Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Aku Mulai Lelah


__ADS_3

Krystal mengguncang-guncang badan Heros, namun tidak ada respon darinya. Suara Krystal terdengar cemas, seluruh badan Heros dipenuhi oleh luka dari benda tajam. Atas perintah dari Krystal, para selir lain mengangkat tubuh Heros dan membawanya ke dalam kamar. Segera saja Krystal memanggil seorang dokter untuk mengobati luka Heros, Cherry juga membantu menghentikan pendarahan Heros.


Dokter mengatakan luka Heros tidak terlalu parah, dia hanya butuh istirahat selama beberapa waktu. Krystal tidak berhenti mengucap syukur kala itu, tidak terbayangkan betapa terguncangnya diri Krystal mendapati Heros dalam keadaan terluka parah. Kedua tangan Krystal tak hentinya gemetar, namun dia menekan rasa khawatirnya dalam-dalam.


“Olin, tolong beritahu aku nanti kalau Heros sudah bangun ya,” ucap Krystal sembari menyelimuti badan Heros.


“Baik, Yang Mulia,” jawab Olin.


Krystal keluar dari kamar meninggalkan Heros beristirahat, di depan pintu kamar sudah ada para selir yang menunggu. Krystal tersenyum simpul, dia tak ingin membuat seluruh selirnya cemas, dia terus berdiri tegak dan meyakinkan diri untuk tetap bersikap baik-baik saja.


“Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?” tanya Lucio mencekal pergelangan tangan Krystal.


“Aku tidak apa-apa, sekarang aku mau beristirahat dulu sebentar. Tolong jangan lepaskan pandangan kalian karena ancaman akan selalu datang kapan saja,” tutur Krystal.


“Baiklah.” Lucio melepaskan genggamannya, Krystal pun perlahan menjauh dan menuju ke kamarnya.


Para selir menatap sendu Krystal, mereka menyadari bahwa Krystal hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja, padahal nyatanya dia tengah rapuh. Manik-manik violet yang baru saja mereka lihat, menyiratkan sebuah perasaan rumit dan kesedihan mendalam. Akan tetapi, Krystal bukanlah wanita yang dengan mudahnya menangis dan mempertontonkan kesedihannya di hadapan orang lain.


“Bohong! Krystal berbohong karena dia sedang tidak baik-baik saja. Mengapa gadis itu selalu menyembunyikan kesedihan dan ketakutannya?” gumam Vicenzo terdengar ke telinga selir lainnya.


Sementara itu, kini Krystal masuk ke kamarnya dengan langkah gontai, tubuhnya melemah seketika. Krystal menutup pelan-pelan pintunya, dia menghela napas panjang, kemudian tubuhnya merosot ke atas lantai. Krystal menekuk dan memeluk lutut erat sembari menyandarkan badan ke permukaan pintu.

__ADS_1


“Harus sampai kapan aku seperti ini? Apa dunia memang tidak berpihak padaku? Tolong aku, Ayah, Ibu. Aku mulai lelah…,” lirih Krystal.


Kesedihan di balik lirihan Krystal terlalu jelas, tapi tidak ada air mata yang mengalir di kedua matanya, hanya ada getaran takut. Perasaan putus asa mengalir di perasaan, rasa sakit mengoyak hatinya perlahan. Krystal seakan tidak punya alasan untuk hidup, dia takut, khawatir, dan merasa sedih sekaligus. Perasaan berat hati ia rasakan, sungguh sesak hingga rasanya tidak ada harapan dia hidup hingga esok.


Kalung permata yang dia kenakan tiba-tiba saja mengeluarkan setitik cahaya, lalu cahaya itu membentuk asap lembut. Krystal merasa kantuk seusai menghirup aroma asap tersebut, dia pun bangkit dan merebahkan badan di atas tempat tidur.


“Aku mengantuk….”


Dalam beberapa detik, akhirnya Krystal terlelap, raut wajahnya tampak sangat lelah akibat akhir-akhir ini dia kurang mendapatkan istirahat penuh. Perlahan Krystal memasuki alam mimpi, sebuah mimpi yang membuatnya tenang.


Di dalam mimpi tersebut, Krystal menyaksikan seorang anak kecil dengan seorang pria dan wanita. Akan tetapi, Krystal tidak bisa melihat jelas siapa yang ada di mimpi itu, dia melihat anak kecil perempuan itu tertawa bahagia di pangkuan seorang wanita.


“Ayah, apakah Ayah menyayangi Ibu?” tanya gadis kecil itu kepada sang Ayah yang duduk tepat di sampingnya.


“Kalau begitu, nanti ketika aku sudah besar, aku akan mencari tujuh suami seperti Ayah,” ujar gadis kecil itu bersemangat.


Kedua pria dan wanita itu tercengang saat mendengar putri mereka berbicara seperti itu.


“Kenapa harus tujuh? Bukankah satu saja cukup?” tanya sang Ibu.


“Karena semakin banyak yang mencintaiku, akan semakin besar kebahagiaan yang aku dapatkan. Seperti Ayah yang selalu memanjakan Ibu setiap hari, aku juga ingin mendapatkan pria yang akan memanjakan serta membelaiku setiap waktu.”

__ADS_1


Gadis kecil itu nampak bahagia, terlukis di mukanya bahwa dia sangat mengagumi cinta dari kedua orang tuanya.


“Oh iya? Ternyata anakku sudah berpikir sampai ke sana, tapi Ayah tidak mau kamu dewasa terlalu cepat, karena Ayah dan Ibu masih ingin bersamamu. Menyaksikanmu bertambah besar seperti ini membuat hati Ayah terluka.”


Pria itu bergantian memangku gadis kecil tersebut, dia memeluk anaknya dengan erat. Terlihat perasaan tidak rela selepas mendengar impian putri kecilnya yang ingin memiliki tujuh suami kelak dewasa nanti.


“Ibu juga masih ingin melihatmu berlarian dan bermain tanpa memikirkan dunia, jadi jangan tumbuh terlalu cepat, dunia masih belum aman untuk kamu tinggali,” timpal wanita itu.


“Baiklah, aku akan terus menjadi anak kecil dan tinggal bersama Ayah dan Ibu.”


Namun, di tengah suasana bahagia itu, muncul kejadian di mana tempat tinggal mereka hancur berantakan. Kebakaran terjadi di mana-mana, bangunan runtuh rata dengan tanah, serta suara raungan kesakitan saling bersahutan. Gadis kecil yang bahagia tadi dibawa lari orang Ayah dan Ibunya, dia terlihat menahan tangis di pelupuk mata. Kemudian gadis tersebut dimasukkan ke dalam sebuah lemari yang sudah diberi sihir pelindung.


“Kamu bersembunyi di sini, jangan sampai kamu ditemukan oleh mereka,” ujar Ibu si gadis kecil.


“Ayah dan Ibu mau ke mana? Aku takut, tolong jangan tinggalkan aku sendirian,” rengek gadis kecil.


Ayahnya mengusap pelan kepala gadis itu, lalu mengecup keningnya, sebuah senyum sendu dari kedua orang tuanya membuat suasana hati gadis itu bertambah kacau.


“Nanti Ayah dan Ibu akan menemuimu lagi, tapi kamu tidak boleh menangis. Bukankah putri Ayah sudah besar? Jadi, jangan menangis ya. Kalau kamu menangis, nanti hati Ayah dan Ibu jadi sakit. Tunggu Ayah dan Ibu membereskan kekacauan ini, setelah itu kita akan pulang bersama.”


“Pegang kipas punya Ibu, nanti kalau ada orang yang menyakitimu langsung ayunkan kipas ini ke mereka. Ayah dan Ibu janji akan balik lagi menjemputmu, jangan sedih dan jangan menangis. Mengerti itu, Krystalia?”

__ADS_1


Gadis itu mengangguk kaku, pintu lemari pun ditutup rapat oleh Ayah dan Ibunya, langkah kaki mereka berdua semakin menjauh hingga tidak terdengar lagi. Gadis kecil itu menahan diri untuk tidak menangis, suara ledakan membuatnya takut. Kipas berwarna merah yang diberikan oleh sang Ibu, ia peluk erat sambil berharap kalau Ayah dan Ibunya akan segera menjemputnya. Akan tetapi, dia telah menunggu terlalu lama, orang tuanya tidak kunjung membuka lemari itu untuk menjemputnya pulang.


“Ayah, Ibu, di mana kalian? Krystal takut … tolong cepatlah kembali, bukankah kalian berjanji akan balik lagi untuk menjemputku?”


__ADS_2