Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Ujian Berpedang


__ADS_3

“Jadi, setelah tidur denganku, dia kabur begitu saja?”


Krystal baru saja membuka matanya dan melihat dunia pagi, namun dia tidak menemukan Julian bersamanya. Setelah menikmati malam yang singkat, Julian pergi dengan meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan kalau dia tidak ingin bertemu Krystal sementara waktu, sebab dia masih malu mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Krystal menggeram kesal, dia meremuk kertasnya lalu membuangnya ke sembarang arah.


Malam tadi, Krystal baru mengatahui kalau rupanya Julian juga belajar di akademi ini, usianya hanya satu tahun lebih tua dari Krystal. Tanpa sadar, Julian juga menceritakan bahwa dia sensitif terhadap suara, sehingga ia selalu berusaha menghindari tempat yang ramai. Sesungguhnya, kala Krystal menemukannya tadi malam, Julian sedang menahan sakit dari suara-suara yang menyerang pendengarannya, tapi suara tersebut hilang begitu Krystal mendekati dirinya.


“Lihat saja, aku akan menangkap dan mengikatnya hari ini,” gumam Krystal sembari mengepalkan tangannya.


Hari ini Krystal memiliki jadwal ujian berpedang, sebelum berangkat ke akademi, Krystal terlebih mandi dan bersiap-siap terlebih dahulu. Hari ini dia tampil sedikit lebih beda, ia menguncir rambutnya lalu menutupi dahinya menggunakan poni. Pada saat ia menuju jalan ke akademi, Krystal tidak sengaja melihat Julian dari jauh tengah duduk sendirian.


“JULIAN!” Krystal memanggil Julian sambil melambaikan tangan, ketika dia hendak menghampirinya, Julian langsung kabur.


Krystal menghela napas, ternyata menjadikan Julian sebagai selirnya, tidak semudah yang dia kira. Krystal memutuskan untuk fokus menjalani ujian berpedang hari ini, memikirkan soal Julian akan dia lakukan setelah ujian berakhir. Saat ini, lapangan untuk ujian berpedang sudah dipenuhi oleh para murid, Krystal berdiri di barisan paling belakang agar bisa bersandar ke tiang lapangan.


Sesaat kemudian, Leonard memasuki lapangan, para gadis seketika heboh membicarakan ketampanan Leonard. Bagi mereka, Leonard sendiri merupakan tipe pria ideal yang mereka inginkan untuk dijadikan kekasih. Krystal mengernyitkan kening, dia berpikir bahwa tipekal pria idaman mereka terlalu rendah dan tidak berkelas.

__ADS_1


“Oke, baiklah. Selamat pagi semuanya, sebagaimana yang kalian semua ketahui, hari ini kita akan melaksanakan ujian berpedang. Aturan di dalam pelaksanaan ujian ini adalah kalian akan duel satu lawan satu, di sini kalian dilarang keras untuk melukai lawan kalian, jadi kalian hanya boleh mengenai salah satu bagian tubuhnya saja. Barang siapa yang berhasil mengenai salah satu anggota tubuh lawannya, maka dia akan menjadi pemenangnya. Kalian paham?” seru Leonard.


“Paham!”


Leonard memanggil para siswa satu persatu untuk melakukan ujian, Krystal hanya menunggu giliran dirinya untuk dipanggil. Krystal menguap beberapa kali karena menurutnya ujian berpedang ini sangat membosankan.


“Krystal Albertine.” Setelah lama menunggu, akhirnya namanya terpanggil juga, berpuluh-puluh pasang mata tertuju kepada Krystal, mereka menampakkan pandangan benci kepada Krystal. Sedangkan Leonard, menyoroti Krystal menggunakan tatapan aneh dan menurutnya sedikit menjijikkan.


Krystal mengambil sebuah pedang kayu, lawannya kali ini yaitu seorang pria yang berasal dari salah satu keluarga bangsawan yang bernama Arno Balzac, anak dari Viscount Balzac. Arno salah satu laki-laki yang sering mengerjai Krystal, dia suka menyiram Krystal menggunakan air bekas cuci tangan, dia juga suka menarik rambut Krystal hingga membuatnya kusut, lalu yang paling parah adalah dia pernah menyentuh bagian tubuh sensitif milik Krystal. Mengingat semua memori buruk tersebut, Krystal bertambah murka.


“Setelah aku perhatikan lebih dekat, rupanya wajahmu memang sangat cantik. Tidak hanya itu, kau memiliki tubuh yang sangat bagus, siapa pun tidak akan menolak untuk tidur denganmu. Bagaimana kalau setelah ini kau menghangatkan ranjangku? Lumayan, kau akan aku bayar tiga kali lipat asalkan kau bisa memuaskanku,” ujar Arno.


Arno tertawa sangat keras bersama temannya usai berkata seperti itu langsung kepada Krystal. Dia tidak memiliki malu mengatakan hal sangat sensitif di hadapan banyak orang, Krystal mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum, senyumnya menggambarkan kejengkelan terdalam dari lubuk hatinya.


“Baiklah, aku akan melakukannya jika kau berhasil melewati ujian kematian dariku,” jawab Krystal sembari mengarahkan pedangnya ke Arno.

__ADS_1


“Ujian kematian? Kau membuatku tertawa saja.” Arno menerjang ke arah Krystal, tapi sebelum ujung pedangnya mengenai tubuh Krystal, dia sudah lebih dulu dijatuhkan oleh Krystal menggunakan pedangnya.


Arno dibuat menelungkup di atas permukaan tanah berpasir, Krystal menekan punggung Arno dengan pedang dan kaki kanannya. Sekilas sudut pandang Krystal sangat tajam, beribu-ribu dendam kebencian ia pendam, dan ini salah satu jalan agar dendam si pemilik tubuh terbalaskan.


“Kau bilang kau akan membayarku? Apa jangan-jangan kau berpikir aku semiskin itu sampai harus menjual diri? Aku tidak butuh uangmu karena aku memiliki uang yang berjumlah tidak sedikit. Apa lagi yang ingin kau sombongkan padaku? Kau jauh dari tipe pria idamanku, jadi tidak usah berlagak kau ingin tidur denganku kep*rat!” Krystal menyalurkan segala bentuk kebenciannya kepada Arno, dia semakin menekan injakan kakinya di punggung Arno.


“Aaarrghhh sialan! Singkirkan kakimu dari tubuhku! Kau hanya Tuan Putri tidak dianggap, jadi kalau Kaisar tahu kau memperlakukan rendah seorang bangsawan terhormat sepertiku maka sudah dipastikan hidupmu tidak akan selamat,” ucap Arno berupaya bangkit, tapi tubuhnya terus ditekan oleh Krystal.


“Aku tidak takut dengan Kaisar, aku tidak peduli tentang gelar bangsawanmu, yang jelas sekarang kau sedang menyinggungku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun lari dari kematian setelah dengan beraninya menyentil perasaanku.” Krystal mengangkat tinggi-tinggi pedangnya, dia bermaksud membolongkan punggung Arno memakai pedang kayu tersebut.


Namun, pada saat ujung pedang kayu itu nyaris mengenai Arno, Leonard langsung menampik pedang itu dari tangan Krystal dan menjauhkannya dari Arno.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau sungguh ingin membunuhnya? Di sini akademi, bukan tempat untuk membunuh. Apa kau ingin menjadi pembunuh?”


Krystal melepas kaki kanannya dari punggung Arno, kini dia berdiri berhadapan dengan Leonard langsung. Tidak tahu seberapa besarnya aura kemarahan Krystal yang meluap keluar, dia lelah menahan diri untuk tidak menghabisi Leonard, tapi untuk kali ini Leonard benar-benar menyalakan sumbu api Krystal.

__ADS_1


“Jangan pernah menasehatiku dan melarangku untuk membunuh, karena apa? Karena kau sendiri juga pembunuh! Pria baj*ngan sepertimu tidak pantas mengucapkan kata-kata menjijikkan seperti itu. Aku membencimu! Sampai aku berhasil menjatuhkanmu ke neraka, aku tidak akan berhenti untuk membenci dan menyumpahi hidupmu agar menderita!”


__ADS_2