
Sepanjang jalan menuju Istana Primrose, Krystal tidak berhenti mengoceh dan menggerutu mengingat hal yang terjadi barusan. Namun, tubuhnya merasakan perubahan besar selepas menyerap sebagian kekuatan saintess milik Emilia. Bekas luka yang diperoleh dari beberapa kejadian lalu di tubuhnya langsung menghilang seketika.
Krystal tiba di kamarnya dan tidak lama setelah itu, Cleon datang menemui Krystal melompati jendela kamar. Krystal memukul kepala Cleon yang membuatnya terkejut ketika sedang asik berbicara dengan diri sendiri.
“Ya ampun, tidak bisakah kau masuk melewati pintu? Untung saja jantungku tidak bergeser,” omel Krystal.
“Hehe maaf, kak. Aku terbiasa masuk lewat jendela,” balas Cleon sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Jadi, bagaimana? Apa kau berhasil mendapatkan bunga marigold bening? Kau pulang terlalu lama, aku kira kau diterkam binatang buas saat pergi mencari bunganya.”
Beberapa hari yang lalu, Krystal memerintahkan Cleon untuk pergi membantunya mencari bunga marigold bening. Bunga tersebut hanya tumbuh di hutan belantara yang terletak di dekat Kekaisaran Estevo. Kekaisaran itu berjarak cukup jauh dari Albertine, butuh waktu sekiranya satu minggu untuk sampai di tempat itu bila menggunakan kereta kuda. Lalu Cleon dapat kembali dalam waktu singkat tanpa ada luka serius, hanya saja bau darah binatang dari tubuh Cleon dapat tercium dengan mudah.
“Tenang saja, aku berhasil mendapatkannya.” Cleon mengeluarkan sebuah bunga berkelopak bening bak plastik. Bunga itu diletakkan ke dalam toples oleh Cleon demi menjaga kesegaran dari bunga tersebut.
Krystal sumringah sesaat mendapatkan bunga marigold bening karena keberadaan bunga itu sangat langka. Biasanya para penyihir menggunakan bunga marigold bening untuk menyempurnakan formula sihir mereka, tapi Krystal menggunakan untuk hal lain. Cleon senang ketika menyaksikan senyum dari kakaknya, dia bangga sebab dia merasa sukses dalam tugasnya.
“Kerja bagus, Cleon. Bunga ini sangat berharga untukku,” sanjung Krystal sambil mengelus puncak kepala Cleon.
Cleon terlihat nyaman saat kepalanya dielus oleh Krystal, dia menemukan kembali kasih sayang yang telah direnggut oleh orang lain melalui Krystal. Cleon menganggap Krystal sebagai orang paling berharga saat ini, dia akan melakukan apa pun demi membantu meringankan beban Krystal. Tak lama kemudian, para selir masuk ke kamar menghampiri Krystal, mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Fred kepadanya.
“Oh Cleon! Kau sudah pulang rupanya. Aku kira kau dimakan binatang buas,” ujar Austin dengan wajah meledek.
“Cih, kenapa kalian kemari? Membuat waktuku bersama kakakku terganggu,” balas Cleon terdengar menyebalkan.
“Kau bocah kecil! Keluar saja sana, di sini kawasan orang dewasa,” usir Ash.
“Tidak mau,” jawab Cleon sembari mendekap manja Krystal dan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Ash dan Austin sangat geram dengan kelakuan Cleon, mereka hendak memukul Cleon tapi dihentikan oleh Krystal.
“Sudah cukup! Kalian jangan bertengkar lagi!” lerai Krystal.
“Apa yang mau kau buat dengan bunga marigold bening itu?” tanya Heros heran.
“Ramuan cinta.” Krystal menjawabnya dengan ekspresi mencurigakan, dia menyeringai jahat mengingat rencana yang akan dia lakukan ke depannya.
“Ramuan cinta? Apakah Anda mau cari selir baru lagi?” tanya Shion memelas.
“Bukan cari selir, tujuh saja aku sudah pusing apalagi nanti kalau ditambah. Nanti saja aku jelaskan kalau ramuannya sudah jadi, sekarang aku akan menunjukkan sesuatu kepada kalian.”
Krystal menyimpan bunga marigoldnya ke dalam laci, dia ingin memamerkan kekuatan saintess yang baru saja dia dapatkan dari Emilia. Krystal melirik tubuh Heros yang masih belum sepenuhnya sembuh dari luka, lalu meminta Heros untuk duduk di atas kursi.
“Mau kau apakan dia? Apakah kau mau melenyapkannya?” tanya Vicenzo seraya tertawa kecil.
Tanpa berlama-lama, Krystal mulai berkonsentrasi memusatkan pikirannya untuk mengendalikan kekuatan saintess tersebut. Perlahan dari telapak tangan Krystal keluar cahaya berwarna emas menghangatkan, cahaya itu mulai menjalar ke seluruh badan Heros. Pada saat itu pula, segala bentuk luka dan rasa sakit di badan Heros menghilang secara sempurna. Mereka yang menyaksikannya tercengang, kekuatan saintess tidak semua orang bisa melihatnya, makanya mereka agak kaget.
“Bagaimana? Tubuhmu tidak sakit lagi kan?” tanya Krystal kepada Heros.
Heros bangkit dari tempat duduk, dia menggerak-gerakkan sekujur badannya dan kini tak ada lagi rasa sakit yang sama dirasakannya.
“Semua luka dan rasa sakitnya menghilang!” ucap Heros bersemangat.
“Woahh, Yang Mulia, kenapa Anda bisa memiliki kekuatan itu?” tanya Julian terkagum.
Senyum pun mereka di bibir Krystal, “Aku menyerapnya, aku mengambil kembali kekuatan
__ADS_1
saintess dari tubuh Emilia. Sayangnya, aku hanya bisa mengambil sebagian, sebab kekuatan saintess terlalu besar dan tubuh ini juga belum siap menampung seluruhnya,” jelas Krystal.
“Kalau begitu, saya juga. Sembuhkan saya,” pinta Lucio mengulurkan kedua tangannya ke Krystal, ada beberapa luka goresan yang tampak baru di sana.
“Astaga, dari mana kau mendapatkan luka ini?” tanya Krystal langsung menyembuhkannya.
“Tadi saya tidak sengaja terjatuh ke semak belukar penuh duri,” kilah Lucio, padahal sebenarnya luka itu dia ciptakan sejak tadi demi mendapatkan perhatian dari Krystal.
“Oh iya, apa yang dikatakan si brings*k itu padamu?” Vicenzo bertanya sambil mengumpati Fred.
“Itu yang mau aku jelaskan ke kalian.”
Kemudian Krystal menceritakan perihal kontes berburu yang diadakan oleh Kekaisaran Archer. Sebenarnya, Krystal menaruh beberapa kecurigaan besar di dalam perburuan ini, mereka akhirnya sibuk menduga-duga tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti. Krystal dibuat bingung akan masalah tersebut, terlebih dia baru pertama kali mengikuti kontes berburu secara langsung. Dulu saat dia menjabat sebagai Ratu Ezoria, dia hanya menjadi pemimpin dari jalannya perburuan.
“Ini tidak sesederhana yang terlihat, mereka sepertinya telah menyebarkan perangkap di sana,” tutur Shion diangguki yang lain.
“Lalu siapa yang akan kau bawa ke perburuan nanti?” tanya Heros.
Di sinilah bagian tersulit, Krystal harus memilih salah satu dari selirnya untuk ia bawa ke perburuan. Mereka semua meletakkan harapan besar agar dipilih oleh Krystal untuk dibawa ke Kekaisaran Archer.
“Aku sudah memutuskan, untuk perburuan kali ini aku akan membawa Lucio bersamaku,” jawab Krystal sembari menunjuki Lucio.
Luciontersenyum bangga dan bahagia, para selir lainnya malah merungut kesal karena bukan mereka yang dibawa oleh Krystal. Satu persatu protes kecil pun terlontar dari mulut para selir, mereka mulai merundung Lucio dan menciptakan kehebohan di kamar Krystal.
“Aku tahu kalian akan protes, walau instingku agak tumpul sekarang tapi aku berfirasat bahwa Lucio adalah orang yang harus menemani aku ke kontes berburu. Kalian tidak akan berdiam diri saja, kalian juga harus menyelidiki serta mengamati gerak-gerik Fred, Isabelle, dan Emilia. Kita tidak tahu bahaya apa yang menghadang, tapi setidaknya kita harus mewaspadainya,” papar Krystal.
“Baiklah kalau begitu, kita bagi tugas saja nanti siapa yang akan memata-matai di istana dan siapa yang akan pergi menyelidiki hutan yang akan dijadikan sebagai tempat berburu.”
__ADS_1