Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Penyerangan


__ADS_3

Pernyataan Krystal sungguh bukan main-main, Julian tidak bertanya lebih lanjut lagi sebab dia paham mengapa Krystal ingin menghancurkan Albertine. Selama ini Julian mendengar cukup banyak tentang Krystal yang nyaris bernasib sama seperti dirinya. Mereka berdua sama-sama terlahir dengan darah Kaisar langsung, tapi keberadaannya sama-sama tidak berarti dan tidak dianggap sama sekali.


“Jadi, Anda membutuhkan kekuatan saya untuk mendorong Anda menghancurkan kekaisaran ini?”


Krystal menarik sudut bibirnya, dia mengangguk pelan menatap Julian.


“Ya, kurang lebih seperti itu.”


“Baiklah, saya akan membantu Anda, saya akan melakukan apa saja untuk membantu Anda mencapai kehancuran Albertine,” ucap Julian terlihat begitu meyakinkan.


“Terima kasih, Julian,” balas Krystal seraya tersenyum manis.


“Yang Mulia, bolehkah saya bertanya satu hal lagi?”


Krystal menganggukkan kepalanya, mimik muka Julian berubah menjadi sangat serius, entah hal apa yang ingin dia tanyakan kepada Krystal.


“Kenapa detak jantung Anda terdengar berbeda dari orang biasa? Maaf, saya tidak bermaksud lancang. Hanya saja, detak jantung Anda terdengar samar-samar, terkadang detakannya sama dengan orang biasa, namun kerap kali saya mendengar detakannya menghilang seolah ada jiwa lain di tubuh Anda.”


Deg!


Krystal terperanjat kaget, bola matanya melebar di saat itu juga, pendengaran Julian sungguh di luar dugaannya. Krystal mengubah segera ekspresi terkejutnya dan berusaha bersikap natural seperti biasa.


“Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengkhawatirkannya, kadang jantungku berdegup tidak normal dan sudah sering terjadi seperti ini,” kilah Krystal demi menutupi jati dirinya yang sebenarnya.


“Ternyata begitu, saya pikir Anda sakit,” kata Julian.


“Haha tidak, aku tidak sakit sama sekali.”

__ADS_1


Lalu Krystal mengajak Julian untuk keluar dari ruangan itu, mereka beranjak pergi ke kelas masing-masing karena ujian berikutnya akan dimulai.


‘Nyaris saja ketahuan, yang berdetak itu merupakan jantung Krystal, sedangkan jantungku tidak berdetak sama sekali karena aku sendiri nyatanya tidak memiliki jantung. Aku sangat berbeda dari dewa yang lain, satu-satunya yang paling berbeda.’


...***...


“Hei, ke mana kau akan lari? Tidak ada tempat untukmu kabur,” ujar Austin.


“Beraninya kau bersikap kurang ajar kepada Yang Mulia, aku pastikan malam ini kau bertemu neraka,” ucap Lucio.


Saat ini mereka berdua sedang memburu Arno di sebuah gang sempit nan sepi di tengah kota, mereka berniat untuk memberi pelajaran kepada Arno yang telah bersikap tidak senonoh terhadap Krystal. Arno gemetar ketakutan, sekujur badannya lemas tak berdaya ketika dikejar oleh Austin dan Lucio. Sebelumnya, Arno sudah berlari ke mana-mana, tapi tetap saja mereka berdua bisa mengejarnya. Kini Arno terpojok, ia beringsut di atas permukaan tanah sembari memohon ampun biar tidak dibunuh oleh mereka.


“M-maaf, t-tolong ampuni nyawaku. Aku sungguh tidak bermaksud menghina gadis i—”


Klangg


“Kau bilang apa? Gadis itu? Apa kau berharap aku akan mengampunimu sedangkan kau masih menyebut Yang Mulia dengan tidak sopan? Padahal posisinya jauh lebih tinggi daripada kau, tapi kenapa kau memanggilnya dengan cara yang tidak sopan?” Austin geram, kedua manik hazel miliknya melotot tajam ke arah Arno.


“T-tidak! Maksudku, Yang Mulia Putri Krystal. Aku sungguh tidak bermaksud bersikap tidak sopan, aku berjanji jika kalian melepaskanku nanti aku akan memberikan kalian uang, atau kalian ingin wanita? Aku akan memberikannya asal kalian mau mengampuni nyawaku. Aku punya banyak kenalan gadis cantik, aku yakin mereka akan lebih memuaskan kalian dibanding Yang Mulia Putri Krystal, aku juga akan mem—”


“SIALAN! DASAR KAU BRENGS*K!”


Bugh!


Lucio kelepasan, dia memukul Arno hingga menghempaskan tubuhnya ke tembok yang berada cukup jauh di depan. Emosi Lucio berkobar bagaikan api, napasnya naik turun, serta tatapan matanya tampak tidak seperti biasanya. Kedua netra hijau emerald miliknya seakan menerkam Arno kala itu, Austin sendiri kaget menyaksikan amarah Lucio terlampau menggebu-gebu.


“Dengarkan! Aku katakan kepada kau! Tidak ada wanita yang lebih cantik dari Yang Mulia Putri Krystal. Beliau adalah yang tercantik dari semua wanita yang aku temui, lalu apa kau pikir Yang Mulia tidak hebat di atas ranjang? Beliau jauh lebih hebat dari yang kau bayangkan sialan! Sekali lagi kau menghinanya, akan aku lenyapkan seluruh keluargamu dari muka bumi ini!” murka Lucio.

__ADS_1


Ketika itu, Arno sudah tidak sadarkan diri, kepalanya terbentur kuat hingga aliran darah yang keluar sangat deras. Lucio belum puas menghajarnya, dia ingin melayangkan sekali lagi pukulan kepada Arno, namun buru-buru ditahan oleh Austin.


“Berhentilah, pria itu sudah berada di ambang kematian, biarkan saja dia tersiksa oleh sakitnya. Jangan buang-buang tenagamu hanya untuk membereskan satu cec*nguk bodoh itu, tenangkan dirimu sebab kita akan pergi menemui Yang Mulia sebentar lagi,” cegat Austin.


Ekspresi murka Lucio langsung berganti dingin, wajahnya kembali datar seperti semula.


“Baiklah.” Dia pun berbalik untuk segera pergi dari tempat mereka berpijak kini.


‘Tampaknya Lucio akan berubah gila dan menjadi monster sungguhan apabila seseorang menyinggung atau menghina Yang Mulia. Apa pun yang menyangkut Yang Mulia, dia tidak akan mengampuninya. Malangnya nasibmu Arno, tadi aku ingin menebasmu tapi Lucio sudah melakukannya lebih dulu.’


...***...


Krystal merebahkan badannya ke atas tempat tidur, dia sangat lelah seharian ini melakukan berbagai jenis ujian. Berkali-kali ia mengeluh bosan dan letih di kala ujian dilakukan karena menurutnya, tidak ada tantangan tersendiri dari ujian akademi tersebut.


“Sepertinya aku akan lulus dengan nilai tertinggi, aku menyelesaikan semuanya dengan sempurna. Apabila mereka membuat nilaiku rendah, aku berjanji akan meratakan akademi ini. Sungguh membuatku kesal saja,” gerutu Krystal.


Di saat ia tengah asik bergumam, hawa kamarnya terasa berbeda, hawa dingin menusuk kuduknya. Krystal sontak bangkit dari posisi rebahan, dia mengamati setiap sudut kamarnya serta waspada akan bahaya yang akan menyapanya.


Praangg!


Kaca di jendela kamarnya pecah dan berguguran ke atas lantai, Krystal mengambil posisi untuk bersiap menghalau penyerangan. Empat pria berjubah putih menyusup masuk melalui jendela, mereka mengambil posisi dengan mengepung Krystal.


“Siapa kalian?! Beraninya kalian masuk ke kamarku!” ucap Krystal meninggikan nada suaranya.


Ketika itu, hari sudah hampir larut malam, ditambah lokasi kamarnya terpencil dari orang lain sehingga tidak akan ada satu pun orang yang mendengar keributan di kamar tersebut.


“Siapa pun kami itu bukan urusanmu! Tugas kami di sini hanyalah untuk membunuh dan mengeluarkan iblis yang bersemayam di tubuhmu,” ujar salah satu pria.

__ADS_1


“Iblis?” Krystal menyeringai, dia tahu kalau yang mengirim mereka adalah Isabelle, “Tidak ada iblis di tubuhku, hanya saja ada seorang dewi cantik bersarang di dalamnya. Nampaknya kalian telah salah memilih lawan, satu pun di antara kalian tidak akan aku biarkan lolos begitu saja!”


__ADS_2