
“Ssstt, kau diam saja. Bukankah tadi aku bilang aku akan membuktikannya padamu?”
Jemari telunjuk Krystal menyentuh bibir Austin, saat ini Krystal berada di atas tubuh Austin. Perlahan jemari Krystal menggelitik wajah tampannya, secara pelan dan lambat jemari itu mulai turun membuka satu persatu kancing kemeja Austin. Jarak mereka terlalu lekat, deruan napas mereka saling berpacu. Kemudian, Austin menghentikan pergerakan tangan Krystal yang semakin membuat tubuhnya panas. Dengan cepat, Austin menukar posisi mereka hingga kini Austin yang berada di atas tubuh Krystal.
Krystal tersenyum miring, Austin mulai terpancing oleh kenakalan jari-jari yang indah itu. Kedua tangan Krystal dikunci pergerakannya oleh Austin, tubuh mulus nan berseri milik wanita tersebut ditatap lekat-lekat oleh Austin. Hasratnya untuk memiliki Krystal makin menggebu, hal itu bisa tampak dari rona wajah yang mulai berubah.
Sesaat Austin berpikir bahwa dirinya akan menjadi gila malam itu juga, sejumput rasa penasaran ia taruh lalu ketertarikan yang bertambah dalam pada wanita yang tiba-tiba mengajaknya menjadi selir. Selama ini tidak ada yang menaruh perhatian kepadanya, tidak ada wanita bangsawan apalagi Tuan Putri yang meliriknya meski wajahnya terbilang sangatlah tampan. Selagi ia tidak memiliki gelar bangsawan, rupanya bukanlah sesuatu yang patut dia banggakan. Namun, hari ini berbeda, seorang gadis bergelar Tuan Putri mendekat dengan tatapan yang tidak biasa.
“Sepertinya aku benar-benar akan menjadi gila malam ini.”
Cup!
Austin mengecup bibir merah muda dan lembut milik Krystal, rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya mulai memenuhi otaknya lalu merenggut kewarasannya seketika. Krystal menyambut kecupan hangat itu, tidak ada penolakan darinya sedikit pun.
“Yang Mulia, jangan salahkan saya apabila Anda kewalahan malam ini,” ujar Austin.
“Aku tidak akan kalah darimu,” jawab Krystal.
Mereka berdua bercumbu mesra malam itu, ditemani sinar rembulan menembus masuk melewati kaca jendela menambah nuansa asmara di antara mereka.
...***...
Keesokan paginya, Krystal terbangun karena silaunya cahaya mentari melewati celah ventilasi. Krystal menoleh ke samping, di sana masih ada Austin yang terlelap, Krystal turun dari ranjang kemudian ia pungut pakaiannya yang berserakan di atas ubin lantai. Sekujur tubuhnya terasa kaku disertai letih akibat permainan yang disuguhkan oleh Austin, tapi itu bukan apa-apa baginya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu pria ini akan segila itu, yah aku tidak bermaksud juga untuk menggodanya sampai membuatnya gila. Austin memiliki energi spiritual melimpah dari dalam dirinya, meski gadis ini tidak memiliki memori apa pun tentang Austin, tapi aku tidak peduli. Pria ini bukanlah pria biasa, energi spiritualnya bahkan lebih besar dari Arsen. Alasan kenapa energi spiritual dari dalam tubuhnya melimpah karena Austin berasal dari klan pedang beracun.”
“Dia menyembunyikan identitas yang sangat berharga itu dari semua orang, termasuk aku sendiri. Itulah sebabnya kemarin Austin tampak panik saat aku menyentuh darahnya, namun setahuku klan pedang beracun itu hanya menaruh racun pada pedangnya saja. Tapi, mengapa darah Austin juga ikut dialiri racun? Apa itu karena energi spiritual yang terlalu besar sehingga racunnya ikut mengalir ke darahnya juga?”
Ketika Krystal tengah asik bergumam di dalam hati sembari menikmati matahari pagi di tepi jendela, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Krystal terperanjat kaget, ternyata itu adalah tangan Austin memeluk dirinya dari belakang.
“Austin, kau mengagetkanku saja.”
“Maaf, Yang Mulia. Saya hanya senang karena pagi ini mendapati diri saya berada di kamar yang sama dengan wanita secantik Anda. Saya tahu, Anda menjadikan saya sebagai selir pasti ada tujuannya bukan? Dapatkah Anda memberitahu saya alasan mengapa Anda ingin saya menjadi selir?”
“Rupanya kau sangat pintar, baiklah. Aku akan memberitahumu alasan kenapa aku menjadikanmu sebagai selirku.”
Krystal melerai pelukan Austin darinya terlebih dahulu sebelum menjelaskan semua situasinya. Mimik wajah Krystal berubah serius, dia berharap semoga Austin bisa membantunya dalam pembalasan dendam ini.
“Aku membutuhkanmu untuk menghancurkan kekaisaran ini dan membunuh semua orang tanpa tersisa. Kau tahu bukan? Bagaimana mereka memperlakukanku? Layak sampah tidak dianggap, dibuang, dilupakan, seolah aku tidak pernah ada di sini. Mereka mencaci makiku di tengah banyak orang, mengasingkanku di istana seperti ini, para pelayan saja tidak ada yang hormat padaku. Mereka memberiku racun untuk memperburuk daya ingat dan berpikirku, sehingg—”
“Baiklah, silakan periksa.”
Austin menyuruh Krystal untuk duduk di atas kursi, lalu ia pun memeriksa denyut nadi Krystal dengan seksama. Raut muka Austin begitu mendalam, sekilas terlintas ekspresi cemas sekaligus khawatir.
“Austin, aku akan menanyakannya langsung padamu. Kau berasal dari klan pedang beracun kan?”
Deg!
__ADS_1
Austin menjeda pemeriksaannya sementara, sepasang netra hazel itu membulat sempurna, nampaknya tebakan Krystal itu memang benar adanya.
“Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?” tanya Austin.
“Aku bisa merasakannya dari pedangmu, pedang bercorak ular hanya klan pedang beracun yang memilikinya. Lalu darahmu juga mengandung racun bukan? Aku bisa tahu setelah menyentuhnya kemarin,” jelas Krystal.
“Yang Mulia, apa Anda dapat melihat corak pedang saya? Siapa Anda sebenarnya? Corak itu hanya orang terpilih saja yang dapat melihatnya.” Tatapan Austin penuh tanda tanya, dia benar-benar ingin tahu tentang identitas Krystal sesungguhnya.
“Aku dapat melihat apa yang manusia biasa tidak bisa lihat, singkatnya aku mempunyai kekuatan berada di tingkat atas melebihi manusia biasa,” balas Krystal tidak kalah serius.
“Saya tidak paham maksud Anda, apabila Anda memiliki kekuatan sebesar itu, lantas mengapa Anda masih membutuhkan bantuan saya? Saya mendengar rumor tentang Anda yang dirasuki oleh iblis beberapa hari ini, apa Anda sungguh dirasuki oleh iblis?”
“Pfftt hahaha.” Krystal melepas tawanya, dia tidak tahan menyaksikan mimik polos Austin yang bertanya kepadanya. Muka Austin keheranan ketika Krystal menertawakan dirinya, entah apa kelucuan yang ia lihat kini.
“Kenapa Anda tertawa? Apa pertanyaan saya terdengar lucu?”
“Bukan begitu, aku tertawa karena orang-orang bodoh itu pintar sekali dalam menyebarkan rumor. Terserah kau saja apakah kau menganggap benar rumor itu, aku tidak peduli. Tapi, satu hal yang perlu kau tahu kalau aku sangat membutuhkan kekuatanmu. Mungkin ini terdengar seperti aku memanfaatkanmu, namun saat ini aku tidak bisa menggunakan kekuatanku sepenuhnya. Aku butuh istirahat agar kekuatanku pulih kembali,” terang Krystal, yang dia katakan itu bukanlah suatu kebohongan belaka.
“Jadi, Anda sungguh membutuhkan saya di sisi Anda?” tanya Austin sekali lagi.
“Iya, apa kau tidak mau? Aku tidak masalah jika kau menolaknya. Aku tidak ingin kau terpaksa melibatkan diri di dalam rencana balas dendamku,” tutur Krystal berucap lembut mengalun di telinga sembari mengusap pelan pipi Austin.
“Saya tidak menolaknya, Yang Mulia. Saya bersedia untuk dimanfaatkan oleh Anda, tidak tahu mengapa hati saya berkata bahwa menolong Anda merupakan suatu keharusan. Tolong manfaatkan diri saya dalam rencana balas dendam Anda, sebab mulai sekarang saya adalah milik Anda seutuhnya.” Austin mengecup punggung tangan Krystal penuh kesungguhan, ketulusannya dapat dirasakan dari bagaimana cara ia bertutur kata.
__ADS_1
“Apa kau baru saja menyerahkan dirimu padaku?”
“Ya, karena saya sudah dibuat gila oleh cinta yang baru tumbuh beberapa jam lalu saat Anda membawa saya masuk ke istana senyap ini.”