Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Senyum Terluka


__ADS_3

“Astaga, sejak kapan kalian ada di sini?”


Lucio dan Austin menghampiri Krystal diikuti oleh Cleon di belakang, Krystal menepuk pelan keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia baru meninggalkan mereka selama dua hari, tapi mereka tidak dapat menahan rasa rindu untuk tidak bertemu. Lucio dan Austin memberi tatapan tajam kepada Julian yang tidak tahu menahu soal mereka.


“Kakak, apa dia selir ketigamu?” tanya Cleon to the point.


“Iya, Julian adalah selir ketigaku. Jadi, kalian punya teman selir yang baru,” jawab Krystal sumringah.


Krystal menarik tangan Julian untuk mendekat, pandangan Lucio dan Austin tidak bersahabat sama sekali. Krystal tahu kalau keputusannya menjadikan Julian sebagai selir ketiga akan menimbulkan sedikit kericuhan dari dua selirnya. Krystal tidak punya alasan lain untuk tidak menambah selir lagi, dia membutuhkan kekuatan besar di dalam rencana balas dendam yang tidak sederhana ini.


“Jadi, kau selir baru? Apa kau sudah tidur dengan Yang Mulia?” tanya Austin penuh selidik.


“I-itu… semalam—”


“Semalam? Kau tidur bersama Yang Mulia tadi malam?”


Julian mengangguk pelan, dia menutupi sebagian wajah meronanya menggunakan tangan, Julian tidak memiliki keberanian untuk menjawabnya langsung.


“Yang Mulia, padahal Anda baru tidak bertemu kami selama dua hari, tapi bagaimana bisa Anda membawa selir baru lagi?” Muka Lucio dan Austin memelas, tidak ada keikhlasan dari sorot mata mereka. Krystal pun menghela napas panjang lalu mengusap kepala mereka berdua, Krystal sedikit merasa bersalah sebab tidak menanyakan kepada mereka terlebih dahulu, tapi dia tidak punya waktu lebih untuk berbicara dengan keduanya.

__ADS_1


“Maafkan aku, tenang saja. Aku akan berusaha bersikap adil kepada kalian, aku memang salah tidak memberitahukan kalian kalau aku menambah selir lagi, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku beritahu kepada kalian. Aku butuh orang-orang yang bisa bertarung bersamaku, jujur saja aku tidak dapat menaruh kepercayaan kepada orang lain selain kalian. Jadi, bisakah kalian bersikap tenang? Sebab aku akan memberi perlakuan yang sama pada kalian.”


Krystal mencoba memberi pengertian kepada Austin dan Lucio, bibir merah muda nan tipis itu membentuk setengah senyum. Tidak seperti biasa, senyumnya tampak lebih lunak, tersirat beberapa perasaan kacau di sana.


‘Senyum itu bukan senyum bahagia, tapi senyum penuh luka. Sebenarnya, hidup seperti apa yang dijalani oleh Yang Mulia selama ini? Kenapa beliau terlihat lelah dalam ruang waktu yang panjang, seolah dirinya telah melalui kehancuran dunianya. Yang Mulia, hal seperti apakah yang sudah Anda alami sebelumnya? Kenapa? Kenapa hatiku sakit bila melihat senyum barusan?’


Lucio menyadari ada yang salah dari senyum Krystal, Lucio cukup peka dalam menerjemahkan setiap ekspresi orang lain. Lucio melihat kelelahan teramat sangat dirasakan oleh Krystal, luka di balik senyum palsu itu dirasakan oleh Lucio.


“Maaf, Yang Mulia.” Lucio langsung mendekap Krystal, dia ingin Krystal tahu bahwa sebanyak apa pun masalah yang dilalui, Lucion akan selalu berada di dekatnya.


“Lucio, apa yang terjadi? Seharusnya aku yang meminta ma—”


“Ya, terima kasih. Terima kasih karena sudah berusaha memahamiku.”


Kemudian, terdengar dari tempat mereka berdiri, bel masuk kelas berdering menandakan ujian selanjutnya segera dilaksanakan. Krystal melerai peluknya dari Lucio, kini dia jauh merasa lebih baik dari sebelumnya.


“Bel masuk berbunyi, aku akan ke kelas dulu. Kalian pergilah ke mana pun, nanti temui aku setelah kelas berakhir ya,” pamit Krystal.


Krystal menggandeng tangan Julian untuk masuk ke kelas, dia melambaikan tangan kepada Austin, Lucio, dan Cleon sambil menampakkan senyum lebar di bibir manisnya.

__ADS_1


“Lucio, apa yang terjadi? Mengapa kau tiba-tiba berkata seperti itu kepada Yang Mulia?” tanya Austin.


“Austin, mulai sekarang kita harus menghormati apa pun keputusan yang dibuat oleh Yang Mulia. Hidup Yang Mulia tidak sedangkal yang kita kira, masih banyak hal yang tersembunyi di balik tembok kokohnya. Tersimpan luka besar di balik dirinya, kita hanya perlu membantu Yang Mulia meraih kesuksesan untuk balas dendamnya. Meskipun aku baru bertemu dengan Yang Mulia, tapi perasaanku terlalu dalam untuk beliau.”


“Kita tidak bisa terus bersikap egois, balas dendam ini tidak sesimpel kelihatannya, terlalu banyak keanehan di balik alasan Yang Mulia ingin balas dendam. Aku berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh karena aku menghormatinya. Aku akan melakukan apa saja untuk Yang Mulia, jika beliau ingin menghancurkan Albertine, maka aku akan mengikutinya. Aku ingin membuat beliau bahagia dengan jujur, bukan penuh kebohongan seperti ini.”


Austin dan Cleon terdiam, ini adalah kali pertama Lucio berbicara panjang lebar, selama ini dia selalu dingin sehingga setiap kali orang berbicara padanya, dia hanya akan menjawab beberapa kata saja. Namun, apabila berhubungan dengan Krystal, dia akan mengatakan segalanya meski ia harus berucap lebih dari dua kata.


“Sepertinya apa yang kau katakan itu benar adanya, saat beliau memintaku menjadi kekuatannya untuk balas dendam, sekilas aku melihat ada luka besar di tatapannya. Sebuah kebencian yang besar bersarang di sana, aku tidak pernah melihat ada orang yang memiliki rasa benci sebesar itu,” ujar Austin sembari mengingat kembali momen pertama ia bertemu Krystal.


“Kita hanya perlu merengkuh dan memeluk beliau ketika terjatuh, menggandeng tangannya bila ia tersesat ke jalan yang salah. Kita harus menjadi kekuatan untuk beliau, aku akan menghancurkan apa pun yang menghalangi langkahnya,” imbuh Lucio.


“Sepertinya kakakku beruntung memilih kalian sebagai selirnya, meskipun awalnya aku tidak menyukai kalian, tapi sekarang aku tahu pilihan kakak tidak salah. Aku memang baru menjadi adiknya selama beberapa hari ini, namun aku senang karena dia menjadi kakakku,” ucap Cleon.


“Itu karena kau membiarkan Yang Mulia sendirian selama ini, kenapa kau tidak membebaskan beliau dari kurungan Permaisuri? Katanya kau punya kekuatan luar biasa, tapi masa kau sendiri tidak mampu menyelamatkan Yang Mulia?” sindir Austin.


“Aku juga tidak tahu kakakku diperlakukan buruk oleh Permaisuri sialan itu, Kaisar tidak berbuat apa-apa seolah dia tidak memiliki anak perempuan bernama Krystal. Aku bahkan tidak tahu sama sekali ternyata selama ini kakakku selalu dirundung di akademi, aku menyesal baru mengetahui segalanya sekarang,” sesal Cleon.


Kedua manik mata Cleon terlihat menyesal sebab dia tidak tahu apa saja yang telah menimpa Krystal selama ini. Dia selalu mengira Krystal tidak mau keluar dari istana karena kemauannya sendiri, tapi dia tahu sekarang kalau Permaisuri dan Kaisar paling bersalah dalam penderitaan Krystal. Cleon bertekad di hatinya kalau dia akan membantu Krystal apa pun yang terjadi nanti, tidak peduli badai seperti apa yang menerjang, dia akan selalu menjadi satu kekuatan besar di antara kekuatan lainnya.

__ADS_1


‘Aku akan melindungi kakak karena dia memperlakukan lebih tulus dibanding Kaisar, Ayah kandungku sendiri.’


__ADS_2