
Krystal tercengang melihat Frine menjatuhkan dirinya sendiri, dia pikir tidak akan terjadi apa-apa setelahnya. Namun, sesuai suara teriakan Frine bergaung di istana, seketika kamar Krystal dipenuhi oleh orang-orang yang merasa terpanggil oleh pekikan Frine, termasuk Killian. Garis-garis kemarahan terlukis di wajah Killian, melihat Frine yang menangis dengan lutut terluka membuat Krystal berada di ujung bahaya.
“KRYSTAL!” sergah Killian, Krystal tersentak begitu Killian menyergahnya.
“A-apa? Kau marah padaku?” tanya Krystal.
“Kau masih bisa bertanya? Apa yang kau lakukan pada Frine? Apa kau sangat terobsesi menjadi Permaisuri hingga kau melakukan hal kejam seperti ini kepada Frine? Kau gila, ya?!”
Killian berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah Krystal, emosinya tak terbendung lagi melihat Frine yang terududuk di atas lantai dalam keadaan kaki terluka parah. Krystal tidak tahu apa-apa soal itu, apalagi luka di kakinya itu yang entah datang dari mana. Krystal ingin melawan tapi Killian justru tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
“BRENGS*K! AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN PADA WANITA INI!” teriak Krystal penuh amarah, “Mau berapa kali pun aku menjelaskannya mungkin kalian tidak akan mempercayaik karena wanita ini yang akan menjadi Permaisurimu, tentu saja kau akan mempercayai calon Permaisurimu sendiri.”
Krystal terbakar api emosi, dia tidak pernah merasa sesak seperti ini sebelumnya, sedangkan Frine tersenyum tipis ke arah Krystal sebagai pertanda bahwa dia menang dalam menjebak Krystal.
“Kenapa sekarang kau semakin berani denganku? Biasanya kau tidak pernah mengumpatiku. Apa yang terjadi padamu? Apa kau punya laki-laki lain di belakangku?” Krystal diserbu oleh berbagai pertanyaan yang tidak masuk akal. Killian sampai menggenggam sangat erat pergelangan tangan Krystal demi meminta sebuah penjelasan.
Krystal tersenyum miring, alangkah mirisnya hidupnya kala itu harus bertahan di antara orang-orang yang tidak menginginkan keberadaannya.
“Punya laki-laki? Selama ini apa kau pernah melihatku dekat dengan laki-laki lain selain dirimu? Aku hanya pernah berbicara dengan beberapa orang pria saja, tapi aku tidak pernah punya hubungan yang lebih serius dari sekedar teman. Aku tidak sepertimu yang tiba-tiba mengkhianatiku lalu berniat menikah dengan wanita yang selama ini tidak pernah kau lirik sekali pun!”
__ADS_1
Krystal berbicara panjang lebar sampai membuat napasnya sesak, tuduhan Killian sangat menyayat hati mungilnya, perasaan tulus yang telah ia bangun selama ini terpaksa harus kandas di tengah jalan. Krystal sangat membenci dirinya, dia tidak punya keinginan lebih lagi untuk bahagia, dia tidak punya harapan lagi untuk berharap lebih kepada orang lain.
“Aku pengkhianat? Aku kan sudah memintamu untuk menjadi selirku, lalu apa-apaan ini? Mengapa kau bertingkah seolah kau yang paling tersakiti? Aku tidak menyukai dirimu yang seperti ini, Krystal! Sampai kapan kau akan terus begini? Sampai kapan kau akan menaruh cemburu dan iri kepada Frine? Wanita gila sepertimu beraninya mencelakai Frine!”
Killian membela habis-habisan Frine dan mencerca Krystal hingga membuat dinding kesabaran Krystal runtuh. Padahal dia berniat untuk hidup di sini tanpa mencari masalah atau menyinggung mereka berdua, padahal dia berencana untuk hidup sendiri tanpa bergantung lagi pada Killian, sudah cukup rasanya Killian menggurat luka di hati polosnya. Namun, harapan hanya tinggal harapan, dan rencana hanya tinggal rencana. Apabila situasinya sudah seperti ini, maka sudah dipastikan dia akan terjebak di masalah yang lebih besar.
“Lepaskan tanganku, sialan! Aku tidak akan pernah sudi menjadi selirmu! Jangan pernah mengharapkanku akan bersikap seperti biasa lagi padamu. Dan lagi aku tidak pernah bermaksud mencelaki wanita rendahan ini! Dia yang memfitnahku, dia yang membuat cerita seolah aku yang menyakitinya. Kenapa tidak ada yang percaya padaku? Apa keberadaanku memang serendah ini di mata kalian?”
Krystal meluapkan segala bentuk kekecewaan serta kesedihannya kepada Killian, walau sudah berbicara seperti itu, tidak ada yang berubah dari pandangan orang lain terhadap dirinya. Luka yang ditorehkan Killian tidak akan ada yang mempedulikannya, kini Krystal sungguh sendirian di tengah tudingan-tudingan tak berdasar itu.
PLAKKK
Bukannya merasa bersalah, Killian malah dengan sengaja menampar Krystal demi membuatnya sadar. Krystal membeku sesaat tamparan kuat itu mendarat di pipinya, dia tak mengeluarkan suara ataupun perlawanan kepada Killian.
Killian menyudutkan Krystal lalu membandingkan dirinya dengan Frine, Krystal yang tidak bisa menerima hal itu, dia lari ke luar tanpa menghiraukan seperti apa tatapan orang lain padanya. Hatinya sakit, terkoyak, terluka, tapi tak ada air mata yang keluar, dia bingung harus bagaimana lagi dia akan mengekspresikan kesedihannya yang tak berujung itu.
“Semuanya sama saja, sama-sama menyakitkan!” gumam Krystal pergi keluar dari gerbang kekaisaran.
Kaki Krystal terus melangkah, dia saat ini tengah menuju hutan rimbun di samping kekaisaran. Akan tetapi, ketika ia tiba di dalam hutan tersebut, dia menemukan banyak darah yang berceceran, karena penasaran akhirnya Krystal mengikuti jejak darah tersebut.
__ADS_1
“Apa ini?”
Krystal terperanjat kaget, darahnya berdesir kuat, di hadapannya saat ini ada mayat tujuh dewa agung yang tergeletak bernyawa. Tubuh mereka berserakan di atas tanah, kondisi mayatnya terlihat masih baru, jadi Krystal yakin bahwa mereka baru saja dibunuh. Namun, Krystal tidak tahu siapa gerangan yang membuat mereka seperti ini.
“Kenapa mereka bisa mati? Siapa yang melakukannya?” Krystal berjalan mendekati satu persatu jasad para dewa agung. Dia ingat bahwa beberapa waktu belakangan ini, dewa agung banyak yang meninggalkan kekaisaran tanpa alasan yang jelas. Lalu Krystal mencoba memeriksa tubuh mereka agar mengetahui setidaknya satu petunjuk saja mengenai kematian mereka.
“HEY, APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?”
Segerombol dewa penjaga istana meneriaki Krystal, mereka kaget saat melihat Krystal bersama mayat tujuh dewa agung.
“Pembunuh… ADA PEMBUNUH DI SINI! PEMBUNUH DEWA AGUNG!” seru salah seorang dewa.
“Aku bukan pembunuh! Aku tidak membunuh mereka!” bantah Krystal membela dirinya.
“Jangan membuat alasan lagi! Jelas-jelas kami mendapatimu sedang berada di antara mayat ini! Cepat ikuti kami sebelum kau dipaksa untuk—”
Krystal yang geram karena dituduh, dia menodongkan kipasnya ke arah para dewa itu.
“Aku sudah bilang kalau aku tidak membunuh mereka. Oke, biar tuduhannya sedikit benar, bagaimana kalau kalian saja yang aku bunuh?”
__ADS_1
Ujung kipas Krystal yang tajam, ia ayunkan hingga membuat salah satu kepala dewa penjaga menggelinding ke atas tanah. Dia tidak mau lagi menunjukkan ketakutan, dia akan melawan mereka secara langsung.
“KURANG AJAR! SERANG DIA! JANGAN BIARKAN PEMBUNUH INI KABUR BEGITU SAJA!”