Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Tumbal


__ADS_3

Haru tangis memecah suasana mencekam kala itu, Krystal memberi dekapan hangat kepada setiap arwah anak-anak di sana. Mereka terenyuh sesaat Krystal begitu tulus kepada mereka, pelukan yang belum pernah mereka dapatkan selama hidup akhirnya bisa mereka rasakan meski tidak lama, namun mampu menimpali kegelapan di hati mereka. Krystal dapat melihat betapa menderitanya mereka selama ini tanpa ada orang yang peduli terhadap luka yang mereka dapati. Luka fisik serta luka batin seolah mengikis harapan mereka untuk berbahagia.


“Bohong! Semua orang dewasa itu pembohong! Kalian hanya ingin melukai kami. Kalian jangan percaya kepada wanita itu, aku tahu dia sama seperti orang dewasa yang lain. Sejak awal keberadaan kami hanya dijadikan sebagai tumbal, kalian tidak akan pernah mengerti posisi kami. Kalian pembohong! Aku benci orang dewasa!”


Krystal tersentak kaget saat ada seorang anak kecil laki-laki yang membentak dari sudut ruangan, yang membuat Krystal terkejut yaitu arwah anak itu dipenuhi oleh kebencian dan kemarahan, perasaan dendam yang dipupuk lebih besar dibanding arwah anak-anak yang lain.


‘Huh? Tumbal katanya?’ Krystal tercengang saat anak itu membicarakan soal tumbal.


“Hei, ak—”


“Kak, kakak tidak boleh berbicara seperti itu. Kakak cantik itu baik, dia tidak sama dengan orang yang biasa menyiksa kita,” ujar gadis kecil yang menuntun Krystal tadi yakni satu-satunya anak yang tidak memiliki kemarahan atau dendam apa pun di jiwanya.


“Apa kau tidak ingat dengan apa yang mereka lakukan padamu? Mereka menyiksamu bahkan melecehkanmu, tapi mengapa? Mengapa kau tidak menyimpan marah sedikit pun kepada manusia? Aku kakakmu, aku tidak tahan melihatmu terluka. Saat itu … jika saat itu aku berhasil menyelamatkanmu pasti kau masih hidup sekarang. Kau tidak perlu mati bersamaku.”


Kedua anak itu adalah saudara, kemarahan sang kakak disebabkan oleh penderitaan adiknya yang tak berujung. Namun, sang adik justru tidak menyimpan dendam maupun amarah kepada manusia. Wajah imut dan senyuman manis itu masih ia perlihatkan meski hatinya tergores serta terkoyak oleh ulah manusia tak bertanggung jawab.


“Karena tidak semua manusia itu jahat, hanya saja kita belum beruntung bertemu manusia baik, seperti kakak cantik itu, dia sangat baik dan mau memperlakukan kita dengan tulus. Jadi kak, tolong redamkan kemarahanmu sebab baik dan jahat itu nyata adanya. Kita hanya terlambat menemukan orang baik, tapi tetap saja kakak tidak boleh memukul rata semuanya. Cobalah untuk tidak marah, yang penting kita masih bisa bersama-sama.”


Krystal membekap mulutnya, dia tidak percaya ada seorang anak kecil mempunyai hati yang teguh dan pemaaf.

__ADS_1


‘Dia hanya seorang anak kecil yang belum genap 10 tahun, tapi hatinya begitu luas. Pantas saja dia tidak terpengaruh oleh amarah dan dendam, rupanya karena dia telah memaafkan setiap derita yang dia lalui.’


Kemudian Krystal mendekat perlahan ke arah mereka berdua, dia tidak tahan jika menyaksikan luka dari seorang anak kecil yang tak berdosa kepada dunia. Lalu Krystal bersimpuh di hadapan keduanya, memandang lekat-lekat wajah kedua anak kecil itu. Krystal berharap agar dia bisa memberi mereka secuil cahaya bahagia untuk dibawa ke surga nanti.


“Maafkan aku, aku sungguh menyesal baru mengetahui ini sekarang. Tolong jangan terlalu menyimpan marah di hatimu, maaf ya sebab aku baru menemui kalian. Pasti sulit bagi kalian selama ini, tapi aku mohon jangan terlalu lama terhanyut di dalam gelora emosi dan dendam.” Krystal menggenggam tangan mereka yang sangat dingin, berupaya memberi sedikit kehangatan untuk keduanya.


“Saya hanya ingin melihat orang-orang yang menyakiti kami mati dengan cara mengenaskan. Saya tidak ingin memendam amarah ini lebih lama lagi, tapi saya tidak bisa melupakan penderitaan yang selama ini mereka berikan kepada kami. Saya jug—”


Krystal menarik tubuh mereka berdua untuk ia dekap, kehangatan perlahan mengalir di kedua arwah itu. Mereka mulai menangis di dalam pelukan Krystal dan meluapkan segala derita yang selama ini tersembunyi di balik tubuh kecil dan kurus itu. Tidak ada orang yang selama ini memberi mereka pelukan sehangat dan setulus ini.


Di saat yang bersamaan, Austin, Lucio, dan Julian datang bersama dua spirit dan juga Cleon. Mereka baru menemui Krystal setelah Bleas berhasil mendeteksi energi dari tubuh Krystal.


“YANG MUL—”


“Arwah? Tapi aku tidak melihat apa pun di sini,” ucap Julian diangguki Austin dan Lucio.


Mereka hanya melihat Krystal tengah duduk bersimpuh di tanah yang dingin, mereka memang melihat Krystal seperti sedang memeluk seseorang, namun mereka tidak bisa melihat siapa orang yang dipeluk oleh Krystal. Tidak lama berselang, Krystal menyadari kedatangan mereka kemudian ia menghampiri mereka semua.


“Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?”

__ADS_1


“Apa Anda terluka?”


“Anda kelelahan?”


Ketiga selirnya tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Krystal, mereka menanyakan pertanyaan yang tersirat kecemasan. Krystal pun tersenyum seraya menggelengkan kepala pelan, di satu sisi dia senang sebab ada orang yang mengkhawatirkan dirinya.


“Aku tidak apa-apa, tapi dugaanku benar kalau anak-anak panti asuhan bukanlah menghilang tapi mereka dibunuh di tempat ini. Aku akan memberikan kalian berkat penglihatan arwah, jadi kalian bisa melihat seluruh arwah yang berada di ruangan ini.”


Krystal menitahkan mereka untuk memejamkan mata dan Krystal memberikan Austin, Lucio, Julian, serta Cleon berkat penglihatan arwah. Tidak butuh waktu lama, kini mereka bisa dengan bebas melihat arwah yang ada di ruangan itu.


“Jadi, mereka semua adalah anak-anak panti asuhan yang dikabarkan menghilang? Tidak aku sangka rupanya mereka dibunuh,” tutur Cleon.


“Kemarilah! Kalian tidak perlu takut, mereka semua adalah orang-orang yang baik.” Krystal memanggil seluruh arwah anak-anak yang bersembunyi melihat kedatangan orang selain Krystal. Satu persatu dari mereka memberanikan diri untuk mendekat, saat ini mereka lebih terlihat seperti anak manusia biasa.


Setelah itu, Krystal memperkenalkan Austin, Lucio, Julian, dan Cleon kepada mereka sembari berharap agar ketakutan mereka terhadap manusia bisa berkurang.


“Nah, bisakah sekarang kalian ceritakan padaku kenapa kalian bisa seperti ini? Tadi aku mendengar soal tumbal, apa jangan-jangan kalian ditumbali oleh seseorang?” selidik Krystal amat serius.


“Sebenarnya, kami dibunuh oleh beberapa orang berjubah putih, setelah mereka membeli kami dengan harga tinggi, mereka membawa kami ke ruang bawah tanah ini. Mereka membawa kami satu persatu ke atas lingkaran itu.” Salah seorang anak laki-laki menunjuk ke arah sebuah gambar lingkaran di tengah ruangan.

__ADS_1


Krystal bergegas melihat lingkaran tersebut untuk mengamati lebih jauh lagi sebenarnya lingkaran sejenis apa itu.


“Tidak salah lagi, ini adalah lingkaran sihir penumbalan.”


__ADS_2