Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Kejengkelan Krystal Kepada Leonard


__ADS_3

“Hentikan! Kalau terus seperti ini, kau akan membunuhnya.”


Tangan kekar seorang pria datang menghentikan Krystal, suaranya terdengar familiar lalu Krystal menoleh ke arah suara tersebut datang. Tampak jelas seorang pria berambut blonde mengenakan seragam guru akademi. Krystal tersenyum tajam dan penuh dendam, yang menghentikan tindakannya saat ini ialah Leonard, pria yang dengan tega menipu serta membunuh Krystal bersama anaknya.


“Lepas! Jauhkan tanganmu dariku!” bentak Krystal.


Tangan Leonard yang awalnya menyentuh bahu Krystal langsung ia turunkan, dia merasakan sekilas aura kebencian teramat dalam dari Krystal. Baru kali ini Leonard diperlakukan kasar oleh seorang wanita, biasanya wanita lain selalu bersikap manis hanya untuk mendapat perhatian darinya, sebab Leonard merupakan salah satu pria tampan berbakat di Albertine. Selain itu, Leonard terlahir dari keluarga bangsawan yang terpandang, Ayahnya adalah Marquess Sulivan, bangsawan yang senantiasa berada di sisi Kaisar.


Krystal mengeluarkan kepala Joanna dari kolam, kemudia ia hempaskan ke atas tanah. Emosinya menjadi-jadi setelah Leonard muncul secara tiba-tiba di dekatnya. Sedari awal dia sudah mempersiapkan diri kalau dia pasti akan bertemu Leonard, karena Leonard merupakan guru berpedang di Akademi Parthevia. Walau umurnya masih terbilang muda yakni 19 tahun, tapi kemampuan berpedangnya terkenal di kalangan khalayak ramai.


“Uhukk uhukk.” Joanna batuk, tubuhnya bergetar hebat. Bayang-bayang neraka mulai menghantui isi kepalanya, dia tidak sanggup menyingkirkan bayangan tersebut. Semakin Joanna mencoba menampik bayangan itu, maka bayangannya akan bertambah besar di kepalanya. Joanna menampakkan keanehan, dia berteriak sambil bersujud dan memegangi kepala.


“AAARRGHHHH TIDAKK! AKU TIDAK MAU MASUK NERAKA! AKU TIDAK MAU!”


Joanna menggila, ia dipegangi oleh beberapa orang siswi dan ditahan untuk tidak mengamuk lebih jauh lagi. Krystal puas sesaat menonton Joanna yang perlahan berubah gila, tatapan sinis diarahkan kepada Krystal, namun itu bukan masalah sama sekali. Bagi dia, menderitanya Joanna sudah lebih dari cukup sebagai pembalasan dari penderitaan Krystal di masa lalu.


“Sebentar lagi dia akan berubah semakin gila, oke sampai jumpa nanti. Aku pergi dulu,” ujar Krystal melambaikan tangan ke kerumunan orang.

__ADS_1


“Tunggu! Kau tidak bisa pergi begitu saja sebelum mempertanggung jawabkan atas apa yang telah kau lakukan kepada Joanna.” Leonard mencegah Krystal untuk pergi, Krystal memberi pandangan dingin dan tajam pada Leonard, dia sungguh membenci pria ini.


“Tanggung jawab? Apa yang mesti aku pertanggung jawabkan? Aku tidak salah, dia duluan yang menyiramku. Dia juga bilang kalau dia akan memperlihatkan neraka padaku, aku hanya membantunya saja untuk melihat bagaimana neraka itu sebenarnya,” jawab Krystal ketus.


“Kau nyaris membunuhnya, apa kau masih bersikeras mengatakan kalau kau tidak bersalah? Banyak saksi mata yang menyaksikan apa yang sudah kau lakukan kepada Joanna, kau tidak dapat mengelak lagi. Akui kesalahanmu dan bertanggung jawablah.” Leonard bersikeras mengungkapkan bahwa semua ini adalah Krystal yang nyaris membunuh Joanna.


“Kau sedang melawak atau bagaimana? Kau menyuruhku mengakui kesalahanku lalu bertanggung jawab dengan gadis jal*ng ini? Kau stress ya? Jangan mentang-mentang kau guru di sini lalu seenaknya saja menyuruhku bertanggung jawab. Kalu begitu, coba kau suruh mereka bertanggung jawab dengan kesalahan yang telah mereka perbuat padaku. Suruh mereka bersujud meminta maaf di kakiku sekarang!”


“Krystal, mereka tidak berbuat salah padamu. Jangan bertindak kekanak-kanakkan—”


Amarah Krystal menggebu-gebu, tidak ada yang berani angkat bicara, sebab apa yang dituturkan Krystal semuanya memanglah benar. Mereka membiarkan perundungan itu terjadi tanpa ada secuil kepedulian dari orang-orang di sini. Krystal merasa kalau dia wajar bersikap seperti sekarang, dia tidak salah, yang salah ialah mereka yang merundungnya dan menutup mata saat perundungan itu terjadi.


“Kau kan memang pantas dirundung! Kau hanyalah aib kekaisaran, tidak pantas kau berada di sekitar kami. Terlahir dari rahim seorang pelac*r, betapa memalukannya itu,” cuit seorang pria.


Pada saat yang bersamaan, lidah pria tersebut terputus, rasa sakit tak tertahankan dari lidahnya perlahan menjalar ke sekujur badan. Ekspresi seluruh orang di sana sangat terkejut, mereka bergidik ngeri melihat langsung bagaimana penyiksaan itu terjadi setelah dia berani menghina Krystal.


“Kalian sudah lihat kan? Kalau kalian berani menghinaku lagi, lidah kalian akan bernasib sama dengannya. Sebenarnya tidak masalah kalau kalian kehilangan lidah atau anggota tubuh yang lain karena Tuan Putri Emilia kesayangan kalian itu pasti akan membantu kalian menyembuhkan diri. Aku akan pergi, urus saja masalah kalian sendiri dan jangan mengusikku lagi, dasar pecundang!” Krystal berlalu pergi dari sana sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah kerumunan orang.

__ADS_1


Berita tentang Krystal menyiksa Joanna dan memutuskan lidah seorang siswa, segera tersebar luas di akademi. Joanna dipulangkan pada hari itu juga dikarenakan dia tidak berhenti berteriak takut, ia dijemput oleh utusan dari Ayahnya. Berkat masalah tersebut, kini tidak ada yang berani mengganggu Krystal, untuk saling beradu pandang saja mereka tidak berani, mereka pun menganggap Krystal titisan seorang iblis.


“Nah begini kan tenang, tidak ada seorang pun yang menggangguku. Damainya hidupku,” gumam Krystal.


Di sore harinya seusai ujian tulis terakhir, Krystal segera pulang ke asrama yang telah disiapkan untuknya. Seorang gadis yang menjadi teman sekamar Krystal, melarikan diri dan pindah ke kamar lain, sebab dia takut sekamar dengan Krystal. Akhirnya, Krystal sendirian di kamar menikmati luasnya kamar tanpa ada teman. Krystal pun membereskan dan merapikan barang-barang yang dia bawa dari istana, dia tidak membawa begitu banyak barang karena dia hanya di sini selama satu bulan saja. Selesai beres-beres, Krystal menghempaskan tubuhnya ke atas permukaan tempat tidur, dia berasa kembali ke masa sepinya.


“Aku bosan, aku akan jalan-jalan sebentar ke luar.”


Krystal beranjak pergi dari kamarnya, dia ingin jalan-jalan untuk menghilangkan rasa suntuk. Langit sudah gelap, lampu malam pun menyala terang di setiap sisi jalan, rasa bosan Krystal menghilang sesaat. Dia melangkah menuju taman akademi, Krystal duduk di bangku seraya mendongakkan kepalanya ke arah langit berbintang. Entah sudah berapa lama berlalu sejak terakhir kali ia menikmati waktu bersantai seperti sekarang.


Srakk srakk


Dari balik semak-semak terdengar suara seseorang, Krystal bergegas untuk memeriksa siapa gerangan yang berada di sana malam-malam seperti ini. Lalu di balik pohon, nampak seorang pria tengah menutup kedua telinga sambil menggigit bibirnya menahan sakit.


“Sakit! Aku tidak bisa menahannya, ini sangat sakit,” rintih pria itu menangis sakit.


“Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau baik-baik saja?”

__ADS_1


__ADS_2