Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Arwah Anak Kecil


__ADS_3

“Tetap di sini, jangan kemana-mana. Aku sudah memasang pelindung supaya energi negatif itu tidak menyerang kalian lagi.”


Selepas Krystal membantu orang-orang menyingkirkan energi negatif di tubuh mereka, ia memasang pelindung di tempat sekitar supaya energi tersebut tidak menembus masuk lagi ke dalam. Kemudian Krystal segera menuju rumah tempat energi itu berasal, hawa rumahnya semakin dingin saat Krystal menapakkan kaki di depan pintu. Rasa dingin itu perlahan menjalar ke sekujur tubuh, tapi Krystal masih bisa menahannya.


“Anda kedinginan?” Lucio merangkul pundak Krystal.


“Lumayan, tapi aku masih bisa menahan dinginnya,” jawab Krystal.


“Kenapa suasana rumah ini mencekam sekali? Ada suara-suara aneh juga,” ujar Julian.


“Aku rasa memang ada yang tersembunyi di rumah ini.”


Mereka masuk bersama ke dalam rumah itu, baru menginjakkan kaki di lantai pertama, sudah terasa kesan horor yang menusuk kuduk. Banyak debu bertebaran di mana-mana, ditambah lagi rumah itu tampak tidak pernah dibersihkan atau dirapikan sama sekali. Krystal menggeleng-geleng tak percaya melihat kondisi panti asuhan itu, sungguh memprihatinkan ketika membayangkan anak-anak tinggal di tempat yang tidak terawat seperti ini.


“Kakak! Lihat kemari!” seru Cleon yang rupanya sudah naik ke tingkat atas.


Segera saja mereka berlari ke tempat yang dimaksud oleh Cleon, saat ini Cleon berada di depan kamar tempat anak panti asuhan dulu tidur.


“Apa mereka disiksa selama ini?”


Mereka semua membeku saat mendapati kasur yang terbentang di atas lantai penuh dengan bercak darah. Lalu di sana juga ada seperti besi dan kayu yang sepertinya digunakan untuk memukul anak-anak tersebut, ditambah tidak ada satu pun selimut di sana bahkan kasur tempat mereka tidur itu sangat tipis.


“Austin, apa kau tidak pernah mendengar anak-anak itu disiksa selama tinggal di sini?” tanya Krystal.


“Tidak, Yang Mulia. Info tentang panti asuhan ini sangat minim, tapi banyak yang mengatakan kalau anak-anak di sini hidup dengan nyaman sebab Kaisar selalu mengirimkan makanan dan pakaian untuk mereka, serta jumlah uang yang masuk dari para donatur juga tidak dalam jumlah yang sedikit,” papar Austin.


Krystal langsung bergerak ke arah lemari pakaian, dia mengecek pakaian anak-anak di sana. Krystal termangu sebab tidak ada satu pun pakaian yang layak untuk dikenakan, tidak terbayangkan bagaimana susahnya anak-anak itu bertahan di sana dulunya. Setelah itu, Krystal juga memeriksa makanan-makanan yang tersisa di sana, semuanya tidak ada yang layak untuk dimakan karena sudah lewat waktu kadaluarsa.

__ADS_1


“Sialan! Siapa pengurus tempat ini? Mereka memperlakukan anak-anak lebih rendah dari binatang,” umpat Krystal naik pitam.


Tap tap tap


Terdengar suara derap kaki anak kecil melintas di sekitar mereka, mereka spontan berbalik ke arah suara, tapi tidak ada siapa pun di sana.


“Hahaha.” Suara gelak tawa anak kecil diiringi dentuman kaki berlari terdengar jelas di dekat mereka, tapi selepas diperiksa tidak ada apa-apa di sana.


“Sepertinya mereka masih ada di sini,” ucap Krystal.


“Mereka? Maksud Anda—”


“Anak-anak itu tidak menghilang, arwah mereka masih ada di rumah ini.”


Pada saat bersamaan, tiba-tiba tangan Krystal dipegang oleh seorang anak kecil perempuan, ketika Krystal akan menoleh ke gadis kecil itu, tangan Krystal ditarik kuat olehnya dan dibawa pergi dengan langkah sangat cepat.


“YANG


“KAKAK!”


Kepanikan melanda hebat mereka yang tersisa di sana, Krystal dibawa pergi entah kemana. Mereka mencari mengikuti jejak Krystal, namun mereka kehilangannya saat tiba di lantai bawah yaitu di tempat awal mereka memijakkan kaki.


“Ke mana Yang Mulia? Mengapa beliau tiba-tiba menghilang sangat cepat?” cemas Austin.


“Cari ke seluruh rumah ini, jangan sampai ada yang terlewatkan satu pun,” ujar Lucio.


Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Krystal saat ini, setiap sudut ruang mereka telusuri satu persatu. Sementara itu, Krystal saat ini tengah berada di ruang tersembunyi bawah tanah di panti asuhan tersebut. Anak kecil perempuan itu menuntun Krystal ke tempat seluruh energi negatif berasal. Alangkah terkejutnya Krystal saat menyaksikan tengkorak anak kecil berserakan di atas tanah nan dingin.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”


Tidak hanya itu saja, di sana terdapat beberapa kurungan besi berukuran besar dan di dalamnya terdapat noda darah yang sangat banyak. Krystal membekap mulunya sebab dia tidak dapat menahan rasa kagetnya.


“Dingin, di sini sangat dingin. Tolong ….”


Terdengar suara beberapa orang anak kecil menangis kedinginan, lalu anak kecil perempuan yang membawanya tadi menarik tangan Krystal ke tempat suara itu berasal.


“Ke mana kau akan membawaku?” tanya Krystal ke gadis itu, namun dia tidak merespon pertanyaan Krystal.


Rupanya ada satu ruang lagi di sana, letaknya tersembunyi di balik tembok lemari.


“Jadi, dugaanku benar. Kalian bukan menghilang tapi dibunuh.” Krystal melihat banyak arwah anak kecil di sana, tapi arwah anak-anak itu berwujud seperti arwah jahat.


“Kak, tolong mereka. Tolong teman-teman saya, mereka tidak salah apa-apa. Mereka juga tidak bermaksud melukai orang lain, mereka hanya marah karena semasa hidup selalu disiksa oleh pengurus panti asuhan. Tolong teman saya kak, saya mohon.”


Gadis kecil itu mulai membuka suara, dia meminta tolong dengan nada suara berat menahan tangis. Krystal paham bahwa energi negatif yang menyerang orang sekitar bersumber dari kemarahan para arwah.


Krystal berjongkok lalu menggenggam kedua pundak gadis kecil tersebut sembari bertanya, “Aku akan menolong mereka, bisakah kamu menjelaskan padaku apa yang tersebenarnya terjadi pada kalian?”


Belum sempat gadis kecil itu untuk menjawab, mendadak dari arah berlawanan ada satu arwah menyerang Krystal. Namun, Krystal bisa menahan arwah yang terlihat sangat marah itu, Krystal menyuruh arwah si gadis kecil untuk mundur ke belakang.


“Dingin … mereka membiarkan kami kedinginan, mereka membiarkan kami kelaparan dan menyiksa kami hingga mati. Mereka memberi kami makanan yang kadaluarsa, kami tidak bahagia sama sekali selama hidup. Semua manusia yang datang kemari tidak ada yang mempercayai ucapan kami, padahal mereka menyaksikan langsung kami dipukuli menggunakan tongkat besi. Mengapa tidak ada orang yang peduli kepada kami? Apakah berdosa kami terlahir sebagai yatim piatu? Kami—”


Krystal memeluk sosok arwah anak kecil laki-laki yang berbicara mengungkapkan kemarahan dan kepedihannya selama hidup di panti asuhan.


“Aku mempercayai kalian, aku tahu kalian disiksa, itulah mengapa aku datang kemari hari ini. Maafkan aku, maaf aku terlambat menyadari semua ini, maaf aku tidak menyelamatkan kalian lebih cepat. Maafkan aku membiarkan kalian kedinginan dan kelaparan, maafkan aku tidak bisa mengajak kalian bermain. Maafkan aku.”

__ADS_1


“Kenapa Anda meminta maaf? Padahal ini bukan salah Anda. Kenapa Anda meminta maaf begitu tulus kepada kami?” Selama ini mereka tidak pernah mendengar orang meminta maaf kepada mereka, tapi kali ini berbeda, Krystal meminta maaf kepada mereka dengan tulus.


“Karena aku merasa perlu untuk meminta maaf, aku tidak ingin kalian terlalu lama memupuk kemarahan di hati kalian. Bukankah tadi kalian bilang dingin? Kemarilah! Aku akan memeluk kalian, aku akan memberikan kehangatan yang tidak pernah kalian rasakan selama hidup.”


__ADS_2