Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Air Mata Pertama


__ADS_3

Mereka berlima langsung memutar badan setelah mendapat jawaban dari Vicenzo, mereka tidak yakin Vicenzo maupun Heros mengetahui tentang masalah tersebut. Mereka rasa percuma melayangkan pertanyaan itu, semuanya terlihat percuma saja.


“Sebenarnya ada apa dengan kalian? Apa kalian masih belum terbangun dari mimpi? Lagi pula apa maksudnya Krystal membunuh kalian di masa lalu? Mustahil Krystal melakukannya!” ujar Heros.


“Apa kalian benar-benar tidak mengetahui apa pun? Jelas-jelas kalian ada di sana waktu itu! Kalian ada di Kerajaan Ezoria. Sekarang kalian berusaha untuk menutupi apa yang dilakukan oleh Tuan Putri? Katakan kepada kami sejujurnya! Kenapa Tuan Putri membunuh kami? Apa salah kami sebenarnya?!” murka Shion mencengkram kerah baju Heros.


Heros berpikir bahwa mereka sedang menggila sekarang, dia menatap dingin Shion lalu memaksa tangan Shion untuk melepaskan cengkramannya. Sejujurnya, Heros benci harus mengulangi ingatan 4000 tahun lalu, tapi yang pasti dia tidak menemukan lima selir lainnya di ingatan masa lalunya. Begitu pula dengan Vicenzo, tidak ada ingatan tentang mereka berlima selama ini, dia sudah menemani Krystal selama beribu-ribu tahun, jadi tidak mungkin dia melewatkan ingatan tersebut begitu saja.


“Kau sedang bercanda? Berapa kali pun aku mencoba menggali ingatanku, aku tidak mendapati kalian di dalamnya! Jangan membuatku marah dan beranggapan seolah-olah Krystal yang menciptakan penderitaan untuk kalian! Aku takkan memaafkan siapa pun yang berani membuat Krystal terlihat buruk!”


Amarah Heros meledak-ledak, dia mencengkram balik kerah baju Shion, mereka berdua saling beradu api emosi. Meskipun Heros telah menjelaskan dengan suara lantang, Shion masih tidak percaya. Traumanya yang dikhianati oleh keluarga angkatnya masih membekas dan kini pikiran Shion berkecamuk akibat ingatan itu.


“Aku mendengarnya!” seru Julian, mereka semua memusatkan fokus kepada Julian, “Tuan Putri mengatakan bahwa beliau mengirim kami ke masa depan dan beliau meminta agar kami melupakan segala ingatan tentang beliau. Jadi, secara tidak langsung Tuan Putri bertanggung jawab atas penderitaan yang kami terima selama ini?”


“Julian, kau juga ikut menggila? Apa yang kau katakan? Krystal bertanggung jawab atas penderitaan yang kalian terima? JANGAN MEMBUATKU MARAH, SIALAN!”


Teriakan Vicenzo bergaung di lorong istana, hari ini mereka terlibat perselisihan yang luar biasa. Mereka saling menuturkan kalimat mengandung emosi, situasinya kian memanas dan tidak ada orang yang menengahi pertengkaran mereka.


“Kalau begitu keluarlah kalian dari istana ini! Tidak ada gunanya menempatkan selir yang kehilangan kepercayaan terhadap Krystal! Gadis itu sudah menderita bertahun-tahun, dia menahan lukanya sendirian, jangan menambah asam di luka yang masih terbuka. Aku dan Vicenzo sangat mengenal Krystal, dia takkan melakukan itu tanpa alasan. Mengapa kalian tidak menanyakannya langsung daripada bergelut dengan pemikiran sendiri?” kata Heros.

__ADS_1


“Jangan termakan asumsi sendiri, jika itu 4000 tahun lalu maka waktu itu adalah penyerangan besar-besaran dari Kekaisaran Langit. Apabila Krystal membunuh dan mengirim kalian ke masa depan, maka itu sudah pasti demi menyelamatkan kalian. Urusan penderitaan atau kebahagiaan itu bukanlah tanggung jawab Krystal, dia bukan dewi yang bisa mengatur takdir orang seenaknya,” imbuh Vicenzo.


Mereka berlima terdiam, akibat ingatan yang tiba-tiba muncul itu membuat mereka berlima tidak bisa berpikir jernih. Mereka seenaknya menuding Krystal bertanggung jawab atas hidup mereka, tapi sebenarnya takdir itu bukanlah


kehendak Krystal melainkan kehendak jiwa masing-masing. Vicenzo dan Heros tidak habis pikir mereka bisa berpikir seperti itu, namun di sisi lain mereka berdua juga paham mengapa kelima selir bisa berpikir demikian.


“Apa yang Anda semua lakukan di depan kamar Yang Mulia Krystal?” tanya Bleas muncul dari balik pintu.


“Saya dengar tadi ada perselisihan di sini, apakah Anda semuanya sedang memperdebatkan sesuatu? Ya, saya tahu apa yang sedang diributkan. Sekarang Yang Mulia ingin bertemu dengan Anda sekalian, beliau baru bangun dari pemulihan ingatan. Tolong temui beliau dan luruskan masalah ini segera sebelum menjadi lebih rumit,” tutur Cherry.


Mendengar Krystal yang baru tersadar, mereka bergegas masuk menemui Krystal yang masih terduduk lemas di atas tempat tidur. Sekilas melintas ekspresi muram dari Krystal, dirinya kacau setelah terbangun dari ketidaksadaran.


“Aku baik-baik saja, aku baru mendapat ingatanku kembali. Aku juga mendengar perselisihan kalian di depan pintu kamar, kalian menyalahkanku atas apa yang terjadi di hidup kalian. Aku tidak marah dan aku takkan menyangkalnya karena aku memang membunuh kalian berlima.”


Mereka terkejut, termasuk Heros dan Vicenzo, pasalnya di ingatan mereka berdua tidak ditemukan adanya keberadaan lima selir yang lain.


“Apa kau serius? Tapi, kenapa kami berdua tidak ingat apa pun tentang masalah itu?” tanya Vicenzo.


“Aku menghapus ingatan kalian berdua tentang mereka berlima, aku juga mengunci ingatanku. Tidak hanya ingatan tentang kalian berlima, tapi ingatan tentang orang tuaku pun turut aku kunci. Aku tidak tahan menahan rasa derita, jadi aku mengunci ingatanku agar tidak menimbulkan masalah baru bagiku,” jawab Krystal.

__ADS_1


“Tapi, kenapa? Kenapa Anda membunuh kami, Yang Mulia?” tanya Lucio.


“Tolong katakan sejujurnya apa alasan Anda membunuh kami,” sambung Ash.


Kedua tangan Krystal meremas selimut, bibirnya perlahan bergetar, bulir-bulir air mata seketika menetes deras dari sepasang mata indah miliknya.


“Maafkan aku … aku hanya ingin melindungi kalian, aku tidak ingin kalian dibunuh oleh dewa-dewa itu. Aku mengirim jiwa kalian ke masa depan karena aku ingin melindungi kalian, maafkan aku telah membuat kalian menderita. Aku tidak punya pilihan lain selain membuat kalian terlahir kembali di masa depan. Aku sungguh minta maaf ….”


Seisi ruang tercengang, baru kali ini mereka melihat Krystal menangis terisak, setelah sekian ribuan tahun akhirnya Krystal mengeluarkan air mata yang selama ini dia tahan. Hati mereka sakit begitu Krystal menangis meminta maaf, dia merasa bersalah atas penderitaan yang ditanggung oleh para selir.


“Yang Mulia, kami juga minta maaf karena sudah berprasangka buruk kepada Anda, tolong hentikan air mata Anda,” ujar Shion.


“Aku yang harus meminta maaf … tolong maafkan aku, aku yang membawa kalian sampai sejauh ini. Aku yang salah, aku salah besar telah membiarkan takdir buruk mencabik-cabik diri kalian. Maafkan aku … maafkan aku … tolong maafkan aku ….”


Tidak terhitung seberapa banyak kata maaf yang keluar dari mulut Krystal, semakin ia mengucap maaf maka semakin ia terisak dalam tangis. Kemudian Krystal memukul-mukul dadanya, hatinya sakit, luka yang dia lupakan kembali terbuka lebar.


“Cukup! Anda tidak perlu meminta maaf lagi, Yang Mulia.” Lucio segera memberi pelukan kepada Krystal.


“Ini salahku … seandainya sejak awal aku tahu ini akan terjadi, aku takkan membawa kalian ke dunia ini. Maafkan aku, maafkan aku … aku sangat membenci diriku … kenapa hanya aku saja yang diberi penderitaan sebesar ini? Aku takut … aku takut membuat kalian menderita lagi. Maafkan aku ….”

__ADS_1


__ADS_2