Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Curahan Hati Krystal


__ADS_3

Krystal termangu kaku, dia tertunduk menatap permukaan tanah yang retak, Killian selalu mengatakan hal yang sama tapi dia tidak menjelaskan secara detail maksud dari perkataannya. Krystal menegakkan kepala lalu menatap lurus Killian, bayang-bayang pengkhianatan yang ditorehkan Killian masih terasa nyata di hati. Namun, Krystal berusaha untuk tegar dalam menghadapi Killian. Sampai kapan pun ingatan menyakitkan itu akan terus hidup di memori Krystal.


“Killian, kau selalu berkata seperti itu, bisakah kau menjelaskannya padaku? Aku yang menciptakan takdir untuk mereka? Jangan membuatku tertawa, mana mungkin aku bisa melakukan itu,” bantah Krystal membalikkan badan, “Pergilah dari sini sebelum aku patahkan tulang lehermu,” usir Krystal seraya memberi ancaman.


Killian menahan tangan Krystal, kemudian dia mendekatkan kepalanya ke samping telinga Krystal.


“Aku katakan padamu sekali lagi, kau membunuh lima selirmu di masa lalu, apa kau pikir mereka akan terima jika mereka mengetahuinya? Aku tidak mengada-ada tapi hal itu memang pernah terjadi, ketika Kerajaan Ezoria hancur di tanganku—”


PLAAKKK


Krystal mendaratkan tamparan di pipi Killian, kala itu Killian terlihat terkejut atas aksi yang baru dilakukan oleh Krystal. Tidak pernah seumur hidup Krystal menamparnya, baru kali ini dia mendapat tamparan cukup kuat dari Krystal. Tak hanya Killian yang kaget, bahkan selir yang berada di sana juga kaget. Hanya ada tatapan dingin di mata Krystal, Killian merasakan bahwa ketakutan yang bersarang di hati Krystal telah menghilang sepenuhnya.


“Apa? Sekarang kau berani menamparku?” Killian murka dan mencekal pergelangan tangan Krystal.


“Memangnya kenapa kalau aku berani? Apa masalahmu? Membunuhmu saja aku berani, jadi mengapa aku harus takut hanya menamparmu? Lagipula aku telah lama keluar dari Kekaisaran Langit, jadi jangan perlakukan aku sama seperti dewa dan dewi yang berada di bawah kekuasaanmu. Sebaiknya kau pergi dari tempat ini segera! Aku muak melihatmu yang terus mengejar dan memaksaku kembali. Obsesimu padaku sungguh menjijikkan,” ucap Krystal penuh penekanan.

__ADS_1


Killian mengeratkan cengkramannya di pergelangan tangan Krystal, rahangnya menegang seketika menyaksikan wanita yang ia kejar selama ini sekarang berbalik menyerang dirinya.


“Kau pasti seperti ini gara-gara selirmu ini, kan?! Kau ikut denganku sekarang ke Kekaisaran Langit! Aku tidak akan membiarkanmu lebih lama tinggal di dunia manusia!” Killian menarik tangan Krystal untuk pergi bersamanya.


Namun, langkah Killian terhalang oleh selir Krystal, mereka mencegat jalan Killian untuk tidak membawa Krystal lebih jauh lagi.


“Hentikan! Kau tidak bisa membawa Yang Mulia pergi,” ujar Lucio berada di mode marah.


“Apa ini? Kalian merasa bahwa Krystal adalah milik kalian? Krystal itu milikku! Kalian tidak berhak melarangku membawanya pergi!” bentak Killian berapi-api.


“AKU BUKAN MILIKMU, BAJ*NGAN!”


“Krystal! Kenapa kau tega padaku? Kenapa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini? Padahal kau pernah berjanji akan hidup semati denganku, mengapa kau meninggalkanku hanya karena kau menolak untuk dijadikan selir? Sejak awal kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau harusnya sadar itu,” tutur Killian, garis-garis kekecewaan tergambar di wajah Krystal, dia lupa tentang janjinya yang akan menjadikan Krystal sebagai satu-satunya wanitanya.


Krystal tertawa geli, berpikir bagaimana bisa dia dulu mencintai pria bodoh seperti Killian? Bagaimana bisa dia mengharapkan pria seperti Killian menjadi suaminya? Bagaimana dia begitu bodohnya membantu Killian naik ke tahta Kaisar Langit? Pada akhirnya hanya ada pengkhianatan menyakitkan yang ia peroleh.

__ADS_1


“Kau yang meninggalkanku lebih dulu, bukan aku yang meninggalkanmu, kau yang memilih wanita itu menjadi Permaisurimu, lalu bagaimana dengan aku? Sudah cukup aku mendapat begitu banyak penghinaan karena cintaku padamu yang terlalu besar, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Aku tidak akan terjebak cinta yang sama, aku tidak akan menyerahkan diriku padamu. Kau membuangku, mencampakkanku, dan kau bahkan tega menamparku ketika aku berbicara buruk soal Permaisurimu.”


“Kemudian tanpa tahu malu kau datang kemari dan memintaku pulang bersamamu? Apa hargaku memang semurah itu di matamu sampai-sampai kau bermohon padaku menjadi selirmu? Ke mana kau saat aku hampir mati ketika aku ditetapkan sebagai pembunuh dewa? Ke mana kau di saat aku sedang membutuhkanmu? Apa kau tahu kalau aku hancur karenamu? Sudah cukup, Killian, aku mohon jangan buat aku menderita lagi, aku telah bahagia di sini karena aku diperlakukan selayaknya Ratu oleh pria seperti mereka.”


Killian tak dapat berkata-kata, Krystal mencurahkan isi hati terdalamnya kepada Killian, perasaan yang telah lama tertahan akhirnya meledak. Krystal sudah kenyang oleh derita yang ditorehkan Killian padanya, hati dan pikirannya terkoyak berulang kali ketika ia mengharapkan pria itu membawanya keluar dari jurang kesakitan. Namun, harap hanya tinggal harap, percuma ia berharap yang pada ujungnya malah terasa sia-sia.


“Krystal, aku—”


“Tolong pulanglah ke Kekaisaran Langit, jangan pernah datang lagi ke hadapanku sebab aku lelah menghadapi masalah yang beruntun menghantamku. Jika memang kau mencintaiku, tolong sesali dan renungi apa yang telah kau lakukan padaku selama ini. Hatiku tidaklah kuat, sekali jentik maka hatiku akan ambruk, kau yang paling tahu soal itu. Jadi, tolong biarkan aku hidup tenang sebelum akhirnya aku benar-benar mati dan lenyap dari dunia ini.”


Suara Krystal yang dingin menusuk masuk ke dalam sanubari Killian, mata yang sayu serta ekspresi datarnya memberi efek menyakitkan di dada Killian. Melihat Killian yang tertunduk, Krystal pun beranjak pergi dari halaman istana untuk memastikan keadaan Shion saat ini.


Menyadari Krystal tidak lagi berada di hadapannya, Killian pun kembali ke Kekaisaran Langit. Suasana hatinya buruk, wajahnya muram, tak terpancar kebahagiaan di muka Killian seusai bertemu Krystal. Padahal niatnya, dia ingin membujuk Krystal sekali lagi supaya mau kembali ke Kekaisaran Langit bersamanya, tapi semua itu tak berbuah baik.


Killian mengabaikan seluruh orang yang menyapanya, dia melangkah gontai menuju sebuah kamar, kamar tersebut adalah kamar milik Krystal saat dulu dia tinggal di Kekaisaran Langit. Desain kamar yang elegan, dipenuhi oleh warna biru muda, dan barang-barang yang masih sama terpajang di sana. Killian tidak mengubah sedikit pun tampilang kamar itu, bahkan aroma khas Krystal masih tercium di sana.

__ADS_1


Kemudian Killian mendekat ke meja belajar milik Krystal, lalu Killian mengambil sebuah buku catatan berwarna merah hati. Dia membalik-balikkan halaman buku tersebut, secara tiba-tiba selembar kertas terjatuh dari buku itu, Killian lekas memungut kertas itu yang ternyata sebuah ungkapan isi hati Krystal. Killian membaca isi dari secarik kertas itu, tangan Killian gemetar hebat ketika ia membaca satu persatu kalimat yang tertulis di sana.


“Bagaimana aku bisa sejahat ini kepada Krystal? Dia yang selama ini bersamaku setiap waktu, mengapa aku tak menyadarinya? Aku sungguh bodoh.”


__ADS_2