Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Jeratan Rantai


__ADS_3

Lekas saja Krystal menyalakan sihir teleportasi menuju Kekaisaran Albertine, firasatnya sangat buruk mengenai ledakan barusan. Tepat ketika Krystal baru saja menginjak tanah Albertine, dia menemukan kerusakan hebat pada tanah tersebut. Krystal mengedarkan pandangannya, yang dia dapati hanyalah mayat manusia yang bergelimpangan. Kematian rakyat Albertine terjadi secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.


“Apa yang terjadi di sini? Apakah Morgan juga berpikir ingin melenyapkan Albertine?”


Tanpa berpikir panjang lagi, Krystal mencoba pergi ke istana kekaisaran, dia berharap ada seseorang yang selamat di sana. Segala pikiran buruk serta kecemasan yang mendera terpaksa dia alihkan sejenak. Ketika kakinya tiba di gerbang istana, dia tidak juga menemukan gedung megah istana Albertine. Di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan terdapat banyak jasad pekerja istana bergelimpangan. Krystal mempercepat langkah kakinya untuk memeriksa kondisi istana saat ini, dia masih berharap adanya sepercik cahaya agar orang-orang yang dia sayangi selamat dari bencana ledakan tersebut.


Akan tetapi, hasilnya nihil, dia tidak melihat adanya puing-puing istana, semuanya benar-benar rata dengan tanah. Perasaan Krystal bergejolak panas, dia masih berupaya mencari keberadaan dari ketujuh selirnya.


“Di mana mereka? Kenapa aku tidak menemukan satu pun dari mereka?” gumam Krystal khawatir.


Tidak jauh dari tempatnya berada, tubuh kaku Selir Shuria yang sedang memeluk Adrian tergeletak tak bernyawa. Krystal memeriksa kondisi tubuh mereka, namun tak ada lagi harapan untuk mereka hidup. Hanya tersisa dirinya saja yang masih berdiri tegak di antara gelimpangan mayat manusia.


“Sial! Aku lengah … Morgan melakukannya dengan baik, dia tidak menyisakan siapa pun di sini. Aku paham, dia memasang sihir pembatas yang menyebabkan aku tak dapat mendengar pertarungan atau segala apa pun yang terjadi di sini selama beberapa waktu. Aku akan pergi mencari si brengs*k itu untuk membuat perhitungan.”


Krystal menepikan sejenak segala bentuk perasaan yang sedang dia rasakan kala itu, dia berubah bentuk ke wujud aslinya yaitu Krystalia. Rambut putih panjang berkibar di antara embusan angin, manik merah rubynya menyiratkan amarah besar yang hampir meledak. Akan tetapi, ketika Krystalia hendak menuju istana langit, tiba-tiba saja dirinya dikerumuni oleh wajah-wajah yang tak asing.


“Krystalia, bagaimana kabarmu?”

__ADS_1


Krystalia menggeram penuh amarah menatap lurus Morgan yang berada tepat di depan matanya. Emosi membara di dada menyelubungi diri Krystalia, gadis itu tidak tahu harus berkata apa lagi demi meredakan kemarahannya.


“Berani-beraninya kau muncul di hadapanku! Apa kau pikir kau bisa lolos setelah membunuh para selirku?!”


Morgan tersenyum miring, Krystalia berada di dalam genggamannya dan tidak ada seorang pun yang dapat menghadang langkahnya.


“Lihat mata merah ruby itu, aku menyukainya. Seharusnya sejak awal kau tidak melawanku kalau kau tidak mau membuat selir-selirmu celaka. Jangan menyalahkanku, ini adalah salahmu, Krystalia!” tekan Morgan.


“Aku tidak akan pernah menundukkan kepalaku di hadapanmu! Dasar makhluk menjijikkan!”


Krystalia menyentak kipasnya, muncul angin kencang mengibarkan rambut dan pakaian Morgan. Sebuah gertakan yang menyebabkan Morgan semakin bersemangat ingin segera memiliki gadis itu sepenuhnya.


Krystalia tidak lagi menahan diri, ia melesat secara cepat sambil mengayunkan kipasnya. Pedang-pedang berkeluaran dari ujung kipasnya, semuanya tertuju ke arah Morgan. Namun, dengan mudahnya Morgan menangkis serangan Krystalia.


Berlanjut ke serangan berikutnya, Krystalia mengubah arah serangannya, dia saat ini menyerang dari belakang disertai gerakan secepat kilat. Serangan bertubi-tubi muncul dari arah berlawanan hingga membuat Morgan nyaris lengah. Krystalia cukup kaget karena Morgan bisa menghindari serangannya tanpa terluka sedikit pun.


“Hahaha, apa yang kau lakukan? Seranganmu tidak akan bisa mengenai tubuhku,” ucap Morgan tertawa lepas.

__ADS_1


Krystalia menghela napas sejenak melepas ketegangan di pundaknya, ia berkonsentrasi pada serangan selanjutnya. Mengabaikan segala jenis ledekan yang diarahkan Morgan terhadap dirinya, Krystalia mencoba untuk tenang. Dia memejamkan matanya, perlahan dirasakan kekuatan yang besar meluap di tubuhnya.


‘Aku harus fokus, kekuatan Ibu dan Ayah mengalir di diriku. Aku harus bisa menggabungkan dua kekuatan itu.’


Perlahan rambut Krystalia berubah warna, setengah bagian bawah rambutnya berganti warna hitam. Hal itu pertanda bahwasanya kekuatan sang Ibu dan Ayah berhasil ia gabungkan di tubuhnya. Begitu Krystalia membuka mata, hujaman anak panah melajang cepat menargetkannya. Akan tetapi, Krystalia berhasil menepis hujaman anak panah tersebut.


“Jangan pernah merasa menang sebelum aku tumbang!”


Aura hitam menyelimuti tubuh Krystalia, sekelebat bayangan dari tangannya melesat melukai leher Morgan. Alangkah terkejutnya pria itu ketika tidak mampu menghindari bayangan tersebut, rasanya seperti dirinya terdorong ke dalam jurang kematian.


“Apa yang terjadi? Ini adalah gabungan kekuatan Iris dan Regan,” gumam Morgan terpaku. “Ah ya, itu tidak masalah. Aku masih bisa mengatasinya,” lanjutnya berucap sembari menyunggingkan senyum.


Morgan mengerahkan serangan pembalasan hingga terjadilan pertempuran di udara. Kekuatan mereka berdua saling bertubrukan, tidak ada yang bisa melihat seberapa cepat mereka kala itu. Sampailah ketika Morgan memberi isyarat kepada seluruh dewa yang berada di bawah perintahnya. Tiba-tiba rantai berwarna putih keemasan menangkap tubuh Krystalia. Rantai itu membelit tubuh Krystalia dan menyebabkannya kesulitan bergerak.


“Sial! Apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku!”


Krystalia meronta sekuat tenaga, tetapi kekuatannya seolah-olah tertelan oleh rantai itu. Sesaat Krystalia tersadar bahwa sebenarnya itu merupakan rantai penyegel yang biasa digunakan untuk menyegel iblis.

__ADS_1


“Tampaknya kau sudah sadar, kau tidak akan bisa lepas dari rantai itu.”


__ADS_2