Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Tolong Biarkan Aku Hidup


__ADS_3

Krystal hanya merespon dengan mengangguk, sejujurnya saat ini semua masalah memenuhi otaknya. Tidak ada waktu baginya bersantai, terlalu sempit dunia ini bagi dirinya yang mengemban tanggung jawab cukup besar. Heros dan Vicenzo saling bertemu pandang, kala itu mereka terlihat sangat akrab karena mereka ingin berbicara serius tentang masalah ini dengan Krystal. Namun, tersisa kejanggalan di lubuk hati mereka berdua, sebuah kejanggalan yang mungkin nantinya akan benar-benar terjadi.


“Krystal, sebaiknya kau jangan terlalu mempercayai orang lain,” ucap Heros tiba-tiba diangguki oleh Vicenzo.


Krystal menaikkan alisnya sebelah, dia tidak paham tentang apa yang dimaksud oleh keduanya.


“Maksud kalian apa?” bingung Krystal.


“Pengkhianat selalu datang dari orang terdekat, jadi aku harap kau tidak menaruh kepercayaan yang besar kepada seseorang,” jawab Vicenzo.


“Kami berfirasat bahwa akan datang pengkhianat di antara kita, belajarlah dari kesalahan masa lalu, Krys. Kau jangan terlalu membuka diri kepada orang lain, jangan sampai pengkhianat itu berhasil mendapatkan kesempatan untuk menyerang kelemahanmu. Kita tidak tahu ke depannya seperti apa, tapi kita harus tetap waspada dengan segala kemungkinan,” terang Heros lebih lanjut.


“Aku pikir yang kalian katakan itu juga tidak ada salahnya, aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Musuhku ada di mana-mana, kekuatanku juga masih belum pulih sepenuhnya, aku akan ingat selalu peringatan dari kalian.”


Krystal menuruti peringatan dari Heros dan Vicenzo, bagaimana pun sedari dulu mereka berdualah yang menemani Krystal. Segala bentuk bahaya sudah pernah mereka lalui bersama, jadi untuk saat ini Krystal hanya bisa mempercayai mereka saja. Selepas berbincang, Krystal keluar dari kamar sebab perasaannya tiba-tiba saja terasa buruk, seolah akan terjadi sesuatu yang lain.


Di luar kamar, secara tidak sengaja Krystal bertemu dengan Austin, Julian, Ash, dan Shion, Krystal melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Lucio. Namun, tidak dia temukan Lucio di mana pun, firasat buruknya saat ini mengarah kepada Lucio.


“Hey, Lucio mana?” tanya Krystal.


“Tadi dia pamit pergi ke kediaman Grand Duke Marvelo, katanya Ayahnya memanggil dia ke sana,” jawab Julian.

__ADS_1


“Apa? Pasti bakal terjadi sesuatu yang buruk. Aku harus menghampiri Lucio sekarang juga.”


...***...


Saat ini Lucio tengah berada di tengah ruang kerja milik sang Ayah – Grand Duke Ludovic Marvelo. Pria paruh baya berambut hitam itu menatap Lucio penuh amarah, di samping Grand Duke Ludovic, berdiri putra pertama yaitu Zever Marvelo, parasnya sangat mirip dengan Grand Duke Ludovic. Lucio hanya berdiri tegak dengan ekspresi datar, dia tahu bahwa Ayahnya akan memaki-makinya akibat kabur dari daerah utara lalu menjadi selirnya Krystal.


“Lucio, kau ini sudah lupa tentang siapa dirimu? Bisa-bisanya kau menjadi selir Tuan Putri Krystal tanpa meminta persetujuan dariku. Apa kau pikir dirimu bukan lagi bagian dari keluarga Marvelo? Ingat! Kau masih menyandang nama Marvelo, jangan seenaknya saja memutuskan untuk pergi dari daerah utara!” omel Grand Duke Ludovic.


“Saya rasa, saya tidak perlu meminta izin dari Anda, saya pergi dari daerah utara karena saya ingin mengikuti Tuan Putri Krystal. Selama menyandang nama Grand Duke Marvelo, saya tidak pernah memperoleh kebahagiaan. Namun, Tuan Putri Krystal memberikan saya alasan untuk bahagia, jadi tidak ada salahnya bila saya menjadi selir beliau,” balas Lucio dengan sorot mata yang sayu dan tidak memiliki emosi.


Braakkk


Grand Duke Ludovic memukul keras permukaan meja, dia terbakar emosi saat sang anak menyebut kata bahagia di hadapannya.


“Ayah, tolong kontrol emosi Anda,” ucap Zever menenangkan Ayahnya.


Lucio menundukkan wajah seraya menggigit bibir bawahnya, dia selalu menjadi sasaran kesalahan atas meninggalnya Ibunya. Grand Duke Ludovic mengatakan bahwa sang Ibu dulunya meninggal saat hendak menggendong Lucio yang baru lahir. Kekuatan Lucio yang sangat besar, akhirnya membuat Ibunya meregang nyawa tepat seusai sehari Lucio lahir. Oleh sebab itulah, dia dibenci oleh penghuni mansion, dia dikatakan monster akibat kekuatannya yang meluap-luap itu.


Sedari dulu Lucio tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayangi dan dicintai, setiap kali ia disentuh oleh wanita, kulitnya akan terasa terbakar. Dia terlihat aneh di mata Ayah dan saudaranya, tidak ada yang membela dan melindungi dirinya ketika Grand Duke Ludovic mencoba untuk membunuhnya. Akan tetapi, berapa kali pun Ayahnya mencoba membunuh dan menghancurkan tubuh Lucio, maka tubuhnya akan kembali seperti semula. Kekuatan regenerasi itulah yang membuat orang menjadi takut padanya.


Semenjak Lucio mengenal Krystal, segala penderitaannya berubah menjadi kebahagiaan. Dia tidak lagi merasa kesepian karena selir lain memperlakukannya dengan baik, Krystal juga melimpahkan kehangatan untuk dirinya. Hidup Lucio menjadi berwarna dan tidak lagi suram, Krystal adalah penyelamat bagi hidup Lucio.

__ADS_1


“Saya tidak pernah membunuh Ibu, saya bukanlah pembunuh, saya layak untuk dicintai, dan saya berharga. Mengapa Anda selalu melimpahkan semuanya kepada saya? Mengapa saya disalahkan atas kematian Ibu? Padahal saya tidak pernah—”


PLAKKK!


Grand Duke Ludovic menampar Lucio sangat kuat hingga membuat sudut bibirnya terluka parah. Lucio menegakkan kepala dan melihat mata Ayahnya yang berapi-api akibat amarah yang meledak-ledak. Tamparan itu tidaklah sakit, yang sakit adalah hatinya, dia selalu iri dengan kakaknya yang diperhatikan penuh oleh Ayahnya. Keberadaan Lucio sungguh tidak berarti dan dianggap layaknya benalu.


“Beraninya kau menjawab perkataanku, memang sebaiknya kau tidak pernah dilahirkan ke dunia ini. Aku lebih bahagia jika kau mati, kau tidak pernah berharga apalagi layak untuk dicintai, kau hanyalah parasit yang hadir untuk merenggut nyawa istriku. Sudah saatnya kau aku singkirkan dari dunia ini,” ucap Grand Duke Ludovic menusuk sanubari Lucio, “Ikut aku sekarang juga!” perintahnya kemudian.


Lucio mengikuti langkah Ayahnya dari belakang, dia hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Ayahnya kepada dirinya. Akhirnya, mereka tiba di ruang bawah tanah, di sana berdiri sekitar delapan orang penyihir. Sebuah lingkaran sihir berwarna kuning tergambar di tengah-tengah ruang tersebut.


“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Lucio.


Tanpa menjawab pertanyaan Lucio, Grand Duke Ludovic mendorong Lucio masuk ke tengah lingkaran sihir tersebut. Pergerakan Lucio dikunci oleh para penyihir, tubuhnya dibelit oleh tali sihir yang teramat kuat.


“Lakukan sekarang juga! Bunuh monster ini!” titah Grand Duke Ludovic.


‘Apa yang akan mereka lakukan padaku?’ tanya Lucio dalam hati.


Delapan penyihir itu mengitari lingkaran sihir, kali ini Lucio sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari jeratan sihir itu. Tidak menunggu lama, lingkaran sihir tersebut mengeluarkan sinar, tubuh Lucio terasa panas akibat sinar itu yang menjalar ke sekujur badannya. Rasa sakit luar biasa dirasakan oleh Lucio, seakan tubuhnya disayat-sayat oleh benda tajam dan dihancurkan oleh api yang sangat panas.


“AAARRRGHHHHH!!” Lucio berteriak kesakitan, dia tidak diberikan ruang untuk melawan sedikit pun.

__ADS_1


‘Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku sebenarnya? Padahal aku baru saja menemukan alasanku untuk hidup. Mengapa akhirnya menjadi begini? Aku masih ingin hidup lebih lama, aku masih ingin bersama Yang Mulia. Tolong biarkan aku hidup, sekali ini saja, aku mohon.’


__ADS_2