
Seringai licik terbit di bibir Krystal, ia meneguk sejenak teh hangat yang telah dihidangkan oleh Olin. Berpikir bahwa kesempatan menjadi Putri Mahkota semakin dekat di depan mata tanpa harus bersusah payah mendapatkannya. Krystal segera menyembunyikan ekspresi licik yang tadi sempat terlintas sambil memperbaiki posisi duduk.
“Tapi, kalau boleh saya tahu, mengapa saya dipilih menjadi kandidat Putri Mahkota selanjutnya? Apakah tidak lebih baik jika Emilia yang maju?” tanya Krystal.
“Yang Mulia, saya akan mengatakannya secara terus terang bahwa kami menginginkan kehancuran Kaisar saat ini.”
Mata violet Krystal melebar tak percaya atas pernyataan Duke Salvatore, melihat dari mimik wajahnya, Krystal yakin kalau itu bukan sekedar candaan atau main-main. Entah atas dasar apa mereka ingin menggulingkan pemerintahan Kaisar saat ini, yang jelas kini Krystal mesti mengetahui dengan detail dan pasti alasan di baliknya.
“Kenapa? Bukankah Kaisar saat ini digadang-gadangkan sebagai Kaisar yang paling pandai memerintah sepanjang sejarah? Kemakmuran yang diimpi-impikan rakyat semua bisa diwujudkan oleh Kaisar saat ini. Jadi, beri saya penjelasan rinci sebenarnya apa yang membuat kalian menginginkan kejatuhan Kaisar?” selidik Krystal.
Duke Salvatore menelan ludah ketika menatap mata Krystal yang tajam, sesaat dia takut akan salah bicara dengan Krystal, namun dia tetap memaksakan diri untuk dapat menjelaskan kepada Krystal maksud dan tujuannya yang sebenarnya.
“Dibanding Kaisar yang pandai memerintah, beliau lebih tepat disebut sebagai Kaisar boneka. Apakah Anda tahu setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Kaisar merupakan hasil hasutan dari para bangsawan? Seluruh bangsawan yang berada di bawah perintah Kaisar dengan tega melakukan korupsi demi memakmurkan diri sendiri. Rakyat dipaksa membayar pajak dalam jumlah besar, tapi mereka tidak mendapatkan hasil yang layak.”
“Terutama masalah kesehatan, Tuan Putri Emilia hanya memberi pemberkatan serta menyembuhkan orang dari kalangan bangsawan. Sementara itu, rakyat biasa tetap dibiarkan mati dalam keadaan sakit. Berulang kali rakyat mengeluh meminta keadilan, berulang kali saya serta bangsawan lain meminta Kaisar mengeluarkan perlindungan untuk rakyat biasa, tapi semuanya nihil. Suara kami tidak sampai kepada Kaisar, bahkan sekarang banyak preman yang menguasai jalan dan pasar tempat rakyat mencari nafkah, setiap hari selalu ada kematian di mana-mana.”
“Lalu yang lebih parahnya lagi, anak-anak yatim piatu diperjualbelikan di pasar budak. Mereka dianggap sebagai beban kekaisaran, rakyat tidak tahu akan hal ini tapi saya pernah menyaksikannya langsung. Yang Mulia, kekaisaran ini dikuasai oleh sampah serakah yang tidak bertanggung jawab, tolong terima permohonan kami sebab hanya Anda satu-satunya harapan bagi rakyat Albertine.”
Duke Salvatore menunduk dalam-dalam memohon kepada Krystal agar menerima permohonannya. Dia menjelaskan kepada Krystal sebuah situasi yang tidak dapat dilihat oleh mata kepalanya sendiri, situasi di mana keadaan kekaisaran ini lebih parah dari bayangannya.
“Jika situasinya memang separah itu, berarti saya harus turun tangan langsung. Baiklah, saya akan menerima pencalonan kandidat sebagai Putri Mahkota,” jawab Krystal, Duke Salvatore tersenyum lega mendengar persetujuan dari Krystal, “Sebelum itu, bisakah Anda membawa saya turun langsung ke dalam masyarakat untuk mengamati secara dekat situasinya?” tanya Krystal kemudian.
__ADS_1
“Sesuai permintaan Anda, saya akan membawa Anda untuk melihat langsung.”
Selepas itu, Olin segera membantu Krystal untuk bersiap-siap, ia meminta Olin untuk memakaikan dress yang paling sederhana agar dia terlihat seperti orang biasa. Akan tetapi, ada hal yang membuat dirinya merasa tidak enak.
“Kenapa kalian semua kemari? Apa ada hal yang ingin kalian katakan padaku?” tanya Krystal kepada para selir yang sejak tadi masuk ke kamar dengan muka memelas.
“Apa Anda hanya akan pergi ke luar bersama Duke Salvatore? Mengapa Anda tidak mengajak kami pergi bersama?” tanya Ash.
Krystal menghembuskan napas, ternyata mereka meminta untuk diajak oleh Krystal.
“Mengajak kalian semua itu tidak mungkin, aku hanya akan pergi mengamati sebentar, nanti aku pulang cepat. Jadi, lebih baik kalian di sini saja,” kata Krystal.
Tapi, mereka tidak menyerah begitu saja, mereka semakin memperlihatkan muka memelas dan memohon untuk ikut. Krystal menggeleng-gelengkan kepala, dia sendiri tidak bisa membiarkan wajah tampan dari para selirnya memelas. Krystal mengelus-elus dada, dia nyaris terjebak sebab wajah tampan yang membuatnya harus selalu menahan agar tidak lupa diri dan tidak lupa dengan tujuan utamanya.
Krystal berpikir sejenak siapa yang paling tepat untuk dia bawa, mengamati dari ujung ke ujung akhirnya Krystal membulatkan keputusan, Krystal menunjuk ke arah Shion.
“Aku memutuskan untuk membawa Shion,” ujar Krystal.
Seluruh selir menempatkan rasa iri dan marah kepada Shion, mereka mengarahkan tatapan tidak bersahabat. Sedangkan Shion tersenyum penuh kemenangan karena dia yang dipilih oleh Krystal untuk pergi bersama.
“Shion, aku rasa kita perlu berbicara.” Lucio menekan pundak Shion, sorot mata Lucio seperti akan menerkam Shion.
__ADS_1
“Tidak perlu, karena aku akan berkencan dengan Yang Mulia,” ucap Shion melepaskan tangan Lucio dari pundaknya.
“Baj*ngan! Kau beruntung sekali dipilih oleh Yang Mulia, rasanya sungguh tidak adil sekali.” Austin mengguncang-guncang tubuh Shion yang masih mempertahankan senyum mengejeknya.
“Hentikan senyum jelekmu itu! Aku tidak menyukainya!” marah Ash berapi-api.
Julian sebagai selir paling tenang merasa panas di hatinya membayangkan Krystal akan jalan dengan Shion dan bukan dirinya. Krystal bisa melihat dengan jelas bahwa saat ini yang menyimpan rasa cemburu paling besar adalah Julian karena elemen listriknya sampai menyembur keluar dari ujung jemari.
“Haruskah aku lenyapkan saja pria ini sekarang? Aku benar-benar tidak menyukainya.” Vicenzo hampir membuat keributan besar di sana, untung saja Krystal cepat menghentikan Vicenzo.
“Sudah cukup! Aku tidak mau kalian membuat kamarku menjadi berantakan.”
Krystal menghentikan perdebatan antar para selir, lalu dia mendekat ke arah Vicenzo dan membisikkan, “Datang ke kamarku nanti malam.”
Vicenzo langsung menurunkan emosinya yang menggebu-gebu, bibirnya perlahan membentuk senyum yang merekah.
“Baiklah, aku tidak jadi marah ke Shion. Aku merestui perjalanan kalian berdua,” tutur Vicenzo tiba-tiba.
Para selir menaruh rasa penasaran kepada Krystal, mereka penasaran dengan apa yang tadi dibisikkannya ke Vicenzo hingga membuatnya jinak. Krystal lekas memalingkan wajah dari seluruh pandangan ingin tahu itu.
“Ya sudah, sekarang aku akan berangkat dengan Shion. Kalian jaga istana baik-baik dan jangan lupa awasi Heros, takutnya nanti ada orang yang datang mencelakai dia,” pesan Krystal sembari menarik tangan Shion.
__ADS_1
Krystal dan Shion bergegas keluar dari kamar, Olin sejak tadi mengunyah semangka di pojok ruang kamar merasa terheran oleh para selir yang tidak pernah akur ini.
“Ternyata susah juga jadi orang cantik, lihatlah Yang Mulia sampai kewalahan menghadapi selir-selirnya,” gumam Olin.