
Ketujuh selir Krystal datang menghampiri ke kamar, mereka mendapati Krystal sedang bersantai di meja balkon. Sontak Krystal menoleh ke arah datangnya mereka, ekspresi hampa Krystal berubah secara halus. Bibir Krystal tersenyum menyambut kedatangan mereka bertujuh, dia sudah cukup lelah beberapa waktu belakangan ini dan sekarang adalah waktu di mana dirinya melepaskan letih yang meradang di inti tubuhnya.
“Aku belum tidur, aku sedang bersantai menikmati pemandangan malam,” jawab Krystal.
Mereka bertujuh mendekat pada Krystal, Heros secara tiba-tiba mengangkat tubuh Krystal dan menggendongnya ke tempat tidur.
“Sebaiknya Anda beristirahat sekarang, Yang Mulia, sudah cukup bagi Anda mengurus masalah yang terjadi secara beruntun selama beberapa hari ini,” tutur Austin sambil mengusap lembut pipi Krystal.
Mereka mengkhawatirkan kondisi tubuh Krystal yang berada di ambang batas, tapi Krystal masih saja bisa tersenyum di kala lelah yang menerpa badan. Padahal ketujuh selirnya terlihat begitu cemas, bahkan seusai pemindahan kekuatan suci tadi cukup memakan banyak tenaga.
“Aku masih belum mau tidur, bagaimana kalau kita mengadakan pesta kecil malam ini? Sejujurnya aku rindu bersenda gurau bersama kalian setelah beberapa waktu mengalami persoalan yang rumit.” Krystal mendadak mengusulkan mengadakan pesta kecil di antara mereka untuk mengobati rasa lelahnya. Para selir pun langsung setuju, mereka menyuruh sejumlah pelayan untuk segera mempersiapkannya di taman utama istana.
Pada malam itu mereka bersenang-senang, begitu banyak hal yang mereka bicarakan sambil menikmati cemilan bersama alkohol. Sejujurnya ini pertama kalinya Krystal mengadakan pesta kecil semacam ini, pertama kalinya juga dia minum alkohol selama berada di dunia manusia. Krystal terlalu sibuk mengurusi masalah menyangkut pembalasan dendam, sekarang adalah waktu yang tepat bagi Krystal untuk mengendurkan otak yang letih.
“Kenapa mereka lemah sekali dengan alkohol? Baru minum beberapa gelas saja mereka sudah tepar,” ujar Vicenzo, dia sedang berbicara tentang Austin, Lucio, Julian, Ash, dan Shion yang terkapar tak sadarkan diri karena alkohol.
“Aku tidak yakin itu hanya beberapa gelas saja,” gumam Krystal melirik lebih dari dua puluh botol alkohol kosong di atas meja.
Mereka tanpa sadar melewati batas sewajarnya meminum alkohol, walaupun sebenarnya mereka menikmatinya dengan bahagia. Sekarang hanya tersisa Krystal beserta Heros dan Vicenzo, mereka bertiga cukup kuat terhadap alkohol. Kemudian Krystal bergerak menyelimuti tubuh kelima selirnya yang tepar.
__ADS_1
“Apa kau berniat membawa mereka bersama kita di perjalanan selanjutnya?” Heros melontarkan pertanyaan tersebut secara spontan.
“Ya, ke mana pun aku pergi maka mereka harus bersamaku, begitu pula dengan kalian berdua. Apabila aku pergi ke istana langit, kalian juga akan pergi bersamaku, aku tidak mau meninggalkan kalian di dunia manusia,” jawab Krystal.
Krystal kembali duduk, di malam ini ekspresi Krystal tampak sedikit berbeda, dia seolah sedang menahan tangis. Ada yang mengganjal di hatinya, dia sedih tapi tidak tahu alasan kenapa dia bersedih. Terselip kerinduan kecil di hatinya serta sebuah harapan mendapatkan kedamaian, dia ingin segera mengakhirinya tapi Krystal tidak punya kekuatan untuk itu.
“Hei, apakah menurut kalian semuanya akan berakhir sesuai keinginan kita sejak lama? Entah mengapa aku selalu merasakan adanya bayangan kematian mengikuti kita sepanjang waktu. Apakah kita dapat bertahan hingga akhir atau kita tumbuh di pertengahan konflik?” ujar Krystal seraya menopang dagu disertai mimik sendu di mukanya.
“Aku dan Heros telah mengikutimu sedari lama, kita bersama-sama sepanjang waktu dan menghadapi kesulitan yang sukar ditangani sendirian. Aku tahu pasti kalau kau bisa mengakhiri semuanya dengan baik, segala janji indahmu akan terkabulkan nanti sebab kau sanggup melakukanya,” ucap Vicenzo.
“Karena kau adalah Krystalia, kau punya kekuatan yang tidak kami miliki, tapi ketahuilah satu hal. Walaupun akhir dari perjuanganmu tidak sesuai yang kau harapkan, setidaknya kami masih setia bersamamu. Meskipun dunia mengkhianatimu, meski alam semesta menghakimimu, kami sedikit pun takkan mengalihkan pandangan darimu,” imbuh Heros.
Tidak lama setelah pembicaraan itu berakhir, Heros dan Vicenzo ikut tepar di atas meja, mereka terlalu banyak mengonsumsi alkohol sehingga kesadaran mereka ikut terenggut. Melihat ketujuh selirnya tertidur, Krystal beranjak pergi ke luar istana. Tujuan Krystal saat ini adalah mengunjungi kekaisaran yang terkena dampak dari kekuatan Morgan.
“Benar-benar tidak bersisa, ledakan itu bukanlah ledakan sembarangan. Mereka menggunakan semacam sihir yang telah diasah sejak lama.”
Pemandangan di sejumlah kekaisaran tampak memprihatinkan, Krystal menatap miris setiap jalan yang dia lalui. Memeriksa setiap kekaisaran cukup memakan waktu yang banyak, tidak ada petunjuk yang dia dapatkan perihal jenis sihir yang digunakan Morgan.
“Yang Mulia, bisakah Anda mendengarkan suara saya dan Cherry?” Tiba-tiba di tengah pikiran rumit Krystal, dia mendengar suara Bleas dan Cherry dari jauh.
__ADS_1
“Bleas, Cherry! Ada di mana kalian sekarang? Lalu dari mana suara ini berasal?” tanya Krystal mengalihkan fokusnya terhadap suara Bleas dan Cherry yang mendadak muncul di kepalanya.
“Kami menggunakan sihir telepati dan sekarang kami sedang berada di istana langit. Kondisi istana langit benar-benar parah, di sini kami juga ingin mengabarkan sesuatu kepada Anda, Yang Mulia.”
Suara Cherry dan Bleas terdengar bergetar cemas, Krystal pun berusaha mendengar dengan seksama laporan yang akan dikatakan mereka berdua.
“Katakanlah, apa yang terjadi pada istana langit? Mungkinkah istana langit juga ikut dihancurkan oleh Morgan?” tanya Krystal sekali lagi.
“Benar, Yang Mulia, istana langit dihancurkan oleh Morgan dan sejumlah bawahannya, mereka telah membawa kabur tabung yang menampung jutaan roh gelap manusia. Kemungkinan roh-roh itu telah diserap habis Morgan, maka dari itu kekuatan Morgan kali ini berada di atas rata-rata. Itulah sebab mengapa banyak kekaisaran yang mudah dilenyapkan olehnya,” jelas Bleas.
“Lalu, Yang Mulia, kami menemukan Killian dan Frine dalam kondisi tak bernyawa di sebuah altar. Tampaknya Morgan menyerap kekuatan Killian, dia berhasil meruntuhkan istana langit dalam sekejap,” imbuh Cherry.
Krystal membeku di tempat, dia tidak kaget soal kematian Killian dan Frine, tapi dia terkejut perihal kekuatan Morgan. Untuk saat ini kekuatan Krystal masih belum sepenuhnya pulih, dia tidak tahu harus bagaimana jika nanti dipaksa berhadapan dengan Morgan.
DUAARRR!
Sebuah ledakan mahadahsyat bahkan lebih dahsyat dari ledakan sebelumnya bergema di penjuru dunia. Sontak Krystal memutar pandangan, dia lekas pergi menuju ke angkasa untuk melihat arah ledakan tersebut.
“Celaka! Ledakan itu berasal dari Albertine!”
__ADS_1