Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Aku Sudah di Sini


__ADS_3

Bahana teriakan Lucio bergema ke setiap titik mansion kediaman Grand Duke Ludovic. Lucio berupaya meronta melepaskan jeratan sihir yang membelit tubuhnya, namun apa daya sebab kekuatannya seperti terkunci. Lucio menoleh sekilas ke arah sang Ayah dan kakaknya, tapi mereka terlihat dingin dan tidak mempedulikan kesakitan Lucio. Keduanya menginginkan kematian Lucio saat itu juga, keputusasaan di binar mata Lucio yang sendu perlahan memancar, dia seakan tak memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama lagi.


Tiba-tiba kala itu, terdengar suara gaduh di luar ruang bawah tanah, seperti suara pertengkaran dan pekikan ksatria penjaga mansion. Grand Duke Ludovic memerintahkan Zever untuk melihat ke luar. Akan tetapi, sebelum Zever sempat beranjak ke luar, pintu masuk ruang bawah tanah didobrak hingga hancur oleh seseorang. Terlihat seorang gadis cantik yang bergejolak marah melangkah masuk menuruni satu persatu anak tangga.


“Mau kalian apakan Lucio?” tanyanya dengan nada dingin dan tajam.


Grand Duke Ludovic dan Zever tersentak melihat Krystal yang tiba di sana menjemput Lucio, mereka tidak menyangka kalau Krystal akan bertindak sejauh ini. Lucio samar-samar melihat bayangan kedatangan Krystal untuk menyelamatkan dirinya. Krystal berlari ke arah Lucio, dia membawa tubuh Lucio ke dalam pelukannya.


“Lucio, apa kau bisa mendengar suaraku? Tidak apa-apa, sekarang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Aku di sini untuk menjemputmu kembali ke istana bersamaku, jangan takut karena aku tidak akan membiarkanmu mati,” ucap Krystal menenangkan Lucio yang masih meraung sakit.


“Y-yang Mulia… s-sakit…,” lirih Lucio.


“Aku akan membantumu mengurangi sakitnya, jadi bersabarlah sedikit.”


Krystal mencoba melepaskan jeratan tali sihir yang mengekang kekuatan Lucio, Krystal tampak kesulitan untuk melepaskannya.


‘Lingkaran sihir penghancuran monster, ini adalah sihir kuno. Mengapa mereka bisa menggunakan lingkaran sihir ini? Apa Grand Duke sungguh serius melenyapkan darah dagingnya sendiri?’ batin Krystal merasa prihatin dengan hidup Lucio.


“Apa yang sedang Anda lakukan, Yang Mulia?! Apa Anda ingin menyelamatkan pembunuh itu? Apa yang istimewa dari anak kurang ajar itu hingga Anda berusaha keras untuk menyelamatkannya?!” bentak Grand Duke Ludovic terbakar emosi.

__ADS_1


Krystal menggigit bibir bawahnya, sepasang mata violet itu tampak redup, dia menatap lurus menghadap Grand Duke Ludovic.


“Lucio itu bukan pembunuh! Dia tidak pernah membunuh istrimu, dia bukan anak kurang ajar atau pun tidak berguna. Apa kalian masih belum puas menorehkan luka di hati Lucio? Apa kalian masih belum puas menyiksanya dan membuat jiwanya mati? Selama ini dia bertahan sendirian melawan sakit dan rasa sepi, kenapa kalian begitu kejam kepadanya?”


“Lucio itu anak yang baik hati, jika dia mau, aku yakin sudah lama dia melenyapkan kalian dari dunia ini. Tapi apa? Dia malah membiarkan kalian hidup! Lucio juga tidak membuang nama keluarga Grand Duke Marvelo, dia masih bangga menyandang nama itu! Pikir saja sendiri, apa selama ini dia pernah melawan walau kalian siksa? Lucio bertahan hidup meski tidak punya alasan untuknya hidup. Namun, kali ini berbeda, aku orang yang akan menjadi alasan untuk dia hidup! Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya!”


Lingkaran sihir itu kian menguat, Krystal hampir kehilangan energi untuk menahannya lebih lama. Krystal akhirnya memutuskan untuk menyerap rasa sakit dari tubuh Lucio, dia tidak punya pilihan lain meskipun dirinya akan dijadikan korban demi keselamatan Lucio. Para selir yang lain berdatangan ke ruang tersebut, mereka hendak mendekat kepada Krystal, tapi Krystal melarang mereka untuk masuk ke lingkaran sihir.


“Berhenti! Kalian jangan mendekat! Menjauhlah dariku, aku tidak mau kalian ikut terluka akibat tekanan lingkaran sihir ini,” larang Krystal, darah segar perlahan menetes keluar dari celah bibirnya.


“Tapi, Yang Mulia, Anda berdarah,” tutur Julian sedih menyaksikan Krystal tampak kesakitan.


Krystal menarik paksa sudut bibirnya untuk tersenyum, “Kalian berharga untukku, aku akan melakukan apa pun demi kalian meski aku harus merasakan rasa sakit yang luar biasa. Aku lebih takut kehilangan kalian daripada kehilangan nyawaku sendiri,” ungkap Krystal.


Selepas mendengar perkataan Krystal, Grand Duke Lucio dan Zever langsung terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Apa yang disampaikan oleh Krystal menusuk masuk ke lubuk hati terdalam, mencoba melihat lagi ke belakang memori masa lalu, betapa kejamnya mereka memperlakukan Lucio meski dia adalah darah dagingnya sendiri. Terlepas dari kematian sang Istri, Lucio telah menerima luka cukup besar dari dirinya dan banyak orang. Justru saat ini dialah yang terlihat seperti pembunuh keji.


Sementara itu, Krystal masih terduduk memeluk Lucio yang semakin kesakitan, darah yang keluar dari mulutnya bertambah banyak. Tubuh Krystal serasa tercabik-cabik dari dalam, tapi hatinya lebih sakit menyaksikan Lucio diperlakukan buruk.


‘Jika saja… jika saja aku bisa mendatangkan Ibunya Lucio, akankah masalahnya selesai? Namun, aku tidak punya kekuatan lebih untuk membuka gerbang surga. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tekanan dari lingkaran sihir bertambah besar dan kuat, bahkan para penyihir itu tidak punya hati sedikit pun.’

__ADS_1


Kalung permata Krystal kembali bereaksi, permata lilac itu mengeluarkan sinar yang menyilaukan. Tiba-tiba saja di depan mata Krystal terpampang gerbang surga, gerbang itu pun terbuka perlahan. Seorang wanita cantik yang parasnya begitu mirip dengan Lucio berjalan keluar, Grand Duke Ludovic serta Zever membeku melihat seseorang yang telah lama mereka rindukan muncul di hadapan mereka.


“Tierra…,” panggil Grand Duke Ludovic.


“Ibu…,” panggil Zever berlinang air mata.


Krystal ikut terkejut, dia tidak sangka bahwa kalungnya dapat melakukan hal semacam itu. Seisi ruangan mematung melihat hal itu, Krystal berharap masalah Lucio akan berakhir saat itu juga.


“Kenapa kau bisa ada di sini, Tierra?” Mata Grand Duke Ludovic berkaca-kaca menyentuh tangan sang Istri.


Akan tetapi, Tierra tidak menunjukkan raut wajah yang baik kepada mereka berdua, dia terlihat sangat marah kepada suami dan putra pertamanya.


PLAKKK!


Tierra menampar pipi Grand Duke Ludovic, selama ini dia tidak dapat berbuat banyak ketika melihat anak yang dilahirkannya hidup sengsara di dalam penderitaan akibat suaminya sendiri.


“Kau benar-benar membuatku murka! Beraninya kau menyakiti Lucio! Aku tidak menyangka kau menjadi pria sekejam ini. Lucio itu anakmu sendiri, sialan! Dia tidak membunuhku, dia tidak salah apa-apa. Lucio hanya terlalu istimewa mempunyai kekuatan melebihi orang lain, dia bukanlah pembunuh… anakku bukan pembunuh.”


Air mata Tierra berderai, Grand Duke Ludovic merasakan penyesalan di hatinya, apa yang dibilang istrinya itu benar. Lucio tidaklah salah, dia hanya terlalu istimewa dari anak-anak pada umumnya, Tierra mengarahkan pandangan marahnya kepada para penyihir di sana.

__ADS_1


“JANGAN KALIAN SAKITI LAGI ANAKKU!” Tierra meneriaki para penyihir tersebut.


__ADS_2