Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Wahyu dari Dewa


__ADS_3

Krystal dan Vicenzo bisa merasakan bahwa aura dewa yang menyelimuti hutan ini berasal dari pria tua yang melayang di udara depan mata mereka. Akan tetapi, meski begitu ia terlihat tidak seperti dewa kebanyakan yang memamerkan kekuatan di pertemuan pertama. Krystal menatap lekat pria tua itu sembari mengamatinya, kemunculannya sangat mengagetkan jantung mereka berdua.


“Jawab dulu pertanyaanku, siapa kalian?” tanya pria tua itu sekali lagi.


“Saya Krystal, dan dia selir saya – Vicenzo. Apa Anda penghuni hutan ini?” Krystal tiba-tiba mengubah bahasanya menjadi formal, entah mengapa ia rasa kala itu harus hormat kepada pria tua tersebut.


Pria tua itu tidak langsung menjawab, dia terbang mengitari Krystal dan Vicenzo, terlihat dari mukanya seperti sedang memperhatikan keduanya lebih dekat. Kemudian ia mengangguk-angguk seolah telah menemukan sesuatu seusai pengamatannya.


“Krystalia?” Pria tua itu tiba-tiba menyebut nama asli Krystal, hal itu menimbulkan tanda tanya besar.


“Krystal, sepertinya kakek ini mencurigakan, bagaimana dia bisa tahu namamu sedangkan saat ini kau menggunakan tubuhnya Krystal?” bisik Vicenzo mengisyaratkan untuk lebih waspada terhadap pria tua itu.


Krystal mengangguk dan berdehem, “Mengapa Anda menambah-nambahkan nama saya? Kan saya sudah bilang, nama saya Krystal bukannya Krystalia,” dalih Krystal.


Akan tetapi, pria tua itu tampak meragukan dan tidak mempercayai Krystal, bagaimana pun di mata yang berdiri saat itu adalah Krystalia, bukan orang lain.


“Mau bagaimana pun aku melihatmu sebagai Krystalia dan bukan sebagai Krystal, walau nama kalian mirip tapi tetap saja kalian berbeda jauh. Keturunan dewa lalu keturunan malaikat surgawi merupakan dua hal yang berbeda. Mau aku lihat dari sisi mana saja, di penglihatanku kau bermata merah ruby serta rambut putih yang berkilau seperti rambutku,” kukuh Pria itu membuat Krystal dan Vicenzo terdiam.


Krystal tersenyum kecil, ia tak dapat mengelak lebih jauh lagi, identitas pria tua di hadapannya terasa sangat sensitif.  Auranya penuh dengan jiwa kepemimpinan nan agung, walau fisiknya seperti seorang spirit tapi kekuatan yang tersimpan di dalamnya jauh lebih besar.


“Baiklah, saya memang Krystalia, tapi Anda siapa?” tanya Krystal sekali lagi.


“Aku Fergus, penghuni hutan belantara yang terlantar ini,” jawabnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


“Anda bukan dewa? Tapi, saya merasakan ada kekuatan dewa di diri Anda,” ucap Vicenzo mencoba melihat Fergus lebih dekat.


Fergus segera mengalihkan pandangan dari mereka, ia terlihat sedang menyembunyikan sesuatu mengenai identitasnya.


“Aku bukan dewa,” jawabnya singkat lalu berjalan pergi dari hadapan mereka.


Krystal dan Vicenzo saling bertukar pandang, mereka serentak mengangkat bahu, sepertinya mau seperti apa pun mereka bertanya Fergus tak akan jujur tentang identitasnya yang sebenarnya.


“Kami kemari untuk mencari petunjuk tentang klan musik, salah satu selir saya terkena demam tinggi seusai menggunakan mata auranya secara berlebihan. Apakah Anda tahu bagaimana cara menurunkan demamnya? Saya telah melakukan berbagai cara, tapi panasnya semakin tinggi dan nyaris menyebabkan kebutaan.” Krystal menjelaskan mengenai situasi terkait beserta maksudnya datang ke reruntuhan bangunan klan musik.


“Tangkap ini.” Fergus melemparkan sebuah buku bersampul putih ke arah Krystal, lekas Krystal menyambut buku itu, “Di sana ada cara untuk menangani demam tingginya,” ujarnya kemudian.


Krystal segera membalikkan halaman buku tersebut, bahasa kuno bersusun rapi di setiap helai halamannya. Untung saja Krystal masih bisa mengerti bahasa kuno, sebab dahulu ia pernah menggunakan bahasa kuno sebagai bahasa sehari-hari. Pada halaman 108 dijelaskan bahwa satu-satunya cara menyembuhkan panas tinggi yang diderita Shion adalah sebuah nyanyian dari seorang wanita. Nyanyian tersebut akan membantu menangkal efek kebutaan yang mengancam, lalu di halaman berikutnya ada lirik dari lagu yang harus dinyanyikan.


“Aura suci?”


“Ya ,contohnya kau, Krystalia.” Fergus menunjuk ke arah Krystal, “Kau satu-satunya wanita yang mempunyai aura suci, jadi nyanyikan padanya lagu itu. Akan tetapi, jangan sampai kau salah dalam penyebutan liriknya, bila kau salah maka bersiaplah suhu tubuhnya akan semakin memburuk,” peringat Fergus.


Krystal berpikir sejenak, tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain dirinya sendiri.


“Baiklah, saya akan menyanyikannya kepada Shion nanti,” ucap Krystal penuh percaya diri.


“Apa kau yakin bisa menyanyikannya? Jangan sampai salah, kalau salah maka akan berakibat fatal,” kata Vicenzo.

__ADS_1


“Ya, aku yakin, percayakan semuanya padaku.”


Tiba-tiba saja sebuah cahaya melintas sekilas di penglihatan Krystal, sontak hal itu membuat Krystal terkejut. Refleks ia menoleh ke sumber datangnya cahaya itu, tepat di tengah-tengah rak buku ia menemukan celah ruang di belakangnya. Krystal langsung melangkah ke tempat asal cahaya yang memanggil dirinya.


“Kau mau ke mana?” tanya Vicenzo.


“Tunggu di sini sebentar, aku akan pergi ke sana ingin mengecek sesuatu.”


Krystal meninggalkan Vicenzo bersama Fergus, celah ruang yang berada di balik rak buku tersebut terlihat mencurigakan. Krystal pun segera masuk untuk melihat lebih dalam lagi demi memastikan cahaya yang baru saja ia lihat. Ternyata di sana hanya ada sebuah batu berbentuk kubus yang sangat besar, di batu itu terukir beberapa kalimat. Krystal yang penasaran akhirnya memutuskan untuk membaca tulisan itu.


“Wahyu dari dewa turun ke bumi mengatakan bahwa salah satu dari keturunan klan musik akan menjadi satu dari tujuh dewa agung. Tujuh jiwa yang tercipta dari tangan seorang wanita berjiwa campuran, tujuh jiwa yang akan membantu memperbaiki tatanan dunia. Ketujuh jiwa yang dimaksud bersumber dari keturunan raja monster, raja spirit, klan musik, klan pedang beracun, klan benang berdarah, klan elemen listrik, dan terakhir terlahir sebagai raja neraka. Tujuh jiwa itu akan bersatu di satu titik bersama seorang wanita yang telah menciptakan mereka.”


Krystal membeku seusai membaca ukiran tulisan di permukaan batu itu, dia berpikir bahwa ini sebuah kebetulan yang tak masuk akal. Mencoba mencernanya berulang kali, tapi hasilnya tetap sama, pikirannya seketika penuh memikirkan maksud dari tulisan tersebut.


“Apakah mungkin tujuh kandidat itu adalah tujuh selirku? Energi dewa yang dirasakan oleh Cherry dan Bleas, mungkinkah memang benar adanya? Namun, wanita yang berjiwa campuran yang menciptakan mereka itu siapa? Apa itu aku? Aisss mana mungkin aku bisa menciptakan jiwa kuat setara dewa agung.”


Krystal tenggelam di ombak kerumitan pikiran sendiri, otaknya mulai menuju ke mana-mana memikirkan maksud dari tulisan itu.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apakah ada sesuatu yang sedang kau cari?” Vicenzo menghampiri Krystal yang telah berdiam diri di sana selama lima belas menit.


Lamunan Krystal buyar sesaat Vicenzo datang, “Tidak, hanya saja aku melihat sebuah batu besar di sini.”


“Batu? Tidak ada batu di sini,” ujar Vicenzo mengedarkan pandangan di sepetak tempat kosong dan tak melihat ada batu yang disebut oleh Krystal.

__ADS_1


“Huh? Kenapa batunya menghilang?”


__ADS_2