
“Kenapa mereka bisa bersama?”
“Apa jangan-jangan gadis itu menjadikan Pangeran pembawa sial itu sebagai selirnya?”
“Aku tidak tahu, tapi bukankah mereka cocok? Pangeran pembawa sial dan Tuan Putri bodoh.”
“Hahaha ya aku juga merasa seperti itu, walau Pangeran Ketiga Midland itu wajahnya manis tapi tetap saja aku tidak akan sudi memiliki pasangan seperti dia.”
“Mungkin karena tidak ada yang mau dengan gadis bodoh itu makanya dia membuat Pangeran Midland menjadi selirnya.”
Krystal tengah melewati koridor sembari menggandeng tangan Julian, setiap orang yang dilewati pasti membisikkan hal-hal tidak mengenakkan tentang mereka. Krystal menahan diri untuk tidak meledak, tapi Julian memiliki reaksi yang berbeda kala itu. Julian tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia melepas gandengan tangan Krystal dari lengannya, mimik wajahnya tertekuk sebab terus mendengar hal negatif soal dirinya.
“Maaf, Yang Mulia, sebaiknya kita pura-pura tidak kenal saja saat berada di akademi karena hal buruk tentang diri saya berimbas kepada Anda. Gara-gara saya, Anda juga ikut menjadi bahan pembicaraan, saya tidak ingin nama Anda semakin buruk hanya karena saya menjadi selir Anda,” tutur Julian.
“Ya ampun, apa yang sedang kau bicarakan?” Krystal menekan kedua belah pipi Julian lalu memaksanya untuk menatap matanya, “Aku tidak menyalahkanmu, sungguh. Aku sudah terbiasa mendengar mereka berbicara buruk soalku. Hanya saja, aku ingin bertanya, apa kau baik-baik saja dengan mereka yang membicarakanmu?” tanya Krystal kemudian.
“Meskipun menyakitkan, tapi saya juga sudah terbiasa mendengar orang menghina saya karena pada dasarnya saya memang anak pembawa sial. Semenjak kelahiran saya, Kekaisaran Midland mengalami banyak kemunduran, mereka melabeli saya dengan sebutan Pangeran pembawa sial dan malapetaka. Ditambah dengan kemampuan yang tidak bisa saya kontrol dengan baik dan pendengaran saya yang sensitif, mereka semakin memandang aneh pada saya.”
Krystal merasa kasihan dengan Julian, anak itu banyak melalui hal-hal sulit selama ini, berbeda dengan Pangeran pada umumnya, Julian lebih dominan menerima kebencian dibanding kasih sayang. Krystal juga baru mengetahui tentang kehidupan Julian, dia diabaikan oleh Ibunya sendiri yang merupakan Permaisuri Kekaisaran Midland. Sang Ibu lebih menyayangi kedua kakaknya, dia benar-benar hidup sendirian di dalam kegelapan istana, sama seperti Krystal dulunya.
“Kemarilah! Aku akan membawamu berbicara ke tempat yang lebih sepi.” Krystal menarik tangan Julian menuju sebuah ruang tidak terpakai. Tidak lupa pula Krystal memasang sihir kedap suara supaya tidak ada orang yang mendengar mereka.
__ADS_1
“Yang Mulia, mengapa Anda membawa saya kemari?” bingung Julian.
Krystal membuang napas pelan lalu mengarahkan pandangannya pada Julian, tatapan Krystal kala itu sangat dalam.
“Julian, aku katakan padamu, kau bukan anak pembawa sial. Kau dibenci oleh mereka bukan karena kau layak dibenci, hanya saja mereka mencari alasan untuk menyalahkan seseorang dalam kemalangan yang menimpa mereka. Keberadaanmu di dunia ini bukan tanpa sebab, aku pun juga begitu. Aku juga memandang dirimu sebagai Julian dan bukan sebagai Pangeran, gelar atau posisi yang tinggi itu hanyalah bonus.”
“Aku tidak peduli orang berbicara apa soal dirimu, aku hanya menginginkanmu menjadi milikku. Apa aku salah mengatakannya? Bila kau butuh kehangatan, aku bisa memberikannya untukmu, atau kau butuh kasih sayang, aku juga bisa memberikannya untukmu. Aku hanya butuh dirimu dan soal elemen listrik yang sulit kau kontrol, aku bisa membantumu mengontrol elemen listrik itu lalu menjadikannya sebagai kekuatan terkuat di dalam dirimu.”
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, oke? Aku hanya butuh kamu seorang, tolong jangan rendahkan dirimu lagi.”
Suara Krystal terdengar lembut mendayun masuk ke relung hati Julian, dia tidak pernah bertemu seseorang yang mengatakan kalau dia membutuhkan dirinya. Selama ini, dia selalu dihindari oleh banyak orang, bahkan tidak ada gadis yang berani mendekat padanya. Namun, Krystal memecahkan segala bentuk keputusasaan di diri Julian. Penuturan Krystal sudah jelas penuh ketulusan, kedua netra violet itu juga tidak berbohong sama sekali.
“Apa Anda tidak akan menyesal menjadikan saya sebagai selir Anda? Saya mempunyai banyak kekurangan, saya tidak punya banyak uang, wajah saya tidak setampan saudara saya, lalu saya juga tidak terlalu kuat. Saya takut akan membuat Anda malu, makanya sa—”
“Maksud Anda, saya memiliki kemampuan?”
“Yeah, kau tahu tidak? Pengguna elemen sihir di dunia ini sangat langka, salah satunya elemen listrik. Serangan listrikmu dapat melumpuhkan lawan hanya dengan satu kali terjangan, kau dapat menyalurkan listrikmu ke dalam senjata, bisa mengubahnya menjadi petir, lalu yang terpenting adalah energi listrik yang kau hasilkan bisa bergerak secepat cahaya,” papar Krystal.
Julian tertegun seketika Krystal memberinya penjelasan lebih lanjut, tidak ada satu pun orang yang memberinya kejelasan perihal kekuatan elemen listrik di dalam tubuhnya. Pasalnya, pengguna elemen ini terakhir kali ada yaitu di 4000 tahun lalu, sudah sangat lama memang dan kini pengguna elemen ditemukan oleh Krystal satu persatu.
“Ternyata kekuatan ini bukan kutukan melainkan anugerah, saya sungguh mempunyai kemampuan yang tidak disangka-sangka,” gumam Julian.
__ADS_1
“Namun, inti kekuatanmu sedikit rusak, aku tidak tahu kenapa. Jadi, sebelum aku mengajarimu cara mengontrol kekuatanmu, aku akan memperbaiki lebih dulu inti kekuatanmu yang rusak,” ujar Krystal.
Kemudian Julian bertekuk lutut di hadapan Krystal, dia meraih tangan kanan Krystal lalu mengecup lembut punggung tangannya.
“Izinkan saya untuk menjadi salah satu selir Anda, Yang Mulia. Saya berjanji akan selalu berpihak kepada Anda, saya ingin menjadi salah satu tiang pelindung Anda, harap beri saya ruang mengisi satu kekosongan di hati Anda,” tutur Julian.
Julian mengatakan itu begitu saja, tiba-tiba dia menyadarinya lalu terlonjak kaget gara-gara perkataannya sendiri. Wajah Julian kembali berubah merah padam, dia sangat malu telah mengucapkan kata-kata yang menurutnya memalukan. Sementara itu, Krystal tertawa menyaksikan tingkah Julian yang menggemaskan.
“Haha baiklah, aku akan menyisakan satu ruang kosong di hatiku untukmu.”
Cup!
Krystal mendaratkan ciuman lembut di pipi kiri Julian, dia senang menggoda Julian yang gampang malu karena terhasut oleh rayuan maut.
“Y-y-yang Mulia, apa yang Anda lakukan? K-kita masih di akademi.”
“Tidak apa-apa, di sini hanya ada kita berdua saja.”
Krystal melanjutkan tawanya, sedangkan Julian masih diselimuti perasaan malu nan mendominasi.
“Saya penasaran, apa tujuan Anda sebenarnya menjadikan saya sebagai selir? Saya lihat kedua selir Anda sebelumnya juga bukan orang yang memiliki nama baik, bisakah Anda menjelaskannya kepada saya?”
__ADS_1
“Sudah aku duga kau akan menanyakan hal yang sama dengan Austin dan Lucio. Jujur saya, karena aku ingin menghancurkan Albertine.”