
Helaan napas lega terdengar keluar dari celah mulut Krystal, tulangnya serasa lunglai begitu Morgan menghilang dari depan matanya. Krystal menatap kosong ke bawah lantai, perlahan ia menggigit bibir bawahnya, rasa sakit di dada membuatnya harus menahan suara supaya tidak membuat khawatir para selirnya.
“Ahh dia membuatku sangat kesal!” gerutu Vicenzo.
Kemudian Julian dan Lucio membantu Krystal untuk bangkit, namun Krystal hanya mematung dan tidak bergeming ketika dipanggil berulang kali.
“Yang Mulia! Yang Mulia!” panggil Julian dan Lucio seraya mengguncang-guncang badan Krystal.
Krystal masih syok oleh kedatangan Morgan secara mendadak, trauma mendalam itu menggerogoti hati dan perasaannya. Pikiran Krystal kini dipenuhi oleh berbagai kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi nanti. Semuanya tiba-tiba kabur, ingatannya berkelebat dan berdatangan secara bersamaan di otaknya. Memori menyakitkan, kenangan manis, semua bercampur menjadi satu.
“Ada apa?” tanya Ash mendekat ke arah Krystal.
“Yang Mulia tidak menjawab panggilan kami,” jawab Lucio cemas.
Segera yang lain membantu untuk menyadarkan Krystal yang terjebak di ingatan masa kelam. Austin mengangkat wajah Krystal yang tertekuk, mereka kaget sebab pandangan Krystal sangat kosong. Sekali lagi mereka panggil nama Krystal, tapi nihil karena Krystal tidak punya kesadaran tentang dunia nyata yang ia jalani saat ini. Kemudian berselang beberapa menit, Fergus datang bersama Cherry dan Bleas dari luar. Fergus yang melihat hal ini pun langsung membantu untuk menyadarkan Krystal.
“Krystalia, dengarkan suaraku! Jangan terbawa arus ke ingatan kelammu lagi! Sadarlah!” Fergus menjentik kembali dahi Krystal, perlahan mata Krystal kembali bersinar seperti sedia kala.
“Awww keningku,” ringis Krystal mengelus keningnya yang sakit, “Kenapa Anda melakukan ini lagi pada saya? Aduhhh ini sakit sekali,” keluh Krystal mengerucutkan bibirnya.
Seisi ruangan menghembuskan napas lega karena Krystal telah balik seperti sedia kala, mereka takut sesuatu yang buruk menimpa Krystal lagi, tapi untungnya ada Fergus yang membantu menyadarkan Krystal. Meskipun wajah Fergus selalu datar dan tampak dingin, tapi dapat dilihat bahwa dia mengkhawatirkan keadaan Krystal yang hampir kembali jatuh akibat Morgan.
“Apa Morgan memunculkan dirinya di sini?” tanya Fergus.
__ADS_1
“Hmm begitulah,” jawab Krystal singkat seraya beranjak bangkit dari posisi duduknya.
“Melihat dari responmu sepertinya kau sudah tahu kalau Morgan adalah dalang di balik kekacauan di Kekaisaran Langit,” tutur Fergus.
“Saya baru memikirkannya lagi, ternyata semua masalah yang terjadi berkaitan dengan Morgan. Mulai dari masalah Killian hingga masalah penudingan yang diarahkan pada saya,” kata Krystal.
“Morgan adalah seorang penasehat dewa, dia bekerja langsung di bawah perintah Ayahmu ketika masih menjabat sebagai Kaisar Langit. Akan tetapi, kepercayaan yang ditaruh berubah menjadi bumerang yang melesat memenggal leher Ayahmu. Dia menciptakan skenario untuk menjatuhkan Ayahmu, yang pada akhirnya semua orang berbalik menyerang Ayahmu dan berakhir pada pengkhianatan,” papar Fergus.
Semua orang terdiam sesaat Fergus memaparkan kejadian yang sesungguhnya terjadi di masa lalu yang tidak ketahui oleh mereka seorang pun. Fergus seperti pria misterius yang datang membantu Krystal untuk membuka ingatannya yang terkunci.
“Sebenarnya Anda siapa? Kenapa Anda bisa tahu semua yang terjadi di masa lalu?” tanya Heros.
Fergus terlihat enggan untuk menjelaskan identitas dirinya, dia mengalihkan mukanya ke arah lain karena dia sungguh tidak ingin menjawab pertanyaan yang menyulitkan itu.
Mereka segera bungkam seusai Fergus berkata seperti itu, sepertinya identitas Fergus sangat sensitif. Dia terlihat menyembunyikannya secara hati-hati agar tidak diketahui oleh orang lain termasuk Krystal sendiri.
Di waktu yang bersamaan, ketika mereka tengah berbincang-bincang di kamar Shion, tanpa sengaja mereka mendengar keributan dan suara teriakan Shuria serta tangisan Adrian. Tanpa berlama-lama, mereka pun langsung pergi ke luar kamar untuk mengecek apa yang tengah terjadi pada mereka. Ternyata di depan kamar Shuria, Fred bersama Marquess Sulivan berdiri di sana sambil menarik paksa tangan Shuria. Adrian memeluk Ibunya yang ingin dibawa pergi oleh Fred menuju istana utama.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Krystal berlarian ke arah Shuria dan Adrian.
Fred dan Marquess Sulivan tersentak oleh suara teriakan Krystal yang bergema di lorong istana. Walau begitu, mereka tidak menghentikan aksinya, kini Marquess Sulivan pun berencana untuk membawa lari Adrian. Namun, rencananya itu digagalkan oleh Austin yang bergerak lebih cepat menghadang jalannya.
“Lepaskan tanganmu! Dasar kau tidak pernah jera membuat masalah!” omel Krystal menyentakkan tangan Shuria dari genggaman Fred.
__ADS_1
Raut wajah Fred bertukar masam, dia tidak senang dengan kedatangan Krystal yang sengaja menggagalkan niatnya untuk membawa Shuria kembali ke istananya.
“Kau mengganggu saja, lebih baik urusi masalahmu sendiri. Shuria ini selirku, jadi kau tak berhak ikut campur!” ketus Fred sambil menunjuk wajah Krystal.
Krystal menyunggingkan senyumnya, dia melipat kedua tangan di dada seraya menatap tajam Fred.
“Selir kau bilang? Ke mana saja kau selama ini? Kau bertingkah sok peduli dengan selirmu, tapi kau tidak pernah tahu apa yang sudah dilakukan oleh Permaisuri tercintamu kepada Selir Shuria, ‘kan? Apa kau pernah mempedulikan tentang betapa tersiksanya Selir Shuria akibat ulah Permaisuri terkutuk itu?”
“Apa kau bilang?”
Marquess Sulivan segera menyelak, “Jangan berbicara omong kosong! Memangnya apa yang dilakukan oleh Permaisuri? Anda jangan mencoba menciptakan fitnah antara Kaisar dan Permairsuri. Tidak mungkin Permaisuri menyiksa Selir Shuria yang sangat dicintai oleh Kaisar.”
Kedua mata Marquess Sulivan berapi-api membela Isabelle yang jelas-jelas melakukan hal yang salah, seolah dia tahu dan terlibat dengan pengancaman Shuria bersama Isabelle.
“Tidak mungkin apanya? Selir Shuria diancam oleh Permaisuri yang saat itu tengah mengandung Adrian karena dia iri dengan Selir Shuria yang dicintai oleh Kaisar bodoh ini. Apa jangan-jangan kau juga terlibat dalam masalah ini?”
Tebakan Krystal tampaknya memang benar, Marquess Sulivan sekilas memperlihatkan ekspresi panik luar biasa. Namun, ekspresinya berubah dengan cepat, dia berupaya untuk tidak terlihat panik agar Fred tidak menaruh curiga padanya.
“Maksud Anda apa? Sekarang Anda mau menuduh saya? Selama ini saya setia kepada Kaisar, jadi jangan membuat saya terlihat buruk di mata Kaisar dan menciptakan pertikaian antara saya serta Kaisar,” elak Marquess Sulivan.
Krystal memutar bola mata malas, dia sangat membenci pria seperti Marquess Sulivan, rasanya saat itu dia ingin membunuh keduanya, tapi Krystal menahan untuk melakukannya karena Krystal telah menyiapkan rencana untuk memusnahkan mereka.
“Untuk apa aku berbuat seperti itu? Sebentar lagi juga kalian akan mati di tanganku.”
__ADS_1