
“Hei, kau lihat bukan? Pria bernama Arno itu baru saja kurang ajar kepada Yang Mulia,” tutur Austin.
“Ya, aku melihatnya. Berani sekali dia mengusik Yang Mulia dan lebih parahnya lagi, dia mengajak Yang Mulia untuk tidur dengannya,” balas Lucio.
Saat ini mereka berdua tengah bersembunyi di balik sebuah tembok bangunan kelas dekat lapangan. Mulanya, niat mereka adalah untuk bertemu Krystal, namun tanpa disengaja mereka malah menyaksikan Arno bersikap kurang ajar kepada Krystal. Meski Krystal telah menghajar Arno, rasa kesal di hati mereka belum terelakkan sama sekali. Lucio meretakkan dinding tempat mereka bersantai, tangannya meremas tembok tersebuk karena saking kesalnya dengan Arno.
“Lucio, kau jangan macam-macam di sini. Apabila dinding ini roboh, apa kau punya uang untuk mengganti rugi?” tegur Austin dengan suara kecil.
“Tidak.”
“Makanya tahan emosimu, kita ini selir yang miskin, nanti mereka malah meminta ganti rugi pada Yang Mulia.”
“Apa kau yakin Yang Mulia mau membayarnya?”
“Tidak, tapi tetap saja jangan berbuat kerusakan di sini. Apa kau mau dimarahi Yang Mulia?” tanya Austin.
“Tidak mau.”
Mereka berbicara berbisik-bisik biar tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka, padahal kala itu pergerakan keduanya dicurigai oleh orang yang berlalu lalang di dekat sana, hanya saja mereka tidak ada yang sadar dan pandangan mereka terlalu terfokus kepada Krystal.
“Tumben kalian akur,” celetuk Cleon.
Austin dan Lucio serentak menoleh ke arah Cleon yang baru saja datang, muka Cleon mengesalkan dan membuat emosi mereka menggebu-gebu. Bila Cleon bukan adik Krystal, sudah dipastikan Cleon tidak akan bernyawa lagi hari ini, mereka bertahan menghadapinya cuma karena Cleon merupakan adiknya wanita yang mereka cintai.
“Kenapa kau kemari bocah?” tanya Austin menampakkan ekspresi tidak suka.
“Aku kebetulan lewat saja,” dalih Cleon mengarahkan mukanya ke objek lain.
“Bohong! Kau pasti mau menemui Yang Mulia kan? Dasar kau tidak mau mengaku,” balas Austin.
__ADS_1
Cleon sengaja menyusup ke dalam akademi hanya untuk melihat Krystal saja, walau ia malu mengakuinya, tapi jauh di hati kecilnya dia merindukan Krystal. Belum cukup tiga hari ditinggalkan, tapi mereka tidak kuat menahan rindu lebih lama lagi.
“Cleon, apa kau mengenal pria berambut blonde itu?” tanya Lucio menunjuk ke arah Leonard.
“Ahh dia? Dia Leonard, anaknya Marquess Sulivan, dia terkenal dengan kemampuan berpedangnya. Tapi, tampaknya kakak sangat membenci pria itu, apa sekarang mereka tengah memperdebatkan sesuatu?”
Pertanyaan Cleon sama dengan Austin dan Lucio, mereka juga ingin tahu alasan kenapa emosi Krystal menggebu-gebu kepada Leonard. Setahu Cleon sendiri, Krystal belum pernah mengenal Leonard secara langsung. Namun, yang mereka lihat saat ini yaitu rasa benci Krystal kepada Leonard bukanlah rasa benci biasa, lebih tepatnya rasa benci yang terpupuk sejak lama.
“Apa benar Yang Mulia tidak kenal dekat dengan pria itu? Aura membunuh Yang Mulia bisa terasa sampai kemari,” ucap Austin merinding.
Di saat yang bersamaan, Krystal masih menggebu-gebu marah kepada Leonard, ekspresi Leonard kebingungan sesaat, dia tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Krystal. Perasaan Krystal terombang-ambing, dia nyaris tidak dapat mengontrol ledakan emosinya. Kepalanya mulai terasa pusing, dadanya panas, serta penglihatannya dipenuhi oleh aura hitam kebencian.
“Tenanglah, aku hanya memberikanmu nasehat. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu di sini, kontrol emosi—”
Plakkk
“Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu,” tegas Krystal.
Para siswa mengerumuni lapangan saat itu juga, mereka menyaksikan sejak awal beringasnya Krystal melawan Arno, bahkan kini dia tengah bersitegang dengan Leonard. Menurut mereka gilanya Krystal sudah melewati batas wajar, Leonard dihormati di akademi ini, tapi Krystal tidak menunjukkan sedikit pun rasa hormat kepada Leonar seolah seperti tersimpan kemarahan terselubung.
“Kenapa sepertinya kau sangat membenciku? Apa sebelumnya aku ada berbuat salah padamu?” bingung Leonard.
“Ada, kau berbuat dosa terlalu besar padaku.”
Kemudian Krystal beranjak meninggalkan lapangan, ujian berpedang sudah selesai dan kini saatnya dia pergi menenangkan diri terlebih duhulu. Emosinya terkuras habis bersamaan dengan tenaganya yang juga ikut terkuras. Krystal menyembunyikan diri sendiri di tempat yang sepi dan tidak ada orang yang lalu lalang.
“Kenapa rasanya emosi Krystal mengalir deras di perasaanku? Aku tidak berniat untuk membuat emosiku meledak keluar. Namun, hatiku ikut sakit bila mengingat perlakuan si baj*ngan itu kepada Krystal. Sepertinya mulai saat ini aku harus pandai mengelola dan menempatkan perasaanku secara tepat.”
Krystal menyandarkan punggungnya ke permukaan dinding, tubuh Krystal perlahan merosot ke bawah. Lalu ia peluk lututnya erat, beban di pundaknya satu persatu mulai memberatkan hati serta pikiran Krystal.
__ADS_1
“Aku tidak boleh tergesa-gesa, aku juga tidak boleh ceroboh dalam menggunakan kekuatanku. Apabila aku salah langkah, aku akan hancur dalam sekejap mata, aku hanya ingin menyelesaikannya dengan memperoleh akhir tragis untuk mereka. Aku akan menyiksa mereka perlahan, dengan begitu aku akan mendapatkan balas dendam yang sempurna.”
Tiba-tiba setelah itu, Krystal merasakan ada sesuatu yang dingin di atas kepalanya, karena penasaran ia pun menegakkan kepalanya yang tertunduk di lutut.
“Dinginkan dulu kepala Anda, Yang Mulia.”
Rupanya itu adalah Julian, dia membawakan Krystal sekaleng minuman dingin untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Julian awalnya ingin menghindari Krystal, tapi dia tidak bisa membiarkan Krystal tenggelam di dalam emosi.
“Julian, apa kau memutuskan untuk muncul di hadapanku karena kau merasa kasihan padaku?” tanya Krystal dengan nada bicara lemas.
“Saya hanya tidak sengaja melihat Anda sedang kesulitan mengontrol emosi,” elak Julian, padahal sejak awal mulai ujian berpedang, Julian memperhatikan Krystal dari kejauhan.
“Ohh begitu kah?”
Krystal kembali berdiri, dia membuka tutup kaleng minuman bersoda yang berikan oleh Julian tersebut lalu meminumnya setengah saja. Perasaannya sedikit lega, walau masih terselip rasa kesal di dada.
“Yang Mulia, saya harap Anda bisa mengontrol emosi lebih baik lagi. Saya bisa mendengar jelas bagaimana detak jantung Anda ketika marah,” tutur Julian.
Krystal menampakkan senyum godaan kepada Julian, dia menyukai mimik malu milik Julian. Krystal mendekatkan wajahnya kemudian menggandeng lengan tangan Julian, seketika itu muka Julian langsung merona.
“Kau perhatian sekali padaku, jangan terlalu perhatian, bisa-bisa aku nanti semakin gila,” goda Krystal.
“S-s-semakin gila?” gugup Julian.
“Ya, semakin gila menyukaimu.” Krystal berbisik manja di samping telinga Julian, spontan saja Julian langsung menjaga jarak dari Krystal, degup jantungnya berubah cepat, dan wajahnya bertambah merah.
“YANG MULIA, ANDA TIDAK ADIL!” Austin dan Lucio berteriak, mereka memecah suasana panas dingin antara Krystal dan Julian, mereka datang dari arah berlawanan di balik semak.
“Astaga, sejak kapan kalian ada di sini?”
__ADS_1