Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Bahaya yang Menghadang


__ADS_3

Pada keesokan lusa, Krystal pun berangkat menggunakan kereta kuda kekaisaran. Krystal berangkat bersama Lucio dan juga Olin sebagai pelayan pribadinya. Awalnya, mereka ingin terbang saja, tapi karena ini kontes perburuan untuk seluruh kekaisaran, akhirnya mereka terpaksa untuk menunjukkan formalitas serta kesopanan sebagai perwakilan dari Albertine. Sebelum berangkat, Duke Salvatore membantu Krystal untuk memeriksa kereta kuda yang akan digunakan, sebab mereka mewaspadai akan terjadinya kecelakaan pada perjalanan nanti.


Jarak dari Albertine ke Archer cukup jauh, setidaknya membutuhkan waktu 4 hari penuh untuk menempuh perjalanan menuju Archer. Sebagaimana orang ketahui, Archer merupakan salah satu kekaisaran yang bergerak di bidang kelautan. Hasil laut Kekaisaran Archer sangat beragam, bahkan kekaisaran lain pun berlomba-lomba untuk bekerja sama serta membeli hasil laut Archer. Dan lagi, Archer terkenal oleh tata kramanya, orang-orang yang berani bertindak tidak sopan pasti akan dijatuhi hukuman berat. Untungnya, Krystal telah mempelajari semuanya sebelum terjadi masalah yang rumit.


“Olin, sepertinya kau dari tadi kerjaanmu makan terus ya,” ucap Krystal menggeleng-geleng melihat Olin sejak awal berangkat tidak berhenti mengunyah. Persediaan cemilan yang dibawa oleh Olin cukup banyak, sampai-sampai Krystal merasa heran sendiri melihat tingkahnya.


“Makan itu harus, saya tidak bisa tanpa makan walau hanya satu menit,” balas Olin sambil menyantap puding.


“Ya ampun, heran aku dengan pelayan yang satu ini, untung saja aku cuma punya satu pelayan saja yang sepertimu. Tidak terhitung berapa jumlah makanan yang lenyap di dapur karena ulahmu,” ujar Krystal menghela napas sabar mendengar Olin yang selalu membuat marah kepala dapur istana.


“Yang Mulia, hobi saya makan, tapi jatah makanan pelayan sangat sedikit. Saya sedih hanya diberi sepotong roti serta semangkuk sup, perut saya terlalu besar untuk menampung makanan yang sedikit,” tutur Olin sedikit menekuk ekspresinya.


“Sebenarnya kau ikut bersamaku untuk balas dendam atau untuk makan?” tanya Krystal memastikan.


“Anda kan sudah mengurus semuanya, saya hanya menikmati hasil sembari membantu Anda sedikit-sedikit.” Olin benar-benar telah dibutakan oleh makanan, Krystal sendiri tidak bisa melarangnya karena sejak awal, dialah yang membawa Olin bersamanya.


“Okelah, terserah kau saja. Asal kau tidak merusuh dan mengacaukan rencanaku, aku tidak akan mempermasalahkannya,” pasrah Krystal kembali menghadap ke jendela.


Krystal merasa bosan sesaat hanya berdiam diri di dalam kereta sambil menatap ke arah luar jendela. Selama beberapa menit, mereka hanya melewati hutan belantara nan sunyi dan senyap, hanya ada suara burung berkicau yang memecah keheningan.


Berulang kali Krystal menghela napas, dia ingin cepat-cepat mengakhiri perjalanan membosankan ini.


“Yang Mulia, apa Anda bosan?” tanya Lucio langsung mengalihkan kebosanan Krystal.


Sedari tadi Lucio terlelap karena dia tidak tidur selama dua hari ini demi membantu mengamankan jalan menuju Archer bersama selir lainnya.

__ADS_1


“Lucio, kau sudah bangun? Kenapa tidak tidur lagi saja?”


Lucio memamerkan senyum menggodanya, seketika jantung Krystal seakan ditembak oleh panah cinta menyaksikan ketampanan Lucio yang tiada tara.


‘Kesegaran seperti ini yang aku butuhkan sejak tadi, bisa-bisanya aku mempunyai selir yang super duper tampan layaknya Lucio. Aku memang adalah wanita yang paling beruntung di dunia,’ batin Krystal mencoba mengontrol ekspresi dan debaran jantungnya.


“Saya ingin menemani Anda,” kata Lucio.


“Jangan coba-coba untuk menggodaku, aku ini mudah tergoda oleh wajah tampanmu,” tutur Krystal seraya mendekap Lucio lalu menciumi pipi dan bibirnya.


Olin menjadi saksi atas kemesraan di antara keduanya, dia sibuk menghabiskan cemilannya seraya mengucap sabar pada dirinya sendiri.


‘Sepertinya aku salah naik kereta, harusnya tadi aku berpisah kereta saja dengan Yang Mulia,’ gumam Olin dalam hati.


Tepat di kala itu, sekelompok bayangan hitam memencar di beberapa titik hutan, Julian menyadarinya dari pendengaran yang super tajam miliknya. Sekelompok bayangan itu diduga akan melancarkan aksinya untuk menghadang jalan Krystal.


“Sekarang waktunya kita beraksi,” ujar Ash l melompat turun dari atas pohon.


Mereka bertiga berpencar menyiapkan penyerangan untuk menghancurkan kelompok pembunuh tersebut. Ash memasang benangnya di masing-masing jalan keluar hutan untuk menghambat langkah para pembunuh tersebut menuju tempat Krystal.


“Apa ini benang? Kenapa sangat susah untuk ditembus?” Para pembunuh berjubah hitam


itu tidak dapat menembus dengan mudah benang Ash yang sekeras baja tersebut. Mereka bertiga berhasil mengepung para pembunuh itu di satu titik.


“Mau lari ke mana lagi kalian?” Austin, Julia, dan Ash muncul dari balik sebuah pohon besar, mereka terkejut oleh kemunculan ketiganya.

__ADS_1


“Siapa kalian?” tanya salah satu pembunuh itu.


“Kalian tidak perlu tahu siapa kami, tapi jika kalian berani menghalangi jalan Yang Mulia, kami tidak akan segan-segan melenyapkan kalian.”


Julian memulai serangannya, getaran listik dari ujung jemari telunjuk Julian mengalir dari bawah tanah hingga akhirnya menyentrum tubuh para pembunuh tersebut. Pembunuh yang berjumlah hampir 10 orang itu sempoyongan begitu mendapat sengatan listrik milik Julian.


“Sial! Kita tidak bisa membiarkan mereka menggagalkan rencana ini!” Seluruh pembunuh itu membuka jubah mereka, ternyata yang berada di balik jubah itu adalah penyihir yang berasal dari menara sihir.


“Jadi, kalian adalah penyihir. Siapa yang memerintah kalian?” selidik Julian menatap tajam.


“Kalian tidak perlu tahu siapa yang memerintah kami!” Para penyihir itu pun juga memulai serangan mereka. Beragam warna sihir diarahkan kepada Austin, Julian, dan Ash, namun sayangnya tidak ada satu serangan pun yang mengenai mereka.


Austin menyeringai, dia melompat ke tempat yang lebih tinggi kemudian mengayunkan pedangnya. Dari ujung pedang Austin keluar cairan berwarna hitam pekat yang diduga itu merupakan racun mematikan. Bulir-bulir racun tersebut mengenai


beberapa bagian badan penyihir, mereka memekik kesakitan. Ash mengikat mereka menggunakan benang selagi tubuh mereka sedang lemah, benang-benang itu berubah menjadi benda tajam hingga memotong-motong tubuh penyihir tanpa ampun. Julian mengakhiri masalah ini dengan menghanguskan tubuh mereka menggunakan sengatan listrik.


Akan tetapi, hal lain terjadi di jalan yang dilewati oleh Krystal, Cherry dan Bleas mendeteksi adanya bahaya cukup besar di sana.


“Yang Mulia, harap merunduk!” titah Olin.


Krystal dan Lucio segera merunduk, berpuluh-puluh anak panah melesat ke kereta kuda


mereka. Olin melihat dari kejauhan ada tiga orang berjubah hitam memanah tepat ke arah mereka, Krystal pun akhirnya memutuskan untuk menghadapi para pembunuh itu. Ketika Krystal turun dari kereta kuda, ada enam orang berjubah putih telah menanti di depan kereta.


“Kalian tidak pernah bosan-bosannya menggangguku.”

__ADS_1


__ADS_2