
Krystal menjentikkan jemarinya, bersamaan dengan suara jentikkannya kala itu sebuah gambaran serta bayangan memori yang terhapus perlahan kembali pada pemiliknya masing-masing. Sakit kepala mereka rasakan serentak diiringi ingatan menyambar tentang pemberontakan yang dilakukan Fred bersama sejumlah bangsawan. Kaisar dan Permaisuri Albertine tewas terbunuh di depan mata Krystal, kekacauan pun seketika pecah di istana kekaisaran.
Kaisar dan Permaisuri sebelumnya merupakan sosok pemimpin yang dicintai oleh rakyat Albertine pada kala itu. Permaisuri yang ramah serta Kaisar yang tegas dan adil, mereka memiliki apa yang tidak dimiliki pemimpin pada umumnya. Di saat itu, Albertine adalah kekaisaran yang paling damai, mereka mempunyai suasana tenang setiap harinya. Pertengkaran antar bangsawan, diskriminasi, kesehatan rakyat yang buruk, segala hal buruk semacam itu tidak pernah ada.
Hari ini Krystal membuka tirai yang selama ini menutup mata serta memori seluruh rakyat. Perlahan rakyat biasa mulai beringsut ke depan halaman istana, tentu saja mereka datang menuntut segala ketidakadilan yang selama ini mereka tuai akibat perbuatan Fred beserta para pengikutnya. Amarah yang memuncak memanasi kekaisaran, di tengah gejolak kegelisahan yang belum padam, kini rahasia yang sebenarnya telah terungkap jelas.
“Ternyata begitu … ternyata selama ini kita telah membuat Tuan Putri Krystal kesulitan. Beliau adalah anak dari Kaisar dan Permaisuri sebelumnya. Kita salah sangka, kita telah berbuat dosa dengan menyiksa batin beliau.”
“Apa … apa ini kenyataannya? Ingatan kita telah dimanipulasi, siapa sangka rupanya Kaisar yang kita hormati. Dahulu Kaisar dan Permaisuri membela mati-matian hak rakyat, mereka berdua membangun Albertine dengan kesungguhan hati. Tetapi, mengapa kalian malah merusak segalanya?”
“Tidak salah Tuan Putri Krystal bersikap seperti demikian, itu semua karena kalian yang telah menyiksanya! Apabila saat ini beliau menginginkan kematian dan kemusnahan Albertine, kami dengan senang hati menerimanya sebagai penebusan dosa.”
Seruan-seruan kemurkaan berkeluaran menggetarkan ruang singgasana nan megah, para kesatria mulai bergerak dan mengelilingi Fred sekaligus Marquess Sulivan. Bagaimana pun segala kekacauan yang terjadi disebabkan oleh keduanya. Tergurat jelas di wajah mereka kala itu diri mereka tertelan ketakutan yang dahsyat. Kehidupan yang mereka rancang sebaik mungkin dihancurkan dalam sekejap, sekarang seluruh orang berbalik menyerang mereka.
“Tidak … itu tidak mungkin! Gadis ini hanya membual, aku tidak pernah melakukan hal semacam itu. Jangan percaya dan terpedaya oleh ulahnya!” bantah Fred dengan suara bergetar.
“Kau masih tidak mengakuinya? Jelas-jelas selama ini kau menyembunyikannya! Apa kau mau membuatku mengamuk dan mencabik-cabik tubuhmu di sini?!” gertak Vicenzo penuh emosi.
__ADS_1
“Tenanglah, Vicenzo, tampaknya Tuan Putri sedang mencoba melakukan sesuatu. Mungkin sebentar lagi kita menyaksikan pembantaian besar-besaran,” ucap Shion menghentikan Vicenzo yang nyaris maju memenggal kepala Fred dan Marquess Sulivan.
Krystal menarik sebilah pedang dari sarung seorang kesatria, dia membawa pedang tersebut dengan menyeretnya hingga menimbulkan bunyi gesekan di ubin ruangan. Seluruh orang yang menghalangi pandangan Krystal langsung menyingkir dan membukakan jalan untuknya.
“Siapa di antara kalian yang harus aku bunuh terlebih dahulu? Melihat kalian saja membuatku muak. Dendam kematian Kaisar dan Permaisuri harus dituntaskan hari ini juga agar aku bisa pergi dari tempat ini dan menuju tempat di mana seharusnya aku berada,” tutur Krystal.
Bola mata Krystal terlihat memandang dengan dingin, suara tipis nan tajam seakan menghujam kulit. Kesabarannya berakhir hari ini, lalu dia bermaksud menumpaskan seluruh masalah yang terjadi di Albertine. Hati yang panas, emosi yang bergelora, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
“Krystal, apa kau melupakan jasaku yang telah merawatmu selama ini? Padahal aku sudah membiarkanmu hidup tapi mengapa kau melupakan segala kebaikanku padamu dengan mudah?” ucap Fred.
Krystal menyeringai, dia tidak paham kebaikan yang mana dimaksudkan oleh Fred, selama dia menjadi Krystal, tidak pernah sekali pun dia melihat kebaikan dari Fred. Segala yang terjadi pada dirinya maupun kepada pemilik tubuh yang asli hanyalah penderitaan semata. Krystal perlahan tertawa, dia terkekeh menyaksikan betapa bodohnya Fred bersama para pengikutnya mencoba memanfaatkan kekuatan dari malaikat surgawi.
Krystal menodongkan pedang tepat ke depan wajah Fred, saat itu tak ada lagi jalan atau pun celah untuk melarikan diri sebab setiap orang yang murka terhadap perbuatan mereka menutup akses jalan kabur.
“Hei, kalian! Bawa Isabelle kemari, seret dia dari kamarnya,” titah Krystal kepada dua orang kesatria yang berada tidak jauh dari posisinya. Kedua kesatria tersebut segera memenuhi perintah Krystal, mereka bergegas keluar dari ruang singgasana menuju kamar Isabelle. Tidak butuh waktu lama, Isabelle pun didorong hingga tersungkur di bawah kaki Krystal.
“Ada apa ini? Kenapa kalian menyeretku kemari?!” bentak Isabelle.
__ADS_1
“Berisik! Siapa yang mengizinkanmu berteriak di sini? Aku menyuruh mereka membawa kemari. Apa ada masalah?”
Isabelle tersentak, mendadak nyalinya menciut sesaat mendengar suara Krystal, dia menunduk dalam-dalam sembari menekan ketakutan yang menggerogoti diri.
“Isabelle, apa kau hanya menunduk ke bawah saja? Angkat wajahmu dan lihatlah apa yang tengah terjadi di sekitarmu,” ujar Krystal menekan Isabelle.
Dengan penuh keraguan, Isabelle menuruti ucapan Krystal, wajahnya yang tertunduk langsung ditegakkan lalu mengedarkan pandangannya pelan. Isabelle tercengang, kala itu semua bangsawan yang selalu membelanya kini malah mengekspresikan kemarahan tak berdasar.
“Ada apa? Kenapa semua orang melihatku seperti itu?” tanya Isabelle kebingungan.
“Apa kau masih tidak menyadarinya? Kini mereka telah mengingat tentang Kaisar dan Permaisuri sebelumnya. Mereka yang menyaksikan pemberontakan juga mendapatkan ingatan mereka kembali. Jadi, ke mana lagi kau akan lari? Seluruh orang di Albertine berpihak padaku sekarang.”
Sekujur badan Isabelle gemetar ketakutan, dia tidak menyangka apa yang dia khawatirkan selama ini akhirnya terjadi juga. Isabelle telah kehilanga putra dan putrinya akibat perbuatannya sendiri, dia berpikir untuk menyerahkan dirinya kepada Krystal sekarang.
“Aku takkan berkilah atau pun mengelak lagi, semua yang terjadi memanglah benar, aku tidak memohon pengampunan darimu. Namun, bisakah kau membunuhku sekarang juga? Lagi pula aku tidak punya anak sebagai penguatku. Aku hanya bertahan selama ini demi putra dan putriku,” lirih Isabelle diiringi tatapan putus asa.
“Aku yang membunuh mereka, apa kau masih tetap menyerahkan dirimu padaku?” tanya Krystal.
__ADS_1
“Ya, aku tahu kau membunuh mereka, hanya saja apa yang aku lakukan padamu selama ini tidaklah cukup menebusnya menggunakan nyawa kedua anakku. Jadi, aku ingin menyerahkan diriku padamu, bunuhlah aku dan kirim aku menemui anak-anakku.”
“Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu.”