Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Pembunuhan


__ADS_3

Di malam nan sunyi telah terjadi sesuatu yang mengguncang kekaisaran yaitu berita pembunuhan Emilia Albertine. Wanita yang dulunya diagung-agungkan sebagai saintess sekaligus wanita paling suci di Kekaisaran Albertine, kini mendapat akhir yang buruk. Setelah apa yang dia lakukan kepada Krystal pada kehidupan pertama, Emilia pun berujung menuai karma. Leonard yang kehilangan akal sehat akhirnya menghujamkan pedang ke jantung Emilia. Wanita yang ditiduri oleh Leonard mati dalam keadaan bersimbah darah.


Pada hari itu tepatnya semalam seusai pernikahan Leonard dan Emilia, pekikan nyaring pelayan menggema di lorong istana. Sontak semua orang berbondong-bondong memastikan apa yang terjadi hingga membuat seorang pelayan berteriak begitu kencang. Seorang pelayan terduduk di depan pintu kamar Emilia, ekspresi pelayan tersebut tampak syok. Para ksatria bergegas melihat apa yang terjadi di kamar Emilia.


“Tuan Putri … siapa yang tega melakukan ini? Siapa yang sudah membunuh Tuan Putri Emilia?!”


“Lekas beritahu Kaisar dan Permaisuri! Katakan Tuan Putri Emilia ditemukan tidak bernyawa di kamarnya.”


Lantai istana bergemuruh akibat langkah kaki para pekerja yang berlarian ke sana kemari. Mereka juga tidak menemukan Leonard di kamar, mereka mulai berprasangka bahwa pembunuh Emilia ialah suaminya sendiri. Krystal dengan santai menyaksikan tontonan menarik ini dari istana kediamannya. Krystal tersenyum puas ketika melihat wajah histeris Isabelle dan Fred, mereka berdua kehilangan anaknya lagi.


Belum lama setelah kematian Arsen – Putra Mahkota, kini mereka harus menelan pahit kenyataan tewasnya Emilia di tangan Leonard. Mereka seolah dihujam oleh ribuan paku yang menancap di jantung.


“Cepat cari Leonard! Apa pun yang terjadi, Leonard harus ditangkap! Aku tidak akan membiarkannya kabur setelah membunuh Emilia!” seru Fred memberi perintah kepada seluruh ksatria istana.


Isabelle menangis terisak di pelukan Fred, dia tak kuasa menahan penderitaan yang menghantam dirinya. Seusai kehilangan Arsen, terkadang Isabelle masih suka menangis sendirian karena memori bersama Arsen masih melekat di ingatannya.


“Yang Mulia … apa yang harus saya lakukan sekarang? Emilia juga pergi meninggalkan saya. Tidak cukup kehilangan Arsen saja, kini saya harus menderita lagi karena kehilangan Emilia. Yang Mulia, hati saya sesak … anak-anak saya semuanya mati lebih dulu dari saya,” lirih Isabelle.


“Maafkan aku, Isabelle. Ini salahku, ini salahku yang tidak becus menjaga anak-anak kita, tolong jangan salahkan dirimu lagi.”


Isabelle semakin histeris, Fred kewalahan menenangkan Isabelle, dia benar-benar prihatin dengan kondisi mental Isabelle yang mengalami penurunan drastis. Isabelle tanpa sadar pingsan di pelukan Fred, kemudian Fred meminta dokter untuk memeriksa kondisi Isabelle. Sedangkan Fred beranjak pergi untuk menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


“Mengapa kesialan tak kunjung berhenti menusukku? Aku sudah mencoba untuk menghubungi gereja dan pendeta agung, tapi tidak ada jawaban dari mereka. Pendeta agung telah menghilang terlalu lama, beliau tidak pernah menunjukkan puncak hidungnya di depan mataku. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa, kepalaku serasa mau pecah menangani masalah yang berurutan datang padaku,” gumam Fred.


Sementara semua orang tengah sibuk, Krystal malah bersantai sembari menyeruput teh hangat di balkon istana. Saat ini Krystal ditemani oleh Selir Shuria bersama anaknya yang bernama Adrian, dia sudah lama tidak menghabiskan waktunya bersama mereka berdua.


“Yang Mulia, apa tidak apa-apa Anda bersantai di sini?” tanya Shuria.


“Tidak masalah, ini adalah masalah mereka dan bukan masalah saya, lalu sekarang ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda.”


Suasana sekitar mereka menjadi lebih serius, Krystal menaruh cangkir tehnya dan memfokuskan diri dengan pembicaraan mereka selanjutnya.


“Apa yang ingin Anda bicarakan?”


“Setelah semua ini, saya ingin Adrian menggantikan saya untuk naik takhta. Dalam artian lain, Adrian akan menjadi Putra Mahkota berikutnya.”


“Saya tidak bisa menerimanya karena Anda lebih pantas untuk mendapatkan singgasana Kaisar. Meskipun Adrian merupakan anak kandung dari Kaisar yang sekarang, itu bukan berarti Adrian berhak duduk di singgasana kepemimpinan. Maaf, Yang Mulia, saya harus menolak permintaan Anda,” tutur Shuria menolak dengan lembut.


“Tapi, saya juga tidak berhak menerima takhta Kaisar karena saya bukanlah Krystal,” ungkap Krystal membuat Shuria ternganga kaget.


“Apa maksud Anda, Yang Mulia? Mustahil—”


“Krystal sudah mati dan saya datang kemari untuk membantunya balas dendam. Setelah pembalasan dendam ini berakhir, saya juga akan segera pergi dari sini.”

__ADS_1


Penjelasan Krystal barusan membuat Shuria syok setengah mati, waktu seakan berhenti di sekeliling mereka. Shuria ingin mengatakan semua itu kebohongan, namun melihat dari ekspresi Krystal, itu semua bukanlah kebohongan melainkan kenyataan.


“Tuan Putri Krystal sudah mati? Apakah beliau dibunuh oleh seseorang?” Shuria menatap tak percaya ke arah Krystal.


“Sebelum itu, sebaiknya saya memperkenalkan diri saya kepada Anda. Sebenarnya, saya adalah Krystalia, seorang dewi yang secara tidak sengaja bertemu dengan Krystal. Kala itu Krystal mati di tangan Emilia dan Leonard, dia mati dibunuh menggunakan pedang dan tubuhnya dibakar. Bahkan anak satu-satunya juga ikut dibunuh oleh mereka berdua, lalu saya memutar waktu untuk membalaskan dendam Krystal,” jelas Krystal.


“Apa? Jadi, mereka yang membunuh Tuan Putri Krystal?”


Shuria sangat syok, dia tidak tahu lagi harus merespon Krystal bagaimana, apalagi Krystal memperkenalkan dirinya sebagai seorang dewi, hal itu menambah syok pada diri Shuria.


“Ya, maka dari itu saya ingin menurunkan takhta kepada Adrian karena saya akan kembali ke tempat di mana seharusnya saya berada. Kemudian nanti saya juga memberikan kekuatan suci saya kepada Adrian. Sayang sekali jika nanti kekuatan suci ini menghilang begitu saja tanpa diturunkan,” kata Krystal seraya mengusap puncak kepala Adrian.


Shuria menggenggam tangan Krystal, air mata mulai bergulir di pelupuk matanya, entah mengapa hatinya sakit sekali setelah mengetahui Krystal sudah lama mati.


“Terima kasih karena sudah membalaskan dendam Tuan Putri Krystal, saya sudah menganggap beliau seperti anak saya sendiri. Tolong sampaikan maaf saya nanti kepada beliau, katakan kalau saya minta maaf karena tidak bisa melindunginya semasa hidup. Saya benar-benar menyesal,” ucap Shuria.


“Baiklah, nanti akan saya sampaikan.”


Setelah itu, Shuria tidak berhenti menangis sambil memeluk tubuh Krystal, ia merupakan orang yang sangat tulus kepada Krystal. Setidaknya di dalam hidup Krystal dia pernah bertemu dan merasakan kehangatan dari Shuria.


“Aku harus istirahat sekarang, kepalaku sakit sekali sejak tadi dan juga jantungku akhir-akhir ini memiliki reaksi yang aneh,” gumam Krystal sembari terus berjalan menuju kamarnya. Akan tetapi, belum sempat tiba di kamarnya, penglihatan Krystal mulai kabur dan buram.

__ADS_1


Brukk!


__ADS_2