Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Kemunculan Killian


__ADS_3

“Yang Mulia, apa Anda lelah?” tanya Shion. Mereka baru saja kembali dari alun-alun kota, saat ini keduanya berada di depan halaman Istana Primrose. Krystal sedikit lemas setelah seharian berada di luar, kemudian tanpa berlama-lama Shion menggendong Krystal.


“Aku cukup lelah, terima kasih sudah peka.” Krystal mengecup singkat pipi Shion, senyum Shion membuat jantung Krystal berdebar-debar.


‘Memang pria tampan adalah yang terbaik,’ batin Krystal.


Ketika tiba di lorong istana, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Vicenzo, muka Vicenzo tampak masam menyaksikan Krystal digendong oleh Shion. Vicenzo murka dan merebut Krystal dari gendongan Shion, dia sudah menunggu Krystal sedari matahari mulai terbenam sampai bulan sabit kini menampakkan diri.


“Ck! Kenapa kau merebut Yang Mulia dariku?” Shion berdecak kesal.


“Kau pergilah jauh-jauh, malam ini giliranku bersama Krystal,” ketus Vicenzo mengusir Shion.


“Sudah Shion, aku ke kamar bersama Vicenzo saja. Kau pergilah membersihkan diri dan istirahat, kau pasti lelah seharian bersamaku di luar,” ucap Krystal.


Shion mengukir senyum kembali di bibirnya, sebelum pergi dia meraih tangan Krystal lalu mengecup punggung tangan Krystal.


“Selamat malam, Yang Mulia. Semoga malam ini Anda bermimpi indah dan memimpikan saya,” kata Shion sembari mengedipkan mata kanan.


Vicenzo menatap sinis Shion, dia lekas membawa Krystal menjauh dari Shion. Dari sekian banyak selir, Vicenzo menaruh kebencian cukup besar terhadap Shion. Selain menyebalkan, terkadang Shion terlalu mendominasi Krystal sehingga membuat Vicenzo atau pun selir lain merasa kesal.


“Vicenzo, kau memakai parfum yang berbeda dari biasanya,” ujar Krystal mengendus-endus aroma parfum yang manis dari tubuh Vicenzo.


“Tentu saja, aku mempersiapkan yang terbaik untuk malam ini, aku juga sudah mandi.”


Vicenzo rupanya telah menantikan malam ini, dia mempersiapkan segala sesuatu lebih awal. Krystal mengalungkan kedua tangannya di leher Vicenzo, tak lupa dia memberi kecupan di pipi Vicenzo sambil tersenyum nakal.


“Jadi, kau bersiap-siap lebih awal ya. Baiklah, selepas mandi aku akan memberi pelayanan khusus untukmu.” Rayuan Krystal benar-benar membuat jantung Vicenzo nyaris berhenti detik itu juga. Wajah Vicenzo merona seketika akibat godaan maut Krystal, berkali-kali ia menelan ludah memikirkan indahnya tubuh Krystal.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Krystal menyuruh Vicenzo untuk menunggu sebab dia ingin mandi terlebih dahulu. Vicenzo menunggu dengan sabar, sejak tadi jantungnya tidak berhenti berdegup kencang, berkali-kali Vicenzo mondar-mandir di ruang kamar seraya menenangkan perasaannya yang tak karuan.


‘Pokoknya aku harus tenang, jangan sampai aku membuat masalah nanti. Aku tidak mau kalah dari selir-selir yang lain.’


Tidak lama seusai itu, Krystal akhirnya keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang minim. Lekuk tubuh Krystal terlihat jelas dari balik handuk tersebut, terlebih lagi Krystal mempunyai tulang selangka nan indah. Vicenzo tidak berkedip begitu melihat langsung penampilan Krystal yang tidak biasa.


“Vicenzo, ak—”


Vicenzo kehilangan kendali, dia menarik tubuh Krystal lalu menghempaskannya ke atas kasur. Vicenzo menindih tubuh Krystal dan mengunci pergerakan tangan Krystal, ciuman penuh hasrat pun dilayangkan oleh Vicenzo ke bibir Krystal yang masih basah.


“Krystal, aku tidak bisa lagi menahannya.” Suara napas Vicenzo menderu-deru, Krystal dapat dengan jelas mendengarnya.


“Baiklah, lakukan saja. Aku akan membuatmu puas malam ini.”


Keduanya berakhir tenggelam di dalam permainan menggairahkan, malam indah bagi mereka berdua sekaligus malam pelepas stres bagi Krystal. Keduanya sama-sama bermain nikmat di hamparan tempat tidur yang empuk.


Sekitar pukul 3 dini hari, Krystal terbangun karena merasa gelisah, hatinya tidak nyaman sebab rasa gelisah itu kian menggerogoti perasaannya. Krystal menoleh ke samping, Vicenzo masih tertidur pulas selepas bermain beberapa jam. Kemudian Krystal pun memutuskan untuk keluar dari kamar sejenak melepas rasa sesak di dada.


Perasaan Krystal kian memburuk, seolah dia akan bertemu dengan seseorang yang membahayakan hidupnya. Krystal terus berjalan tanpa tahu arah tujuan, sesekali dia melirik ke luar jendela untuk mewaspadai bahaya yang akan mendatanginya. Di tengah lorong nan kosong, Krystal tanpa sengaja bertemu dengan Leonard. Aura Leonard terasa berbeda dari biasanya, bahkan cara dia menatap Krystal juga tidak terlihat seperti dia.


“Leonard, apa yang kau lakukan di istanaku? Cepat kau keluar dari sini sebelum aku usir dengan paksa!” usir Krystal geram.


“Halo sayangku, Krystalia.”


Krystal tersentak mendengar suara Leonard, itu bukan suaranya melainkan suara orang lain. Tubuh Krystal bergetar sesaat melihat senyum Leonard yang tajam dan mencurigakan. Krystal beringsut mundur ke belakang, dia tahu pria di hadapannya kini bukanlah Leonard.


“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Krystal dengan nada suara gemetar.

__ADS_1


“Tentu saja untuk melihatmu. Apa kau tidak merindukanku sayang?”


“Merindukanmu? Tidak mungkin aku merindukan pria sepertimu, Killian!” bentak Krystal.


Killian adalah nama dari Kaisar Langit – satu-satunya pria yang paling dihindari sekaligus dibenci oleh Krystal. Namun, pada saat ini justru Krystal bertemu dengannya yang meminjam tubuh Leonard demi bertemu Krystal. Ketakutan tanpa batas mencekik Krystal, ia sadar bahwa dengan kekuatannya sekarang dia tidak akan mampu melawan Killian.


“Killian? Mengapa kau tidak memanggilku dengan sebutan Yang Mulia lagi? Aku rindu mendengarmu mengejar-ngejarku sambil memanggilku menggunakan suara lembutmu itu.”


Killian tersenyum menyeramkan, Krystal terus melangkah mundur untuk menjauh dari Killian. Pada saat Krystal menetapkan diri untuk kabur dari hadapan Killian, nyatanya Killian sudah lebih dulu menahan dan mencekal pergelangan tangan Krystal. Dengan kasar Killian menarik tubuh Krystal ke dalam pelukannya, dia merengkuh pinggang mungil Krystal.


“Hey, apa kau baru saja tidur dengan pria lain?” Ekspresi Killian berubah dingin seketika mencium aroma parfum Vicenzo dari tubuh Krystal, ditambah dengan tanda merah yang ditinggalkan Vicenzo dari leher Krystal.


“Aku memang baru selesai tidur dengan selirku, kenapa haa? Kau tidak punya hak untuk marah karena hal itu,” jawab Krystal tegas.


Killian mendorong tubuh Krystal hingga membuatnya tersungkur ke atas ubin nan dingin. Killian mengeluarkan aura membunuh yang kuat, dia tidak lagi menunjukkan senyum seperti tadi, dan hanya ada rasa marah serta cemburu luar biasa.


“Kau kurang ajar sekali, bukankah aku pernah mengatakan padamu? Aku tidak suka kau disentuh oleh pria selain diriku. Kau itu milikku! KAU MILIKKU, KRISTALIA!”


Killian berjongkok di depan Krystal yang masih terduduk, dia mengapit kuat pipi Krystal dengan tangan kekar milik Leonard. Tatapan mata Killian berapi-api, tapi Krystal menguatkan dirinya untuk membalas tatapan Killian.


“Aku bukan milikmu, kau sudah mengkhianatiku dan menyakiti batin maupun fisikku. Apa kau pikir aku akan diam saja saat diriku disakiti? Lalu kau seenaknya mengatakan aku adalah milikmu selepas kau membuangku? Killian, kau terlalu arogan. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjadi milikmu.”


“Dasar kau wanita jal*ng! Padahal dulu kau yang selalu menempel padaku. Aku sudah memintamu menjadi selirku, tapi kau malah menol—”


“Selir? Cih untuk wanita cantik dan kuat sepertiku posisi selir itu sangat rendah! Kau mau aku berada di bawah wanita perebut itu? Tidak sudi aku!” Krystal berbalik memberontak dan melawan Killian.


“Wanita perebut kau bilang? DIA ITU PERMAISURIKU! BERANINYA KAU MENYEBUTNYA SEBAGAI PEREBUT!” murka Killian meninggikan suaranya.

__ADS_1


“YA, LALU KENAPA KAU DATANG KEMARI DAN MENGEMIS-NGEMIS PADAKU UNTUK MENJADI SELIRMU? Bukankah sudah ada Permaisurimu tercinta? Wanita tidak tahu diri itu tidak pantas bersaing denganku.”


Plaakkk


__ADS_2