Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Keributan Antarselir


__ADS_3

Suara rintihan kesakitan Krystal semakin dalam terdengar, saat ini sekujur badan Krystal didera gemetar hebat tak berujung. Rasa panik menjadi-jadi di tengah ruang kelam itu, kecemasan terhadap Krystal tergambar di masing-masing wajah para selir. Di tengah-tengah kepanikan yang melanda, Heros tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Heros pun merampas tempat Austin yang memangku Krystal.


“Hei! Siapa kau? Kenapa kau malah seenaknya saja menyentuh Yang Mulia?” marah Austin.


Kedatangan Heros rupanya disambut oleh tatapan tidak suka dari para selir, bagaimana tidak? Tak ada dari mereka yang mengenal Heros, hanya saja Austin, Lucio, dan Julian pernah melihat sekilas Heros kala di akademi. Benar-benar Heros adalah orang asing aneh yang mendadak merebut posisi tempat duduk Austin. Namun, Heros tidak menghiraukan mereka, dia tengah menenangkan Krystal.


“Apa kau tidak mendengarku?” Austin menyentuh pundak Heros, hingga pada akhirnya Heros tidak punya pilihan lain selain meladeni mereka.


“Aku adalah teman… ahh bukan, aku adalah selir kelima,” jawab Heros blak-blakkan.


“Hahh? Aku selir kelima! Kau sedang berusaha berbohong?” ketus Shion.


“Kalau begitu, aku selir keenam,” putus Heros. Dia merasa sungguh gila saat ini memperkenalkan diri sebagai selir Krystal, begitu pula dengan Shion yang menyatakan dengan lantang bahwa dia merupakan selir kelima. Padahal Shion tidak bermaksud berkata demikian, tapi dia spontan saja berucap seperti itu.


“Kau jangan mengada-ada,” bantah Ash lalu ia melirik tajam Shion, “Kau juga jangan mengada-ada. Bagaimana mungkin Yang Mulia memiliki selir lain tanpa ada izin dariku?”


Austin, Lucio, dan Julian terdiam saling menatap Ash yang terlalu percaya diri atas bantahannya.


“Ash, aku rasa kau perlu mengetahui sesuatu,” ujar Lucio.


“Mengetahui apa?” tanya Ash.


“Yang Mulia tidak pernah meminta izin jika beliau mau mengangkat selir baru, jadi kami tidak heran kalau ada selir baru tanpa sepengetahuan kami. Harusnya kau tahu sendiri kan? Yang Mulia menyukai pria tampan berotot, dia bahkan tidur denganmu lalu mengangkatmu sebagai selir tanpa memerlukan izin dari kami,” papar Lucio menyadarkan Ash.


Ash memutar lagi memori saat pertama kali dia bertemu Krystal, memang benar kenyataannya bahwa Krystal mengangkat selir tanpa izin dari selir-selir yang lain. Hancur sudah mimpi Ash yang berangan-angan menjadi selir terakhir untuk Krystal, dia membayangkan Krystal akan lebih sering bersamanya daripada selir yang lain sebab menurut Ash, selir terakhir memiliki posisi yang lebih istimewa.


“Aahh tidak… mimpi indahku berakhir begitu saja, kenapa kalian tega mematahkan angan-anganku?” wajah Ash terlukis frustasi, dia tertunduk lemas dan lesu setelah Lucio menamparnya dengan kenyataan pahit.

__ADS_1


“Kenapa kalian malah membahas hal yang tidak penting? Apa kalian tidak melihat kondisi Yang Mulia semakin buruk?” tegur Julian marah. Baru pertama kalinya mereka menyaksikan Julian emosi dan meninggikan nada suaranya.


Mereka mengembalikan fokus kepada Krystal yang masih menetap di dalam mimpi buruknya. Tidak ada seorang pun yang mampu membawa Krystal keluar dari mimpi yang perlahan melenyapkan diri Krystal. Heros sibuk membangunkan Krystal, berkali-kali ia menyebut nama Krystal dan menambah kekuatan dekapannya.


“Krystalia, aku mohon buka matamu. Jangan begini padaku,” lirih Heros teramat pelan.


Kemudian, Shion menggapai harmonikanya yang terletak di atas meja, dia mulai meniup harmonika itu dan membunyikan suara indah nan lembut. Musik harmonikanya membawa semua orang pada ketenangan, ia melakukan ini untuk membuat suasana kamar menjadi lebih damai. Krystal menampakkan ketenangan, dia tidak lagi resah atau gelisah, akhirnya Krystal berhasil memenangkan perperangan dengan mimpi buruk yang terus menyapa tidurnya.


Ketika itu, seluruh selir serentak menghela napas lega, tidak ada suara keresahan dari Krystal. Kini Heros menaruh kepala Krystal ke atas bantal dengan pelan lalu menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan.


“Syukurlah, nyaris saja aku mati di dalam kepanikan,” ujar Ash menghembuskan napas lelah sembari menyandarkan punggungnya ke permukaan dinding.


“Jika itu saja membuatmu mati, berarti kau sangat lemah,” sindir Shion dengan muka tak berdosa, bibir Shion membentuk lengkungan senyum.


“Huh? Kau bilang aku apa? Lemah? Aku ini lebih dulu menjadi selir daripada kau.” Ash menarik keras baju Shion, lalu Shion melepaskan paksa tangan Ash dari pakaiannya.


“Kau boleh lebih dulu menjadi selir daripada aku, tapi aku akan menjadi selir yang paling dicintai oleh Yang Mulia. Kalian terlalu lemah bersaing denganku.” Shion meremehkan dan memukul rata seluruh selir.


“Siapa namamu?” tanya Lucio mengeluarkan aura gelap dan menekan.


“Shion,” jawab Shion singkat.


“Shion? Sebaiknya kau bersikap baik-baik saja di sini sebelum aku tendang kau keluar dari istana harem,” ancam Lucio.


“Bagaimana ya? Yang Mulia menawarkanku menjadi selir kelima, aku tidak akan keluar kalau bukan Yang Mulia


sendiri yang meminta,” balas Shion. Suara Shion memang terdengar lembut, tapi terkesan merendahkan mereka semua. Sikap Shion sangat menyebalkan dan berhasil membuat semua orang naik pitam.

__ADS_1


Heros satu-satunya orang yang tidak terpancing oleh Shion, dia hanya bisa menggeleng pasrah karena keributan para selir.


“Berhenti! Jangan meribut lagi. Krystal sedang tertidur, jangan sampai suara kalian membangunkannya,” tegur Heros.


“Krystal?”


Mereka mengarahkan pandangan tidak mengenakkan ke Heros, jelas sekali bahwa mereka meminta penjelasan dari Heros.


“Namaku Heros, aku raja neraka. Aku lebih lama mengenal Krystal daripada kalian,” kata Heros.


“Raja neraka? Apa maksudnya?” Shion satu-satunya orang yang tidak mengetahui identitas asli Krystal.


“Kau tidak tahu? Hahaha. Yang Mulia tidak memberitahumu? Kasihan sekali,” ledek Austin.


“Kalau begitu aku akan menanyakan langsung kepada Yang Mulia besok saat beliau sudah bangun.”


...***...


Pada saat yang bersamaan, di daerah Kerajaan Mateo, terjadi badai pasir yang sangat besar hingga membuat pemukiman rakyat hancur tak bersisa. Di tengah-tengah itu, berdiri tegak seorang pria bersurai setengah biru gelap dan perak, pupil matanya memiliki warna magenta, di kedua telinganya menjuntai anting emas, wajahnya terlihat manis dan imut, serta pakaian yang dia kenakan juga tampak mewah.


Ekspresinya dikuasai oleh amarah, berbanding terbalik dengan wajahnya, pria itu justru tampak menakutkan saat mengamuk. Badai pasir yang terjadi saat ini merupakan ulahnya, lalu tampak banyak orang yang tergeletak tak sadarkan diri di sekitar dirinya.


“Saya mohon, tolong hentikan semua ini. Baiklah, kami akan melepaskanmu, tapi tolong hentikan juga kekacauan yang kau buat saat ini.” Seorang pria paruh baya merangkak bersujud di kakinya memohon untuk menghentikan tindakannya ini.


“Baiklah, aku akan menghentikannya.” Pria itu menurut dan menghentikan badai pasir tersebut. “TAPI BOHONG! MANA MUNGKIN AKU AKAN BERHENTI.” Pria itu tertawa kejam dan dalam sekejap Kerajaan Mateo rata dengan tanah.


Selepasnya, pria itu memutar tubuh dan mulai melangkah ke arah lain dengan senyum puas terukir di bibirnya.

__ADS_1


“Berani sekali mereka memanfaatkanku, aku sudah membuat kerajaan ini hilang dari peta. Kini saatnya Vicenzo nan tampan rupawan ini menemui kekasihku, Krystalia tercinta. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Dia sudah terbangun dari tidur panjang, haruskah aku menghadiahkan Kerajaan Mateo ini padanya? Ditambah dengan padang bunga yang indah.”


“Tapi, Krystalia menyukai teh, kalau begitu apakah aku menghadiahkan kebun teh saja? Ahh terserah! Aku akan memberikan semuanya pada Krystalia tercinta. Apa saja akan aku berikan padanya karena aku punya banyak uang sekarang. Baiklah, saatnya meluncur ke Albertine!”


__ADS_2