
Vicenzo bersama selir yang lain muncul dari balik dinding, ternyata yang mengunci pergerakan mereka adalah Vicenzo. Krystal tersenyum girang melihat mereka datang, siapa sangka ternyata mereka sejak tadi juga merasakan kehadiran yang tak asing nan berbahaya di istana.
“Jadi, kalian rupanya, beraninya kalian memojokkan kami!” bentak Cleon, bayangannya ditekan oleh Vicenzo sehingga membuat mereka tak mampu untuk bergerak sedikit pun. Mustahil untuk melawan bagi mereka yang ruang geraknya terblokir.
“Jangan banyak bicara lagi, kalian tidak akan bisa lari ke mana-mana. Pengkhianat seperti kalian memang pantas untuk mati!”
Tubuh mereka seketika dibalut oleh benang putih Ash, namun raut wajah mereka tak terlihat cemas atau pun khawatir. Sebelum benang itu menutup muka mereka sepenuhnya, Cleon menatap Krystal dan ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Krystalia! Apa kau pikir musuhmu yang sebenarnya adalah Kaisar Langit? Kalau kau memang berpikir seperti itu, maka kau salah! Musuhmu bahkan lebih kuat dari Kaisar Langit, sebaiknya kau menyerah saja dan serahkan jantungmu sekarang juga! Kami hanya mengincar jantungmu, jantung yang mengandung kekuatan besar di sana. Jadi, aku harap kau bisa berhati-hati, mulai sekarang kami akan melancarkan berbagai macam serangan untuk membunuhmu,” peringat Cleon.
Ash meremas tubuh mereka hingga hancur di dalam balutan benangnya, tapi rupanya tubuh mereka yang saat ini hanyalah klonning. Tubuh asli mereka berada jauh di dalam markas, mereka benar-benar telah menyiapkan semuanya secara matang.
“Jantung? Apa mereka membual? Aku tidak memiliki jantung! Aku bahkan tidak tahu alasan kenapa aku bisa hidup tanpa jantung,” ujar Krystal meraba dadanya, memang di jiwa Krystalia tidak terdapat jantung, seumur hidup dia belum pernah mendengar detak jantungnya sendiri.
Krystal membalikkan tubuh, perkataan Cleon berputar di kepalanya, walau ia berniat mengabaikan peringatan tak masuk akal itu, namun bisa saja hal itu benar-benar menjadi ancaman besar untuknya. Mulai hari ini hingga ke depannya, Krystal akan dihadapkan dengan berbagai masalah berbahaya.
“Apa yang dikatakan baj*ngan itu? Haruskah kita serang mereka langsung ke markasnya? Bagaimana pun mereka tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi,” kata Heros diangguki oleh yang lain.
“Tidak boleh!” cegat Krystal, “Kita tidak boleh bertindak gegabah, walaupun kita tahu markas mereka di mana, tapi mereka seperti sedang menyimpan sesuatu yang berbahaya. Apabila kita salah mengambil langkah, kita akan mati di dalam jebakan. Tetapi, perkataan Cleon membuatku berpikir, dia bilang musuh besar kita bukanlah Kaisar Langit tapi orang yang lebih kuat dari itu. Aku harus mencari tahu siapa musuh yang dimaksudkannya.”
__ADS_1
Krystal tampak sangat serius, otaknya terus berpikir dan mengais berbagai ingatan di masa lalunya untuk mencari petunjuk. Namun, tak ada satu pun petunjuk yang mengarah pada hal mencurigakan.
“Sebaiknya, sekarang Anda istirahat dulu, Yang Mulia. Tidak baik bagi tubuh Anda kalau berpikir terlalu keras,” ucap Julian merangkul pundak Krystal.
“Benar yang katakan, tidak baik untuk memaksakan diri.”
Kemudian Krystal dituntun ke kamarnya, ia berencana untuk memikirkan masalah ini keesokan harinya bersama Cherry dan Bleas. Ketika Krystal hendak berbaring, Shion belum juga pergi keluar dari kamar, wajah Shion terlihat merah padam. Lalu Krystal mendekati Shion, mencoba memeriksa panas tubuh Shion dengan telapak tangan, ternyata Shion menderita demam ringan.
“Shion, kau sakit, aku akan mengob—”
“Yang Mulia.” Sontak Shion menggenggam tangan Krystal disertai mata yang berkaca-kaca, “Bolehkah saya tidur bersama Anda malam ini? Anda tidak perlu mengobati saya, cukup temani saya tidur, karena saya hanya butuh itu,” pinta Shion dengan muka memelas.
“Baiklah, kau boleh tidur bersamaku malam ini.” Krystal setuju, Shion pun segera naik ke atas ranjang, Krystal merasa bahwa saat ini kondisi Shion tidak baik-baik saja.
“Kenapa kau malah bertanya? Tentu saja kau boleh memelukku.”
Krystal masuk ke dalam pelukan Shion, sekujur badan Shion terasa dingin, terlintas rasa khawatir berlebihan di diri Krystal. Dia berharap semoga esok pagi keadaan Shion tak bertambah parah dan tidak terjadi hal-hal buruk kepada Shion. Berselang beberapa menit kemudian, Krystal tertidur di pelukan Shion, sedangkan Shion masih membuka mata sambil bergelut dengan kerumitan pikirannya.
‘Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan mataku akhir-akhir ini, tapi aku mengabaikan fakta betapa tersiksanya aku ketika penglihatanku mencapai batas maksimal. Badanku panas, sekarang penglihatanku mulai memburam, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Kekuatan suci tidak akan bekerja untuk pemulihan mataku, aku hanya ingin lebih berguna untuk Yang Mulia, aku tidak mau seseorang datang menyakiti Yang Mulia. Setidaknya aku ingin menahan rasa sakit ini hingga segala urusan Yang Mulia selesai di dunia,’ batin Shion.
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Shion bergulir, memori buruk semasa hidup terus menghantui dirinya, namun saat dia bersama Krystal, rasa bahagia perlahan menghampirinya. Tidak ada yang lebih penting dari Krystal, hidupnya saat ini untuk Krystal, dia rela mengorbankan segalanya untuk Krystal karena Krystal adalah dunianya.
‘Maafkan saya jika egois, maaf, Yang Mulia. Saya ingin membuat Anda bahagia bersama saya, maafkan saya tidak memberitahu apa pun tentang efek mata ini. Saya sangat mencintai Anda, tolong cintai saya terus meski nanti saya tidak dapat melihat wajah cantik Anda lagi.’
...***...
“KENAPA KAU BISA ADA DI SINI, SIALAN?!”
Suara teriakan Isabelle di istana Krystal menggema hingga membangunkan Krystal dari tidurnya. Krystal mengerjapkan mata beberapa kali, ia terbangun saat masih berada di pelukan Shion. Terlihat bahwa Shion masih lelap dalam tidurnya, Krystal pun enggan untuk membangunnya. Akhirnya, Krystal membiarkan Shion tidur dan ia turun dari tempat tidur menuju sumber keributan itu berasal.
Di depan halaman istana, Krystal melihat Isabelle sedang memaki-maki Shuria dan Adrian. Krystal datang dengan cepat untuk menengahi kemarahan Isabelle, ia telah memprediksi hal ini akan terjadi, sebab Isabelle menaruh kebencian yang besar terhadap Shuria.
“Kenapa kau berteriak-teriak di istanaku?” Krystal segera menarik Shuria dan Adrian ke belakang.
“Kau yang membawa mereka kemari? Apa maksudmu membawa mereka pulang ke istana? Jangan-jangan kau mau menciptakan keretakan antara aku dan Kaisar?” tuding Isabelle.
“Tanpa aku berbuat seperti ini pun, hubunganmu dengan Kaisar juga sudah retak kan? Jangan membuatku marah ya, Isabelle,” tutur Krystal tajam.
“Apa? Berani sekali kau berkata seperti itu! Dasar kau anak wanita penghibur!” hina Isabelle sambil menunjuki Krystal.
__ADS_1
Krystal menyunggingkan senyum, Isabelle sungguh memancing amarahnya untuk keluar. Krystal pun mendorong tubuh Isabelle hingga tersungkur, kemudian ia menginjak punggung tangan Isabelle sambil menekannya.
“Kau bilang aku apa? Anak wanita penghibur? Cih kau tidak sadar ya kalau anakmu juga jadi wanita penghibur? Dia membawa lelaki yang berbeda setiap malam ke kamarnya, bahkan tadi malam aku melihat dia memasukkan tiga orang laki-laki. Mending jadi wanita penghibur tapi dibayar, dibanding anakmu sudahlah tidak cantik, akhlak minus, lalu menjajalkan tubuhnya ke laki-laki secara gratis!”