Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Penyesalan


__ADS_3

“Saya mencintai Yang Mulia, tapi saya begitu bodoh mengharapkan Anda yang bahkan ingin mempersunting wanita lain. Sejenak saya berpikir apa yang selama ini saya lakukan demi Anda ternyata tidak membuahkan apa-apa. Hati saya sakit dan terluka ketika menyaksikan Anda bersanding dengan wanita selain saya. Padahal saya telah menyiapkan segalanya, saya belajar memasak dan menjahit, melakukan segala perintah Anda, namun akhirnya Anda memilih orang lain. Sebenarnya, apa saya bagi Anda?”


“Segala janji yang terucap dari mulut manis Anda berakhir menjadi sebuah omong kosong, di sini sayalah yang paling bodoh. Saya hancur memikirkan bagaimana saya ke depannya tanpa Anda? Bagaimana jika saya terjatuh tapi tidak ada Anda yang bersedia membantu saya? Maafkan saya belum terbiasa tanpa Anda, mulai sekarang saya akan menjauh. Semoga kelak Anda mengerti perasaan saya, Yang Mulia, dan terima kasih telah membiarkan saya mencintai Anda walau berujung rasa sakit tak terhingga.”


Begitulah kata-kata yang tertoreh di atas kertas putih yang warnanya tidak pudar samasekali meski sudah ribuan tahun tersimpan di sana. Hati Killian meluruh sesaat membayangkan perasaan Krystal yang begitu besar padanya. Satu-satunya wanita yang siap mengorbankan nyawa demi dirinya berdiri di puncak kekuasaan tertinggi di alam semesta. Rasa sesal dirasakan oleh Killian ketika Krystal memberi sorot mata tajam, telah dipastikan bahwa di hati Krystal tak ada lagi namanya.


Killian terlambat menyadari kesalahannya, obsesinya kepada Krystal selama ini hanya menggoreskan luka lagi dan lagi di hati Krystal yang lembut. Di waktu yang sekarang, Krystal secara tegas menyatakan bahwa dia memilih untuk bersama dengan para pria yang memperlakukannya seperti seorang Ratu. Killian bukan lagi siapa-siapa selain masa lalu yang harus ia lupakan.


Killian terduduk lemas di atas lantai sambil meratapi kesalahan dirinya di masa lalu hingga kini. Teringat kembali bagaimana senyum cerah yang dilontarkan Krystal padanya setiap waktu, sampai akhirnya senyum itu berubah menjadi tatapan dingin.


“Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk membawanya kembali ke sisiku, andai saja aku bisa mengulang waktu, andai saja waktu itu aku menjadikannya sebagai Permaisuriku, akankah Krystal bahagia bersamaku? Akankah segalanya akan berubah? Tolong maafkan aku, Krystal.”


...***...


Kondisi Shion semakin parah, panas badannya tak kunjung turun, Krystal kebingungan bagaimana caranya menurunkan suhu tubuh Shion. Saat ini Cherry tengah menaruh Shion di dalam gelembung air agar dapat menahan kenaikan suhu tubuhnya. Krystal berdiri di samping gelembung air sembari mengamati Shion yang belum menunjukkan reaksi akan sadar.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sungguh aku tidak tahu bagaimana cara menangani suhu tubuh Shion,” ucap Krystal menekuk ekspresi wajahnya.


“Saya juga tidak tahu, Yang Mulia, kita tidak pernah menghadapi kasus yang seperti ini sebelumnya. Shion tidak pernah mengatakan bahwa penggunaan mata aura secara berlebihan akan berdampak pada kebutaan,” tutur Cherry ikut sedih.


“Kemampuan mata aura dimiliki oleh klan musik, tidak adakah sedikit petunjuk tentang bagaimana caranya menangani masalah ini?”


Krystal tiba-tiba teringat sesuatu yaitu tempat di mana dia bisa menemukan petunjuk tentang klan musik.

__ADS_1


“Haruskah aku mengunjungi sisa-sisa reruntuhan pemukiman klan musik?” tanya Krystal.


Semua orang menatap nanar Krystal, mereka berpikir kalau mustahil reruntuhan itu masih utuh sampai sekarang.


“Sudah lebih 4000 tahun berlalu, apa mungkin reruntuhan itu masih ada?” heran Heros.


“Masih ada, reruntuhan pemukiman klan musik masih ada, aku tidak tahu bagaimana reruntuhan itu bisa bertahan hingga sekarang, tapi aku pernah mampir ke tempat itu beberapa waktu lalu,” kata Vicenzo.


Krystal merasa lega saat Vicenzo memberinya info, dia berharap akan menemukan petunjuk saat berada di sana nanti untuk menyelamatkan Shion dari kebutaan yang mengancam diri.


“Vicenzo, kau ikutlah denganku, kita harus pergi ke tempat itu sebelum matahari terbenam. Selebihnya tolong tinggal di sini, aku tidak akan lama dam aku akan kembali sebelum malam menjelang.”


Krystal segera menarik tangan Vicenzo untuk pergi, dia khawatir akan terjadi hal lebih buruk kepada Shion. Mereka memutuskan untuk menggunakan teleportasi saja supaya cepat sampai ke tempat tujuan yang dituju. Mereka tiba di depan hutan belantara yang tak pernah dilewati oleh manusia, Krystal merasakan bahwasanya hutan tersebut dikelilingi oleh energi suci seorang dewa. Krystal menoleh ke sebelah kanan, dia ingat jalan setapak menuju ke Kerajaan Ezoria, ingin rasanya dia mampir ke tanah tempat kerajaannya dulu berpijak.


“Baiklah.” Keduanya langsung masuk menyusuri hutan itu, makin dalam mereka telusuri, semakin sejuk udara yang terasa.


“Kenapa suasana di sini sangat tenang? Aku menyukai energi yang positif seperti ini,” ujar Krystal.


“Aku juga bingung, hutan ini sangat berbeda dari hutan pada umumnya, seakan-akan ada dewa yang menghuninya.”


Di pertengahan hutan tersebut, terdapat sisa puing-puing bangunan yang berserakan, beberapa tiangnya masih berdiri kokoh. Mereka sempat heran dengan penampakan itu, sudah berlalu lebih dari 4000 tahun tapi sisa-sisa bangunannya masih belum lenyap, dan yang lebih membuat heran, tak ada satu pun manusia yang menjamah hutan itu.


“Kau cari di sana, dan aku akan mencari di sini, cari sekecil apa pun petunjuknya sebab kita tak punya tempat untuk bertanya selain terjun langsung ke tempat ini,” kata Krystal.

__ADS_1


Vicenzo mengangguk setuju, keduanya berpencar ke tempat yang berbeda, Krystal pergi ke kanan dan Vicenzo ke kiri. Tangan mereka menyentuh serta mencari petunjuk-petunjuk yang dikiranya masih tersisa di tempat itu. Krystal menghela napas setelah tiga puluh menit mencari, dia menyandarkan punggung ke dinding bangunan yang berdiri tegak.


“Apa di sini tidak ada satu pun yang bisa aku jadikan petunjuk?”


Tiba-tiba saja dinding tempatnya bersandar itu bergetar dan bergeser ke samping, Krystal terperanjat kaget dan spontan menjauh dari dinding tersebut. Terdapat sebuah pintu kayu yang terkunci di balik dindingnya, Krystal segera memanggil Vicenzo untuk melihatnya.


“Vicenzo, aku menemukan sesuatu!” seru Krystal.


Lekas Vicenzo menuju ke tempat Krystal, “Pintu apa ini? Kau sudah mencoba masuk ke dalam?” tanya Vicenzo.


“Belum, coba kau buka pintunya,” titah Krystal.


Vicenzo menekan gagang pintu itu, tapi tak bisa terbuka, dia coba untuk menghancurkannya, namun hasilnya nihil.


“Biar aku yang coba.” Ketika Krystal menekan gagang pintunya, pintu itu langsung terbuka lebar. Krystal melirik Vicenzo, “Gampang membukanya, kenapa kau tidak bisa?”


“Entahlah, ya sudah aku cepat kita masuk.”


Mereka terpana saat masuk ke dalam ruang itu, banyak buku yang berjejer rapi di sana, tempat ini terlihat berbeda dari luarnya. Akan tetapi, energi dewa sangat pekat di sana, mereka khawatir akan bertemu dengan salah satu dewa agung.


“Siapa kalian? Mengapa kalian kemari?” Seorang pria tua berambut putih muncul di depan mata mereka, tubuhnya kecil seperti spirit dan dia melayang di udara. Sepasang manik hijau emerald menatap curiga ke arah mereka berdua.


“KYAAAAA!” pekik Krystal, “Siapa kau?” tanya Krystal seraya mengatur irama napasnya.

__ADS_1


__ADS_2