
Di sela ketegangan yang mencekam ruangan, tiba-tiba terdengar suara keributan mengarah ke luar istana. Seorang ksatria penjaga berlarian ke kamar Krystal dan mengetuk pintu, segera saja Julian membantu membukakan pintu.
“Tolong katakan pada Yang Mulia Putri Krystal, seorang pria mengamuk dan mengacau di depan gerbang istana. Pria itu mengaku sebagai kekasih Yang Mulia,” ucap penjaga itu panik.
“Kekasih?” Mereka menatap bersamaan ke arah Krystal meminta penjelasan perihal yang dimaksud oleh penjaga tersebut.
Awalnya, Krystal juga bingung dan tidak mengerti tentang kekasih yang dimaksud, pasalnya dia tidak memiliki kekasih. Namun, terlintas di dalam ingatannya Vicenzo yang selalu mengaku sebagai kekasihnya. Krystal pun memandang Heros seraya memberi kode tentang kedatangan Vicenzo.
“Heros, sepertinya Vicenzo sudah datang.”
Wajah Heros berubah masam, dia benar-benar tidak menyukai Vicenzo yang selalu menempel dan seenaknya kepada Krystal sejak dulu.
“Apa Anda memiliki kekasih, Yang Mulia?” Lucio bertanya penasaran.
“Tidak, hanya teman lama.” Kemudian Krystal melirik kepada Cherry, “Tolong pakaian,” titah Krystal ke Cherry.
Dalam sekejap, Cherry melekatkan dress berwarna lilac ke badan Krystal, kini dia beranjak turun dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar segera. Para selir membuntuti Krystal dari belakang, mereka penasaran mengenai pria yang mengaku sebagai kekasih Krystal.
Sementara itu, Vicenzo tengah berdebat dengan penjaga gerbang istana, dia membawa banyak kotak hadiah untuk Krystal. Akan tetapi, dia tidak diperbolehkan masuk oleh penjaga, Vicenzo yang kehilangan kesabaran pun akhirnya mengamuk dan menghancurkan setengah dari gerbang istana.
“Aku mau bertemu Krystalia! Kenapa kalian tidak mengizinkan aku untuk masuk?” marah Vicenzo hingga membuat kedua penjaga gemetar takut.
“Maaf, tapi kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk sebelum ada janji,” jawab penjaga itu dengan nada bergetar.
“Aku kan sudah bilang, kalau aku ini kekasihnya!” Vicenzo memberi penegasan di kalimatnya, dia sudah sangat geram sebab sedari tadi dia meminta untuk masuk, tapi tidak ada yang memberi izin, dan kini orang-orang mulai ramai berkumpul di depan gerbang untuk menonton aksi keributan yang terjadi.
__ADS_1
Bersamaan kala itu, Emilia yang berniat mencari udara segar setelah semalaman berdiam diri di dalam kamarnya ikut penasaran karena keributan tersebut. Kedua bola mata Emilia melebar ketika mendapati seorang pria imut dan tampan rupawan sedang bersitegang dengan penjaga gerbang. Emilia langsung merapikan rambutnya, lalu menyela masuk ke perdebatan Vicenzon. Tanpa tahu malu, Emilia menggandeng lengan tangan Vicenzo.
“Siapa namamu? Apa kau kemari untuk mencariku?” Emilia memperlihatkan ekspresi merayunya sembari menggesek-gesekkan buah dadanya kepada Vicenzo. Kedua penjaga gerbang pun merasa lega karena dengan kedatangan Emilia, mereka tidak jadi sasaran amukan Vicenzo.
“Apa-apaan kau? Tingkahmu menjijikkan sekali.” Vicenzo memandang dingin Emilia dan menarik kembali lengannya jauh-jauh dari Emilia.
“Lancang! Seharusnya kau bersyukur karena aku Tuan Putri Emilia tertarik padamu. Aku bermaksud untuk membawamu masuk ke istanaku, tapi ada apa dengan tatapanmu itu?” omel Emilia.
“Hahh? Bersyukur untuk apa? Aku rasa tidak ada yang perlu disyukuri dari wanita murahan sepertimu,” sarkas Vicenzo.
Muka Emilia memerah menahan malu, saat itu para pelayan yang menyaksikan ikut berbisik buruk tentang Emilia. Pada saat Emilia akan membuka mulut untuk marah, itu tertahan oleh suara Krystal yang muncul memanggil nama Vicenzo.
“Vicenzo! Apa yang sedang kau lakukan di sana?” panggil Krystal melambaikan tangan ke arah Vicenzo.
“Krystalia, aku senang kita bisa bertemu kembali.” Vicenzo hendak mencium bibir Krystal, tapi buru-buru ditarik ke belakang oleh Heros.
“Kau sama kurang ajarnya seperti dulu,” ucap Heros menatap tak suka Vicenzo.
Vicenzo menyorot sinis pada Heros, mereka berdua tidak pernah akur sejak dulu. Krystal selalu menjadi penengah bila di antara keduanya terlibat pertengkaran hebat hingga adu kekuatan.
“Oh ternyata kau juga ada di sini, padahal aku hanya berniat bertemu Krystalia tercinta, tapi malah disuguhkan oleh penampakan wajah pria jelek sepertimu,” ledek Vicenzo dengan wajah datar tak berdosa.
“Apa kau bilang?” Heros terpancing emosi, ia mencengkram kerah baju Vicenzo.
“Berhentilah kalian berdua!” Krystal melerai keduanya, dia sekilas melirik Emilia yang membatu memperhatikan Krystal yang datang bersama seluruh selir.
__ADS_1
“Ahh astaga, aku benar-benar tidak menyadari di sini ada Yang Mulia Putri Emilia,” sindir Krystal tersenyum mengejek.
“Kau kenal wanita murahan itu?” tanya Vicenzo.
“Tentu saja kenal, satu-satunya saintess yang muncul setelah sekian ratusan tahun lamanya. Apa kau tidak tahu itu?”
“Saintess? Dewa memang sudah gila memilih wanita jal*ng menjadi seorang saintess. Oh iya, aku lupa, dewa kan pada dasarnya sudah gila sejak lama,” ujar Vicenzo diikuti oleh suara tawa Krystal.
Emilia hanya bisa berdiam diri dan tidak menanggapi sindiran Vicenzo dan Krystal, dia membatu seraya mengepalkan kedua tangan. Rahang Emilia mengeras, bibir bawahnya ia gigit karena saking kesal dan marahnya kepada Krystal.
‘Kenapa selir gadis itu bertambah banyak? Kekuatan besar semakin berkumpul di sekitarnya. Aku semakin tidak punya celah untuk melawannya.’
Menyaksikan Emilia yang terdiam, Krystal berinisiatif mendekatinya lebih dulu. Krystal berdiri di hadapan Emilia sambil melipat kedua tangan di dada, kepalanya sedikit diangkat dibarengi mimik angkuh.
“Jangan pernah berpikir untuk mencelakaiku, kau tidak akan pernah menang melawanku. Jika kau bersikeras untuk mencari masalah, maka jangan salahkan aku membuatmu malu,” peringat Krystal.
“Hey, sebaiknya kau diam saja. Aku akan membuatmu bertekuk lutut memohon ampun di bawah kakiku. Aku akan menjahit mulutmu itu, dan kau tidak akan pernah berkata seenaknya padaku. Lalu seluruh selirmu akan menjadi milikku nanti,” kata Emilia dengan senyum penuh frustasi.
Krystal dengan cekatan menjambak rambut Emilia, kemudian menghempaskannya secara kasar ke atas tanah. Emilia tersungkur dan mengerang sakit karena Krystal menjambak rambutnya terlalu kuat. Krystal ikut berjongkok, ia mendekatkan wajah ke samping telinga Emilia diikuti senyum licik.
“Sakit ya? Bukankah kau saintess? Harusnya ini bukan apa-apa untukmu. Ya ampun, astaga hampir saja aku lupa, kau kan hanya saintess palsul,” bisik Krystal.
Mata Emilia membulat sempurna, ia kehilangan kata-kata dan tak bisa membalas perkataan Krystal. Emilia syok, tapi berupaya menahan diri untuk tidak terlihat lemah di hadapan Krystal. Seusai itu, Krystal beranjak bangkit dari posisi jongkok, dia berdiri sambil memandang rendah Emilia yang masih terduduk di tanah.
“Jangan pernah coba macam-macam denganku, apalagi memiliki niat untuk merebut seluruh selirku. Aku tidak akan pernah membiarkan masalah itu terjadi, saat ini aku pun menahan untuk tidak membunuhmu. Meskipun nanti setelah mati kau mendapat siksaan neraka, itu tidaklah cukup, dan aku ingin menyiksamu di dunia terlebih dahulu.”
__ADS_1