Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Pertarungan di Istana Midland


__ADS_3

Austin menebas pedang Isabelle hingga patah, Austin menaruh rasa benci yang besar terutama ke keluarga kekaisaran yang sudah membuat Krystal berada di posisi terpojok. Apalagi saat ini mereka sedang tergesa-gesa ingin menjemput Julian, jadi tidak ada jalan lain selain meladeni serangan Isabelle.


“Kau bilang aku merebut kekuatan suci anakmu? Apa kau pikun? Kekuatan suci adalah milikku sejak awal, sudah seharusnya kekuatan itu kembali lagi padaku,” ujar Krystal.


Isabelle terdiam, tidak ada kata yang dapat dijadikan pembelaan bagi Isabelle, kekuatan suci memang milik Krystal, mereka hanya perebut yang buta oleh ketamakan. Melihat tidak adanya respon dari Isabelle, Krystal memutuskan untuk segera berangkat meninggalkan Isabelle yang diam dalam seribu kata yang berputar-putar di otaknya.


“Isabelle, aku beri peringatan terakhir untukmu, kalau kau masih berani menggangguku lagi, aku pastikan hidup kalian akan berakhir dalam hitungan hari. Jadi, jangan pernah memohon ampun padaku bila hidupmu berada di ujung jurang nan curam, jujur saja melihat kalian berkeliaran seperti ini, sangat memuakkan bagiku. Penderitaan Emilia hari ini itu baru permulaan, selanjutnya aku pastikan kau ikut terseret ke dalam neraka dunia yang sesungguhnya.”


Krystal begitu tenang memberi peringatan sekaligus gertakan kepada Isabelle, justru ketenangannya terlihat bagai laut, laut yang tenang tapi nanti akan mendatangkan ombak yang sanggup menghancurkan setengah daratan. Isabelle merinding seketika mendengar suara Krystal, daya intimidasi yang dibubuhi di dalam kalimatnya, memberi dampak besar bagi Isabelle.


Menyaksikan Isabelle yang tidak lagi melawan, Krystal pun mengajak seluruh selir untuk segera berangkat ke Kekaisaran Midland sebelum mereka terlambat menyelamatkan Julian. Jantung Krystal tidak berhenti berdetak kencang pertanda firasat buruk yang semakin meremas hatinya. Namun, Krystal berusaha untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang gegabah, dia tidak mau kehilangan kendali karena firasat yang terus menghantuinya.


Mereka melewati rute jalur yang sama dengan Julian kemarin, kecepatan terbang mereka juga di atas rata-rata sehingga tidak memakan waktu yang lama untuk sampai di Midland. Mereka sungguh terkejut dan tak menyangka kalau kondisi Midland lebih parah dari yang mereka bayangkan. Hati Krystal seketika pedih melihat kesenjangan sosial dan ekonomi yang begitu terjal di Midland, terlebih lagi para bangsawan banyak yang tidak mau memikirkan rakyatnya yang menjadi gelandangan.


Namun, ternyata jalan mereka masuk ke dalam istana utama tidaklah semudah yang dikira, ksatria penjaga melarang mereka untuk menginjakkan kaki lebih jauh lagi. Terlebih Cedro – Kaisar telah memberi larangan tegas untuk Krystal masuk ke istana. Kedatangan Krystal sungguh berhasil menciptakan keributan di istana. Suara perdebatan para selirnya nyaris terdengar ke penjuru istana kekaisaran.


“Kenapa kami tidak diperbolehkan masuk? Apa kalian ingin mencari masalah dengan kami?” Vicenzo terbakar api kemurkaan, rasanya dia ingin melenyapkan istana itu sekarang juga.


“Tapi kalian tidak diberikan izin untuk masuk oleh Kaisar, mau kalian berkata seperti apa pun itu, kami tidak akan membukakan gerbang untuk kalian,” balas si penjaga gerbang.

__ADS_1


“Kalian cari mati?! Niat kami kemari hanya mau bertemu dengan Julian saja, cepat bukakan pintu sebelum kepala kalian aku buat menggelinding,” ancam Ash.


Akan tetapi, para penjaga itu masih bersikukuh tidak akan membukakan gerbang istana untuk mereka. Hingga akhirnya, Heros tiba di puncak kejengkelannya, ia mengeluarkan cambuknya dan menghanjar empat orang penjaga gerbang. Heros mencekik leher mereka menggunakan cambuk yang sepanas bara api, kepala mereka berempat dibuat putus dan menggelinding ke permukaan tanah.


“Membuang-buang waktu saja berbicara dengan mereka,” ucap Heros bermimik kesal.


Mereka tercengang sejenak oleh tindakan Heros yang tidak mengatakan apa-apa sebelum membunuh para penjaga itu. Akan tetapi, berkat Heros kini mereka bisa masuk ke istana, kedatangan mereka disambut oleh para ksatria yang menghadang langkah mereka lebih jauh. Jumlah ksatria yang menghalangi mereka tidaklah sedikit, mereka mengepung Krystal bersama selirnya.


“Kalian dilarang berjalan lebih jauh lagi! Istana ini bukan tempat yang bisa kalian injak sesukanya,” kata seorang ksatria.


“Kalau begitu panggilkan Julian, aku ingin berbicara dengannya,” balas Krystal.


Sontak Krystal kaget oleh pernyataan ksatria tersebut, terlebih lagi saat ia mendengar ruang penyiksaan, itu bukanlah ruang yang sederhana. Krystal tak sanggup membayangkan alangkah kesakitannya Julian saat ini, sehingga membuat darah Krystal mendidih.


“Jika kalian tidak mau membiarkan kami lewat, jangan salahkan kami bila kalian tidak bisa melihat matahari terbit keesokannya.”


Krystal memberi isyarat kepada seluruh selir untuk maju menghabisi para ksatria itu, sedangkan Krystal hanya berdiam diri untuk menyaksikan pertarungan mereka. Kemudian sekitar tujuh orang ksatria menyerbu Krystal, dengan gerakan cepat Krystal melibas mereka menggunakan kipas merah pemusnah. Tidak berhenti sampai di situ saja, semakin banyak ksatria yang mengarahkan pedangnya kepada Krystal tanpa takut. Krystal mulai muak, dia akhirnya ikut serta di dalam pertarungan menghabisi para ksatria Kekaisaran Midland.


Dalam waktu hitungan menit saja, mereka berhasil membunuh ksatria yang berjumlah lebih dari seratu orang. Kegaduhan di luar istana terdengar masuk ke dalam istana, Cedro bersama kedua putranya terpaksa harus keluar untuk memastikan apa yang tengah terjadi. Betapa terkejutnya mereka menyaksikan Krystal yang duduk di atas tumpukan mayat lalu para selirnya berdiri tegak di tengah-tengah mayat ksatria.

__ADS_1


“Siapa kalian?! Berani sekali berbuat kegaduhan di sini!” ujar Cedro.


“Siapa kami? Tidak mungkin kau tidak tahu siapa aku.” Krystal membuka tudung jubah yang menutupi wajahnya, mereka makin kaget melihat Krystal sampai di istana mereka dalam waktu yang sangat cepat.


“P-putri Krystal.” Cedro gelagapan sekaligus merasa gugup melihat Krystal, sedangkan kedua putranya malah terpana oleh kecantikan Krystal.


“Putri Krystal? Benarkah itu? Pantas saja Julian betah menjadi selirnya, ternyata dia melebihi ekspektasiku,” ujar Fernando.


Krystal turun perlahan dari tumpukan mayat itu, seringai kecil dari bibir mungilnya menambah karisma dirinya seketika.


“Sekarang kalian katakan padaku, di mana kalian sembunyikan Julian?” tanya Krystal dengan ekspresi datar dan dingin.


“Julian? Kami tidak akan mengatakannya, kami sudah memprediksi kalian akan datang kemari. Jadi, nikmatilah kesengsaraan kalian hari ini,” kata Eneas, ia menjentikkan jarinya, dari angkasa terlihat para penyihir turun satu persatu. Jumlah penyihir yang mengepung mereka waktu itu berjumlah tidak sedikit, tapi mereka tidak punya celah untuk takut.


“Yang Mulia, Anda pergilah mencari Julian, serahkan mereka semua kepada kami,” ujar Shion.


Krystal menganggukkan kepalanya, ia segera bergerak dan menghilang dari tempat tersebut. Kini tersisa para selir yang akan menghadapi para penyihir itu, sedangkan kedua saudara Julian mengejar Krystal yang sudah masuk ke dalam istana.


“Tidak akan ada seorang pun yang bisa menghentikanku untuk membawa pulang Julian kembali.”

__ADS_1


__ADS_2