Krystal.
“Sungguh? Kami berdua yang membuatnya. Anda juga beranggapan itu cocok kan, Yang Mulia?” balas Bleas berbangga diri.
“Bagus, kalian memang sangat kreatif,” puji Vicenzo sembari mengacungkan jempol untuk Cherry dan Bleas.
“Tapi, aku penasaran, kenapa kalian berdua memanggil Vicenzo dengan sebutan Yang Mulia?” tanya Shion memecah keributan.
Para selir yang lain kecuali Heros mengangguk penasaran, mereka sudah lama ingin menanyakan hal ini tapi selalu tidak ada waktu yang tepat untuk bertanya.
“Astaga, apakah aku belum memberitahu kalian? Vicenzo berdarah setengah manusia dan setengah Raja Spirit, itulah alasannya mengapa Cherry dan Bleas sangat menghormati Vicenzo,” jelas Krystal.
Pada saat yang bersamaan, seorang pelayan pria dari istana Kaisar mendatangi Krystal, tampaknya dia membawa sebuah perintah untuk Krystal.
“Yang Mulia Kaisar memerintahkan Anda untuk pergi ke ruangan beliau,” kata pelayan tersebut.
“Sekarang?” tanya Krystal, lalu pelayan pria tersebut menganggukkan kepala.
Krystal beranjak bangkit dari tempat duduknya, “Oke, aku akan pergi sebentar, nanti kita berbincang lagi ya,” pamit Krystal berlalu pergi dari hadapan mereka semua.
__ADS_1