
“Hahh? Lingkaran sihir penumbalan?”
Krystal menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Lingkaran sihir penumbalan adalah sihir terlarang yang digunakan untuk memperkuat kekuatan seseorang dengan menumbalkan manusia. Lingkaran sihir ini sangat kuat, kemungkinan orang yang memerintahkan ini bukan orang biasa. Tadi kalian bilang orang-orang itu mengenakan jubah putih kan?”
Anak-anak itu mengangguk serentak, Krystal memutar otak untuk berpikir lebih serius, pria berjubah putih merupakan komplotan pembunuh yang datang kepadanya ketika dia berada di akademi. Krystal sudah bertanya kepada Ash mengenai mereka, tapi Ash mengatakan kalau di seluruh anggotanya menggunakan jubah hitam dan tidak tahu menahu soal jubah putih.
“Bukankah mereka yang waktu itu menyerang Anda, Yang Mulia? Tapi siapa mereka? Lalu siapa yang menggerakkan mereka dari belakang?”
Seluruh orang mempertanyakan hal yang sama seperti Austin, tidak ada yang menemukan jawaban yang tepat tentang siapa orang-orang itu sesungguhnya.
‘Apa mungkin ini adalah ulah mereka? Tapi, bukankah ini sudah keterlaluan?’ Krystal hanyut di dalam pikirannya yang tak berujung, berbagai dugaan tidak pasti berdatangan masuk ke bawah alam pikiran.
“Aku tidak ingin mengingat hari itu lagi, ritual yang mereka lakukan di lingkaran itu sangat menyakitkan. Tubuhku serasa dikuliti, bahkan banyak di antara kami yang mati kelaparan sebelum mereka melakukan ritual itu. Aku membenci mereka, itu sangat menyakitkan, menjadi tumbal hanya demi keegoisan mereka, aku tidak ingin lagi.”
Lamunan Krystal ambyar ketika seorang anak perempuan mendera frustasi akibat trauma yang dia lalui sebelum mati. Segala kesakitan masih melekat di diri mereka masing-masiang, dan Krystal nyaris melupakan hal itu. Lalu Krystal mendekat kepada mereka yang tertunduk sedih, rasa takut masih menguasai hati kecil mereka.
“Maaf, aku membuat kalian mengingatnya lagi, aku tidak akan bertanya hal serupa. Apa sekarang kalian mau pergi ke akhirat? Tenang saja, dendam kalian akan aku balaskan nanti. Siapa pun orang yang menyakiti kalian dulunya, akan menerima balasan dua kali lebih kejam,” ujar Krystal.
Mereka saling bertukar pandang, sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka katakan kepada Krystal.
“Ada apa? Apa ada hal lain yang ingin kalian lakukan?” tanya Krystal.
“Itu … kak, bolehkah kami bermain dengan kakak semua sebelum pergi ke akhirat? Setidaknya kami ingin membawa satu hal menyenangkan selama kami berada di dunia,” pinta mereka.
“Jadi, kalian ingin bermain? Baiklah, kita akan bermain bersama.”
__ADS_1
“Yeaayyy!” Wajah mereka langsung sumringah bahagia di kala Krystal menyetujui permintaan mereka, Krystal pun menyuruh mereka untuk naik ke tingkat atas.
Suasana panti asuhan nan sepi dan terkesan horor kini menjadi lebih ramai karena suara gelak tawa dari anak-anak. Austin, Lucio, Julian, dan Cleon membawa anak-anak untuk bermain, sedangkan Krystal pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
“Yang Mulia, Anda bisa memasak?” tanya Lucio memasuki dapur, dia penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Krystal.
“Bisa, aku membuatkan makanan khusus untuk para arwah sebab arwah tidak bisa memakan makanan yang sama cara pembuatannya seperti makanan manusia.”
Lucio terperangah ketika menyaksikan Krystal memasak, dia berpikir kalau Krystal tidak bisa melakukan hal selain bertarung. Kemampuan memasak Krystal lebih baik dari orang pada umumnya karena sejak dulu dia tinggal sendirian sehingga dia harus pandai dalam hal memasak atau mengurus keperluan rumah tangga. Saat ini Krystal juga dibantu oleh anak-anak perempuan, mereka memasak dengan suasana hati gembira bersama-sama.
“Kak, ayo kita main lagi,” ajak salah satu anak laki-laki. Lucio pun mengiyakan ajakannya dan mereka meninggalkan Krystal yang sibuk di dapur.
‘Melihat Yang Mulia tertawa seperti itu, entah mengapa rasanya hatiku menjadi tentram.’
Beberapa menit berselang, Krystal menyajikan berbagai makanan untuk mereka makan, tidak lupa pula Krystal membuatkan makanan untuk Austin, Lucio, Julian, dan Cleon. Melihat jumlah makanan yang sangat banyak membuat selera makan mereka meningkat. Mereka segera menyantap makanan itu bersama-sama, Krystal senang ketika melihat semua orang makan dengan lahap.
“Iya, siapa sangka seorang Tuan Putri bisa memasak lebih baik dari seorang koki istana,” timpal Austin.
“Selama ini aku hidup sendiri, jadi mau tidak mau aku harus bisa melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Tuan Putri sekali pun.”
Seusai makan dan beristirahat selama beberapa menit, kini saatnya Krystal mengantarkan arwah anak-anak panti asuhan ke akhirat. Menjelang berangkat, mereka tampak tidak rela harus mengakhiri pertemuan singkat ini, namun Krystal memberi pengertian kepada mereka bahwa akan ada hal lebih membahagiakan lagi di surga nanti.
“Sekarang saatnya kalian berangkat.” Krystal membukakan pintu menuju akhirat untuk mereka.
“Terima kasih kak karena sudah memberikan kebahagiaan walau sesaat kepada kami. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti, terima kasih telah memberikan kami kehangatan.”
__ADS_1
“Terima kasih juga sebab kakak menyadarkan kami kalau tidak semua manusia dewasa itu jahat, kami bersyukur telah bertemu kakak hari ini. Terima kasih sudah menyelamatkan dan membebaskan kami dari jeratan yang menyakitkan ini.”
“Selamat tinggal kak, semoga kakak semua bisa mengalahkan orang-orang jahat dengan mudah.”
Mereka melambaikan tangan ke arah Krystal dan yang lain sembari berjalan maju masuk ke pintu akhirat, senyuman gembira mereka di bibir mereka semua. Selepas mereka berhasil masuk, Krystal menutup pintu akses menuju akhirat, dengan begini satu masalah pun selesai.
“Akhirnya mereka pergi, panti asuhan ini benar-benar kosong sekarang. Betapa malangnya nasib mereka selama hidup di sini,” kata Cleon kasihan dengan penderitaan anak-anak itu.
“Tapi, nanti mereka pasti akan mendapatkan kehidupan lebih bahagia lagi di sana. Benar kan, Yang Mulia?” ujar Austin.
“Ya, itu benar. Namun, kini kita harus melakukan pekerjaan lain, kalian tidak lupa bukan? Sekarang saatnya kita menghancurkan para manusia b*adap itu.”
...***...
Di sisi lain pada waktu yang sama, di sini adalah tempat yang dipenuhi oleh energi tidak mengenakkan. Sebuah ruang yang gelap seakan tidak ada kehidupan lain di dalamnya, di tengah-tengah ruang tersebut terdapat meja bulat dan di sana duduk delapan orang berjubah putih. Mereka terlihat sedang mendiskusikan suatu hal yang sangat penting.
“Bagaimana? Apa batu sihirnya sudah terisi penuh?” tanya seseorang yang diduga sebagai pemimpin mereka.
“Belum, masih tersisa setengah lagi.”
Tepat di dekat ruang itu, berdiri batu sihir yang sangat besar, warnanya biru berkilau namun setengah dari batu sihir tersebut terisi oleh cairan berwarna hitam pekat.
“Kita harus cepat mengisi batu sihir itu, kita butuh lebih banyak tumbal manusia lagi. Kita harus menyerahkan batu sihir ini nanti kepada beliau agar kita diberkati lebih banyak kekuatan. Ingatlah tujuan kita dari awal adalah untuk membantu beliau menghancurkan dunia ini.”
“Tapi, bagaimana dengan gadis iblis itu?”
__ADS_1
“Kita harus melenyapkannya sebelum dia menjadi ancaman besar bagi kita, namun kita tidak dapat menghancurkannya dengan mudah sebab dia lebih mengerikan dari yang kita kira.”