Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Mimpi Buruk Arsen


__ADS_3

Krystal tercengang ketika mendengar ucap setia dari keempat selirnya, ia segera mengubah ekspresi tercengangnya menjadi senyum yang mengukir lembut di bibir merah mudanya.


“Terima kasih, tapi jangan sampai kalian menyesali pilihan yang kalian buat hari ini,” tutur Krystal.


“Kami tidak akan menyesal, selagi Anda tidak mengusir kami.”


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja muncul getaran yang cukup dahsyat di istana tempat Krystal berpijak. Mereka pun bergegas ke luar untuk memeriksa apa yang tengah terjadi, di sebelah barat Istana Primrose, sekilas tampak ada beberapa arwah wanita yang mengamuk. Krystal tidak langsung menuju ke sana, dia hanya berdiam diri di depan teras istana seraya mengamati dari kejauhan apa yang akan dilakukan oleh para arwah wanita tersebut.


“Sepertinya mereka arwah wanita yang dibunuh oleh Putra Mahkota sialan itu,” ujar Lucio.


“Ya, benar katamu. Mereka marah kepada Arsen, tapi kita jangan terburu-buru menyelesaikan para arwah itu, aku akan mengirim sedikit bumbu-bumbu sengsara untuk Arsen. Aku akan membuat dia menderita.”


Krystal memejamkan mata, dia merapalkan beberapa mantra kemudian meniup telapak tangannya. Sebuah bayangan hitam terbang menuju istana tempat Arsen tinggal, bayangan hitam tersebut langsung menerobos masuk ke dalam istana Arsen.


“Apa yang Anda lakukan?” tanya Olin.


“Aku mengirimkan mimpi buruk padanya, biarkan dia tersiksa sebelum hari kematiannya datang menghampiri.”


...***...


Di malam nan indah bertabur bintang-bintang di langit bersamaan cahaya rembulan menyinari keseluruhan kehidupan di daratan. Tengah malam di waktu orang tertidur pulas, rupanya menjadi waktu terburuk bagi Arsen. Sedari tadi, Arsen tidur di dalam keadaan tidak tenang disertai perasaan gelisah, dia mengalami hal buruk di alam mimpi. Arsen bermimpi buruk, dia seperti dikejar-kejar oleh arwah wanita yang sudah dia bunuh, tidak terhitung berapa jumlah wanita yang tewas di tangannya hanya demi memuaskan hasrat sesaat.


Tidak berselang lama, Arsen terbangun dalam keadaan napas yang masih tercekat, namun ketika ia membuka mata dan mengerjapkan mata beberapa kali, dia menemukan arwah-arwah menyeramkan para wanita di dalam kamarnya.


“AARRRRGHHH! PERGI KALIAN! PERGI!” teriak Arsen.

__ADS_1


“Kau harus bertanggung jawab, kau sudah membunuhku. Aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu.”


“Aku tak pernah melupakan sekali pun apa yang telah kau lakukan padaku, aku akan terus mengganggumu sampai kau mati!”


“Aku bersumpah untuk membuat hidupmu menderita, aku tidak akan berhenti sebelum kau berhasil masuk neraka.”


Semua arwah itu mengutuk Arsen, nyawa mereka melayang secara sia-sia di tangan Arsen, selama hidup mereka kerap disiksa, dilecehkan, dan diperkosa berulang kali hingga mati. Kematian mereka menjadi kepuasan tersendiri bagi Arsen, dia tidak pernah merasa bersalah sekali pun kepada para wanita yang telah disakiti olehnya. Dosa Arsen terhadap mereka, terlampau besar sehingga tidak ada pintu maaf yang terbuka untuk Arsen.


Teriakan Arsen barusan, terdengar oleh penjaga, dua orang penjaga langsung menerobos masuk ke kamar Arsen. Mereka mendapati Arsen sedang berteriak takut di atas tempat tidur, dia duduk seraya menekuk lutut dan menutupi pendengaran, rasa takut pun sukses menguasai Arsen.


“Yang Mulia, Apa yang terjadi?” tanya salah seorang penjaga.


Arsen menegakkan kepalanya, dia menunjuk ke depan dengan tangan gemetar, “Ada hantu, ada banyak hantu di sini,” ucap Arsen.


“Apa? Kalian tidak bisa melihat mereka? APA KALIAN BUTA? JELAS-JELAS MEREKA ADA DI SINI! BUKA MATA KALIAN! LIHAT KE DEPAN. DI SANA BANYAK HANTU,” teriak Arsen kehilangan kewarasannya.


“T-tapi kami tidak melihat apa-apa di sana, Yang Mulia. Apa mungkin And—”


“Kalian mau mengatakan aku membual? AKU SUNGGUH MELIHAT HANTU! DI KAMAR INI BANYAK HANTU! MATA KALIAN BUTA!” Arsen meraih sebuah pedang di samping ranjang tempat tidur, lalu dia turun dan menatap tajam menghadap dua penjaga tersebut.


“Beraninya kalian mengatakan aku membual.” Arsen menodongkan pedang ke arah kedua penjaga itu, pandangan kedua netranya terlihat kehilangan setengah kewarasan.


“A-ampuni kami, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud mengatakan Anda membual.” Tubuh kedua penjaga itu merosot ke permukaan lantai, kemudian mereka bersujud di bawah kaki Arsen.


“Ampuni? Hahaha tidak ada ampunan bagi mereka yang menghina keluarga Kaisar!” Arsen mengayunkan pedang, dia menebas tepat kepala kedua penjaga itu.

__ADS_1


Selepasnya, Arsen menodongkan kembali pedang ke para arwah yang berada di dalam kamar. Arsen mengayunkan pedang ke sembarang arah, ia bermaksud untuk melawan arwah-arwah itu menggunakan pedang.


“Seharusnya kalian sudah mati, lalu kenapa kalian muncul lagi sekarang? Kalian mau menyalahkanku? Hahaha, aku ini Putra Mahkota dan tidak akan ada satu pun orang yang sanggup menyalahkanku. Kalian hanyalah wanita rendahan, Kaisar juga tidak peduli soal kematian kalian, mestinya kalian senang sebelum mati mendapatkan perhatian dariku.”


Ayunan pedang Arsen tampak sia-sia, sebab tidak ada satu pun arwah yang mempan terhadap serangan dari pedangnya, bahkan dia menggunakan sihir untuk melukai para arwah itu, tetap saja tidak ada yang berhasil dia hajar.


“KYAAAAA!” Seorang pelayan terbangun karena mendengar suara ribut dari kamar Arsen, dia bergegas mengecek kamar Arsen. Setibanya di sana, ia terpekik menyaksiakan dua jasad ksatria penjaga tergeletak dalam kondisi kepala yang terpenggal. Langsung saja pelayan itu berlari menuju istana utama untuk melaporkan situasinya kepada Kaisar dan Permaisuri.


Fred, Isabelle, dan Emilia yang mendapatkan laporan dari pelayan itu, langsung berlari ke tempat Arsen. Mereka membelalakkan mata begitu melihat kamar Arsen yang hancur berantakan, Arsen sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri.


“ARSEN!” Fred segera menahan pergerakan Arsen, Isabelle dan Emilia tak punya keberanian mendekat pada Arsen.


“Ayah, ada hantu di sini. Mereka mengatakan kalau aku harus bertanggung jawab. Ayah! Coba lihat di belakang, ada hantu! Mereka terlalu banyak hingga memenuhi kamarku.” Arsen menunjuk ke belakang Fred, namun saat menoleh tidak ada apa pun di sana.


“Arsen, tidak ada apa-apa di sini. Kau itu hanya berimajinasi,” ujar Fred mematahkan apa yang dikatakan oleh Arsen.


“Tidak! Apa Ayah tidak percaya padaku? Aku tidak berbohong! Mereka benar-benar ada di sini,” rengek Arsen mencoba meyakinkan Fred.


Fred tidak punya pilihan lain lagi, dia menepuk kuduk Arsen sehingga membuatnya tidak sadarkan diri. Keadaan baru tenang saat suara Arsen tidak terdengar, Fred pun menyuruh Emilia untuk memeriksa keadaan Arsen yang cukup mengkhawatirkan ini.


‘Apa yang terjadi pada Arsen? Mengapa dia tiba-tiba menggila dan berteriak ada hantu di kamarnya?’


Keesokan paginya, berita tentang Arsen tersebar begitu cepat ke seluruh penjuru kekaisaran. Rakyat menyebut Arsen gila dan terkena kutukan, tidak sedikit juga di antara mereka yang merasa prihatin atas yang menimpa Arsen. Tentunya, kabar ini juga sampai ke telinga Krystal, ini merupakan kabar paling membahagiakan yang dia dapatkan sejauh ini.


“Bagus, satu hama hampir tersingkirkan, sebentar lagi Arsen akan mati. Dengan begini, takhta Kaisar selanjutnya akan kosong, tentu saja mereka akan meminta Emilia untuk naik takhta. Namun, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah. Maka dari itu, aku akan merebut posisi sebagai Putri Mahkota dan mengacak-acak kekaisaran ini hingga rata dengan tanah.”

__ADS_1


__ADS_2