Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Ingatan 4000 Tahun Lalu


__ADS_3

Mereka dibawa masuk oleh Krystal ke dalam kerajaan setelah menemukan mereka di daerah kehancuran masing-masing klan. Kebahagiaan berlangsung cukup lama hingga anak-anak itu tumbuh dewasa dengan kasih sayang yang melimpah dari Krystal. Perasaan yang awalnya hanya sebatas sayang sebagai keluarga, perlahan perasaan cinta tumbuh di antara mereka. Lima anak yang dirawat oleh Krystal mencintai dan memandang Krystal bukan sebagai Kakak perempuan, tapi memandangnya sebagai wanita lain sehingga rasa cinta itu terus tumbuh dan tumbuh.


“Yang Mulia Ratu, kami mencintai Anda.”


Mereka mengungkapkan perasaannya begitu saja kepada Krystal, tapi Krystal tidak peka bahwa yang mereka maksud bukan sekedar cinta biasa. Tanggapannya selalu saja sama, dia tersenyum seraya mengusap kepala kelima pria itu. Namun, tidak berhenti sampai di situ saja, mereka selalu mencoba meyakinkan Krystal tentang perasaan mereka.


“Jadi, maksud kalian, kalian mau aku pandang sebagai lelaki pada umumnya? Kalian mau aku memasukkan kalian ke dalam haremku?” tanya Krystal.


Mereka mengangguk serentak, Krystal menghela napas panjang, anak-anak yang dia besarkan sepenuh hati malah jatuh cinta akan pesonanya. Krystal tidak langsung menjawab, dia berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban.


“Tapi, kalian sudah aku anggap sebagai Adik sendiri,” tutur Krystal.


Ekspresi sendu seketika tergurat di wajah mereka, Krystal menolak mereka secara tidak langsung karena perasaan Krystal tidak lebih dari keluarga. Mereka setiap hari mencoba berbagai cara untuk meluluhkan hati Krystal, mulai dari memberi wanita itu kalimat rayuan, memperlakukannya sebagai seorang kekasih, dan masih banyak hal lainnya. Tetapi, Krystal masih tidak luluh sama sekali, seolah ada tembok besar yang menghalangi mereka masuk lebih dalam.


Hingga suatu ketika saat lima pria itu beranjak usia 21 tahun, mereka masih belum berhenti mendapatkan hati Krystal. Namun, perubahan mulai terjadi di sini, entah mengapa Krystal jauh berbeda dari biasanya. Tanggapannya kepada mereka terlihat menyiratkan sebuah perasaan yang terbalaskan. Kemudian Krystal pun mengangkat mereka menjadi anggota istana haremnya dengan perlakuan yang setara.


“Cepat selamatkan diri kalian! Kerajaan telah diserang! Kerajaan telah diserang!”


Seruan itu terdengar nyaring di telinga, hari itu telah terjadi penyerangan besar-besar terhadap Kerajaan Ezoria. Seluruh rakyat berhamburan menyelamatkan diri dari kejaran musuh tak dikenal, para ksatria kekaisaran membantu mengamankan rakyat dan membantu evakuasi. Satu persatu ledakan dahsyat menghancurkan bagian istana, api yang besar mulai melahap kerajaan. Dari atas langit ada tujuh dewa agung bersama dewa lainnya tengah mengerahkan serangan untuk menghancurkan Ezoria.


Akan tetapi, di sisi lain kerajaan ada sebuah kejadian yang melibatkan Krystal, Austin, Lucio, Julian, Ash, dan Shion. Sebilah pedang tergenggam erat di tangan kanan Krystal, ekspresi tajam di wajah Krystal terlukis begitu jelas. Kelima selir Krystal terus berjalan mundur menjauhi Krystal, mereka terlihat ketakutan menatap mata Krystal penuh dengan sinar membunuh.

__ADS_1


“Kalian harus mati!” ujar Krystal kepada kelima selirnya.


Krystal seperti kehilangan sebuah cahaya di matanya, hanya ada keputusasaan yang tersisa di sana. Kelima selirnya tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri Krystal, tapi mereka merasa bahwa Krystal tidak main-main dengan ancaman pembunuhannya. Terlebih lagi sorot mata Krystal begitu tajam dan sayu, jika seseorang pada keadaan seperti ini maka dapat dipastikan bahwa dia melakukan apa saja yang diinginkan hati


“Yang Mulia, tolong tenangkan diri Anda, apa Anda benar-benar akan membunuh kami?”


Masing-masing dari mereka ketakutan melihat Krystal tiba-tiba memiliki niat membunuh yang sangat kuat. Mereka tidak bisa melawan Krystal, mereka tahu seberapa besar kekuatan Krystal sehingga membuat mereka paham bahwa tidak ada gunanya melawan Krystal.


“Saya mohon, Yang Mulia … sadarlah! Kami ini selir Anda, singkirkan pandangan membunuh Anda kepada kami!”


Krystal tidak menggubris perkataan dari selir-selirnya, dia masih menempatkan pandangan membunuh itu ke arah mereka. Krystal mulai menggerakkan pedangnya, dia sudah memantapkan hati untuk membunuh mereka semua.


“Seharusnya sejak awal kalian tidak hadir di hidupnya, seharusnya sejak awal aku tidak pernah mencintai kalian. Seandainya saja kala itu aku membiarkan kalian di luar, mungkin aku tidak perlu repot-repot melakukan ini,” ucap Krystal.


“Saya mohon … saya mohon katakan kalau itu tidak benar, apa Anda sungguh menyesal setelah bertemu kami? Saya mohon, Yang Mulia ….”


Walau sudah memohon seraya menangis, Krystal tampak tidak mempedulikan mereka lagi. Kemudian Krystal mengayunkan pedangnya lalu bergerak menebas seluruh selirnya, mereka berlima sempat lari, tapi tetap tertangkap oleh Krystal.


“Pergilah ke masa depan, meski nanti kita bertemu lagi, tolong jangan cintai aku dan tolong jangan ingat aku sebagai cinta kalian di masa lalu. Maafkan aku, tolong maafkan aku …,” lirih Krystal dengan bibir bergetar.


Dia menghunuskan pedangnya kepada masing-masing selir, mereka mati setelah terkena satu hujaman di jantung mereka.

__ADS_1


“Kenapa? Kenapa Anda melakukan ini? Padahal saya begitu mencintai Anda. Kenapa, Yang Mulia?”


Tidak ada jawaban dari Krystal selain tatapan dingin yang diarahkan ke tubuh para selir yang perlahan kehilangan nyawa. Krystal berbalik badan dan pergi meninggalkan begitu saja tubuh selir yang tidak lagi memiliki jiwa.


Serentak selepas mimpi berakhir, kelima selir terbangun dari tidur mereka, mimpi barusan bukanlah sekedar mimpi biasa melainkan sebuah ingatan dari kehidupan lalu. Mereka keluar dari kamar masing-masing dengan pikiran masih di atas awang-awang.


“Kalian sudah bangun?” tanya Vicenzo keluar dari kamar Krystal bersama Heros.


Kelima selir tengah berkumpul di depan pintu kamar Krystal, mereka ingin menemui Krystal dan menanyakan maksud dari ingatan tersebut.


“Apa sakit kepala kalian sudah membaik?” Heros ikut bertanya, tapi tidak ada dari pertanyaan keduanya yang dijawab oleh mereka.


Vicenzo dan Heros saling bertukar pandang, ada yang tidak beres dari tingkah kelima selir itu. Mereka tampak diberatkan oleh suatu masalah besar yang sulit mereka tangani sendiri, dan juga mereka masih dibingungkan dengan kejadian masa lalu.


“Apa Tuan Putri sudah bangun?” tanya Shion.


“Belum, tapi kondisinya jauh membaik. Ada apa dengan kalian? Apa ada sesuatu yang aneh terjadi?” Vicenzo berbalik bertanya sebab dia sedikit cemas melihat guratan kegusaran di garis wajah mereka.


“Tuan Putri … benarkah Tuan Putri membunuh kami 4000 tahun lalu? Apakah kalian berdua tahu tentang semua ini?” Austin bertanya to the point kepada mereka berdua.


Vicenzo dan Heros melayangkan tatapan bingung, mereka tidak paham apa yang sedang ditanyakan oleh Austin. Mereka sama-sama menghela napas, rasanya ada sesuatu yang tidak beres setelah mereka sakit kepala.

__ADS_1


“Hah? Mana mungkin kalian bertemu Krystal 4000 tahun lalu. Apa jangan-jangan kalian sedang bermimpi? Sungguh, jangan buat aku tertawa.”


__ADS_2